Maret 07, 2010

Menikmati "Wedang Jahe" Kesadaran

Dimuat di RIMA NEWS

Anand Krishna dikenal sebagai aktivis spiritual lintas agama (interfaith). Ia telah menulis 140 buku lebih dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Cetakan pertama "Atma Bodha” diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2001. Edisi keduanya mulai beredar pada Agustus 2009. Waktunya berbarengan dengan satu buku lain berjudul “Rahasia Alam Alam Rahasia.”

Kendati tidak terbilang baru, dan telah dicetak ulang beberapa kali, namun isinya masih relevan dengan konteks kekinian. Atma Bodha berarti Kesadaran akan Jati Diri. Wejangan kehidupan ini ditulis oleh Shankaracharya. Beliau ialah Maha Guru Spiritual yang terlahir pada 788 di India. Saat berusia 3 tahun, sudah mulai belajar di Gurukala (semacam Padepokan Rohani). Lantas pada umur 7 tahun, telah diwisuda menjadi seorang Pandit atau sederajat dengan Sarjana S1 saat ini.

Menginjak usia 32 tahun, Shankara kian termasyur. Beliau dikenal sebagai Sadguru alias Guru Sejati. Dalam pengertian, orang yang mengajar dari pengalaman pribadi. Adi Shankaracharya sukses melakukan perubahan sosial di India. Semangat inilah yang menjadi landasan perjuangan ahimsa Mahatma Gandhi.

Secara sistematis, Atma Bodha terdiri atas 68 Sutra (ayat). Pada bagian akhir dilengkapi dengan tanya-jawab (halaman 340-387). Tak lupa dibumbui latihan meditasi (halaman 388-389). Khusus pada sutra 32 - 36 Shankara memberikan Yantra atau alat untuk meditasi (tools for meditation) berupa Nirantara Abhysataa. Dalam bahasa Sansekerta, hal ini acapkali dikaitkan dengan Japa atau pengulangan ayat tertentu. Yakni semacam zikir dalam tradisi Muslim atau novena/litani dalam tradisi Kristiani.

Berikut ini petikan dari sutra 36: Nitya Shuddha Vimukta Ekam / Akhandaanandam Advayam / Satyam Gyaanam Anantam / Yatparam Brahma Ahamneva Tat! Artinya ialah, “Kesucian, kebebasan, kebahagiaan langgeng, abadi dan tak terputuskan / Satu tak terbagikan / Kebenaran Hakiki, Kesadaran Murni / Akulah Yang Tertinggi itu!” (Halaman 224).

Kendati demikian, Sang Guru senantiasa mengingatkan bahwa pengulangan mekanis tak ada manfaatnya. Yang terpenting ialah penghayatan dan tindakan kita. Dalam tradisi Kejawen dikenal paribasan, "Ngelmu kuwi kanti laku." Angel le nemu (sulit menemukannya) karena musti melewati proses mengalami sendiri. Kita boleh diceramahi panjang lebar ihwal apa itu wedang Jahe. Tapi yang terpenting ialah merasakan nikmatnya dengan lidah sendiri. Sehingga tidak sekedar rumangsa isa (merasa bisa), tapi juga isa rumangsa (bisa merasakan).

Misalnya kita hendak menjadikan Asma Allah nan "Maha Pengasih dan Penyayang" sebagai alat bantu meditasi untuk meniti ke dalam diri. Seraya mengulangi password tersebut, kita pun musti mengasihi diri sendiri dan tetangga sebelah tanpa pandang pandang bulu. Setara Institute mencatat 262 tindak kekerasan bernuansa agama sepanjang 2010. Para penjahat berjubah agama tersebut justru menistakan Hyang Maha Kasih itu sendiri. Toh di bawah kulit kita, sama-sama memiliki darah yang bewarna merah. Mari belajar dari matahari. Ia tak pilih kasih, sudi menyinari segenap titah ciptaan setiap hari.

Akhir kata, buku ini menguraikan filosofi sekaligus cara untuk merasakan kebahagiaan sejati. Bahasanya sederhana, gaul dan mudah dicerna oleh khalayak ramai. Atma Bodha ibarat magnet yang menarik siapa saja yang mendamba kedamaian dan keceriaan. Sebab menyitir petuah Gandhi, "Di mana ada cinta di sana ada kehidupan."

_________________________________

Judul Buku: Atma Bodha (Menggapai Kebenaran Sejati, Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal)

Penulis: Anand Krishna

Peresensi: T. Nugroho Angkasa S.Pd, (Guru Bahasa Inggris SMP Fransiskus Bandar Lampung)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: II, Agustus 2009

Tebal: vi + 397 halaman