April 24, 2013

Susno Duadji Gagal Dieksekusi, Anand Krishna Tetap Dibui, Kok Bisa?


RIMANEWS - Sebagai orang awam yang tak begitu paham hukum, saya mengernyitkan dahi sembari geleng-geleng kepala tatkala menyaksikan proses (percobaan) eksekusi lewat layar kaca (live) terhadap Susno Duadji di kediamannya di Jalan Dago Pakar Nomor 6, Kelurahan Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Rabu (24/4/2013) silam.

Pertanyaannya,  apa yang membuat bingung? Yakni karena pihak kejaksaan tebang pilih. Senada dengan pendapat Anggota Komisi III DPR, Eva Sundari, “Anand Krishna (AK) dengan kasus yang sama, yaitu tidak terpenuhi KUHP pasal 197 yang harusnya batal menurut hukum ada pemaksaan eksekusi. Aparat kajari Jakarta Selatan dikerahkan, dibantu polisi setempat menangkap paksa AK. Tapi ternyata untuk Susno Duadji (SD) dan salah satu bupati didiamkan saja hingga saat ini.”

Selain itu, politisi PDIP tersebut juga menyoroti perlindungan yang diberikan Polda Jabar kepada Susno Duadji. Seharusnya polisi netral dan tak memihak (Sumber: http://news.detik.com/read/2013/04/24/210917/2229706/10/susno-gagal-dieksekusi-komisi-iii-pengacara-bisa-perintah-polri-ya?991101mainnews).

Di sisi lain, pihak pengacara mantan Kabareskrim Mabes Polri tersebut memaparkan alasan penolakan mereka. Salah satunya karena dalam putusan di tingkat pengadilan tinggi (PT) terjadi kesalahan fatal. Kasus orang lain dipakai untuk menjerat Susno. Nah ternyata setali tiga uang dengan modus operandi yang dilakukan untuk mengkriminalisasikan Anand Krishna. Parahnya lagi, itu justru terjadi di tingkat MA (Mahkamah Agung).

Putusan MA terhadap Krisna Kumar Tolaram Gang Tani alias Anand Krishna terdapat kejanggalan juga. Dalam putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mencantumkan kasus pidana merek sebagai salah satu alasan kasasi.

Seperti dalam salinan putusan Anand Krishna yang di-download dari website MA, Rabu (14/11/2012), dalam halaman 38 muncul pertimbangan JPU Martha Berliana Tobing mengajukan kasasi:

“Bahwa sebagai bukti bagi Judex Juris tentang tidak pedulinya Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Barat terhadap fakta hukum yang tertuang dalam tuntutan pidana kami dapat dilihat dari putusan yang dibuat oleh Judex Facti Nomor 20/Pid/2006/PT.Bdg tanggal 21 April 2006 yang tidak secuil pun menyinggung tuntutan pidana kami sehingga dengan demikian sungguh cukup beralasan demi tegaknya keadilan dan kepastian hukum untuk menganulir putusan Nomor 20/Pid/2006/PT/Bdg tanggal 21 April 2006 yang dibuat oleh Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jawa Barat.”

Setelah ditelusuri, nomor perkara 20/Pid/2006/PT.Bdg tanggal 21 April 2006 adalah sengketa pidana merek. Dalam berkas perkara MA tersebut, duduk sebagai terdakwa Erik Mulya Wijaya.

Erik didakwa atas perbuatan yang melanggar pasal 24 ayat 1 UU No 5/1984 tentang Perindustrian. Di tingkat kasasi, Erik dihukum 2 tahun penjara karena menggunakan merek yang sama dengan merek yang terdaftar milik pihak lain (Sumber: http://news.detik.com/read/2012/11/14/100955/2091191/10/astaga-jaksa-pakai-kasus-pidana-merek-untuk-kasasi-anand-krishna).

Yusril Ihza Mahendra menganalogikannya secara gamblang, “Saya maling ayam, lalu Anda yang dihukum, mau?” tanyanya kepada reporter salah satu televisi swasta. Kemalasan staf pengadilan membuat mereka suka copy paste. Secara lebih makro, pakar hukum tata negara itu menandaskan betapa kacaunya persidangan kita. Alhasil, tidak ada kepastian hukum di negeri ini. Bagaimana bangsa Indonesia bisa maju?

Dalam blog pribadinya, AS Hikam juga turut mengomentari anomali hukum ini. Menristek pada era Gus Dur itu menulis, “Eksekusi paksa terhadap Susno Duaji (SD) oleh pihak Kejaksaan, ada miripnya dengan yang terjadi dengan kasus Pak Anand Krishna (AK). Pihak Kejaksaan mengklaim menjalankan putusan MA sementara SD dan AK menganggap putusan tersebut tidak sesuai dengan aturan hukum.

Tindakan Kejaksaan adalah eksekusi secara paksa pada kedua terdakwa. Namun kemiripan itu stop sampai di sini. Dalam eksekusi paksa terhadap Pak AK, pihak kepolisian (Bali) justru membantu Kejaksaan, yang tak segan-segan melakukan tindak kekerasan terhadap pendukung Pak AK di Ashram Ubud, sehingga beberapa perempuan mengalami luka. Sementara, dalam kasus SD, sampai status ini diposting, tampaknya Polda Jabar justru melindungi SD dari tim Kejaksaan dengan membawa sang mantan Jenderal Polisi tersebut ke Mapolda.

Memang, ketika Pak AK dulu dieksekusi paksa pun, beliau pergi ke Mapolda untuk menghindari kekerasan lebih jauh. Namun, alih-alih ada negosiasi, beliau malah langsung di bawa ke Jakarta dan masuk ke penjara Cipinang. Kita belum tahu apakah dari sana SD juga akan menuju ke balik jeruji, karena konon pihak Kejaksaan dan pengacara SD sedang negosiasi di Mapolda. Apakah mungkin karena Pak AK bukan mantan Jenderal Polisi, sehingga tidak perlu repot-repot negosasi? Wallahua’lam…” (Sumber: http://www.mashikam.com/2013/04/kisah-dua-eksekusi-paksa-kejaksaan.html)

Secara kritis AS Hikam juga mempertanyakan standar ganda yang diterapkan aparat kepolisian, “Terlepas dari persoalan hukum (yang mbulet menurut orang yang bukan pakar hukum seperti saya), tetapi sikap Polri dalam soal SD ini sungguh memalukan dan terang–terangan manipulatif. Polisi melakukan “penyelamatan” dengan alasan yang sangat hebat: karena diminta oleh warganegara (SD) yang merasa terancam keselamatan dan keamanannya (sambil menyitir pasal-pasal dari UU Hanneg No 3/2002).

Argumen ini terdengar hipokrit jika kita bertanya: apakah Polri juga melakukan hal yang sama kepada Pak Anand Krishna? Apalagi kepada rakyat kecil yang tiap hari terancam preman, jemaah Ahmadiyah yang terancam nyawa dan terusir, jemaah Syi’ah yang diusir dar kampungnya, dll? Jawabannya cuma satu kata: Mbelgedhes!!

Mengerikan! Hukum bisa hancur di tangan para penegak hukum! Itulah yang disebut “rule BY law” sebagai lawan dari “role OF law.” (Sumber: http://www.facebook.com/mashikam?fref=ts) (tna)

April 23, 2013

Angin Perubahan Itu Dihembuskan Oleh Pemudi Berusia 16 Tahun

Dimuat di Majalah Pendidikan Online, Rabu/24 April 2013

“UN 2013 bagaikan konser band gak mutu, terus panggungnya ambrol!” – Iwan Pranoto

Arita Gloria Zulkifli  (Arita Kiefl) layak disebut sebagai pelopor transformasi dunia pendidikan di republik ini. Ia siswi kelas XII SMA Charitas Jakarta yang berani berbicara blak-blakan ihwal karut-marut pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2013.
Wawancara eksklusif dengan pemudi yang masih berusia 16 tahun ini ditayangkan live oleh Metro TV pada Jumat malam (19/4). Semoga ada yang mengunggah rekamannya di Youtube agar lebih banyak anak negeri yang menonton dan tergetar hatinya. Semula Arita menulis di sebuah portal jurnalisme warga pada Senin siang (15/4). Ia baru pulang merampungkan UN hari pertama dan langsung menumpahkan isi hati:

**
Keluhan Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN) (Curahan Hati Seorang Pelajar)

Tulisan ini bukan provokasi, bukan intimidasi, hanya bentuk curahan hati penyesalan dan kekecewaan seorang siswi SMA kelas XII berumur 16 tahun yang merasa “dijahili’.

Hari ini tanggal 15 April 2013 bisa dibilang hari penentu bagi kami siswa-siswi kelas 12 SMA seluruh Indonesia. Hari ini, rutinitas tahunan Ujian Nasional dilaksanakan secara serempak se-Indonesia (meskipun beberapa daerah, terpaksa diundur).

Rasa takut pasti ada, wajar, kami pelajar biasa, bukan super. Meski sering kali kami mengeluh karena adanya UN dengan segala kecurangan yang sekarang ‘nyaris’ dianggap kebenaran ini yang dilakukan oleh BANYAK oknum, namun inilah negara tercinta kami, mau tak mau harus dijalani.

Tak bisa dipungkiri kecurangan UN memang ada dimana-mana, bahkan aku ditawari secara cuma-cuma, dan bukan munafik teman tercinta pun banyak yang mengandalkannya. Syukur, teman-teman yang ku maksud bukan teman sekolah, kami semua bersih. Sampai mati aku gak bakal pakai ‘contekan’, aku bukan pecundang. Lebih baik aku gagal karena PRINSIP, keteguhan hati, nurani dan akhlak, daripada berhasil karena curang. Bukan idealis, hanya realistis.

Namun, bukan kecurangan itu yang ku maksud, bukan itu masalahku. Hari ini, pada saat ini, aku sangat kecewa dengan LJUN yang digunakan tahun ini. Hanya selembar kertas ’se-level’ kertas HVS yang biasa kugunakan untuk coret-coret gak jelas. Bahkan ketika bulatan yang kupilih dihapus, cetakannya ikut terhapus.

Bukan itu kualitas yang kami harapkan! Fotokopi 100 perak saja cetakannya susah dihapus bahkan gak bisa. Bayangkan betapa riskannya LJUN tersebut. Padahal, kami selalu diwanti-wanti agar LJUN tetap rapi dan tidak bolong.

Beberapa nomor yang kuhapus nyaris bolong kertasnya ketika hendak dibulatkan kembali (tentu sudah dengan teliti dan sehalus mungkin). Bahkan LJK (Lembar Jawab Kerja) Try Out kami sehari-hari jauh lebih baik kualitasnya daripada LJUN. Bukan mau sok tahu, namun ini kenyataan yang kami hadapi, siswa-siswi yang merasa dikadali.

Bukan mau menghakimi, namun hanya ingin tahu. Apa anggaran sejumlah Rp 120.457.937.603,00 tidak cukup untuk memberikan kualitas yang terbaik buat generasi penerus bangsa? Gak muluk-muluk, kami hanya ingin diberikan fasilitas yang selayaknya. Kami merasa hanya sebagai proyek tahunan dari beberapa oknum nakal yang ingin dapat ‘bonus’ cuma-cuma. Jangan salahkan kami atas persepsi ini, setiap hari yang kami tonton dan baca cuma berita negatif dan KORUPSI.

Kami hanya berharap, kami siswa-siswi penerus bangsa, tidak dipandang sebelah mata lagi. Jangan rusak masa depan kami. Jangan terus-terusan jadikan kami ‘kelinci percobaan’, dengan segala proyek baru baik yang sudah dijalankan maupun yang akan dilaksanakan.

Mungkin banyak siswa-siswi yang gak merasa buruknya kualitas LJUN ketika dihapus, karena mungkin mereka hanya menyalin dan tidak perlu menghapus. Namun, lebih banyak lagi pelajar yang merasa kalau LJUN tersebut memang tidak layak. Aku punya banyak bukti, dari ocehan pelajar-pelajar di sosial media.

Sekali lagi, ini bukan provokasi, cuma curahan hati seorang pelajar dan jutaan pelajar lain, gak lebih. Mohon dimengerti. Saya cuma berharap, UN tahun yang akan datang, bahan kertasnya bukan kualitas tisu, tapi harus dipertebal.

Kecil (pelajar), bukan berarti tidak bisa unjuk rasa. Semua orang berhak menegakkan kebenaran. Saya tidak mau lagi berpura-pura ‘tidur nyenyak’ di ‘rumah sendiri’ yang jelas-jelas dikepung ‘maling’. Namun, hati kecilku ini akan terus berusaha percaya, tanah airku akan pulih. Salam sukses buat semua siswa-siswi kelas 12 SMA! Jangan jadi pecundang, percaya sama diri sendiri.

Arita Gloria Zulkifli (Arita Kiefl), 16 tahun
SMA Charitas

**

Penulis sengaja menampilkan curahan hati nan polos tersebut secara utuh, tanpa editing sama sekali. Walau memang banyak penulisan yang tak sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) tapi toh yang penting ialah esensi dan semangatnya. Lantas, spirit apa yang tersirat di balik keluhan seputar LJUN (Lembar Jawaban Ujian Nasional) di atas?

Pertama, kejujuran. Ia mengaku ditawari bocoran UN oleh seorang kenalan via BBM (BlackBerry Messenger), tak tanggung-tanggung lengkap ada 20 tipe jawaban. Bahkan, ia tak harus membayar sepeser rupiah pun alias gratis. Namun jawaban Arita patut diacungi dua jempol, “Sampai mati aku gak bakal pakai ‘contekan’, aku bukan pecundang. Lebih baik aku gagal karena PRINSIP, keteguhan hati, nurani dan akhlak, daripada berhasil karena curang. Bukan idealis, hanya realistis.”

Sikap tanpa kompromi pada nilai kejujuran semacam itu yang dibutuhkan negeri ini untuk bangkit. Seorang pembaca sontak menanggapi, “Senang mendengar masih ada pelajar yang jujur, tidak mau menyontek sama sekali. Keep the spirit, masa depanmu sama sekali tidak tergantung sama satu lembar jawaban UN, tapi tergantung dari kepribadian, kejujuran, tekad, dan semangat untuk menjadi lebih baik dari dirimu sekarang. GBU!”

Ironisnya, pengampu kebijakan publik terutama Kemendikbud yang dipunggawai oleh M. Nuh terus berkelit bahwa UN 2013 mayoritas berjalan lancar. Apa benar demikian? Faktanya di lapangan sungguh jauh berbeda. UN 2013 bisa jadi merupakan pelaksanaan Ujian Nasional terburuk sepanjang sejarah 68 tahun Indonesia merdeka.

Betapa tidak, ada naskah soal dan lembar jawaban UN yang disatukan sehingga sebelum mulai mengerjakannya, para siswa disuruh menyobeknya sendiri dengan menggunakan penggaris. Soal yang tertukar juga banyak terjadi, baik itu lintas provinsi maupun lintas mata pelajaran. Ujian bahasa Inggris mendapat soal Matematika, sedangkan lembaran untuk daerah yang satu kesasar ke daerah lainnya. Akhirnya soal dan lembar jawaban UN terpaksa difotokopi.

Selain itu, di beberapa daerah UN mundur sampai lima jam, pukul 1 siang bel baru mulai  berdentang. Bahkan ada siswa yang sudah datang tapi disuruh pulang karena kiriman soal dan lembar jawaban tak kunjung sampai. Tentara Nasional Indonesia (TNI) sampai mendapat perintah dari panglima tertingginya untuk mengirimkan setidaknya 5 buah pesawat militer. Tapi bukan untuk berperang melainkan turut mendistribusikan lembar soal dan jawaban UN.

Sudah sedemikian nyata karut-marutnya kok Mendikbud masih mengatakan semua baik-baik saja? Ibarat penyakit, yang pertama dan utama ialah mengakui bahwa kita sakit, baru kita mulai berupaya menemukan obat atau terapi yang tepat. Jika M. Nuh dan segenap jajarannya di Kemendikbud tak kunjung mengakui kesalahannya dan terus melemparkan tanggung jawab kepada pihak percetakan pemenang tender – dalam hal ini PT. Ghalia – maka kejadian serupa niscaya terus berulang di masa mendatang. Bahkan tak hanya di tingkat SMA, tapi merata di level SMP dan SD.

Kedua, kritis. Secara khusus, Arita yang bercita-cita menjadi presiden ini mengkritisi LJUN yang setipis kertas tisu. Alhasil tatkala terjadi kesalahan pengisian kolom lembar jawaban lantas menghapusnya bisa nyaris bolong. Padahal kalau sampai berlubang bisa berpotensi untuk tak terpindai oleh mesin saat dikoreksi kelak. “Apa anggaran sejumlah Rp 120.457.937.603,00 tidak cukup untuk memberikan kualitas yang terbaik buat generasi penerus bangsa?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Selain itu, secara psikis konsentrasi para siswa tentu terganggu karena harus mengerjakan UN di atas “ranjau” kertas. Selama ini pelajar memang cenderung dijadikan objek. UN yang notabene  banyak digugat oleh masyarakat masih tetap dipaksakan untuk dijalankan. Bisa jadi ini cara terakhir sebelum pergantian Kurikulum 2013 untuk menuai rupiah guna kampanye jelang pemilihan umum 2014. Dalam bahasa Arita, ia menyebutnya “proyek picik”.

Akhir kata, para siswa yang tergoda untuk berbuat curang saat UN tidak ubahnya para koruptor tersebut. Kelulusan, nilai bagus, dan kebanggaan mereka bersifat semu. Ibarat gelembung balon sabun yang mudah pecah. Kendati demikian, Arita Gloria Zulkifli telah menghembuskan angin perubahan demi pencerdasan kehidupan bangsa yang lebih otentik. Melihatnya di televisi dan mencermati tulisannya, memberikan harapan bahwa masih ada generasi muda yang bisa diandalkan. Salam Pendidikan!
1366782718457592847
Sumber Foto: http://ciricara.com

Kreativitas Itu Lintas Batas

Dimuat di Oase Kompas.com, Rabu/24 April 2013

Judul: Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan: II/ Februari 2013
Tebal: xvii + 302 halaman
ISBN: 978-602-8811-99-6
Harga: Rp59.000 

Masih ingatkah Anda pada kasus Prita Mulyasari? Ia seorang ibu rumah tangga di Tangerang yang digugat oleh sebuah Rumah Sakit Internasional. Saat itu, banyak masyarakat merasa gerah menyaksikan ketidakadilan yang menimpa Prita. Ia harus membayar ganti rugi sebesar Rp204 juta hanya karena sebuah surat elektronik yang memuat komplain terkait perawatan di rumah sakit tersebut. Prita dituntut dengan pasal pencemaran nama baik.

Dalam waktu relatif singkat, jutaan masyarakat Indonesia berinisiatif menggalang dana dengan mengumpulkan koin untuk membayar ganti rugi tersebut. Wahyu Aditya pun tergerak berpartisipasi sesuai kompetensinya. Seniman desain dan aktivis animasi ini membuat logo perlawanan. Proses produksi desain Free Prita! hanya memakan waktu 2 jam. Tak ada yang menyuruhnya, sekadar respon spontan terhadap sebuah fenomena sosial.

Lantas, Pendiri HelloMotion Academy yang sejak 2004 telah meluluskan 2.000 siswa tersebut menyebarkannya lewat blog, Facebook, dan forum-forum on line populer seperti Kaskus. Harapannya sederhana saja, agar banyak orang menggunakan gambar grafis tersebut di avatar atau profile picture mereka sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap Prita.

Beberapa hari kemudian, paska penulis merilis logo tersebut, para panitia yang sedang menggalang dana untuk Prita menjadikannya sebagai logo resmi. Pun logo yang notabene dibuat secara spontan tersebut juga dipakai untuk kampanye penggalangan dukungan lewat T-shirt, stiker, banner, backdrop, press conference, hingga poster konser amal. Lihat dokumentasinya di halaman 66. Pemenang Best Short Movie dalam JiFfest 2004 itu merasa bangga karena menjadi bagian dari gerakan penggalangan dana yang fenomenal. Tak tanggung-tanggung total uang yang terkumpul Rp650 juta lebih! Selain itu, akhirnya Prita juga bebas. “Senang rasanya ketika karya kita bermanfaat untuk banyak orang,” ujarnya (halaman 67).

Sistematika buku “Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati” terdiri atas 17 butir pencerahan untuk menemukan sumber kreativitas dalam diri. Antara lain berjudul, “Lakukan Hal Spontan,” “Rangkul Keterbatasan,” “Mampu Mengurai,” “Fleksibel Saja,” dll.  Pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2008 ini memang sengaja mendesain buku ini agar bisa dibaca tanpa harus dirunut dari awal sampai akhir. Pembaca dapat menikmatinya secara acak (random). Selain itu, jika pembaca bosan dengan cover depan yang asli, kita bisa menggambar desain sampul sendiri setelah diputar dan dilipat. Kreatif bukan?

Juara Dunia British Council – International Young Creative Entrepreneur 2007 ini juga mendirikan Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) (belum/tidak sah) pada Agustus 2006 silam. Visi kementerian ini untuk menyebarkan semangat Indonesia ke dunia melalui kekuatan visual! Sasaran propaganda ialah anak muda dan siapa saja yang berjiwa muda. Caranya dengan membentuk komunitas berjiwa militan bernama Gembolers. Kenapa disebut demikian? Karena Menteri KDRI ialah Mas Gembol (halaman 236).

Mas Gembol hobi sekali mendesain ulang visual produk pemerintahan Indonesia yang dianggap kaku, monoton, dan nggak asyik. Saat ini, KDRI beranggotakan puluhan ribu orang Gembolers yang aktif berinteraksi lewat dunia maya. Ciri khas mereka sangat “Gembol sekali”. Dalam pengertian berpikiran terbuka, tidak anarkis, kreatif, dan tentunya cinta Indonesia. Pada halaman 245 termaktub salah satu logo hasil kreasi mereka, ‘Kenali, Cintai Indonesia!” Ibarat kata pepatah, “Bagaimana mau sayang kalau belum kenal?”

Dalam pelbagai seminar, penulis sering mendengar curhatan peserta. Banyak anak muda yang dipaksa oleh orang tua mereka untuk menjadi PNS. Bahkan ada yang sampai diancam tidak boleh pulang kalau tak mau menuruti. Menurut Wahyu Aditya, profesi PNS tidaklah jelek, malah merupakan pekerjaan mulia. Karena tugasnya melayani masyarakat dan berbhakti pada negara. Kendati demikian, para pemikir tua juga harus menyadari bahwa dunia terus berubah. Jenis profesi baru di abad ke-21 ini bermunculan ibarat jamur di musim hujan.

Misalnya Ligwina Hananto, ibu 3 anak ini bekerja sebagai Perencana Keuangan Independen. Ia lebih banyak mengurusi keuangan sebuah keluarga. Suaranya ceplas-ceplos, celetukannya jujur, sehingga membuat pendengarnya sadar diri, terutama terkait masalah finasial. Visinya sederhana tapi mulia, Mbak Ligwina mau menciptakan keluarga kelas menengah yang melek finasial, memiliki keuangan yang terencana - mulai dari dana pendidikan, dana pensiun, lancarnya pembayaran utang hingga paham investasi. Tesisnya pun unik, semakin banyak kelas menengah yang kuat niscaya Indonesia kian makmur (halaman 272).

Buku setebal 302 halaman ini menyadarkan bahwa kreativitas itu lintas batas. Mulai dari ranah sosial kemasyarakatan sampai finansial an sich. Layak dibaca oleh setiap orang yang mau jadi lebih kreatif. Menyitir pendapat Fadly Padi, “Kreativitas adalah salah satu bentuk kemerdekaan dalam berimaginasi. Kreativitas itulah yang mencetak orang-orang besar!” Selamat membaca dan salam kreatif! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam), Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman dan TK Mata Air Yogyakarta)

13667645571924390880

April 20, 2013

Apakah UN (Masih) Dibutuhkan?

Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Sabtu/20 April 2013

Tingkah pongah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh sungguh membuat jengah. Betapa tidak, tatkala diwawancarai para wartawan ihwal desakan mundur terkait pelaksanaan UN (Ujian Nasional) tahun ajaran 2012-2013 yang amburadul, ia malah berakting layaknya seorang aktor, melangkah mundur lantas maju lagi sembari tersenyum-senyum.

Menurut hemat penulis, kurang elegan jika seorang menteri bersikap seperti itu. Terlebih saat 5.000-an lebih siswa-siswi SMA/SMA/MA/SMALB di 11 provinsi di Indonesia terpaksa menelan kekecewaan karena UN-nya ditunda. Kalau kejadian serupa terjadi di Jepang, besar kemungkinan pejabat bersangkutan telah melakukan harakiri. Sebab mereka masih memiliki budaya malu. Dalam konteks ini, pendidikan karakter kian menemukan relevansinya. Terutama bagi para pengampu kebijakan publik. Paribasan kejawen juga terbukti kebenarannya, melik nggendong lali (kekuasaan memang membuat lupa).

Secara kontras, sikap Dahlan Iskan bisa jadi suri tauladan bagi M. Nuh. Kendati berbeda kasus, namun terlihat jelas kepedulian dan sisi humaniora pendiri JAWA POS grup tersebut. Pada Selasa (16/4/2013) Menteri BUMN itu menemui Fransiskus secara langsung, seorang demonstran yang sudah 2 hari nekat bertahan di pucuk menara SUTET di depan Pasar Senen, Jakarta. Lalu, mantan Dirut PLN tersebut meneriakinya (semula tanpa TOA) dan merayu pria asal Flores itu segera turun demi keselamatan bersama.

Artinya, alangkah lebih baik kalau Mendikbud juga menunjukkan empati serupa kepada para “korban”, dengan datang ke daerah terpencil di salah satu provinsi yang jadwal UN-nya mundur. Lantas, temui dan sapa siswa-siswi yang dirundung kekecewaan tersebut. Selain itu, berikan garansi (jaminan) agar insiden serupa tak akan terulang di masa depan. Indonesia sudah 68 tahun merdeka, tapi baru kali ini penundaan UN sampai 3 hari (Senin, Selasa, Rabu). Dari total 33 provinsi dari Sabang sampai Merauke, sepertiganya atau 11 daerah terpaksa baru akan melaksanakan UN pada Kamis (18/4/2013).

Ironisnya, yang dijadikan kambing hitam ialah pihak percetakan. PT. Ghalia merupakan 1 dari 6 perusahaan printing pemenang tender yang dituding tak memenuhi tenggat waktu (deadline). Kendati demikian, fakta ini masih simpang siur. Kedua belah pihak seperti saling lempar bola panas. Sebab, pihak PT. Ghalia menyatakan seharusnya mereka diberi waktu 60 hari, tapi pihak Kemendikbud ngotot mengatakan deadline-nya sama dengan yang lain, yakni 25 hari.

Sebagai langkah pragmatis, kini personil ditambah untuk mengepak dan mendistribusikan lembar soal dan jawaban UN. Bahkan pihak TNI, Kepolisian, Pemda, Dinas Pendidikan setempat dikerahkan. Tak ayal kondisi ini mengingatkan pada kondisi darurat perang dan bencana nasional. Insiden semacam ini harusnya bisa diantisipasi jika Kemendikbud tidak terlalu “Barat Sentris.” Mengapa soal dan lembar jawaban harus dicetak di Jakarta dan Bogor saja? Mari belajar dari banyak penerbitan surat kabar nasional yang memiliki percetakan di daerah. Alhasil, proses distribusi bisa lebih mudah dan lancar.

Lantas secara paradigmatis, penulis sepakat dengan tesis J. Sumardianta. Menurut Guru SMA Kolese John De Britto Yogyakarta itu karut-marut sepanjang masa UN dalam sistem pendidikan nasional merupakan fenomena kodok rebus (Guru Gokil Murid Unyu, Bentang, 2013). Sebab departemen pendidikan seolah telah mengkondisikan masyarakat, guru, dan siswa menderita lewat status quo bernama UN.

Sentralistis

Padahal dari segi teknis saja, UN jelas berseberangan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP memberikan kewenangan pada guru untuk mengkreasi kurikulum, yakni agar selaras dengan konteks sosial, ekonomi dan lingkungan di mana sekolah berada. Spirit KTSP multikultural, demokratis, dan desentralisasi. Sebaliknya semangat UN sentralistis dan monokultural.

Bahkan sejak 2011 proporsi nilai UN dibanding nilai sekolah 60:40. Perbandingan ini jelas timpang dan tak adil. Sebab UN yang notabene hanya sekali menguji sebagian mata pelajaran diberi porsi besar. Sedangkan nilai sekolah yang komprehensif mulai dari nilai rapor, ujian praktik, dan ujian sekolah justru jatahnya kecil. Selain itu, soal UN seluruhnya berupa pilihan ganda. Ini merupakan produk mental primitif. Pun sebuah proses mengingat dengan gradasi kualitas mental paling rendah. Apalagi jika siswa sudah mendapat bocoran kunci jawaban.

Agar lulus UN para siswa cukup menghafal jawaban tanpa pernah paham tentang ontologi dan epistimologinya. Padahal nilai UN bagi siswa SMA cenderung mubazir karena tidak memiliki fungsi sertifikasi. Sama sekali tak bisa dipakai untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Bukankah lulusan SMA yang hendak melanjutkan studi ke PTN harus lolos tes SNMPTN? Sedangkan, bagi yang masuk lewat jalur undangan khusus, harus menunjukkan nilai rapor semester I sampai V yang notabene dilaksanakan jauh hari sebelum UN digelar.

Setali tiga uang dengan nasib pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hasil UN mereka percuma. Toh saat mereka mencari kerja yang diverifikasi bukan nilai UN tapi kecakapan keras (hardskill) dan lunak (softskill) dalam bidang permesinan (mekanik), pengolahan makanan (jasa boga), peternakan, perikanan, dan pertanian. Alhasil, UN justru merecoki konsentrasi siswa SMK kelas XII karena terpecah untuk persiapan UN yang teoritis konseptual, sedangkan praktik vokasional justru dinafikan. Lebih miris jika berbicara tentang SMALB (Sekolah Menengah Atas Luar Biasa). Siswa-siswi yang memiliki kondisi psikis dan fisiologis berbeda harus mengerjakan soal yang sama dengan peserta didik lainnya.

Akhir kata, bisa jadi insiden penundaan UN ini sebuah peringatan (warning) bagi kita semua, yakni agar evaluasi pendidikan seyogyanya tak diseragamkan. Ibarat petani yang bercocok tanam, tanaman mesti diperlakukan sesuai konteks alam setempat. Artinya proses pembelajaran pun harus seturut penjiwaan pendidik, yakni guna menjawab kebutuhan riil para siswa. Pertanyaan besarnya ialah, “Apakah UN (masih) dibutuhkan anak bangsa?”
13664607692039541236
Sumber Foto: http://mjeducation.co/apakah-un-masih-dibutuhkan/

April 19, 2013

Ide Kreatif Dirangsang, Bukan Tunggu Wangsit

Dimuat di Harian Detik, Sabtu/20 April 2013

1366420898158766415

Judul: Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan: II/ Februari 2013
Tebal: xvii + 302 halaman
ISBN: 978-602-8811-99-6
Harga: Rp59.000

“Jadilah seperti anak kecil, hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif.”

Bagaimana sih cara memunculkan ide-ide kreatif? Lewat buku ini, penulis berbagi jurus ampuh, yakni dengan berani bertanya kepada diri sendiri. Teknisnya,  mari berefleksi dengan awalan kalimat, “Bagaimana kalau…?” Contohnya, “Bagaimana kalau saya mendirikan restoran dengan menu makanan tanpa MSG?”

Wahyu Aditya juga menceritakan pengalamannya sendiri. Dulu ia pernah bertanya-tanya, “Kenapa anak-anak muda zaman sekarang kurang mengenal tokoh pewayangan?” Lantas muncul pertanyaan susulan, “Bagaimana kalau ia mengubah visual Gatot Kaca versi wayang kulit jadul menjadi Gatot Kaca versi anak gaul? Hasil kreasinya dapat dilihat di halaman 74. Desain kaus oblong bergambar Gatot Kaca berwajah angker ternyata laku keras. Bahkan peminatnya tak hanya dari kalangan anak muda, tapi juga dari anak-anak kecil sampai manula.

Lantas, Pendiri HelloMotion Academy yang sejak 2004 telah meluluskan 2.000 siswa tersebut menandaskan bahwa proses pencarian ide kreatif lebih sering tak cukup sekadar dengan menunggu wangsit. Tapi manusia harus berjuang merangsang ide kreatif tersebut agar segera muncul ke permukaan. Caranya dengan menantang diri sendiri untuk menjawab pertanyaan yang telah kita lontarkan sebelumnya (halaman 77).

Sistematikanya, “Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati” terdiri atas 17 butir pencerahan untuk menemukan sumber kreativitas dalam diri. Antara lain berjudul, “Lakukan Hal Spontan,” “Rangkul Keterbatasan,” “Mampu Mengurai,” “Fleksibel Saja,” dll. Pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2008 ini memang sengaja mendesain buku ini agar bisa dibaca tanpa harus dirunut dari awal sampai akhir. Pembaca dapat menikmatinya secara acak (random). Selain itu, jika pembaca bosan dengan cover depan yang asli, kita bisa menggambar desain sampul sendiri setelah diputar dan dilipat. Kreatif bukan?

Pemenang Best Short Movie dalam JiFfest 2004 ini juga memberikan contoh nyata kreativitas anak negeri dalam hal berpakaian. Yoris Sebastian, seorang creativepreneur yang sempat menjabat sebagai general manager termuda di Hard Rock Café Jakarta berkata kepadanya bahwa setiap kali meeting dengan klien, ia selalu menggunakan kaus oblong.

Yoris hendak membuktikan bahwa kaus jangan dianaktirikan sebagai pelindung badan dalam aktivitas kasual saja. Alhasil, kebiasaan tersebut menjadikannya tampak berbeda dan unik dibanding dengan konsultan kreatif lainnya yang lazimnya berdandan formal dan “klimis” (Informal ke Formal, halaman 149).

Cara lain untuk mengasah kreativitas adalah belajar pada anak kecil. Mereka senang mengamati dan menebak bentuk awan dalam wujud lain sesuai imaginasi masing-masing.  Permainan ini merupakan contoh kegiatan sederhana yang bisa dilakukan untuk melatih kreativitas dan daya imaginasi. Ada awan berbentuk kuda dan anjing. Silakan simak fotonya di halaman 191. Dalam konteks ini, tesis Thomas Huxley menjadi relevan, “Jadilah seperti anak kecil, hilangkan prasangka agar tercipta karya-karya kreatif.”

Buku setebal 302 halaman ini menyadarkan bahwa kreativitas itu pun merupakan salah satu sifat Tuhan. Layak dibaca oleh setiap anak manusia yang hendak memekarkan benih kreativitas agar senantiasa berbuah lebat. Selamat membaca dan salam kreatif! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam), Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman dan TK Mata Air Yogyakarta)
13664208621810926741