Juli 18, 2010

Optimistik Menyambut Senja

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 18 Juli 2010

Judul: Pantun Senja, Jejak Terbang Burung Tekukur
Penulis: Jalu Suwangsa
Penerbit: Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID)
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 64 halaman

“Tutup mata kanan dan kiri / Konsentrasi pada nafas semata / Semasa hidup, carilah jati diri! / Sebelum mati, temukan Sang Pencipta!” (Tutup Mata, halaman 61)

Menurut Redaksi Balai Pustaka, pantun ialah puisi bersajak ab, ab. Lazimnya terdiri atas 2 baris sampiran dan 2 baris isi (2007:vii). Keunikannya terletak pada keindahan bentuk, kesamaan bunyi dan pasangan sampiran-isi. Ketrampilan memilih kata sangat dibutuhkan dalam proses penciptaan sebait pantun. Selain itu, pantun juga mengandung pesan moral tertentu.

"Rasah kementus, kabeh tekane pati.” Pepatah Kejawen yang berarti - jangan sombong, semua pasti akan mati - menjadi inti pesan ke-95 pantun Jalu Suwangsa (JS). Di kalangan akademisi JS lebih terkenal sebagai pakar public speaking (seni berbicara di depan publik). Nama aslinya ialah G. Sukadi. Ternyata Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia tersebut juga rajin menulis.

Fenomena alam acapkali menjadi sumber inspirasi buku-bukunya. Tercermin dari deretan judul berikut ini: “Jangkrik Jlitheng: Ora Kaya-kaya Jebul Dudu Apa-apa” (2005), “Katak pun Tertawa” (2007), “Katak pun Memilih Presiden” (2008) dan “Katak pun Ikut Berpantun: Menyusuri Sungai Sepauk” (2009).

Bagi JS masa tua bukan suatu yang menakutkan. Walaupun National Center for Health Statistics Washington DC mencatat tingkat bunuh diri (suicide) akibat stress dan depresi para senior citizens (manula) berusia 50-80 tahun ke atas mencapai 17,7 – 20,2 persen. JS menatap langit senja dengan optimistik, sebab, “Siang dan malam rayakan arwah / kenang leluhur telah tiada / Tuhan berkarya dalam sejarah / Cinta-Nya menembus tempat dan masa. “ (Siang dan Malam, halaman 57).

Pergumulannya menemukan jati diri didokumentasikan lewat antologi pantun. Misal soal penuaan sebagai keniscayaan hidup, “Kala hujan turun lebat / Mentari senja semakin redup / Ingat sakit semasa sehat / Ingat mati selagi hidup.” (Kala Hujan, halaman 37). Dr. Novita Dewi pada bagian sekapur sirih juga berpendapat bahwa banyak orang yang tidak (sempat) secara khusus belajar menghadapi kematian. Dalam konteks ini, wejangan Ronggowarsito menjadi relevan kembali, “Sing eling lan waspodo.”

“Pantun Senja” termasuk bacaan rohani. Kental aroma spiritual. Keunikannya terletak pada cara penyampaian. Bukan berupa uraian khotbah yang membosankan, tapi lebih melibatkan rasa karena mengunakan media pantun. Akhir kata, sebagai sebuah karya sastra, buku kecil ini layak diapresiasi oleh sidang pembaca, baik yang tua maupun yang muda. Selamat membaca!

Sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=220620&actmenu=45

Juli 16, 2010

Belajar di Sekolah Kehidupan

Judul: Sekolah Gempa - Sekolah Hati
Penulis Bersama: Siswa-siswi SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Editor: St Kartono
Penerbit: SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: 104 halaman

"Semua orang itu guru /
Alam raya sekolahku /
sejahteralah bangsaku..." - Anonim

Buku ini mengabadikan 27 catatan reflektif siswa SMA Kolese de Britto pasca menjadi relawan gempa di seputaran Jateng - DIY pada Mei - Agustus 2006 silam. Di tengah kesibukan sekolah, mereka masih bisa menyempatkan diri berbagi dengan sesama yang menderita. Keunikan lain "Sekolah Gempa - Sekolah Hati" ialah faktor penulisnya. Mereka relatif masih belia, tapi ternyata begitu piawai menuangkan pengalaman empiris di lapangan dengan bahasa tulis yang apik dan puitis.

Misal Sugeng Jatmika menulis begini, "Dalam hitungan detik, kami menyaksikan rumah yang selama ini kami tinggali roboh. Setiap malam kami dibayangi gempa susulan dan guyuran hujan yang sangat deras, rasanya kami seperti anak nakal yang 'dihajar' bapaknya saja." (hal 19). Siswa kelas 2 SMA yang turut menjadi korban keganasan ayakan gempa tektonik tersebut menggunakan teknik analogi tanpa menafikan kedalaman makna yang hendak disampaikan.

Kritik pedas tanpa tedeng aling-aling juga dilontarkan generasi kelahiran tahun 1990-an tersebut, sehingga kepolosannya niscaya menyentil nurani kemanusiaan kita, "Aku heran mengapa di saat orang lain menderita masih ada orang yang memanfaatkan situasi untuk mencuri barang-barang yang tersisa di rumah yang roboh? Aku juga heran meskipun dekat dengan bandara, ada desa yang sama sekali belum tersentuh bantuan dan bagaimanakah uang sumbangan yang begitu banyak, tapi kok tidak sampai ke tangan rakyat? " - Semitha (hal 35). Jawabnya - menyitir syair lagu Ebiet G Ade - "...mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang...."

Teori

Menurut petuah para bijak, "Apa yang ada di dalam diri manusia lebih dahsyat ketimbang apa yang ada di luar diri." Wahyu Purwawijayanto merasakan pengalaman magis tersebut di rumah sakit (RS), "Bau yang sangat tidak enak berasal dari luka yang membusuk. Aku merasa ragu. Nuraniku berkata untuk segera menolong kakek itu. Namun, indra penciumanku tidak tahan dengan bau busuk. Belum sempat mundur satu langkah ada seorang relawan yang meminta bantuanku untuk memindahkan sang kakek ke tempat tidur. Entah kekuatan apa yang menggerakkanku, yang jelas seketika aku mengabaikan rasa takutku dan berani mendekati kakek itu" (hal 45-46). Ibarat belajar berenang, teori saja tak cukup, yang lebih penting ialah terjun ke dalam sungai. Dalam tradisi Kejawen ada pula peribahasa, "Ngelmu kuwi nganti laku."

Melayani sesama bisa juga secara tak langsung seperti Cahyadi Saputra, misalnya, "Aku membantu menjaga toko, melayani orang yang butuh bahan bangunan, aku tidak mau mengambil keuntungan dari kesusahan orang, meskipun banyak pembeli yang datang, aku justru menurunkan harga barang" (hal 104). Sinergi alias gotong-royong berarti setiap orang memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan kapasitasnya di lingkar pengaruh masing-masing. Sehingga tak perlu diseragamkan.

Para siswa ini mengumpulkan uang bersama-sama untuk mengetik di rental (persewaan) komputer, untuk menulis refleksi-refleksi di atas. Menurut penuturan St Kartono, sang editor, kita musti "men-scan" disket anak didik ini agar terbebas dari virus-virus nakal. Luar biasa semangat anak zaman tersebut, layak kita apresiasi dan beri acungan dua jempol!

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/13/Buku/buku02.htm

Juni 19, 2010

Satu dalam Perbedaan

Satu dalam Perbedaan

Kebhinekaan bangsa ibarat sabuk pengaman (seat belt). Tatkala menaiki pesawat terbang, pramugari senantiasa mengingatkan para penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman, terutama saat guncangan terjadi akibat kondisi cuaca yang kurang baik. Begitupula dengan nilai keberagaman, saat NKRI bergolak akibat maraknya aksi fanatisme, prinsip “Bhinneka Tunggal Ika - Satu dalam Perbedaan" warisan para founding fathers perlu digaungkan kembali.

Analogi sederhana itu disampaikan oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia dalam Diskusi "Kebhinekaan adalah Keniscayaan: Tantangan Mempertahankan Kebhinekaan" di Jakarta Media Centre (JMC) pada Senin, 7 Juni 2010 silam. Bertindak selaku tuan rumah ialah Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA). Selain itu, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan SU, Romo Frans Magnis Suseno SJ dan Ida Pedanda Gde Ketut Sebali juga secara bergantian menyampaikan pandangan mereka seputar kemajemukan bangsa.

Ahmad Yulden Erwin selaku moderator diskusi menyampaikan tujuan acara tersebut. Yakni untuk meyakinkan segenap anak bangsa bahwasanya keragaman itu memang indah. Momentumnya tepat karena masih dalam suasana perayaan Hari Lahir (Harlah) Bung Karno (6 Juni) dan Dirgahayu Pancasila (1 Juni).

Sejarah umat manusia tidak pernah mencatat hanya ada satu agama di dunia ini. Kehidupan menjadi indah karena adanya keberagaman. Umat manusia musti peduli kepada sesama walaupun berbeda. Kerendahan hati (tawaduh) begitu penting dalam melakoni ajaran agama dan kepercayaan. Begitulah paparan dari Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan.

Romo Magnis mengigatkan peran penting para tokoh agama dalam memajukan hubungan bersama yang harmonis. Dosen Filsafat STF Driyarkara Jakarta ini juga menyatakan bahwa semua orang berhak memeluk agama dan kepercayaan, sehingga tidak perlu dibatasi 6 agama resmi saja.

"The best religion is humanity," tandas Ida Pedanda Gde Ketut Sebali. Agama yang terbaik ialah kemanusiaan, kita semua berasal dari satu Sumber. Tuhan menyayangi semua umat manusia tanpa terkecuali. Tokoh Parisada Hindu Dharma Indnesia (PHDI) tersebut juga mengingatkan bahwa sebagai anak bangsa darah daging kita satu: Indonesia.

Pada sesi tanya jawab, Arif Susilo selaku perwakilan dari Menteri Pertahanan (Menhan) Dr. Ir. Budi Susilo Supanji juga turut menyampaikan gagasannya. Saat ini di dunia maya seolah terjadi "perang" atas nama agama. Tugas kita bersama untuk mendinginkan situasi, bukan justru memperpanas. Suasana di acara diskusi ini begitu damai dan indah walau berbeda latar belakang pesertanya. Mari kita turut menyebarluaskannya ke keluarga masing-masing dan lingkungan terdekat.

Sumber: http://regional.kompasiana.com/2010/08/12/satu-dalam-kebhinekaan/

Medical Camp: Solusi Kesehatan bagi Masyarakat Pedesaan

Medical Camp: Solusi Kesehatan bagi Masyarakat Pedesaan

Pada Minggu (30/5) ratusan warga Daren Lor, Karanganyar, Turi, Sleman berkumpul di kediaman Ibu Sastrodiharjo. Sejak pukul 9.00-12.00 WIB mereka mengikuti acara Medical Camp yang digelar oleh Anand Krishna Centre Joglosemar.

Dari anak-anak sampai orang tua menunggu giliran diperiksa oleh Dokter dan tim medis. Selain itu, tersedia pula layanan terapi rileksasi oleh para sukarelawan. Bakti sosial ini merupakan pemenuhan hak dasar masyarakat akan kesehatan. Tak sekedar janji kampanye tapi sungguh diwujudkan lewat aksi nyata.

Bapak Susanto selaku perwakilan tuan rumah memberikan sambutan singkat bahwa Medical Camp ini 100 persen gratis. Baik pemeriksaan maupun obatnya. Sedangkan kepala Dukuh Karanganyar Bapak Dwi Hariyanto mengucapkan selamat datang dan terharu dengan kepedulian ini. "Jam 8 pagi sudah datang dari Semarang, Pati, Kendal, Solo dan Yogyakarta," tandasnya. Beliau juga tertarik dengan tulisan di kaos, "Kau Muslim, Kau Kristen, Kau Katolik, Kau Hindu, Kau Buddha, Kau Kong Hu Chu, Siapapun Kau, Kau Orang Indonesia dan Aku Cinta Kau."

Pada sesi Penyuluhan Kesehatan, Dokter Hardiyanto menjelaskan 5 lapisan kesadaran manusia. Berupa lapisan fisik, energi, mental-emeosional, intelegensia dan spiritual. "Semuanya musti diolah dan seimbang," ujar dokter muda yang sehari-hari bekerja di R.S Bethesda Lempuyangwangi. Misalnya pada lapisan fisik, kita perlu menjaga pola makan. Menu "4 sehat 5 sempurna" ialah sajian khas Indonesia. Kita bisa mengkonsumsi produk pangan dari lingkungan sekitar, sehingga tak perlu mengimpor dari luar.

Beliau juga memaparkan 2 temuan ilmiah. Pertama, susu ternyata tak membuat gemuk. Sebab kandungan indeks gulanya hanya 50 persen. Sedangkan roti bisa mencapai 80 persen. Kedua, anatomi gigi manusia menunjukkan bahwa kita lebih sesuai mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan ketimbang daging-dagingan. Sebab manusia hanya memiliki 4 taring untuk mencabik. Sedangkan geraham untuk mengunyah ada 20.

Banyak warga mengeluhkan gejala masuk angin. Sebab tingkat kelembaban yang tinggi di daerah pemasok Salak Pondoh tersebut. Solusinya sederhana, setelah bangun tidur di pagi hari, jangan minum air putih yang dingin, bila mau minum air yang hangat dulu. Sutijo, warga setempat mengatakan, "Acara seperti ini sangat berguna karena masyarakat yang kurang mampu tetap bisa berobat."

Sumber:http://kesehatan.kompasiana.com/group/alternatif/2010/08/12/medical-camp-solusi-kesehatan-bagi-masyarakat-pedesaan/

Mei 13, 2010

Mensinergikan Spiritualitas dan Sains

Dimuat di RIMA NEWS, Jumat/ 11 Mar 2011 09:18 WIB

http://rimanews.com/read/20110311/19755/mensinergikan-sains-dan-spiritualitas

Spiritualitas dan sains ibarat sepasang suami-istri. Yang satu merasa belum utuh tanpa kehadiran yang lain. Hubungan keduanya bersifat komplementer alias saling melengkapi. Ranah spiritual lebih melibatkan rasa, sedangkan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) lebih mengandalkan logika berpikir.

Leluhur kita melukiskan sinergi ini dengan simbol ”Lingga” dan ”Yoni”. Kita acapkali menjumpai bangunan seperti tugu di desa-desa terpencil. Tugu Yogyakarta merupakan salah satu contoh monumen peringatan tersebut. Ironisnya, saat ini bangunan bersejarah itu dipugar secara serampangan. Makna filosofis di baliknya terabaikan sama sekali.

Kemajuan iptek tanpa diimbangi penyelaman spiritual sangatlah berbahaya. Saat ini terdapat ribuan senjata nuklir berkekuatan 100x lipat dari bom yang dijatuhkan di Hirosima-Nagasaki. Hanya dengan menekan satu tombol seluruh spesies di muka bumi ini musnah dalam hitungan detik.

Selain itu, eksploitasi terhadap Ibu Bumi secara membabi buta juga menyebabkan kerusakan alam dan pemanasan global. Kota-kota besar di dunia seperti New York, Tokyo dan Jakarta rawan tenggelam. Kelik "Pelipur Lara" menanggapinya dengan dagelan, ”Kenapa musti panik, bukankah banjirnya hanya selutut?” ”Karena tinggi banjirnya selutut Patung Liberty.”

Intisari buku ini ialah pentingnya laku spiritual demi peningkatan kesadaran umat manusia secara kolektif. Mekarnya benih cinta di dalam diri manusia ialah solusi untuk mengatasi kegersangan peradaban kita saat ini. Caranya dengan ”mirsani” alias berupaya melihat diri sendiri di dalam diri sesama titah ciptaan. Dalam tradisi Kejawen terdapat paribasan, ”Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sesama, memayu hayuning bawana.” Artinya, "Berbuatlah baik terhadap diri sendiri, keluarga, sesama dan alam semesta."

Secara ilmiah, Albert Einstein mengatakan, ”Kita semua bermain di lapangan energi yang sama (Unified Field of Energy).” Ibarat sebuah lagu, kearifan lokal dan sains modern sejatinya senada dan seirama.

Anand Krishna dan Dr. Bambang Setawan (almarhum) berduet menulis karya apik ini. Yang satu dikenal sebagai aktivis spiritual lintas agama, sedangkan yang satunya ialah ahli bedah syaraf otak (Neurosurgeon). Dokter Setiawan termasuk angkatan pertama ahli bedah syaraf di Indonesia. Walau begitu kondang ia lebih memilih bekerja di daerah terpencil ketimbang hijrah ke Jakarta. Baru pada masa akhir hidupnya kembali ke Ibu Kota. Pada tanggal 29 Oktober 2009 Sang Resi Dokter menutup usia karena serangan stroke.

Buku ini juga memuat fakta yang menohok sistem pendidikan kita (halaman 48-49). Semboyan pendidikan di Finlandia ialah Quality (Mutu), Efficiency (Efisiensi), Equality (Kesetaraan) dan Internasionalisation (Berwawasan Internasional/Kemanusiaan) (Sumber: www.edu.fi/english).

Pada bidang Matematika, Finlandia menempati peringkat 1, sedangkan Indonesia menduduki urutan ke-40 (paling akhir). Pada bidang Kesetaraan Gender, Finlandia berada di no. 1, sedangkan Indonesia berada di no. 40 (juga paling akhir). Kedua mata pelajaran di muka mewakili kualitas otak kiri dan kanan manusia. Menyitir Ki Hadjar Dewantara, keseimbangan antara cipta, rasa dan karsa ialah solusi atas penyakit kronis yang mengerogoti dunia pendidikan kita.

Einstein bukan lulusan pendidikan formal, tapi ia menjadi tokoh fenomenal di abad ke-20 versi majalah Time. Kenapa? Karena ia mampu mensinergikan spiritualitas dan sains lewat rumusan ilmiah E=Mc2. Massa atau zat padat yang bergerak dengan kecepatan cahaya juga berubah menjadi energi. Perbedaan benda mati dan benda hidup menjadi kadaluarsa. Buku ini ialah sarana untuk menyadari kesatuan semacam itu.

______________________________

Peresensi: T. Nugroho Angkasa S.Pd

Judul: Neospirituality and Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan

Penulis: Anand Krishna dan Dr. Bambang Setiawan

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: 1, April 2010

Tebal: xxviii + 115 Halaman