Januari 28, 2008

MENUJU KELUARGA BAHAGIA

Judul: SAPTAPADI, Tujuh Langkah Menuju Keluarga Bahagia
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2007
Tebal: viii + 236 halaman
Harga : Rp 50.000

"Lebih baik hidup di luar Taman Eden bersama Hawa, daripada hidup di Taman Eden tanpa Hawa." Mark Twain (hlm 32)

Saptapadi merupakan khasanah warisan leluhur Nusantara. Memuat 7 janji penopang bangunan rumah tangga berfondasikan sikap saling percaya (trust), hormat (respect) dan cinta (Love).

Sejak dulu kala nenek moyang bangsa ini sudah berbudaya. Misal berkait urusan keluarga, jarang terjadi eksploitasi (hisap-menghisap) ataupun praktek kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Laki-laki cenderung menggunakan rasio, sedangkan perempuan lebih mengedepankan intuisi. Sebuah sintesa holistik antara unsur maskulin dan feminin.

Ironisnya, di abad ke-21 ini kita malah melupakan kearifan lokal (local-wisdom) tersebut.
Misal berkait istilah "making love" , terjemahan linearnya berarti cinta yang dibuat-buat. Itu - meminjam istilah WS Rendra - tidak otentik. Padahal dalam tradisi Kejawen, "Tresno" identik dengan sesuatu yang murni dan membangkitkan.

Lantas para "dokter cinta" mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka memberikan resep instan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Tentu dengan tarif tertentu. Yakni dengan mengucapkan "I Love You" minimal 3 kali dalam sehari. Tapi ada 2 kemungkinan. Pertama, "pasien" merasa ragu, apakah ia masih mencintai pasangannya? dan/atau ia merasa bersalah atas perselingkuhan yang telah diperbuat.

Anand Krishna menawarkan pedoman prilaku (baca: prinsip dasar) untuk mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera rumah tangga, "Bila Anda belum dapat memahami kebaikan hati pasangan Anda, setidaknya janganlah menjadi penghalang bagi perkembangannya" (hlm 197). Dalam tradisi Kejawen, ada juga paribasan, "Ngono yo ngono - ning yo ojo ngono." Kontekstualisasinya dalam dinamika hidup keluarga ialah jangan merepotkan pasangan kita bila belum mampu mendukungnya. As simple as that!

Tapi kini banyak kaum Adam berpoligami. Alasannya terkesan "rasional", ketimbang selingkuh sembunyi-sembunyi lebih baik berpoligami. Kawin (lagi) dimungkinkan apabila Sang istri tak mampu memberi keturunan. Tapi bagaimana bila "onderdil" si suami yang soak? Kalau memang poligami dihalalkan, kenapa poliandri diharamkan?. Kalau ada Poligami Award, kenapa tak boleh ada Poliandri Idol?. Diskriminasi bias gender ini menunjukkan betapa kuatnya jaring budaya patriarkhal menjerat tubuh molek Nona Pertiwi!

Ini kisah nyata, seorang praktisi poligami memiliki putri tunggal. 26 tahun berselang, sang buah hati tlah beranjak dewasa. Eh tapi malah dimadu orang. Roda karma berputar, saat itu ia baru tersadarkan bahwa betapa sakit hati istri yang menjadi korban poligami. Sehingga janji Saptapadi berbunyi, I shall be faithfull to you." Intinya, "Aku akan senantiasa setia kepadamu!" (hlm 153).

Esensi pernikahan ialah persahabatan. Menurut Ki Ageng Suryametaram, hidup ini cen mulur-mungkeret. Saat pacaran kita pendekatan (pdkt) dulu. Tapi kemudian setelah menikah kok kembali menjadi sahabat? Karena perkawinan ialah perjalanan dari "aku" menjadi "kita". Proses pelampauan ego ini akan melahirkan kebersamaan (togetherness). Tapi bukan berarti atas nama friendship lantas kemanapun berdua, nempel kayak prangko. Solidaritas semu macam itu amat menjenuhkan. Bahkan bisa merampas kebebasan masing-masing individu untuk memuai dan mengaktualisasikan diri.

Para leluhur kita memberi teladan. Pasangan suami-istri secara periodik pisah ranjang. Lho kenapa? agar tiap individu memiliki kesempatan untuk mengasah bakatnya masing-masing. Toh mereka masih bisa bertemu tatkala makan malam, nonton, mendampingi anak belajar, dan senggama tentunya. Namun sayang kini istilah "pisah ranjang" cenderung berkonotasi negatif. Bahkan dijadikan strategi ampuh untuk mendongkrak popularitas di kalangan selebritis.

Secara blak-blakan Anand Krishna membuka kartu. Penulis produktif 110 buku ini memiliki kebiasaan membaca hingga lewat tengah malam. Jam 01.00 WIB baru tidur, kemudian pukul 3.30 WIB si ayah beranak dua tadi sudah bangun, untuk membaca atau sekedar membuat catatan kecil sampai sekitar jam 04.00 WIB. Lantas tidur lagi sampai jam 05.30 subuh. Bayangkan bila beliau menuntut sang istri untuk mengikuti pola ini (hlm 29).

Tak ketinggalan, buku ini juga menyajikan humor-humor segar. Misal, sepulang dari kantor Hola menggoda istrinya, "Istriku masihkan kau ingat dulu waktu aku pulang dari kantor, kamu selalu menyapaku dengan penuh kasih sayang, membantu membukakan sepatu, sedangkan si Brutus, anjing kita, membawa koran sore sembari menggonggong. Tapi kok sekarang terbalik, brutus yang membantuku membuka sepatu dan kamu yang mengomeliku?" (hlm 83). Pertengkaran kecil ibarat bumbu dalam masakan, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Ada juga percakapan filosofis antara Socrates dan muridnya. "Guru apakah aku harus menikah? " tanya si murid ngebet. "Ya kamu harus menikah!" jawab Sang Guru tegas. Murid tadi melongo karena ia tahu pasti bahwa keluarga Socrates jauh dari nuansa sakinah, mawadah, dan warohmah karena istri murid Aristoteles ini pemarah kelas berat. Kemudian Socrates melanjutkan, "Bila kamu beruntung maka keluargamu akan bahagia, sebaliknya kalau kamu kurang beruntung maka kamu akan menjadi filsuf sepertiku hahahahaha (hlm 17). Intinya pengalaman memang guru terbaik kehidupan, istilah Jawanya, "Ngelmu kuwi nganti laku"

Saptapadi ialah referensi berharga untuk menuju keluarga bahagia. Buku ini layak dibaca, didiskusikan dan dipraksiskan oleh para pasangan muda sampai yang lanjut usia. Tak terkecuali bagi komunitas Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut) yang sedang menanti kedatangan belahan jiwanya :)

BELAJAR DI SEKOLAH GEMPA

Judul: Sekolah Gempa Sekolah Hati
Penulis: Siswa SMA de Britto
Penerbit: SMA de Britto Yogyakarta
Cetakan: I, 2007 Tebal: 104 halaman
Harga: Rp 20.000

“
Relawan: Tolong ada orang terluka, saya takut darah! Perawat: Dokter tolong! ada relawan takut darah…” hahahaha. Begitulah dialog karikatural Bambang Shakuntala yang menghiasi lembaran buku ini. Selain itu ada 27 catatan reflektif siswa SMA de Britto paska menjadi relawan gempa.

Keunikan buku “Sekolah Gempa Sekolah Hati” ialah (para) penulisnya. Mereka relatif masih belia tapi jebul generasi kelahiran 1990-an tersebut piawai menuangkan pengalamannya lewat bahasa yang ciamik. Misalnya Sugeng Jatmika menulis begini, “Dalam hitungan detik, kami menyaksikan rumah yang selama ini kami tinggali roboh. Setiap malam kami dibayangi gempa susulan dan guyuran hujan yang sangat deras, rasanya kami seperti anak nakal yang “dihajar” Bapaknya.“ (hal 19).

Kritik pedas juga membumbui buku ini yang menyentil nurani kemanusiaan kita
“Aku heran mengapa di saat orang lain menderita masih ada orang yang memanfaatkan situasi untuk mencuri barang-barang yang tersisa di rumah yang roboh?. Aku juga heran meskipun dekat dengan bandara, ada desa yang sama sekali belum tersentuh bantuan dan bagaimanakah uang sumbangan yang begitu banyak, tapi kok tidak sampai ke tangan rakyat? “ – Semitha (hal 35).

Apa yang ada di dalam diri manusia lebih dahsyat ketimbang yang ada di luar diri kita. Wahyu Purwawijayanto merasakan pengalaman esoterik tersebut di Rumah Sakit,
“Bau yang sangat tidak enak berasal dari luka yang membusuk. Aku merasa ragu. Nuraniku berkata untuk segera menolong kakek itu. Namun indera penciumanku tidak tahan dengan bau busuk. Belum sempat mundur satu langkah ada seorang relawan yang meminta bantuanku untuk memindahkan sang kakek ke tempat tidur. Entah kekuatan apa yang menggerakkanku, yang jelas seketika aku mengabaikan rasa takutku dan berani mendekati kakek itu” (hal 45-46).

Melayani sesama bisa juga secara tak langsung seperti Chahyadi Saputra,
“Aku membantu menjaga toko, melayani orang yang butuh bahan bangunan, aku tidak mau mengambil keuntungan dari kesusahan orang, meskipun banyak pembeli yang datang, aku justru menurunkan harga barang” (hal 104). Para siswa “bantingan” mengetik refleksi tadi di rental komputer. Menurut penuturan St Kartono, sang editor musti menscan disket anak didiknya agar terbebas dari virus nakal. Luar biasa!

MENJADI BAHAGIA ITU PILIHAN

Dimuat di The Torchbearers' Edisi 2/2008

Judul: Be Happy! Jadilah Bahagia dan Berkah bagi Dunia
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: xv + 177 halaman
Harga: Rp 35.000

"Menderita bukan berarti absennya bahagia." - Anonim

Beberapa waktu lalu BBC mengadakan penelitian seputar rasa bahagia. Ada tiga hal yang menjadi pemicu mengalirnya mata air kebahagiaan dari dalam diri. Pertama, ketenangan batin. Para anggota dewan di Senayan yang “mengemis” pengadaan Laptop dari kas uang rakyat jelas masih gelisah dan belum berpuas diri. Kenapa? karena mereka membutuhkan sarana luaran untuk mendongkrak kinerja melayani putra-putri Ibu Pertiwi. Seyogianya beliau-beliau merogoh kocek sendiri dari gaji bulanan dong. Kedua, kesehatan. Kini sudah ada perda larangan merokok di tempat umum. Tapi masih banyak smokers yang kebal-kebul sembarangan di dalam bus, pasar, kantor bahkan sekolah. Seorang guru olah raga memberi aba-aba sembari ngudut. Ironis, karena mereka tak peduli terhadap kesehatan pribadi, lha bagaimana bisa dijadikan panutan para murid? Ketiga, hubungan keluarga dan persahabatan. Lebih dari 48 persen responden menempatkan relasi sebagai prioritas utama. Mereka mengeluhkan minimnya interaksi antarmanusia (human touch) di kota-kota besar. Banyak orang merindukan nuansa hangat pedesaan, memiliki rumah “mewah” (mepet sawah). Kenapa? Karena nuansa tersebut lebih memfasilitasi terjalinnya relasi personal dengan para tetangga dan lingkungan sekitar.

Selanjutnya, buku ini memaparkan tips untuk mencecap kebahagiaan sejati. Pepatah lama mengatakan, "Experience is the mother of wisdom". Kita diajak untuk belajar dari para pendahulu zaman yang pernah mengguyuri bumi biru ini dengan hujan Kesadaran dan Mukzijat Cinta. Sebut saja Aristoteles, Edward de Bono, Franklin D. Roosevelt, Hellen Keller, Kalidasa, Ludwig Wittgenstein, Mark Twain, Pearl S. Buck, Sophocles, Taisen Deshimaru, Voltaire, Fransiskus Asisi, Zeno of Elea (150-170 BC). Misalnya Sang Buddha, 3000 tahun silam beliau “merayu” anak manusia untuk menjadi bahagia dan berbagi pencerahan dengan apa dan siapa saja (Be Joyful and Share Your Joy with Others). Sebaliknya, bapak psikologi modern Carl Jung mengatakan kebahagiaan tak bisa eksis tanpa pembandingnya, yakni kesusahan. Dua hal di muka tampaknya bertentangan. Secara redaksional berbeda tapi sejatinya erat bertautan. Para Buddha kontemporer niscaya menjadi bahagia hanya (dan hanya jika) telah menerima penderitaan sebagai penderitaan. Manusia abad 21 ini tak perlu melakukan apapun untuk menyusahkan dirinya lagi. Nah saat itu terjadilah anugerah kelegaan dari dalam (deep insight) (halaman 78).

Yang menarik ialah ulasan Anand Krishna seputar Kenesologi (halaman 129). Yakni ilmu gerak (kinesis, dari bahasa Yunani) otot dikaitkan dengan keadaan fisik dan mental seseorang. Pelopor ilmu mutakhir ini ialah Dr. David R Hawkins. Beliau menulis buku Power vs Force (Hay House, 2002). Temuan pakar tersebut begitu memukau. Tatkala manusia berdusta atau menghadapi kebohongan maka otot-otot tubuhnya melemah, bahkan berdampak pula pada jiwa sehingga tak mampu berfungsi (baca: mencintai) secara wajar.

Level paling bawah ialah pada angka 20, yakni saat seseorang menghadapi rasa takut sekaligus membuat takut orang lain. Para pelaku bom bunuh diri berada pada kisaran ini karena energinya begitu rendah. Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra cs terobsesi untuk merusak diri sendiri dan mencelakakan orang lain yang tak berdosa. Sebaliknya, level teratas berada pada kisaran 700 lebih hingga tak berhingga. Pada maqam ini manusia menjadi beradab dan menyadari tanggungjawab atas kemaslahatan diri sendiri, sesama dan seluruh titah ciptaan.

Be Happy! lebih merupakan sharing pengalaman-cum-pemahaman Anand atas kebutuhan mendasar sekaligus mendesak umat manusia dewasa ini: Happiness, Bliss, Aananda, Sumringah apapun sebutannya pada rasa universal yang satu itu. Buku ini merupakan sarana refleksif untuk menjadi manusia bahagia kini dan di sini. Sebab menjadi bahagia merupakan pilihan bebas. Mengutip kata-kata mendiang Willa Cather (7 Desember 1873 – 24 April 1947), "That happiness: to be dissolved into something completely great." Intinya cara menjadi bahagia ialah dengan larut dan menyatu dengan “sesuatu” yang Maha Besar. Yakni nilai kemanusiaan dan peri kemanusiaan yang meliputi kita semua tanpa pandang bulu.

Januari 25, 2008

MEMAHAMI DUNIA ANAK

Judul: Eneagram of Parenting, Sukses Mengasuh Anak Sesuai dengan 9 Gaya KepribadianPenulis: Elizabeth Wagele
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Juni 2007
Tebal: 214 halaman

”Tak ada manusia yang lebih baik dibanding manusia yang lain” - Anonim.

Secara harafiah Eneagram (baca: eni-e-gram) berarti gambar lingkaran bertitik 9. Ilmu kuno ini berasal dari Timur-Tengah. Awalnya diajarkan secara getog-tular alias dari mulut ke mulut. Baru kemudian Oscar Ichazo dan Claudio Narajo mendokumentasikan 9 tipologi kepribadian anak tersebut di Amerika pada awal 1970-an.

Menurut teori Eneagram, tiap individu itu unik sehingga tidak ada anak yang lebih baik ketimbang anak yang lain. Dengan memahami prinsip ini, otomatis kita bisa mengapresiasi kebhinnekaan gaya prilaku dan memfasilitasi sang buah hati tercinta untuk menerima diri apa-adanya.

Elizabeth Wagele menguraikan 9 kecenderungan gaya prilaku anak (disingkat 9P). Yakni; Perfeksionis, anak yang cenderung ingin segala sesuatunya berjalan secara sempurna; Penolong, cenderung suka membantu orang lain; Pengejar prestasi, cenderung ambisius mengejar prestasi tertentu; Peromantis, cenderung mementingkan dunia rasa dan amat sensitif; Pengamat, cenderung ingin mengetahui segala sesuatu serba mendetail; Pencemas, cenderung merasa tidak aman dan was-was; Petualang, cenderung ingin mencari tantangan baru; Pejuang, cenderung bersikap pantang menyerah dan harus menang; Pendamai, cenderung menghindari konflik dan merasa puas dengan keadaan diri dan lingkungan sekitar (hlm 11-12).

Misalnya berkait bencana ekologis pemanasan bumi (Global Warming) yang menyebabkan cuaca begitu ekstrim di pelbagai belahan dunia. Psikotherapis kondang tersebut memberi ilustrasi respon anak sesuai dengan tipe Eneagram-nya. Perfeksionis akan berkata, "Kita harus menyelamatkan bumi!"; Penolong tak mau ketinggalan, "Mari kita mencintai bumi agar kita semua selamat!"; Pengejar prestasi menambahkan, "Mari terus berusaha menyelamatkan sumber daya alam kita!"; Peromantis merajuk, "Kalau bumi bersedih, akupun turut mengucurkan air mata; Pengamat angkat bicara, "Yang logis dong Bung, bersikaplah bijak terhadap bumi ini!" ; Pencemas menimpali, '"Awas, bumi kita sedang dikutuk..."; Petualang memprovokasi, "Mari selamatkan bumi ini demi Aku!"; Pejuang menantang, "Awas, akan ku libas siapa saja yang merusak bumi biru ini!" ; sedangkan Pendamai nyantai aja lagi,"Mengapa sih ribut-ribut? Bumi kita ini baik-baik saja kok!" (hlm 154).

Lebih lanjut, setiap anak sejatinya memiliki kesembilan unsur di atas. Tapi dalam kadar yang berbeda-beda. Kemudian menjelang dewasa, ia mulai memutuskan untuk memandang dunia dari sisi mana sekaligus fleksibel menyikapi pilihan orang lain yang berbeda. Buku Eneagram of Parenting ini juga menyajikan metologi pendampingan anak secara asah-asih-asih (nurture) dengan mencermati 9 gaya prilaku anak dalam kegiatan belajar, pola makan, tidur, dan pergaulan yang sehat. Misalnya anak gaya 5 (Pengamat), dalam bergaul ia cenderung berada di pinggiran dan menjadi penonton saja. Sehingga tatkala berbaur bersama teman-teman sebaya, ia merasa canggung karena saat mengalami memang berbeda dari sekedar mengamati. Nah…peran orang tua/Guru untuk memberi dukungan dan pengertian bahwasanya itu semua merupakan proses yang wajar dalam dinamika kehidupan ini.

Buku ini merupakan sarana untuk memfasilitasi anak tumbuh sehat, cerdas dan unggul sesuai kecenderungan (watak) dasarnya. Cocok dibaca, didiskusikan dan dipraksiskan oleh para orang tua serta guru dari tingkat playgroups, TK, bahkan Universitas. Yakni dalam rangka memupuk kepolosan, kesederhanaan, keceriaan, serta spontanitas ala kanak-kanak tanpa perlu menjadi kekanak-kanakan.

Januari 21, 2008

Kembalikan Pelajaran Budi Pekerti!

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia, 19 Januari 2008.

Pertama dan utama, kenapa pelajaran budi pekerti urgently required alias mendesak diajarkan (kembali) di sekolah-sekolah dari Sabang sampai Merauke? Sebab, menurut bagawan pendidikan nasional - Ki Hadjar Dewantara - budi pekerti merupakan saripati ajaran agama-agama besar di dunia dan kepercayaan lokal leluhur kita.

Lebih lanjut, budi pekerti juga memfasilitasi para murid untuk mengkaji secara mendalam nilai-nilai universal yang tak lekang oleh zaman. Seperti prinsip kejujuran (satunya fakta dan kata), integritas (satunya kata dan tindakan), keberanian memperjuangkan keadilan dan demokrasi walau nyawa taruhannya, sikap tepa sliara alias apresiasi terhadap pelangi perbedaan yang ada dan bela rasa alias solidaritas dengan sesama titah ciptaan yang menderita dan tertimpa bencana, dst.

Ironisnya, kini yang terjadi di dunia pendidikan kita justru pola pengkotak-kotakan dan klaim arogan sepihak atas Kebenaran yang niscaya berpotensi menyebabkan perang saudara dan disintegrasi bangsa di masa depan. Misalnya, saat pelajaran agama berlangsung di sekolah negri, anak-anak nonmuslim dipisahkan atau disuruh keluar kelas. Benih perpecahan mulai ditebar di ruang-ruang kelas kepada siswa-siswi yang begitu polos. Bahkan si guru pun menceletuk,"Anak-anak, mereka yang berada di luar kelas itu kafir, mereka tidak akan masuk surga!" Sebaliknya, guru yang di luar menimpali,"Anak-anak, kasihan mereka yang di dalam, mereka tidak akan memperoleh keselamatan!"

Hal semacam ini tak bisa terus dibiarkan karena bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan sebagai - meminjam istilah Prof Driyarkara SJ- proses memanusiakan manusia. Seyogianya para guru dan anak didik belajar mengapresiasi sesama walau berbeda agama dan kepercayaan sekalipun. Senada dengan petuah Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma, bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa. Artinya, berbeda tapi tetap satu jua, tak ada dualitas dalam menjalankan dharma bangsa dan berbhakti bagi Ibu Pertiwi.

Ambon dan Poso masih bergolak sampai detik ini karena konflik bernuansa SARA. Amrozi dan Imam Samudera serta kawan-kawanya masih bisa cengar-cengir karena lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Oleh sebab itu, segenap elemen masyarakat madani (civil society) musti bergandeng tangan, bergotong-royong, dan berupaya sekuat tenaga guna mengantisaipasi agar tragedi kemanusiaan dan aksi pengeboman semacam itu tak terjadi lagi di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Lebih lanjut, menurut Anand Krishna, selama 2.000 tahun terakhir, manusia telah berperang 3.000 kali lebih atas nama agama. Padahal sejatinya agama merupakan urusan personal antara kita dengan Allah SWT, Bapa di surga, Tao, Buddha, Hyang Widhi, Gusti Pangeran, dan apapun sebutannya kepada Sang Mahadaya Cinta!

Ada banyak cara beribadah dan mengabdi di kaki suci-Nya, tapi ibarat aliran sungai, semua itu bermuara di samudera Kehidupan yang satu-adanya, yakni Tuhan Yang Maha Esa! Di Yogyakarta, setidaknya ada empat sungai besar yang membelah Bumi Mataram tercinta, yakni Progo, Code, Gajah Wong, dan Winongo. Toh akhirnya semua bersatu dalam pangkuan Nyi Roro Kidul alias Segara Kidul di Laut Selatan sana.

Kalau kita cermati dengan kepala dingin, sejatinya sentimen agama yang acapkali dipakai oleh segelintir kelompok radikal yang mau menang dan benar sendiri (baca:fanatik) dengan membeo pada doktrin/dogma agama tertentu hanyalah alat untuk mencapai tujuan politis jangka pendek (baca: politisasi agama). Hal itu merupakan penistaan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap agama dan kepercayaan lokal leluhur yang notabene menjunjung tinggi kasih, kedamaian dan harmoni (love, peace and harmony).

Maka dari itu, hemat saya, biarlah pelajaran agama diamanahkan kepada orang tua di keluarga, tokoh agama dan pemuka adat di masyarakat setempat, dan last but not least media massa. Rubrik atau program yang menampilkan adegan kekerasan fisik, verbal, dan seksual secara vulgar, serta tayangan mistis berbungkus religi semu ataupun sinetron hedonis yang menghamba pada budaya konsumtif harus disetop sekarang juga!

Kenapa? karena itus semua itu justru menggurita pikiran dan jiwa anak-anak bangsa sehingga menjadi tumpul dan mengkeret. Menyitir seruan Bernard Shaw,"Fokus kita bukanlah pada kepingan trauma masa silam, melainkan pada tanggung jawab bersama untuk mewujudkan kejayaan bagi generasi yang akan datang." Indonesia Jaya!