Mei 22, 2011

Sufi Mehfil Bende Mataram di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Minggu, 8 May 2011 07:35 WIB


Berikut ini transkrip sambutan Maya Safira dan Wejangan Anand Krishna pada acara Malam Bhakti untuk Ibu Pertiwi. Perhelatan akbar ini bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-61. Mengambil tempat di Bangsal Kepatihan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Sabtu Wage 7 April 2007.

Tamu kehormatan terdiri atas para Menteri, Dirjen, Bupati/Walikota se-DIY, Jajaran Pejabat Muspida DIY, dan Duta Besar negara-negara sahabat. Disiarkan secara langsung (live) oleh TVRI Yogyakarta. Serta terdapat layar di Alun-alun Utara sehingga masyarakat luas bisa menyaksikan peristiwa bersejarah tersebut.

Sambutan Maya Safira selaku Ketua National Integration Movement (NIM):

Assalamualaikum Wr, Salam Sejahtera, Om Namo Budhayana, Om Svastiastu, namun tidak ketinggalan salam pemersatu kita Salam Indonesia! (terdengar tepuk tangan para hadirin).

Kepada yang terhormat Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, kepada yang terhormat Menteri Negara Lingkungan Hidup Bapak Rahmat Witoelar, kepada yang terhormat Menteri Negara Perumahan Rakyat Hasyim As’ari, Your Excelencies dan kepada yang terhormat para pejabat Muspida DIY dan kepada yang terhormat hadirin-hadirin semua yang tak mungkin saya sebutkan namanya satu-persatu pada malam hari ini.

Puji syukur kepada Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang bahwa kita semua dapat berkumpul bersama pada hari yang istimewa ini namun sebelumnya kami dari National Integration Movement (NIM) ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sri Sultan semoga panjang umur karena kami sangat membutuhkan seorang pemimpin seperti Sri Sultan di bangsa ini (terdengar tepuk tangan para hadirin)

Kami juga dengan segala kerendahan hati ingin mengucapkan terimakasih kepada Sri Sultan yang pada malam ini bersedia menerima penghargaan “Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”. National Integration Movement (NIM) yang memiliki 24 cabang di Indonesia serta 4 representatives di luar negri.

NIM pertama kali mengadakan acara Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi pada tanggal 1 September 2005 yang dicanangkan oleh Menteri Pertahanan Bapak Juwono Sudarsono dan pada saat itu dihadiri oleh Gus Dur, Bapak Muladi, Bapak Sutiyoso, Bapak Siswono Yudho Husodo dan setelah itupun acara itu terus bergulir di Semarang yang waktu itu dihadiri oleh Sri Sultan, di Bali yang dihadiri oleh Kanjeng Ratu, di Lampung dan tempat lainnya.

National Integration Movement ini dibidani oleh Yayasan Anand Ashram yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan didirikan oleh Bapak Anand Krishna. Salah satu wujud nyata dari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi adalah pelestarian budaya, tanpa melestarikan budaya sebuah bangsa akan hilang identitasnya. Sri Sultan Hamengku Buwono X telah berjasa dan berupaya menjaga keluhuran budaya Nusantara.

Penghargaan ini akan dipersembahakan oleh Anand Krishna dan untuk itu kami mohon kepada Bapak untuk memberikan wejangannya sebelum memberikan penghargaan, berilah… kita sambut Bapak Anand Krishna (terdengar tepuk tangan para hadirin)

Wejangan Anand Krishna selaku penggagas National Integration Movement (NIM):

Kepada yang mulia Sri Sultan, Arjuna Wiwaha sudah selesai, saatnya yang mulia kita turun ke medan perang Kurusetra. Arjuna Wijaya sekarang (terdengar gemuruh tepuk tangan par hadirin).

Yang saya muliakan para Menteri, para Duta Besar, dan segenap hadirin. Ketika Arjuna bertapa senjata yang ia peroleh ialah Pasopati. Pasopati berarti pengendalian insting-insting hewani. “Pasyo” berarti hewan. Kemudian Jogjakarta, Jogja berarti, Yogyakarta, “Yagya…” bekerja tanpa pamrih. Dan itu…. (diselingi tepuk tangan hadirin) itu yang akan mengantar Arjuna pada Wijaya.

Teman-teman, saudara-saudara…Saya selalu berusaha untuk mengingatkan diri saya, mari kita belajar dari sejarah. Setiap kali kita berusaha merubah landasan kita untuk bernegara kita terpecah-belah. Kita dari belajar dari kegagalan Majapahit, kegagalan Gadjah Mada, kita juga belajar dari Sriwijaya yang sudah bisa mengekspor hasil bumi sampai ke Madagaskar.

Saudara-saudara beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang Dirjen. Maafkan saya Bapak Menteri. Saya bertanya, bicara-bicara dan saya bertanya, Bapak tahu nggak maksud dari Tamasik? Tidak tahu… Duta Besar Singapura pasti tahu. Padahal Tamasik itu adalah istilah kita, kita sendiri tidak tahu… apa yang kita miliki. Kita lupa akan potensi diri kita. Dan ini akibatnya sekarang, apapun yang sedang terjadi ini karena kita lupa jati diri kita, kita lupa potensi diri kita.

Belajar dari kegagalan Gajah Mada, belajar dari kegagalan Raden Patah, kita cuma bertahan seratus tahun dengan landasan agama. Dengan landasan budaya kita pernah memiliki Dinasti yang dalam sejarah seluruh umat manusia, tidak ada dinasti yang pernah berkuasa 800 tahun….Sriwijaya. Dari Ken Arok sampai Majapahit 400 tahun, Patihnya agama Buddha, Rajanya agama Hindu, barangkali kita juga lupa bahwa salah satu Raja Sriwijaya bernama Haji Sumatrani, dia orang Muslim. Masyarakatnya lebih banyak Hindu dan Buddha. Tidak menjadi masalah.

Ketika kita mencoba untuk merubah landasan itu, hanya bertahan 100 tahun dan kita kacau-balau. Kalau kita tidak belajar dari sejarah, ini yang akan kita alami lagi. “Those who do not learn from history’ll be condemned to repeat it”. Kita akan dikutuk untuk mengulangi pelajaran yang sama.

Dan di situ penghargaan dengan segala kerendahan hati kami berikan kepada Sri Sultan. Paduka Sri…Sri Paduka. “Sri” berarti mulia, kesejahteraan, “Paduka” berarti langkah. Setiap langkah beliau (terdengar kokok ayam yang dipelihara oleh abdi dalem Kraton)menyejahterakan. Ini adalah Sri Paduka. Tetapi penghargaan ini kita berikan dengan sedikit menodong Sri Sultan, menodong Sri Sultan…Suara Rakyat Yang Mulia, sudah saatnya tinggalkan Jogja, datanglah ke Jakarta. Indonesia membutuhkan Sri Sultan (terdengar gemuruh tepuk tangan hadirin).

Indonesia membutuhkan Sri Sultan, medan perang Kurusetra sudah menantikan kedatangan Arjuna. Terimakasih. Sri Sultan mohon kesediaannya untuk menerima penghargaan kecil ini (terdengar alunan biola lagu Syukur yang dimainkan oleh Idris Sardi) (suasana begitu mengharukan sekaligus berkobar… lantas terdengar gemuruh tepuk tangan para hadirin).

Acara dilanjutkan dengan Sufi Mehfil yakni persembahan Whirling Meditation Dance yang pernah dipopulerkan oleh Maulana Jalaludin Rumi ratusan tahun silam. Dan kini di Bumi Nusantara dipopulerkan kembali oleh Anand Krishna. Malam itu Anand memandu langsung seluruh rangkaian pesta raya pada malam tersebut yang telah digelar oleh-Nya. Dari awal hingga akhir. Demi kau dan kita semua. Bende Mataram: Sembah Sujudku kepada-Mu Ibu Pertiwi. Karena Engkaulah sesunguhnya Habibi, Wujud Nyata Kasih Ilahi.

http://www.rimanews.com/read/20110508/26980/sufi-mehfil-bende-mataram-di-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat

Sufi Mehfil Bende Mataram di Keraton Surakarta

Kamis, 5 May 2011 09:00 WIB

Acara ini dihadiri para tamu kehormatan seperti Liny Tjeris dan Maya Safira dari Jakarta. Bahkan putra-putri almarhum Sinuwun Paku Buwono XII pun rawuh. Misalnya Gusti Kanjeng Ratu Galuh Kencana, Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kencono, Drs. KG Kusumo Yudho, Gusti Kanjeng Ratu Retno Dumilah SH, Dra Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari (Gusti Mung). Tak ketinggalan para sesepuh Keraton Surakarta, seperti Prabu Winoso, Noto Sewoyo, Edi Wirobumi, Haryo Kusumo, dan Wiyogo Saputro. Lebih dari 300 orang menyaksikan langsung perhelatan akbar ini. Disiarkan langsung oleh RRI Surakarta dan diliput oleh Jogja TV pada 1 Aril 2007.

Paska tarian persembahan Whirling Meditation Dances, acara Role Play dan lagu-lagu riang bernafaskan Bhinneka Tunggal Ika - Tan Hana Dharma Mangra. Acara dilanjutkan dengan penganugerahan penghargaan "Aku Bangga Jadi Orang Indonesia". Disertai dengan sambutan dari Gusti Mung dan wejangan dari Anand Krishna. Maya Safira Muchtar selaku ketua National Integration Movement (NIM) merasa berbangga bisa berada di Surakarta karena Anand Krishna pun lahir di kota ini. Suatu kebanggaan pula bagi Bangsa dan Rakyat Indonesia karena Yayasan Anand Ashram pada Desember 2006 lalu resmi berafiliasi dengan Badan Informasi Publik PBB.

Sebelumnya Menteri Pertahanan RI, Juwono Sudarsono pada 1 September 2005 di Jakarta mencanangkan Hari Bhakti "Bagimu Ibu Pertiwi" pada Simposium NIM I. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh dari berbagai kalangan. Sejak saat itu setiap tanggal 1 September kita peringati sebagai Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi (Bende Mataram). Kini dalam rangka merayakan hari ulang tahun NIM yang kedua (11 April 2007), NIM menganugerahkan penghargaan "Aku Bangga Jadi Orang Indonesia".

Suatu kebetulan yang indah karena Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari (Gusti Mung) merupakan tokoh pertama yang mendapat anugerah penghargaan ini. Berkat jasa-jasa beliau melestarikan seni budaya di Surakarta ini. Penghargaan tersebut dipersembahkan pula bagi seluruh Masyarakat Solo.

"Semoga keselamatan dilimpahkan bagi kita semua..." begitulah kata (baca: doa) pembuka Gusti Mung dalam sambutannnya. Putri Bungsu Almarhum Sinuwun PB XII ini memiliki visi untuk mewariskan budaya luhur Nusantara pada anak cucu kita. Beliau menyampaikan kata maaf dan penyesalan sedalam-dalamnya karena Sang Kakak yakni Sinuwun PB XIII tidak dapat hadir di Magangan malam ini karena tengah mengadakan pertemuan dengan Dipertuan Agung di Malaysia.

"Keraton Surakarta Hadiningrat ini merupakan kelanjutan Mataram Islam yang didirikan oleh Eyang Sultan Agung." Begitu papar beliau. Pada 17 Februari 1745 terjadi boyongan dari Kartasura ke Solo, setelah 3 hari di Solo, pada 20 Februari 1745 beliau mendeklarasikan Negara Surakarta Hadininrat. Keraton sejatinya ialah simbol spiritual, yakni proses perjalanan spiritual seseorang tuk menemukan jati diri, kesucian dalam diri. Caranya dengan mengendalikan hawa nafsu. Ajaran luhur ini tersimbolisasikan dalam struktur, arsitektur dan tata letak bangunan Karaton.

Misalnya, alun-alun yang berupa padang pasir yang amat luas. Tatkala siang begitu panas sedangkan pada malam hari terasa dingin. Begitulah kehidupan di dunia ini, ada panas ada dingin, ada baik ada buruk, ada gelap ada terang dst. Alun-alun juga merupakan tempat tapa pepe, yakni cara rakyat menyampaikan aspirasi pada Raja berkait kebijakan dan keadilan. Lantas di Bangsal Pangrawit, Raja duduk di moncong meriam. Maknanya setiap ucapan dan tindakah Raja harus terjaga, tidak boleh semena-mena. Jika keliru berarti harus berani bertanggung-jawab dan siap mati duluan.

Magangan (tempat berlangsungnya acara malam tersebut) secara lahiriah berarti tempat untuk magang abdi dalem, sedangkan secara batiniah berarti alam penantian sebelum menuju alam kesempuranaan, alam awang-uwung. Masih banyak uraian lainnya yang begitu menarik dan menyadarkan bahwa begitu kaya dan luhurnya budaya Spiritual Nusantara.

Anand Krishna menutup acara malam tersebut dengan wejangan yang berapi-api. Sebelum memulai semuanya, dengan penuh kerendahan hati ia mohon ijin kepada para Pangeran, Gusti Putri dan Sesepuh Karaton untuk bicara dan urun rembug. Sura dalam bahasa Jawa Kuno berarti Dewa sedangkan Karta berarti kerja. Surakarta berarti berprilaku seperti para Dewa. Sura juga bermakna Irama. Para pelaku teror kurang berirama. (Disambut dengan tepuk tangan oleh para Pangeran, Sesepuh dan hadirin yang hadir).

Sultan Agung amat berjasa pada kita semua. Selain memperkenalkan perhitungan kalender Jawa, beliau juga mempopulerkan istilah Mataram. Raja Sanjaya seribu tahun sebelumnya telah mempopulerkan istilah Mataram yang berarti Ibu Pertiwi. Kita boleh berada di manapun juga di belahan bumi ini tapi kita tidak bisa menghilangkan ke-Indonesiaan kita, kita semua adalah purtra-putri
Ibu Pertiwi.

Kini pasir laut disedot (bukan dikeruk). Tanpa bayaran sepeserpun. Untuk apa? untuk reklamasi dan membangun 20 rumah mewah di Singapura. Ironisnya para pemiliknya adalah orang Indonesia juga. Rotan kita dicuri. Raib secara gaib ibarat dibawa terbang oleh Gatot Kaca sehingga tak ada yang tahu dan bisa menangkap pelakunya. Pengrajin rotan kita kesulitan mendapat bahan baku rotan, order sih tinggi tapi bahan baku langka. Kita juga akan mendatangkan petani dari luar negri untuk mengajarkan cara bercocok tanam di negri agraris ini.

BBC memberitakan bahwa di luar negri produksi pertanian disubsidi Negara. Misal di Amsterdam, 1 sapi perah disubsidi 2,5 dolar USA setiap hari. Di sini buruh-buruh kita tak lebih dari 2,5 dolar USA gaji hariannya. Bahkan untuk melindungi harga susu agar tetap menguntungkan peternak, kelebihan produksi susu dibuang ke laut untuk makanan biota-biota laut. Lha...kita di
sini: toge, kangkung, beras, biskuit semuanya impor dari luar. Bahkan kain sekalipun.

Almarhum Sinuwun Paku Buwono XII pernah berkunjung ke Padepokan kami di One Earth Ciawi Bogor, beliua merasa begitu krasan di tempat itu. Bahkan turut menandatangani Prasasti yang menyatakan tekad anak bangsa untuk kembali kepada nilai-nilai budaya spiritual Nusantara. Sir Thomas Stamford Raffles tahu benar hal ini. Kalau mau menguasi Nusantara harus lewat pendekatan budaya (Cultural Approach). Lantas Karaton dibuat-buat seolah feodal sehingga terpisah dengan rakyat jelata sehingga mudah dikuasai.

Bahkan kini ada pihak-pihak yang melarang orang menari, kita boleh beragama Islam tapi jangan beragama Arab dan mengimpor budaya asing. Saya ada dokumentasi di Perpustakaan Dewantara Tagore di Bogor sana yang memperlihatkan secara jelas cara orang-orang Arab menari. Mereka membawa pedang karena belum beradab. Sehingga bisa saling membunuh satu sama lain. Itulah sebabnya kenapa Kanjeng Nabi melarang tarian. Sekarang konteksnya beda, Dan kita, bangsa Indonesia sudah beradab dan berbudaya sehingga tak perlu ada larangan untuk menari. Ada prediksi yang menyatakan bahwa pada 2020 Indoneisa akan terpecah menjadi 5 negara. Kita semua harus mencegahnya.

Sejak 2000 tahun silam kita sudah punya sistem hukum yang berjalan baik. Di Arab belum ada jaksa, hakim dan penjara sehingga jika ada orang mencuri langsung dipotong tangannya. Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa memang pusat Sriwijaya ada di sini. Sebuah Dinasti yang mampu berkuasa selama 400 tahun (800-1200) . Dalam sejarah umat manusia belum ada dinasti lain yang berkuasa selama itu. Lantas Singasari dan Majapahit berjaya selam 400 tahun. Sultan Agung yang memimpin kerajaan Mataram juga meneruskan kejayaaan tersebut. Saat itu budaya yang menyatukan tak ditinggalkan, walau ada agama yang berbeda-beda.

Walau kita sekolah bahasa dengan metode secanggih apapun jua tak akan membuat kita fasih berbahasa Arab. Sayangnya lagi, saat naik haji, para jemaah hanya dibawa ke Saudi Arabia saja yang dikuasai oleh aliran Wahabi. Satu sekte dalam Islam yang begitu keras. Jika Wahhabi dan Taliban berkuasa di Indonesia ini. Mereka hanya akan mampu bertahan selama 2, 5 tahun. Tapi biayanya begitu besar. Kita akan terpecah belah. Papua, Bali, Sulawesi, Jawa, Sumatra akan memisahkan diri. Padahal Jawa sudah tak memiliki Sumber Daya Alam lagi.

Fanatisme agama memang sengaja dimunculkan untuk menyulut pertikaian dan kericuhan. Bayangkan 200 juta orang rakyat Indonesia. Mereka tak butuh beras, mereka menjadi konsumen senjata. Konflik di Poso dan Maluku, kita semua tahu lah siap dalangnya. Kita semua harus bersatu, tak perlu menunggu Pemerintah yang sibuk mengurusi kekuasaan.

Di San Fransisco kini ada regulasi pembatasan penggunaan tas kresek karena itu berdampak pada pemanasan global (Global Warming). Jika suhu air laut naik 1,5 derajat celsius ribuan pulau di Indonesia akan tenggelam. Bahkan lampu-lapu neon di Magangan inipun harus kita impor dari luar. Saat saya ke Shanghai/ Beijing beberapa tahun lalu, tak ada motor rongsokan di sana. Kenapa? Saya diberi tahu oleh warga setempat bahwa motor-motor rongsokan tersebut sudah di ekspor ke Indonesia. Mulai sekarang jangan beli motor itu. Swadesi kata Mahatma Gandhi, cinta pada Negara diwujudka dengan memakai produk dalam negeri.

Kini marak terjadi orang-orang kaya baru ditelepon oleh Bank-bank Internasional. Mereka para OKB tersebut ditawari kartu kredit. Kita diproyeksikan menjadi bangsa dan negara penghutang. Aset negara dijual. Tiap kata yang kita ucapkan lewat telpon/HP dalam seminggu bisa direkam dan didengar oleh orang-orang asing. Perbankan dan sarana telekomunikasi semuanya dikuasai oleh orang luar.

Lantas apakah kita harus berontak? Tidak! Yang dibutuhkan ialah kesadaran.

Masakan air yang berasal dari negeri kita sendiri kok harus bayar ke orang Prancis. Mulai sekarang kalau belanja di Mall cek "made in", buatan mana? beli dan pakai yang buatan dalam negri. Jika ada 200-300 orang yang melakukan hal ini kita bisa bangkit. Kunjungi juga pasar-pasar tradisonal. Dengan cara itu Gandhi bisa mengusir kaum imperialis Inggris dari India.Kini setiap tahun 200 juta dollar USA kita boroskan untuk membeli sayuran, buah-buahan dari Cina, yang keesokan harinya akan menjadi kotoran. Kita semua bertanggung jawab!

Jangan hanya mengadakan Pesta Rakyat di Prambanan dan Borobudur. Keluar juga, adakan Pesta Rakyat di Mall-mall. Cukup memberi tahu pada pihak pengelola Mall dan aparat kemanaan yang bertugas di sana. Kita ngamen tanpa terima uang sepeserpun. Jika ditangkap dan dipenjara maka teruslah bernyanyi di dalam penjara.

Tapi perlu diingat NIM adalah organisasi non partisan. Aturannya jelas dan tegas, setiap pengurus NIM tak boleh menjadi anggota partai tertentu dan terjun ke dalam politik praktis. Mari kita melayani Ibu Pertiwi dan segenap anak bangsa. Perlu ada revitalisasi bangunan Keraton. Baik yang diluar maupun yang di dalam. Keraton sejatinya adalah Mercu Suar, Pembawa Obor!

http://www.rimanews.com/read/20110505/26621/sufi-mehfil-bende-mataram-di-keraton-surakarta

Mengungkap 4 Kejanggalan Kasus Anand Krishna

Jumat, 6 May 2011 09:22 WIB


Anand Krishna dituduh melakukan pelecehan seksual. Padahal hal ini tak pernah terjadi. Dalam pengadilan terbukti tak satu pun saksi melihat secara langsung. Bahkan jalannya persidangan cenderung melenceng ke arah penghakiman terhadap pemikirannya.

Kejanggalan ke-1:

Tara (pelapor pelecehan seksual) sebelumnya baik-baik saja. Tapi ia kemudian tiba-tiba menghilang dari dunia luar selama 3-4 bulan. Tara diterapi secara overdosis oleh DY. Yakni sebanyak 45 kali dalam rentang waktu 3 bulan.

Dalam terapi tersebut diduga ada unsur pengarahan alias penanaman ingatan palsu. Akibatnya, Tara si pelapor merasa dilecehkan. Bahkan selama persidangan, ia jarang sekali hadir. Yang datang justru para saksi yang notabene sama sekali tidak melihat pelecehan seksual itu terjadi.

Kejanggalan ke-2:

Alibi Anand kuat. Tara mengaku telah dilecehkan pada 21 Maret 2009 di Ciawi, Bogor. Padahal pada tanggal tersebut Anand Krishna sedang mengadakan kegiatan Open House di Sunter, Jakarta Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta.

Kejanggalan ke-3:

Visum membuktikan Tara tak pernah mengalami kekerasan seksual. Ia masih perawan. Anehnya, selama persidangan, hanya 10% yang membahas ihwal kasus pelecehan seksual. Selebihnya, justru mendiskreditkan kegiatan Yayasan Anand Ashram.

Yakni seputar pluralisme, buku dan ceramah Anand. Sungguh berbalik 180 derajat dari pemberitaan di media. Pelecehan seksuallah yang digembar-gemborkan untuk mencari sensasi dan membuat masyarakat benci terhadap Anand Krishna.

Kejanggalan ke-4:

Motif utama kasus ini ialah pengambilalihan aset Yayasan Anand Ashram (YAA). Sehingga semua perjuangan pluralisme dan perdamaian bisa dihentikan. YAA didirikan oleh Anand Krishna pada 14 Januari 1991. Dan telah berafiliasi dengan lembaga internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2006.

Yayasan ini dapat saja disalahgunakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Yakni untuk mengeruk keuntungan dengan mencari dana sebanyak-banyaknya.

Selama ini Anand Krishna walaupun sudah lama berafiliasi dengan PBB. Sekalipun tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Semua kegiatan dilakukan dengan swadaya para sahabat yang peduli terhadap pluralisme dan kebhinnekaan di Indonesia.

Berikan dukungan Anda sehingga proses persidangan Anand Krishna dapat berjalan dengan adil. Semoga hukum di Indonesia masih mendengarkan suara kecil hati nurani sehingga berpihak kepada yang benar dan bukan hanya kepada yang bayar.

____________________________________

http://www.rimanews.com/read/20110506/26761/mengungkap-4-kejanggalan-kasus-anand-krishna

Mei 03, 2011

Bagaimana dengan “Osama” nya Indonesia?

OPINI | 02 May 2011 | 15:24 128 13 Nihil


13043240851486047711

Pasca bertahun-tahun menjadi buronan akhirnya Osama bin Laden tewas. Menurut berita yang dilansir CNN pada Senin (2/5/2011), pemimpin jaringan Al Qaeda tersebut mati di pinggiran Pakistan. Pria berdarah Arab Saudi ini terbunuh dalam operasi intelijen Amerika Serikat yang menargetkan sebuah bangunan di Islamabad.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan menyampaikan pidato resmi mengumumkan kematian si gembong eroris. Osama telah diburu pasukan US Army sejak terjadinya serangan bom terhadap target-target Barat. Termasuk tragedi kemanusiaan 11 /9/ 2001 di New York dan Washington DC.

Semua orang yang cinta perdamaian tentu merayakan kematian Osama. Walau ideologi kekerasan masih merajarela, kita patut bersyukur karena kini maskot mereka sudah tiada. Lantas, bagaimana dengan “Osama” nya Indonesia? Antara lain, kelompok-kelompok yang menghamba pada cara-cara barbarian. Dalam arti mau menang dan benar sendiri. Siapapun yang berseberangan dengan paham Wahhabi dianggap musuh dan dihalalkan darahnya.

Semoga kematian Osama bisa menyadarkan kita akan kebenaran sederhana, “Barang siapa menebarkan kekerasan maka ia akan terbunuh karena kekerasan pula.” Senada dengan sebuah paribasan Kejawen, “Sopo sik nandur mesti ngunduh.”

Akhir kata, marilah menanamkan benih perdamaian, cinta, dan harmoni di antara sesama anak bangsa. Terlepas dari perbedaan suku, agama, dan ras. Seperti petikan tembang karya Asa Jatmika yang acapkali dinyanyikan oleh anak-anak di lereng Merapi:

“Burung gagak menjahit langit,

lenguh lembu di kejauhan,

petani jelaga di puncak bukit,

nyanyi katak di ladang kerinduan,

menabur sejuk, damai, kehidupan,

aku datang dengan cinta…”

1304324332138851281

Sumber Foto: Google.com dan Dokumentasi Pribadi

FPI akan Gelar Jajak Pendapat di Jombang?

REP | 30 April 2011 | 16:32 218 10 1 dari 1 Kompasianer menilai aktual


13041555212085912265

Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jombang meminta FPI menggelar jajak pendapat. Sehingga kita mengetahui sikap masyarakat atas keberadaan organisasi pimpinan Rizieq Shihab tersebut. Aan Anshori, Ketua JIAD Jombang berpendapat jajak pendapat perlu dilakukan untuk membuktikan pernyataan Munarman yang mengklaim bahwa penolakan FPI di Jombang ialah rekayasa kelompok luar.

Kelompok Ahmadiyah dan liberal dituding oleh FPI sebagai kelompok luar tersebut. “Jadi saya kira kalau kita mau fair apakah masyarakat Jombang itu ditunggangi seperti yang diomongkan oleh Munarman atau yang seperti apa, saya justru ingin mempersilahkan kepada DPD FPI Jawa Timur untuk membikin polling nanti kita bantu bagaimana respon sesungguhnya oleh masyarakat Jombang ini terhadap kehadiran FPI. Saya meyakini bahwa hampir separuh lebih masyarakat Jombang itu menyatakan tidak sependapat dengan kehadiran FPI,” ujar Aan Anshori kepada awak KBR68H

Sebelumnya, warga Jombang yang tergabung dalam Front Masyarakat Menolak Kedatangan FPI menggalang tanda tangan dari sejumlah pondok pesantren (Ponpes) dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Jombang. Secara tegas mereka menolak kehadiran FPI. Kenapa? Karena kelompok tersebut kerap melakukan aksi kekerasan.

Sejumlah umat Kristiani di Jombang mengaku tidak berani menjalankan ibadah pada Minggu (24/4) silam. Sebab berdatangan ribuan orang anggota milisi sipil FPI dari berbagai daerah. Padahal pada saat yang bersamaan akan berlangsung perayaan Paskah di gereja.

Pendeta Christian Muskanan, dari Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil Indonesia (PGLII) Jombang mengatakan bahwa warga tetap merasa khawatir. Walaupun gereja-gereja dijaga aparat kepolisian, “Jelas dalam sisi kemanusiaan merasa was-was juga, merasa kuatir, cemas sehingga ada banyak umat mendengar mereka enggan mau ikut ibadah. Takut dengan adanya kehadiran FPI dari berbagai macam daerah di luar Jombang. Kalau Jombang saja mungkin ya bisa diterima tapi ini dari luar Jombang yang seakan –akan sehingga acara mereka sudah membuat umat ini bertanya –tanya apakan kita ini aman nggak dalam ibadah ini,” ujar Pendeta Christian kepada awak KBR68H

Sumber Berita, Foto dan Kaitan: http://www.kbr68h.com/editorial/54/5548-berani-bersuara-anti-kekerasan