April 13, 2013

Walau Terluka Tetap Bangkit dalam Cinta

Dimuat di Majalah Nuntius, Edisi April 2013

Judul: I’m in Love, Mencari, Terluka, dan Bangkit
Penulis: Rut Pamestri Utami
Penerbit: Bening Diva Press Yogyakarta
Tahun: I/September 2012
Tebal: 235 halaman
ISBN: 9786027695085
Harga: Rp35.000 

Rasanya renyah dan gurih. Gaya penuturannya pun mengalir lancar. Bahkan St. Kartono sampai merekomendasikan agar novel I’m in Love ini diadaptasi menjadi FTv (Film Televisi). Kenapa? Karena memuat pesan keutamaan bagi kaum muda bahwa komitmen lebih penting ketimbang perasaan sesaat.

Selain itu, secara teknis guru bahasa Indonesia SMA Kolese de Britto Yogyakarta tersebut menilai karya fiksi perdana Rut Pamestri Utami ini tepat akurat sudut pandangnya. Alih-alih memakai kata ganti orang ketiga, penulis yang sehari-hari berprofesi sebagai pustakawati di SMA Santo Hendrikus Surabaya lebih memilih kata ganti orang pertama. Sehingga kesannya relatif akrab dan sekadar berbagi cerita kepada pembaca.

Alkisah, Renata berkali-kali merasa patah hati karena ditolak pria. Kota pahlawan menjadi saksi perjuangan cintanya. Rere “menembak” 3 orang lelaki berturut-turut. Mulai dari Aldo, Moses, sampai Radith. Tapi semua bertepuk sebelah tangan.

Alasan mereka beraneka ragam, Aldo sekadar mengganggapnya sebagai sahabat, Moses sudah memiliki kekasih, dan Radith masih berharap mantannya yang kabur ke Australia kembali lagi. Untung, ia masih memiliki sahabat yang selalu siap menemani, namanya Tere. Ironisnya, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ternyata Aldo sejak lama memendam cinta pada Tere.

Sebagai obat penawar atas kepedihan hatinya, Rere memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Yogyakarta. Namun terlebih dahulu ia mengundurkan diri (resign) dari kantor tempatnya bekerja. Tatkala hampir naik kereta di Stasiun Surabaya, Radith tiba-tiba datang menghampiri.

Awalnya, Rere mengira Radith akan meralat jawaban dan menerima cintanya, tapi ternyata semua hanya ada di angan. “Aku berterimakasih atas semua perhatian kamu selama ini. Makasih kamu sudah mau mengerti tentang hubunganku dengan Merry,” ujar pria idamannya tersebut (halaman 60).

Dua tahun berlalu seiring bergulirnya roda waktu, Rere kini sudah memiliki pacar, namanya Irgi. Tapi luka batinnya masih tetap menganga. Sejatinya, ia terpaksa menerima Irgi hanya karena desakan Mama.

Ibunda Rere seorang single parent, ayahnya sudah meninggal dunia. Sehingga beliau berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga dan juga pencari nafkah keluarga. Rere anak pertama dari 2 bersaudara. Adiknya laki-laki bernama Milo.

Sang ibu sering menceramahi Rere tentang masalah pasangan hidup, “Renata umur kamu sudah 25 tahun. Sudah sepantasnya menikah. Sampai kapan kamu mau terus kelayapan tak jelas seperti sekarang. Apa sih kurangnya Irgi, sudah mapan, tampan dan berasal dari keluarga berada pula. Apa kamu mau jadi perawan tua?”  Tapi Rere mau lebih fokus mengembangkan karir. Ia kini bekerja di sebuah usaha percetakan.

Sistematikanya, buku ini terdiri atas 27 bab. Antara lain dari “Patah Hati’, “Penolakan Lagi”, ‘Perpisahan”, “Pertemuan Kembali”, “Cinta itu Datang Lagi”, “Dua Cinta”, “Ketika Cinta Harus Memilih”, hingga “Akhir Cerita Cinta”. Kelebihan penulis pada kemampuan deskripsi. Ia piawai memvisualisasikan adegan dengan rinci dan meracik dialog secara wajar.

Setting cerita ada di dua kota, Surabaya dan Yogyakarta. Tempat-tempat romantis mendapat ruang eksplorasi tersendiri dalam novel ini. Misalnya Pantai Kenjeran di ujung Jawa Timur, jika cuaca sedang cerah dari sana tampak pulau Madura. Lantas, Bukit Bintang di Wonosari, Gunung Kidul, dari sana kota Yogyakarta tampak bertabur aneka indah pada malam hari. Secara tak langsung penulis mempromosikan daerah wisata lokal nan menawan.

Fenomena sosial juga membumbui lika-liku hidup Rere mencari cinta sejatinya. Misalnya ketika Radith berkunjung ke kota Gudeg, ia biasa nongkrong menikmati senja di tepi Kali Code. Sungguh kocak, kalau ke sana ia sering berjumpa dengan waria lanang ora wedhok ora, “Permisi Mas, eike mo numpang ngamen dulu ya. Yei-yei mo pada request lagu apaan nih? Yuk cap-cus sambil bergoyang! (halaman 81).

Akhir petualangan Rere terbilang indah. Ia berhasil selamat dari terkaman cinta. Jelang bab-bab penutup tersaji kejutan dalam novel bergenre post-teenlit ini. Intinya, wanita yang semula mengejar pria, kini justru balik dipuja banyak jejaka. Alhasil, Rere harus menentukan satu di antara sederet alternatif. Mulai dari Moses, Irgi, Radith, dll semua bersaing memperebutkan hati Renata. Lantas siapakah juaranya? Silakan membaca sendiri bukunya.

Novel setebal 235 halaman ini bukan kisah cinta biasa. Di dalamnya termaktub prinsip kesediaan untuk berkorban, semangat pantang menyerah, dan kelapangan hati menghormati pilihan orang lain. Sepakat dengan tesis penulis ihwal hakikat cinta, “Tak perlu alasan untuk mencintai, hanya mencintai saja. Tak perlu balasan dalam mencinta, hanya memberi tanpa berharap menerima…”(T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon, Ekskul English Club SMP Kanisius Sleman dan TK Mata Air Yogyakarta)
1365854795990995613

April 10, 2013

Menguak Lika-liku Menjadi Seorang Ibu


Judul: Resep Cinta Ibu
Penulis Bersama: 11 Ibu Muda
Penerbit: Antarnusa Yogyakarta
Cetakan: 1/ November 2012
Tebal: 111 halaman
ISBN: 978-602-18405-4-2
Harga: Rp30.000 

Pada suatu sore, seorang Ibu duduk termenung di kursi rodanya di tepian sebuah danau. Ia ditemani anaknya yang telah mapan dan hidup berkeluarga. Lalu, sang Ibu bertanya, “Itu burung apa yang berdiri di sana?” “Bangau Mama,” anaknya menjawab dengan sopan.

Tak lama berselang, sang Ibu bertanya lagi, “Itu yang warna putih burung apa?” Sedikit kesal anaknya menjawab, “Ya bangau Mama…”

Belum sampai 5 menit, ibunya kembali bertanya, “Lantas itu burung apa?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbang. Dengan nada kesal si anak menjawab, “Ya bangau Mama, kan sama aja! emang Mama gak liat dia terbang!”

Air menetes dari sudut mata sang Mama, lantas ia berujar lirih, “Dulu 35 tahun yang lalu, aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 x. Kini, aku hanya bertanya 3 kali, kamu sudah membentakku 2 kali.”

Cerita klasik dari dataran China tersebut memverifikasi kebenaran pepatah lama, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan (pengkolan).”

Padahal tak sekadar mengajari anak berbicara, Ibu juga telah mengandung janin selama 9 bulan 10 hari, kemudian berjuang menghadirkan bayi ke dunia dengan pertaruhan nyawa dalam persalinan yang bersimbah darah, peluh, dan air mata.

Bahkan pengorbanannya tak berhenti sampai di situ, ibu siap begadang menemani bayinya, memberi ASI, mengganti dan mencuci popok, menyuapi makan, meninabobokan sebelum tidur, merawat ketika sakit, (menitah) mengajarkan berjalan, mengenal lingkungan sekitar, mendidik dan mengantar ke sekolah.

Buku “Resep Cinta Ibu” ini membangkitkan kenangan manis ihwal orang tua, terutama sosok Mama. Terdiri atas 18 kisah pengalaman menjadi Bunda. Penulisnya 11 wanita yang dikaruniai kesempatan menjadi figur feminim tersebut.

Ternyata salah satu dilema terbesar kaum ibu ialah membagi waktu untuk buah hati tercinta dan karir. Terutama pasca persalinan dan saat menyusui dengan ASI ekslusif. Air susu alami pertama yang dikeluarkan berupa cairan bening. Dalam bahasa medis disebut kolostrum. Kandungan gizinya dapat meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas). Jadi sedari awal, para ibu seyogianya memberikan “hak” para bayi tersebut.

Menurut salah satu penulis, Ibu Nenny, “Buatlah aktivitas menyusui menjadi sesuatu yang menyenangkan kita dan membahagiakan bayi. Sungguh hal ini luar biasa. Begitu Allah memudahkan segala urusan bila hati kita sudah berniat, tenang, dan ikhlas (halaman 46).”

Wanita yang bekerja di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tersebut lantas berbagi tips agar ASI tetap mengalir deras. Caranya dengan rajin makan sayur-sayuran. Antara lain daun katuk, kacang hijau, susu kedelai, sayur bayam, madu asli, dan banyak minum air putih.

Di Indonesia, ada dua organisasi yang sangat aktif memromosikan pentingnya ASI eksklusif, yaitu Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Kedua lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut gencar melakukan pelatihan dan konseling seputar ASI.

Menjadi ibu memang sebuah kebanggaan bagi setiap perempuan. Karena ia merasa sempurna sebagai seorang wanita.  Bunda sebutan istimewa bagi kaum Hawa yang telah menikah dan melahirkan seorang anak.

Dalam tradisi Islam, Ibu dimuliakan lewat ayat-ayat Al-quran. Hadis Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu mengisahkan, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian baru ayahmu…” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ibunda Nabi Musa juga rela berpisah di tepi sungai demi keselamatan anaknya. Demikian pula dengan Ibunda Isa Sang Masiha yang tetap bertahan menghadapi cercaan tetangga karena Isa kecil lahir tanpa sosok seorang ayah. Bunda Maria berjuang sendiri untuk membesarkan dan mendidik Nabi Isa.

Pun perjuangan Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail tak pelak mengundang decak kagum. Beliau rela hidup di padang pasir yang tandus. Ibunda Nabi Ismail kemudian berlari seorang diri dari bukit Safa ke bukit Marwah demi seteguk air untuk  bayinya.

Menjadi Telingaku

Buku ini juga memuat kisah seorang ibu yang memiliki anak tuna rungu. Di suatu gereja, pastor parokinya gemar bernyanyi. Saat homili beliau suka menyisipkan sebait lagu yang sedang hit (populer). Secara kreatif beliau mengubah beberapa bagian liriknya. Tentu sesuai isi kotbah yang sedang disampaikan (halaman 80).

Pada bait yang lucu - pasca diubah oleh Pastor - umat di gereja sangat menikmati lantunan suara emas beliau. Anak penulis yang besar, Vincent bertanya, ”Bu, kenapa Pastor mengubah lagunya? ‘kan kalimatnya bukan seperti itu.” ”Ya supaya umat tidak bosan dan isi wejangan Romo bisa mudah diingat kita semua,” jawab sang Ibu. Si anak kembali menyahut,” Oh…gitu ya Bu. Pastornya pintar…” Sembari tersenyum mengingat bunyi syair tersebut.

Namun berbeda dengan Vinta, anak kedua Estiningsih Budi Rahayu. Tampak Vinta memasang wajah  bingung   sambil  menoleh ke kiri dan kanan. Dia mencolek tangan ibunya dan berkata, ”Bu, apa yang lucu? Mengapa orang-orang tertawa? Kalau di gereja harus sopan, tidak boleh bergurau!” Lalu sang Ibu menjelaskan bahwa tadi Romo berkotbah, beliau menyanyikan sebuah lagu bagus. Dan…ada syair yang diganti supaya umat tidak mengantuk.

”Wah, Pastor hebat ya Bu, bisa membuat orang senang. Kalau saya bisa mendengar, saya pasti tertawa juga dan sepulang misa saya mau bilang ke beliau bahwa saya suka homili Pastor. Tapi saya tuli jadi tidak bisa mengerti,” sahut Vinta. Tatkala mendengar tanggapan itu, spontan hati sang Ibu merasa “tertusuk”. Kenapa? karena ia sering menganggap bahwa Vinta hanya perlu tahu hal-hal yang memang ia butuhkan sebagai anak tuna rungu.

Singkat cerita, Ibunda tadi menjelaskan pelan-pelan ihwal nyanyian Pastor. Agar bisa dibaca gerak bibirnya. Untuk memeroleh efek jenaka, sang Ibu berujar, ”Tadi Romo waktu menyanyi ada kata yang lupa. Dia memerhatikan dengan saksama sembari menahan tawa dan berkata, ”Wah… Pastor tadi malu, ya Bu…Ditertawakan banyak orang di gereja. Tapi tidak apa-apa, karena Pastor hebat dan suaranya pasti merdu!”

Seusai Ekaristi keduanya pulang berjalan kaki karena jarak rumah dan gereja hanya beberapa ratus meter. Di jalan Vinta menggenggam tangan ibunya dan berkata, ”Terima kasih ya Bu, sudah  menjadi telingaku. Kalau Ibu sama-sama tuli seperti saya, pasti kita tidak bisa tertawa bersama Pastor. Saya senang Ibu tidak tuli, bisa membantu saya mendengarkan.” Dan di sepanjang perjalanan air mata sang Ibu terus berlinang… (halaman 83).”

Tiada mawar tanpa duri begitu pula buku ini. Sebagian besar kontributor penulisnya baru kali pertama menulis. Sehingga dari segi redaksional perlu ada pembenahan. Misalnya pada bagian kata pengantar, “…kisah-kisahnya sungguh bermakna dan dapat dijadikan pelepas dahaga yang memberikat kekuatan (halaman 9).” Barangkali yang dimaksud ialah “memberikan”. Dalam konteks ini, peran editor dan proof reader menjadi sangat signifikan.

Terlepas dari kelemahan tersebut, buku setebal 111 halaman ini menguak lika-liku menjadi seorang ibu secara detail. Sejak dari proses mengandung sampai teknis cara mendidik anak. Layak dijadikan bacaan bagi para pasangan yang berencana membangun rumah tangga, ibu-ibu muda, dan siapa saja yang peduli pada pengorbanan sosok terpenting dalam hidup manusia tersebut. Menyitir syair Byron in Sardanapulus, “Payudara ibulah yang memancarkan kehidupanmu ke dunia. Bibirnya yang mengajarkan tutur kata pertamamu. Ia pula yang menyeka airmatamu ketika pertama engkau menjerit kepada dunia. Dan…keluh-kesahmu selalu berakhir di telinga Ibu.” Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam), Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman, TK Mata Air Yogyakarta)
1365641010735071325

April 06, 2013

Mengoptimalkan Kinerja Otak Kanan

Dimuat di Jogjakarta-Jateng Pos, Minggu/7 April 2013


Judul: Klinik Belajar Otak Kanan
Penulis: Femi Olivia
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 1/Juni 2012
ISBN: 9786020027296
Tebal: xii + 176 halaman
Harga: Rp32.800

Setidaknya ada tiga model pembelajaran anak didik. Tipe visual lebih mudah mengingat dengan cara menggambar dan membuat peta pikiran (mind mapping). Sedangkan, tipe auditori lebih mudah memahami pelajaran lewat obrolan santai, akrostik, dan lagu. Tapi ternyata mayoritas anak merupakan pembelajar kinestetik. Mereka lebih mudah menangkap pelajaran jika diijinkan menyentuh dan mempraktikkan langsung. Eksperimen lewat tamasya ke alam, gerakan aktif, dan olah seni sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran (halaman 57).

Lewat buku Klinik Belajar Otak Kanan ini, Femi Olivia juga memaparkan riset intensif Prof. Howard Gardner dari Harvard University. Prof. Gardner ialah penemu 8 jenis kecerdasan anak. Tipe musikal lebih suka belajar sambil mendengarkan musik. Tipe visual-spasial lebih suka memerhatikan media gambar warna-warni. Tipe logis-matematis lebih suka bergelut dengan angka. Tipe lingustik kaya perbendaharaan kata dan bahasa. Tipe kinestetik lebih suka belajar menggunakan gerakan. Tipe intrapersonal rajin mencatat di buku harian. Tipe interpersonal menikmati proses belajar bersama teman-teman. Tipe naturalis biasanya suka belajar di bawah langit di tengah alam terbuka.

Artinya, orang tua dan para guru perlu memerhatikan anak secara cermat. Sehingga dapat mengenali kecenderungan belajar mereka. Alhasil, proses pembelajaran menjadi mudah, lancar, dan menyenangkan. Prinsipnya sederhana tapi universal. Tidak ada anak bodoh di dunia ini. Mereka hanya perlu diberi kesempatan untuk mengeluarkan potensi diri secara optimal. Senada dengan petuah bijak Plato, “Arah pendidikan dimulai ketika seorang anak dapat menentukan masa depannya sendiri.”

Sistematika buku terdiri atas 4 bagian pokok. Pertama, bagian pengantar menggugat orang tua dan guru yang terlalu “memanjakan” otak kiri anak ketimbang otak kanannya. Kedua, antara lain memuat arah kemampuan retrival alias proses memanggil kembali informasi dalam otak. Ketiga, aneka jurus untuk merayu anak agar jadi “hobi” belajar. Keempat, panduan bagi para orang tua dan guru untuk memfasilitasi buah hati tercinta menjadi murid jempolan.

Menurut penulis, salah satu cara efektif untuk menghapal ialah lewat media cerita. Dongeng ialah alat pengingat mujarab. Kenapa? Sebab menghubungkan kata-kata dalam sebuah rangkaian sehingga mudah digambarkan dalam pikiran. Sebagai contoh, saat anak musti mengingat macam-macam enzim bisa dirangkai dalam bentuk kisah, “Ada 3 orang bekerja pada Pak ENZIM. Pertama, si AMILASE yang bekerja di bagian pH netral alias sedikit asam. Kedua, si PEPSIN yang mengidap sakit lambung karena suka makan buah asam. Ketiga, TRIPSIN yang suka basa-basi kalau ditawari makan sate usus halus.” (halaman 100).

Anak juga jadi lebih mudah belajar kalau materi pelajaran dijadikan orkes suara. Secara khusus, pembelajar tipe auditori sangat menggemari teknik ini. Misalnya untuk mengingat macam-macam peristiwa alam, banjir (seolah-olah mendengar suara air mengalir byur, byur, byur). Halilintar (seolah-olah mendengar suara petir menyambar duuuuuer!). Hujan (seolah-olah mendengar gemericik tetesan hujan yang jatuh di atap tes tes tes).

Prinsip Dasar

Buku ini tak hanya memuat tips praktis mengembangkan kemampuan belajar anak, tapi juga memaparkan prinsip dasar dalam mendidik. Terapkan satu model pengasuhan hanya untuk satu anak. Kenapa? Sebab setiap anak itu unik. Tuhan terlalu kreatif untuk menciptakan dua anak yang bertabiat sama. Selain itu, jika ingin meningkatkan prestasi akademik anak dan memperoleh hasil yang bertahan lama (durable). Ada 3 syarat mutlak, yakni konsistensi, dedikasi, dan kesabaran. Analoginya mirip meregangkan gelang karet, jangan disentak namun harus perlahan-lahan sekali (halaman 63).

Selain itu, penulis mengungkapkan pula hasil penelitian mutakhir dari Columbia University. Ternyata anak-anak yang keluarganya secara teratur makan bersama dalam keadaan rileks, bukan hanya berkemungkinan kecil menyalahgunakan obat terlarang (baca: narkoba), tapi juga terbukti dapat mendapat nilai tinggi di kelas. Oleh sebab itu, resepnya sederhana, sajikan hidangan sehat, matikan TV dan HP/BB, nikmati keakraban antar anggota keluarga satu sama lain. Pun jadikan aktivitas ini sebagai kebiasaan harian.

Pesan lain yang tak kalah penting, jangan biarkan anak hanya duduk di sofa menonton televisi sepanjang hari. Anak-anak harus lebih aktif melakukan kegiatan fisik dan mengalirkan endorphin (morfin alami) ke seluruh tubuh. Caranya mudah, yakni dengan bergabung dengan tim olah raga atau kegiatan ekskul lainnya. Sehingga ia pun dapat meningkatkan jaringan sosial dan pergaulan dengan rekan sebaya. Tapi jika anak lebih suka sendiri, ia tetap perlu berjalan kaki dan bermain di lingkungan pekarangan rumah. Kenapa? Karena para ahli bersepakat bahwa anak yang aktif bergerak relatif lebih ceria hidupnya.

Buku setebal 161 halaman ini dapat menjadi referensi berharga bagi para orang tua dan pendidik dalam proses mendampingi proses tumbuh-kembang anak secara memadai. Kemampuan otak kiri dan otak kanan memang sama pentingnya. Alhasil, buah hati tercinta dapat mengoptimalkan anugerah inteligensia tersebut. Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam), Ekskul Englsih Club di SMP Kanisius Sleman dan TK Mata Air Jogjakarta).

1365296315723131532

April 04, 2013

Food Science dalam Sepak Bola Indonesia

Dimuat di Bola, Kamis-Jumat/4-5 April 2013

Salah satu peneliti olah raga, M. Anwari Irawan mengungkap fakta menakjubkan. Ternyata seorang   pemain sepakbola dalam 90 menit pertandingan total menempuh jarak (distance covered) 9.800-11.500 meter. Bahkan dalam Semifinal Piala Champions Eropa 2007 antara AC Milan versus Manchester United, salah satu pemain AC Milan yakni Andrea Pirlo mencapai jarak tempuh 11.3 km.
 
Lebih lanjut, menurut pakar gizi bagi para olahragawan tersebut, aktivitas dalam olahraga sepakbola merupakan  kombinasi antara gerakan aerobik dan anaerobik. Aktivitas yang bersifat aerobik merupakan kegiatan dengan intensitas rendah. Misalnya berjalan pelan dan berlari-lari kecil. Aktivitas seperti dilakukan   seorang  pemain belakang ketika timnya sedang menyerang. Pun dilakukan oleh pemain   depan   tatkala   timnya   sedang   bertahan.
 
Aktivitas anaerobik dalam olahraga sepakbola merupakan aktivitas dengan intensitas tinggi. Misalnya sprint mengejar bola atau menjaga pergerakan lawan, lari menjelajah (cruising), dribling bola, meloncat (jumping), takling dan menendang bola (kicking the ball).
 
Secara lebih terperinci dari aspek konsumsi energi, dalam satu pertandingan seorang pemain sepakbola dengan berat badan 70 kg rata-rata mengkonsumsi energi sebesar 960-1.440 kkal. Mengingat jarak tempuh pemain rata-rata hampir 10 km serta tingginya tingkat aktivitas  dalam setiap pertandingan, tak pelak olahraga sepakbola dikategorikan sebagai olahraga yang bersifat ketahanan (endurance).
 
Nah dalam konteks tersebut, food science menemukan relevansinya. Secara umum kebutuhan nutrisi seorang atlet profesional diperoleh lewat asupan makanan sehari-hari. Khusus untuk pemain sepakbola, kombinasinya terdiri atas 12-15% protein, 20-35% lemak, dan 60-70% karbohidrat.
 
Sebuah penelitian pernah dilakukan terhadap 8 pemain profesional  di liga sepak bola Denmark. Ternyata pemain yang mengkonsumsi karbohidrat  tinggi (7,9 gr/kg berat badan/hari) memiliki daya  tempuh  relatif lebih jauh  (17,1 km).  Namun ketika pemain tersebut hanya mengkonsumsi karbohidrat dengan kuantitas lebih kecil yakni sebanyak 4.6 gr/kg berat badan/hari, daya tempuhnya pun menurun hanya 16,2 km.
 
Manusia bisa bertahan berhari-hari tanpa makan tapi tidak tanpa minum. Oleh sebab itu, membantu ketersedian cairan di dalam tubuh juga menjadi harga mati. Berdasarkan rekomendasi National Athletic Trainer Association (NATA), seorang atlet dalam interval waktu 2-3 jam sebelum pertandingan/latihan   perlu mengkonsumsi cairan sebanyak 500-600 ml. Lantas, dalam interval 60-90 menit sebelum sepak mula (kick off) juga wajib minum air lagi 600 ml. Alhasil, seusai berlaga terhindar dari dehidrasi.
 
Timnas Garuda dan klub-klub yang berkompetisi di ISL dan IPL perlu memperhatikan secara lebih serius ihwal food science. Hal ini dapat meningkatkan performa di lapangan hijau selama 90 menit nonstop. Ingatlah pepatah dalam bahasa Inggris, “We are what we eat!” (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta) 
 
1365145813409399496

April 03, 2013

Menguak Eksotisme Tanah Sunda


Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Rabu/3 April 2013
http://mjeducation.co/menguak-eksotisme-tanah-sunda/


Judul: The Wisdom of Sundaland
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1/2012
Tebal: ix + 200 halaman
ISBN: 978-979-22-8657-1
Harga: Rp60.000

Dalam tradisi masyarakat Maluku ada istilah pela dan gandong. Pela mengacu pada persahabatan berdasarkan kesadaran bahwa seluruh umat manusia bersaudara. Sementara, gandong merupakan pertemanan berdasarkan kekerabatan, hubungan darah, agama, dan kepercayaan semata. Ketika pela ditempatkan di atas gandong, terjalin relasi inklusif nan harmonis. Tapi tatkala gandong lebih superior ketimbang pela, konflik bernuansa SARA pun menghantui.

Dari Sabang sampai Merauke, kepulauan Nusantara memiliki 300-an suku dan etnik. Dalam konteks kemajemukan tersebut, semangat kebangsaan perlu dikedepankan ketimbang sentimen primordial. Bahkan ternyata ajaran para leluhur begitu universal. Misalnya, masyarakat di Sulawesi (Celebes), mereka memakai dedaunan dan biji-bijian dalam ritual Puang Matoa Saidi. Daun hijau merepresentasikan tubuh, sedangkan bebijian menyimbolkan jiwa. Tujuannya senantiasa mengingatkan manusia pada integrasi raga-sukma.

The Wisdom of Sundaland menguak eksotisme tanah Sunda. Salah satu referensinya ialah karya klasik Adiguru Dattatreya. Beliau menulis kitab Tripura Rahasya sekitar 12.000 tahun silam. Lantas, Swami Sri Ramananda Saraswathi menyadurnya kembali ke Tripura Rahasya; The Mistery Beyond the Trinity (halaman 28).

Menurut penulis, waktu itu relatif. Ketika manusia bahagia, jarum jam berputar begitu cepat. Sebaliknya, saat penderitaan menghampiri, waktu terasa begitu lambat. Bersyukur dan mengingat-Nya dalam suka maupun duka jadi cara ampuh lampaui dualitas. Lantas, kenapa manusia tetap menderita? Sebab, ia melupakan hukum perubahan (Law of Change).

Buku ini juga memuat statistik mengejutkan, 80% gempa dahsyat di dunia terjadi di seputaran The Pacific Ring of Fire. Dari Jawa, Sumatera, hingga pegunungan Himalaya dan laut Mediterania. Itulah sebabnya, nama raja-raja Jawa identik dengan perlindungan alam, misalnya Hamengku Buwana, Paku Buwana, Paku Alam, dll. Seorang pemimpin yang adil niscaya menurunkan berkah dari Bunda Alam Semesta. Sebaliknya, arogansi kekuasaan justru menjadi tumor berbahaya di tubuh NKRI.

Alkisah, leluhur tanah Sunda begitu kaya-raya, makmur-sejahtera, dan bijak-bestari, toh mereka tetap rendah hati. Ibarat belajar dari ilmu padi, semakin berisi kian menunduk. Bahkan, ada pepatah populer dari peradaban Sindhu, “Jo jaaye Jaava so mur na vaapas aaya, jo aaya to par-potta daaya.” Siapapun yang pergi ke Jawa tak akan pernah kembali, tapi kalau ia kembali niscaya membawa kekayaan cukup untuk tujuh turunan. Kata “Jawa” di sini mengacu pada seluruh kepulauan Nusantara kala itu (halaman 71).

Buku ini terdiri ada 17 bab, di antaranya Aksara, Kala, Gamelan, dan Sundara Kanda. Drs. Soedarmono, Dosen Sejarah Universitas Sebelas Maret Solo turut membubuhkan sekapur sirih. Ketua Komunitas Warisan Budaya Surakarta tersebut berpendapat, “Karya tulis ini campuran antara fakta, legenda, dan penelitian ilmiah. Ia mengajak pembaca kembali ke masa ribuan tahun silam, ketika kepulauan Nusantara menjadi semacam Atlantis sebagai pusat peradaban dunia.” (halaman vii).

Lantas, terkait suara kempul gamelan, pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB, 2006) tersebut mendedah inner significant (makna intrinsik) dari suara Neng, Ning, Neng, dan Nang. Misalnya Ning, merupakan akronim dari Wening/hening (Be Silent!). Manusia butuh saat teduh untuk berefleksi. Ironisnya, karena terlalu sibuk dengan aktivitas di luar diri, jati dirinya sendiri acap kali terabaikan. Ibarat memutar kaset/CD, ada saat untuk menekan tombol pause.

Selanjutnya, Nung merupakan kependekan dari kata Kesinungan. Sinonim dengan ketepatan dalam melakukan eksekusi. Senada dengan petuah Romo Driyarkara SJ, “Manusia harus bisa duga dan prayoga alias memiliki kemampuan menebak secara tepat.” Dalam konteks ini, butuh kreativitas dan keluasan cakrawala berpikir. Fanatisme dan sikap merasa paling benar sendiri (rumangsa isa) sangat merugikan. Untuk meraih Nang (Kemenangan), keceriaan, kemauan, kerelaan berkorban jadi kuncinya.

Pada tataran kebangsaan, buku ini juga menyitir pidato legendaris Bung Karno yang masih sangat relevan, “Kita butuh imajinasi. Kita butuh konsep, energi, dan keberanian untuk membangun bangsa ini. Sebuah bangsa wahai saudara-saudariku terkasih, menjadi besar karena imajinasi, fantasi, dinamisme, dan nyali baja untuk berkorban apa saja. Leluhur kita adalah orang-orang besar. Kompleks Candi Borobudur dan Prambanan menjadi saksi kejayaan masa silam. Tapi bagaimana dengan kondisi kita kini? Kita menjadi bangsa yang kurang imajinatif. Kita butuh dinamisme!” (halaman 155).

Buku setebal 200 halaman ini ibarat perkakas alat selam. Dengan menyelami paparan di dalamnya - menyitir pendapat Sylvia Sucipto -  kita dapat memahami psikis manusia Indonesia modern. Selamat membaca!