Juni 04, 2013

Lebih Dekat dengan Dewi “Dee” Lestari, Liputan Acara Meet and Greet Bentang Street Festival di Yogyakarta


Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Selasa/4 Juni 2013

Matahari bersinar cerah, langit biru membalut kota Yogyakarta, jam tangan masih menunjuk pukul 14.30 WIB tapi ratusan pengunjung telah memadati halaman depan Myoozik CafĂ©, Sagan. Walau tempat duduk yang ada terbatas, para pengunjung rela berdiri menanti kedatangan sang narasumber Meet and Greet acara Bentang Street Festival pada Minggu (26/5/2013), yakni Dewi “Dee” Lestari Simangungsong. Tepat pukul 15.00 WIB, terdengar lantunan lagu karya penulis perempuan kelahiran Bandung, 20 Januari 1976 tersebut “Malaikat Juga Tahu”.

Ternyata menurut Dee, inspirasi soundtrack film “Recto Verso” tersebut didapat tatkala ia sedang mandi. Alumnus Fakultas Hubungan Internasional (HI) Universitas Parahyangan, Bandung itu memang melakukan “ritual” bersih diri sebagai relaksasi pasca menulis novel di rumahnya. Dalam Wikipedia tercatat karir kepenulisan mantan personel RSD (Rida Sita Dewi) tersebut relatif bersinar. Sebelum novel “Supernova” keluar, memang tak banyak orang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” di Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri.

Tahun 1993, ia juga mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis. Dee pun menjadi juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah. Novel pertama Dee yang meledak di pasaran berjudul “Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”. Novel spiritual berbasis sains fiksi tersebut dirilis pada 16 Februari 2001 dan laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari. Hingga kini telah mengalami cetak ulang dan terjual sampai lebih dari 75.000 eksemplar. Lantas, pada Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional. Tak tanggung-tanggung, ia menggaet Harry Aveling (60), pakar penerjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Selain itu, novel “Supernova” pernah menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Ia bersaing ketat dengan para sastrawan kondang seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya “Setangkai Melati di Sayap Jibril,” Dorothea Rosa Herliany lewat karya “Kill The Radio,” Sutardji Calzoum Bachri lewat karya “Hujan Menulis Ayam” dan Hamsad Rangkuti lewat karya “Sampah Bulan Desember.” Sukses dengan novel pertamanya tak membuat Dee berhenti berkarya, ia lalu meluncurkan novel keduanya “Supernova Dua” yang berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002 silam. Pada Januari 2005 Dee juga merilis novel ketiganya, “Supernova” episode “Petir”. Kisah di novel tersebut masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan empat tokoh baru, salah satunya ialah Elektra, tokoh utama di novel tersebut.

Lama tidak menghasilkan karya, pada Agustus 2008 silam, Dee merilis novel terbarunya “Recto Verso”. Karya tersebut merupakan sintesis antara fiksi dan musik. Tema yang diusung ialah “Sentuh Hati dari Dua Sisi.” Istilah “Recto Verso” sendiri berarti dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan dan saling melengkapi. Sistematika buku “Recto Verso” terdiri atas 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berkelindan erat. Tagline dari buku itu ialah “Dengar Fiksinya, Baca Musiknya.” Laman khusus mengenai ulasan buku “Recto Verso” klik saja di www.dee-rectoverso.com

Pengulangan yang Familiar

Tatkala ditanya oleh Master of Ceremony (MC) terkait proses penerjemahan dari buku ke film, Dee berpendapat bahwa pengalaman menonton film, membuat film, menulis buku, dan membaca buku merupakan proses yang berbeda. “Misalnya, di buku saya menulis percakapan di sebuah warung makan, tapi ketika hendak difilmkan, percakapan di warung tersebut perlu dipindah ke rel kereta api. Kenapa? Karena pemirsa harus disuguhkan sajian yang menarik bukan sekadar percakapan belaka,” ujarnya.

“Selain itu, pertimbangan biaya juga patut diperhatikan. Misalnya di dalam buku saya menulis adegan beberapa menit di dalam pesawat terbang tapi saat akan difilmkan harus dipindah ke airport untuk menghemat biaya produksi. Film ialah hasil kolaborasi banyak orang, harus melewati proses musyawarah, diskusi, dll. Kalau menulis buku sih suka-suka saya. Intinya, harus ada transformasi audience, dari pembaca buku ke penonton film. Itu pengalaman yang tak mudah tapi justru mematangkan diri saya lewat proses produksi novel-novel saya yang diangkat ke layar lebar,“ imbuhnya lagi.

Pada sesi tanya-jawab, salah seorang penanya bernama Waisi datang langsung dari Surabaya untuk bisa bertemu dengan Dewi “Dee” Lestari. Ia bertanya bagaimana cara menemukan gaya menulis?

Menurut Dee, langkah pertama ialah dengan meniru. Saat masih kuliah di semester dua, ia banyak membaca karya-karya Dr. Sapardi Djoko Damono. Hal itu secara tak sadar mengubah caranya membuat lirik lagu dan menulis kalimat. “Saya seolah berada di bawah pengaruh bayang-bayang beliau,” ujarnya.

“Selain itu, karena saya berangkat dari musik, jadi saya sangat peka dengan irama. Kalimat harus memiliki rangkaian nada dalam kepala saya. Alhasil, kalimat-kalimat saya menjadi merdu dan berlagu. Dalam proses kreatif, saya harus menemukan ritme kalimatnya dulu, baru kemudian memilih kata secara cermat,” imbuhnya lagi.

“Semua yang kita suka sekaligus semua yang tak kita suka niscaya menjadi ciri khas kita. Saya tak percaya ada gaya 100% orisinal, kita pasti terpengaruh tokoh tertentu. Awalnya semua penulis ialah imitator. Perlahan seiring proses dan pengalaman, sudut pandang kita menjadi unik, sehingga otomatis apa yang kita tulis pun menjadi khas,“ katanya.

Dee juga menceritakan pengalamannya menjadi juri menulis. Menurutnya ada banyak penulis yang sudah bisa memilih kalimat dengan baik, tapi ritmenya belum pas. “Tapi yakinlah, semakin banyak kita menulis dan menggali lebih dalam, maka pasti ketemu oh inilah diri saya. Tak ada jalan lain, selain dengan berkarya sebanyak-banyaknya, agar makin mendalam,” tuturnya. Dee lebih suka menyebut gaya menulis dengan istilah pengulangan yang familiar. “Ayu Utami dan Djenar juga memiliki pola familiar mereka. Mereka tak bisa ditiru orang lain. Oleh sebab itu, sekali lagi, teruslah berkarya, itulah cara yang paling realistis. Terus membuat sesuatu yang baru dan terus menulis,” imbuhnya lagi.

Menghidupkan Cerita

Pertanyaan selanjutnya dari floor ialah bagaimana cara membuat cerita hidup dan kaya imajinasi? Menurut Dee, seorang penulis harus rela menjadi wadah bagi karakter-karakter yang lahir dan muncul dalam benaknya. Tak heran ada hipotesis yang mengatakan bahwa penulis itu paling rentan mengidap penyakit gila karena kalau tidak kuat, kita membiarkan diri kita memiliki sekian banyak karakter.

“Kata kuncinya percaya, ini yang membuat sebuah cerita hidup. Karena penulisnya percaya pada tokoh dan kejadian yang telah ia reka dalam benaknya maka pembaca juga akan percaya juga. Misalnya, saya harus merasakan patah hati sampai nangis betulan saat menulisnya. Lalu, saat menulis sesuatu yang lucu, saya juga sering tertawa-tawa sendiri. Tanya saja ke suami saya, Reza Gunawan yang sering melihat saya ngakak sendiri saat menulis di rumah. Cerita kita harus nyata dan punya dampak, nah itu yang akan menular ke pembaca,” ujarnya.

Lalu, ketika Dee ditanya apakah  saat menulis ia pernah kehilangan ide? Kalau udah begitu solusinya bagaimana? Menurut Dee, penghambat tersebut namanya writer block, “Bab selanjutnya mau ngomongin apa, alinea berikutnya apa lagi ya? dst,” katanya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, cara untuk mengatasinya ialah dengan menetapkan deadline, ada target harian. “Misalnya saya punya komitmen untuk menulis 2,5 halaman spasi 1 per hari spasi. Jadi kalau saya berhenti di 2 halaman saja, harus cari solusi bagaimana caranya untuk memenuhi quota tersebut karena kalau tertunda malah menumpuk pekerjaan. Kalau kita punya komitmen, itu sangat bermanfaat. Selain itu, kalau macet menulis, saya biasanya langsung mandi untuk menyegarkan diri,” imbuhnya lagi.

Masih menurut Dee, writer block terbesar biasanya berada di awal, tatkala kita baru mau memulai sebuah karya tulis. Kenapa? Karena kita kurang perspektif, mau cerita genre apa nih, karakter ini kok rasanya belum hidup ya jadi ibarat saklar listrik belum on. “Oleh sebab itu, saya selalu punya deadline. Bulan sekian tahun sekian buku harus sudah keluar dan diterbitkan penerbit bla bla bla, jadi secara otomatis setiap 1,5 tahun sekali alarm deadline dalam diri saya berbunyi, saatnya menyelesaikan buku terbaru. Oleh sebab itu, saya harus berkarya lebih giat,” tandasnya.

Akhir kata, musuh sekaligus sahabat terbesar penulis ialah dirinya sendiri. Dalam konteks ini, keterampilan (skill) menjadi penting, kita harus punya komitmen kuat untuk serius menapaki jalur kepenulisan. Salam pena!

13703407461080508719
Sumber Foto: Dok. Pri

Juni 03, 2013

Mengentaskan Kemiskinan lewat Tindakan, Liputan Sarasehan Peringatan 90 Tahun Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta


Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Senin/3 Juni 2013
http://mjeducation.co/mengentaskan-kemiskinan-lewat-tindakan-liputan-sarasehan-peringatan-90-tahun-kolese-st-ignatius-kolsani-yogyakarta/


Empat jam terasa masih kurang untuk membahas salah satu penyakit sosial yang bernama kemiskinan. Pada Minggu (26/5/2013) lalu, sejak pukul 10.00-14.00 WIB ratusan peserta sarasehan belajar bersama para tokoh masyarakat untuk mengembangkan rasa solidaritas lewat aksi nyata. Tujuannya agar dapat mengurangi jumlah orang miskin yang hidup dengan uang Rp 8.650 per hari atau setara dengan Rp 259.520 per bulan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kini tercatat ada 30 juta orang miskin di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini.

Dr. Benedictus Hari Juliawan, SJ menyampaikan nominal tersebut dalam makalahnya sebagai parameter tingkat kemiskinan di Indonesia. Akademisi bidang Sosiologi dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta itu pun membandingkan dengan angka yang ditetapkan Bank Dunia sejak 1981 silam. Seseorang disebut miskin jika mendapat pemasukan kurang dari 1 dolar Amerika Serikat (AS) per hari. Lantas, angka tersebut direvisi pada 2005 menjadi 1,25 dolar AS per hari.

Di awal acara, penerima tamu sekaligus MC (Master of Ceremony) menyapa ramah seluruh hadirin, “Selamat datang di rumah kami di Kolese St. Ignatius (Kolsani), Kotabaru, Yogyakarta. Di luar pintunya memang kecil, tapi di dalamnya luas.” Acara sarasehan di Minggu pagi yang cerah tersebut merupakan peringatan 90 tahun Kolsani. Sebelumnya, panitia telah mengadakan sarasehan ihwal kehidupan umat beragama yang plural di Indonesia serta tantangan bangsa dalam menghadapi radikalisme.

Tema lain yang pernah diangkat ialah isu lingkungan hidup dan antisipasi pemanasan global. “Nah kini kita akan fokus membahas seputar akar masalah kemiskinan dan solusinya. Selaku narasumber Hj. Dyah Suminar (Pengusaha Sukses dan Ibu Rumah Tangga), Ir. Syarif Armunanto (Perwakilan Bupati Gunung Kidul, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda)), Dr. Benedictus Hari Juliawan, SJ (Akademisi USD Yogyakarta), Romo Antonius Sumarwan, SJ (Praktisi Credit Union dari Kalimantan Barat), dan Dr. Y. Sari Murti Widiyastuti, SH, M.Hum (Pakar Hukum dan Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta). Semula GKR Hemas, Ratu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun akan rawuh (hadir), tapi pada Rabu siang beliau mendapat tugas mendadak dari DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI  untuk berangkat ke Padang, Sumatera Barat,” imbuhnya.


Pada sesi pertama, Hj. Dyah Suminar lebih banyak berbagi pengalaman. Ia pebisnis tangguh yang memimpin 12 bidang usaha kecil dan menengah (UKM). Istri walikota Yogyakarta periode terdahulu Herry Zudianto tersebut berhasil mengentaskan kemiskinan masyarakat. Tak kurang dari 650 pegawai mendapat upah sesuai standar UMR (Upah Minimum Regional). Sejak lulus dari Fakultas Ekonomi (FE), Universitas Gadjah Mada (UGM), ia memang sudah terjun ke dunia bisnis. Kenapa pilihannya jatuh pada sektor informal? Karena UKM terbukti tidak goyah tatkala krisis ekonomi berkali-kali mendera. “Tukang soto di dekat rumah saya tetap laris. Mendiang Prof. Mubyarto pun mengajari kami di kampus bahwa Usaha Kecil Menengah merupakan elemen penting dalam perekonomian, jadi jangan pernah diremehkan dan dipandang sebelah mata,” imbuhnya.

Salah satu bidang usaha yang digelutinya ialah jasa konveksi. Para penjahit dapat membuat 1.500 jilbab per hari. “Kegiatan tersebut langsung menghasilkan pemasukan bagi para ibu rumah tangga. Jahit teknik lurus sangat mudah, tak perlu neko-neko, hampir semua orang bisa. Tak bermaksud pamer, tapi ketika kami selesai bertugas di kota Yogyakarta, angka kemiskinan menurun, dari semula 83.000 orang miskin menjadi 54.530 orang saja. Tapi merupakan tugas kita bersama untuk terus mengurangi jumlah tersebut,” ungkapnya.

Saat sesi tanya jawab, Gunawan dari Bantul bertanya kenapa dulu Pak Herry Zudianto begitu suka membuat taman? Bahkan sampai-sampai beliau disebut Wagiman (Walikota gila taman). “Kok gila taman, bukan gila mengentaskan orang miskin?” tanya salah satu peserta sarasehan tersebut secara kritis.

Menurut Hj. Dyah Suminar, Bapak suka membuat taman-taman di kota Yogyakarta karena dulu Yogya itu peteng (gelap), lampu jalan banyak yang mati, taman-taman gersang, terlantar dan tidak menarik. Padahal ibarat kereta api, selain sektor pendidikan lokomotif Yogya ialah sektor pariwisata. Tapi kenapa pada jam delapan malam para wisatawan sudah kembali ke hotel? “Saat kota mulai terang dan banyak taman dihias cantik, mereka mulai mau berjalan-jalan lagi sampai larut malam, entah itu membeli gudeg atau sekadar menikmati suasana. Alhasil, ekonomi rakyat di Yogyakarta kembali menggeliat. Salah satu contohnya pasar Klitikan (barang bekas pantas pakai) di Kuncen, sekarang kan ramai sekali di sana,” tuturnya.

“Yang belum sempat digarap secara memadai ialah XT-Square karena Bapak keburu habis masa jabatannya. Semula konsepnya mirip Pasar Sukawati di Gianyar, Bali, di sana ada pertunjukan seni live, para perajin pun langsung membuat kerajinannya, semua boleh ditonton, dan dibeli oleh para pengunjung. Saat keliling ke RT (Rukun Tetangga), saya juga mengajak ibu-ibu PKK agar gemar menanam di halaman rumah masing-masing. Kalau ada tamu dari luar daerah diajak ke taman tersebut agar mereka bisa membeli suplir, jemani, dan tanaman hias lainnya yang telah diberi label harga,” imbuhnya lagi.

Pengalaman dan praksis mengatasi kemiskinan telah dipaparkan Bu Dyah, selanjutnya giliran Ir. Syarif Armunanto. Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) tersebut, Kabupaten Gunung Kidul sangat luas karena merupakan 46 persen wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kendati demikian, keterbatasan akses hampir di segala aspek kehidupan masih terjadi di sana. Penyebabnya karena kondisi geografis sulit, perbukitan kapur yang gersang, air terbatas, tanaman pangan minim, pendidikan tak merata, kesehatan buruk, investasi sepi, lapangan kerja langka, dan beban ekonomi menindih.

Ir. Syarif pun mengkritisi BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan subsidi sejenisnya dari pemerintah. “Sebenarnya masyarakat miskin itu cukup ulet, tapi justru melempem dan manja karena program tersebut. Pemerintah harusnya meminimalisir program semacam itu,” ujarnya. Solusi yang lebih tepat untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan ialah dengan memberdayakan sumber daya alam The Hidden Paradise yang sudah ada. “Manfaatkan aset yang ada di wilayah masing-masing. Tapi pengelolaan harus dipercayakan kepada warga setempat, tidak dimonopoli oleh pemerintah, dan kalau bisa pada awalnya tak usah dipungut pajak dulu. Saat ini yang sudah berjalan antara lain wisata gua Pindul, kerajinan batik khas Gunung Kidul (Walang Sinanding Jati), air terjun Sri Gethuk, gunung api purba Nglanggeran, embong Tiban, dan pantai-pantai eksotis berpasir putih di pesisir selatan Gunung Kidul,” imbuhnya lagi.


Secara khusus Ir. Syarif mempromosikan gunung api purba Nglanggeran dan embong Tiban di daerah Pathuk, Gunung Kidul. “Ke depan kami mencoba mengembangkan tanaman holtikultura dan kebun buah di kawasan Sultan Ground (tanah milik Sultan) tersebut,“ ujarnya. Ia juga memperkenalkan Kencono Rukmi, durian khas Gunung Kidul, daging buahnya berwarna orange. Menurut penelitian para ahli, kandungan alkohol dan gulanya relatif rendah.  Harganya pun menguntungkan kaum petani, yakni Rp50.000 per buah. “Kami bekerjasama dengan Yayasan Obor Tani dari Ungaran. Dulu masyarakat setempat menanam apa saja, tapi kini lebih ditata. Kami membangunkan embong (irigasi) untuk pengairan tanaman durian dan kelengkeng. Bahkan sebelum buah-buah tersebut bisa dipanen, para petani yang menggarap lahan dibayar Rp40.000 per hari. Monggo bapak dan ibu berkunjung ke gunung api purba Nglanggeran dan embong Tiban,” pungkasnya.

Politik Pro Rakyat Miskin

Selanjutnya giliran Dr. Benedictus Hari Juliawan, SJ, yang mengajak hadirin agar tidak alergi terhadap politik. “Ayo kita berpolitik. Selama ini memang ada pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri, justru itu menjadi tantangan untuk kita lebih terlibat. Agar politik tidak selalu dikuasai mereka yang korup,” ujarnya.


Akademisi dari USD Yogyakarta ini juga menyampaikan analisisnya. “Kelas menengah di Indonesia tergolong tukang komplain profesional. Mereka sudah relatif mapan dan tercukupi kebutuhan sandang, pangan dan papannya, tapi ketika hobi untuk mengisi waktu luang terganggu, mereka komplain lewat Twitter, Facebook, dan media sosial lain. Itu tak cukup, kita harus mengorganisir diri agar keluhan sungguh didengar. Kalau mau berdampak luas, terjunlah ke politik, bahkan kalau perlu jadi pejabat negara agar bisa mengubah kebijakan publik lebih pro rakyat miskin,” ujarnya mantap. “Kalau di konteks internasional, kita bisa belajar dari Evo Marales, Presiden Bolivia. Sedangkan untuk lingkup nasional, kita bisa belajar dari fenomena Jokowi dan Ahok di DKI Jakarta,” imbuhnya lagi.

Lalu, Romo Hari juga memberi contoh gerakan dari akar rumput (grass root) yang dirintis mendiang Romo Tan Soe Ie SJ. Pasca kembali bertugas dari Timor Timur, beliau tinggal di daerah Kaliurang, Yogyakarta. Selain menjalani aktivitas di paroki seperti layaknya biarawan lainnya, Romo Tan juga mendampingi para petani di Dusun Ponggol. Apa yang dilakukan? Ternyata beternak cacing di media kotoran sapi. Tapi bukan cacingnya yang dikonsumsi melainkan kotoran cacingnya. Jadi peternakan Romo Tan dikenal dengan sebutan kascing (bekas cacing). Kotoran cacing tersebut merupakan pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman.

Sejak tahun 2003 hingga kini Mas Indra, salah satu anak didik Romo Tan beserta 16 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Ponggol terus memproduksi pupuk alami tersebut, hasilnya sudah mencapai berton-ton. Selain itu, mereka juga memiliki lahan pertanian organik, bumi perkemahan, dan sapi-sapi perah. “Lewat kisah tersebut, saya hendak menyatakan bahwa berdoa memang membuat hati tenteram hari ini, tapi itu tak bisa mengubah nasib banyak orang di masa depan. Dengan mengolah kascing, kini masyarakat di Dusun Ponggol relatif sejahtera hidupnya. Silakan berkunjung ke sana jika hendak melihat langsung. Seluruh produk organik mereka diberi label TOS dan dapat Anda temukan di pusat-pusat perbelanjaan di kota,” imbuh Romo Hari.

Bank Organik


Romo Antonius Sumarwan, SJ (Praktisi Credit Union dari Kalimantan Barat) memperkenalkan Bank Organik yang bernama Credit Union (CU) alias Koperasi Kredit. Pelopor CU bernama Friedrich Wilhelm Raiffeisen (30 Maret 1818 – 11 Maret 1888), seorang Walikota dari Jerman. Di daerah kekuasaannya banyak warga miskin yang kelaparan. Lalu, ia mengajak orang-orang kaya mengumpulkan dana untuk orang miskin. Tapi kok mereka tetap miskin. Kemudian strateginya diubah, bantuan untuk orang miskin bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk roti, tapi toh  tetap miskin dan mereka datang mengemis lagi.

Artinya, cara-cara karitatif ala Sinterklas semacam itu tak bisa mengatasi akar masalah kemiskinan struktural. Kenapa? kemiskinan harus diatasi oleh orang miskin itu sendiri. Bagaimana caranya? Uang dikumpulkan lalu bisa dipinjam untuk modal usaha mereka. Prinsipnya kita harus menggali potensi dari orang-orang kecil, terampil mengelola, tekun mengembangkan, dan niscaya perlahan menjadi sejahtera bersama. “Konsep itu pula yang sukses dipakai oleh Muhammad Yunus di Bangladesh lewat Grameen Bank hingga akhirnya ia mendapat hadiah nobel,“ papar Romo Sumarwan.  Untuk lebih detail ihwal CU dan kebermanfaatannya, ia telah menulis buku “Hidup Berkelimpahan bersama Kredit Union” (Elex Media, 2013).

Sebagai penutup Ibu Sari Murti yang bertindak sebagai moderator sekaligus narasumber turut urun rembug. Menurut pakar hukum dan dosen UAJY tersebut, negara perlu mengurangi sebanyak mungkin upaya perselingkuhan antara politisi dan pengusaha. “Karena sistem politik dan sistem ekonomi yang tak adil itulah jurang kemiskinan antara yang kaya dan miskin kian menganga,” ujarnya.


Akhir kata, kemiskinan memang bukan karena wong cilik malas, kurang bekerja keras, dan bodoh, tapi lebih karena adanya struktur politik, ekonomi yang menindas dan sistem perbankan yang tak transparan. Dalam konteks ini, pemimpin pro rakyat sungguh menjadi idaman kita bersama, yakni seperti Bung Hatta yang memilih untuk tidak membeli sepatu Bally. Padahal sepatu Bally sangat terkenal pada masa tahun 1950-an. Beliau hanya menggunting potongan iklan sepatu Bally itu dan menyimpannya di buku harian. Puteri beliau yang menemukan guntingan gambar iklan tersebut pasca Bung Hatta wafat. Iwan Fals sampai menulis sebuah lagu khusus untuk Bapak Proklamator tersebut:

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Reff :

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…



Sumber Foto: Dok. Pri

Kreativitas Itu Hak Semua Orang

Dimuat di Majalah Pendidikan Online, Senin/3 Juni 2013
http://mjeducation.co/kreativitas-itu-hak-semua-orang-resensi-buku/

Judul: Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta                      
Cetakan: II/ Februari 2013
Tebal: xvii + 302 halaman
ISBN: 978-602-8811-99-6
Harga: Rp59.000

“Siapa yang paling kreatif, dialah yang menang!” (@kiibookriibs-Gembolers@kdri, halaman 71)

Begitulah bunyi plesetan dari hukum rimbanya Sir Charles Darwin. Menurut penulis, di abad ke-21 ini, kreativitas memang telah menjadi harga mati. Dalam kata sambutannya, Wahyu Aditya berpendapat bahwa kreativitas bukan hanya milik seniman karena kreativitas ialah hak untuk semua orang, baik yang kaya-miskin, tua-muda, entrepreneur, akuntan, tentara, hingga pengangguran sekalipun.

Secara lebih mendalam, aktivis dunia animasi dan desain ini melihat bahwa sejatinya kreativitas sudah mengendap dalam diri setiap insan. Artinya, kreativitas ibarat benih yang harus dipupuk agar mekar dan tumbuh subur. Ironisnya, manusia cenderung malas untuk merawat atau belum tahu cara mengoptimalkan energi kreatif.

Lantas, juara dunia British Council Young Creative Entrepreneur 2007 ini mengajak pembaca belajar dari bangsa Jepang. Walaupun mereka luluh-lantak pasca dibom atom oleh pasukan Sekutu pada 1945, negeri Dai Nippon tersebut piawai mentransformasi imajinasi menjadi industri konten. Setiap tahun mereka menghasilkan lebih dari Rp 1.000 triliun  dari 4 sektor saja, yakni video, percetakan, musik dan games. Salah satu tokoh kartun paling terkenal dari Jepang siapa lagi kalau bukan  Doraemon. Bahkan boneka berkantong ajaib tersebut dinobatkan sebagai duta negara.

Sistematika buku “Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati” ini terdiri atas 17 butir pencerahan. Antara lain berjudul, “Lakukan Hal Spontan,” “Rangkul Keterbatasan,” “Mampu Mengurai,” “Fleksibel Saja,” dll. Pelopor Hello Fest, festival Pop Culture terbesar di Indonesia ini memang sengaja mendesain buku ini agar bisa dibaca tanpa harus dirunut dari awal sampai akhir. Pembaca dapat menikmatinya secara acak (random).

Buku ini juga mengungkap musuh utama kreativitas, yakni rasa takut. Misalnya, ketika seseorang menemukan ide cemerlang, ia tidak berani melaksanakan ide brilian tersebut agar menjadi kenyataan. Suara-suara di benaknya membisiki dengan kalimat-kalimat yang membuat pesimis, ragu, dan mengancam rasa aman, “Jangan lakukan itu, nanti kamu bisa merugi! Jangan bertindak, pasti kamu gagal! Awas, jika kamu berbuat seperti itu, orang akan menertawakanmu!” (halaman 198).

Menurut Seth Godin, pengarang buku Linchpin, sang pembisik tersebut bernama otak kadal (amygdala). Bagian otak ini memang bertugas merespon rasa takut, marah, dan nilai-nilai negatif. Sedangkan, bagian otak manusia yang suka menerima pemikiran kreatif ialah neocortex. Tapi memang si neocortex ibarat anak baru yang lemah dan pemalu. Ia kalah garang dengan sang kadal yang relatif lebih senior.

Pemenang Best Short Movie dalam JiFfest 2004 itu juga mengingatkan bahwa si kadal memiliki jurus andalan. Tujuannya agar seseorang suka menunda-nunda pekerjaan, sangat terobsesi dengan detail, mengkritik diri sendiri secara berlebihan, menciptakan kecemasan, dan mencari 1001 alasan lain. Alhasil, ide niscaya jatuh terkapar jika terus-menerus dibombardir.

Dalam rangka mewujudkan ide kreatif tidak ada cara lain kecuali melawan pertahanan otak kadal. Kendati demikian, ternyata ia memiliki ilmu kebal dan tak bisa mati. Otak kadal hanya bisa pingsan untuk sementara waktu. Nah pada saat itulah kita bisa berkarya merealisasikan impian menjadi kenyataan.

Sebagai praktisi di dunia animasi yang telah malang-melintang selama 12 tahun di dalam dan luar negeri, penulis relatif menguasai bidang tersebut. Menurutnya, film Lord of the Ring butuh waktu satu hari untuk me-render 1 frame (1 detik = 24 frame). Proses tersebut cukup lama karena rumitnya objek yang dibentuk, mulai dari monster, kobaran api, hingga dedaunan yang bertebaran (halaman 123).

Lantas dari tepian Bengawan Solo, penulis juga memberi contoh nyata kreativitas anak negeri. Guruh Sabdo Nugroho bangga berprofesi sebagai Seller FJB (Forum Jual-Beli) Kaskus dengan omzet Rp 80 juta per bulan. Aktivitas sehari-harinya ialah memproduksi gitar bermotif batik bersama puluhan perajin lainnya. Bahkan pelanggannya sudah sampai ke mancanegara. Tatkala diwawancara tentang kiat-kiat menjalankan usaha, Guruh dengan mantap menjawab, “Kita harus kreatif!” (halaman 270).

Buku setebal 302 halaman ini dapat merangsang pembaca untuk melahirkan ide-ide kreatif. Layak dibaca oleh  siapa saja yang hendak melihat suatu perkara dari aneka sudut pandang. Sebab, menyitir puisi Alan Alda, “Kreatif adalah tempat di mana tidak ada orang lain yang pernah mengunjunginya. Engkau harus meninggalkan kota kenyamanan dan pergi ke hutan belantara dengan intuisimu. Apa yang akan engkau temukan akan menjadi indah. Apa yang engkau temukan ialah dirimu sendiri.”


Juni 02, 2013

Sukses di Usia Tua? Ah itu Sudah Biasa...Sukses di Usia Muda? Nah ini Baru Luar Biasa

Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Minggu/2 Juni 2013



“Be proud with yourself, banggalah dengan diri kalian sendiri. Sebab saat weekend (akhir pekan) begini, biasanya kan muda-mudi nongkrong di mall, bergosip, mengobrol tak jelas, atau merokok. Tapi kalian ajaib, tidak normal, dalam pengertian positif lho. Semoga acara sore ini bermanfaat. Jujur saja saat saya seusia kalian, saya bandel hehe. Tapi sekarang walau kalian masih muda sudah mau belajar dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyongsong masa depan,” begitulah paparan Billy Boen, salah seorang narasumber dalam acara Meet and Greet, Street Bentang Festival pada Sabtu (25/5/2013) di Myoozik Cafe, Sagan, Yogyakarta. Dua pembicara lainnya ialah Palmira Vidya Mumpuni dan Jonathan C. Susanto (Kontributor buku Campus Ambassador, Bentang, 2012).

Acara dibuka dengan lantunan tembang dari grup band Summer Salad with Mayonnaise. Mereka membawakan dua buah lagu. Bagi peserta yang datang on time jam 15.00 WIB  tentu dapat berbincang langsung dengan para narasumber. Itulah keuntungan orang yang datang lebih awal. Disiplin waktu memang merupakan salah satu kunci sukses. Oleh sebab itu, sampai ada pepatah dalam bahasa Inggris, “Anda bisa menemukan orang sukses di bawah jam weker.”

Lazimnya ide merupakan “barang” mewah bagi seseorang yang bekerja di industri kreatif. Uniknya, penulis buku Young On Top (Bentang, 2012) tersebut justru berpendapat bahwa ide sangat murah. “Saya tidak pernah merasa khawatir ide saya dicuri orang,”  ujar General Manager untuk Oakley di Indonesia itu. “Karena yang mahal implementasinya. Kita harus berupaya dan perlu ada tindakan nyata,” imbuhnya lagi.

Selain itu, Chief Executive Officer PT. Jakarta International Management (JIM) dan PT. YOT Nusantara itu melihat bahwa kesuksesan harus dimulai dari diri sendiri. “Kita harus mengetahui apa kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) dalam diri. Begitu pula dalam berbisnis, kalau kita tahu bahwa kelemahan kita tidak punya modal, maka tinggal mencari mitra kerja yang memiliki modal,” katanya. “Teorinya memang sesederhana itu, tapi memang praktik memulai sebuah usaha butuh kerja keras. Ibarat membuka jalan setapak di hutan belantara yang belum pernah dijamah manusia. Kita harus babat alas,” ujarnya lagi.

Di usianya yang baru menginjak 29 tahun Billy Boen sudah menjadi pemimpin tiga perusahaan di bawah naungan MRA Group: Hard Rock CafĂ© Jakarta, Hard Rock CafĂ© Bali, dan Haagens Dazs. Dia harus membawahi 500 karyawan lebih saat itu. Uniknya, ia tidak pernah menyepelekan para staff. Padahal banyak pemimpin perusahaan yang jumawa dan menganggap remeh karyawannya. “Saya selalu berusaha menjalani apa yang saya katakan (walk the talk) agar bisa menjadi contoh, pemimpin bisa sukses karena bantuan semua karyawan. Selain itu, tidak asyik kalau sukses sendiri. Para karyawan saya juga harus bisa sukses dong,” ujarnya.

Latar belakang pendidikan Billy Boen pun relatif cemerlang. Ia mendapat gelar Bachelor of Science dari Utah State University dalam waktu 2 tahun 8 bulan saja. Lalu, Billy melanjutkan kuliah S2 State University of West Georgia. Ia hanya membutuhkan waktu satu tahun dan mendapat gelar Master of Business Administration dengan predikat cum laude. Pasca pulang ke tanah air, ia langsung direkrut oleh perusahaan untuk bekerja menangani merk Nike, Umbro, dan menciptakan merek League pada tahun 2004. Spesialisasinya memang dalam strategi branding. Ia juga sedang menulis buku terkait topik tersebut.

Jika hendak dipadatkan, ada empat hal penting untuk meraih sukses. Pertama, milikilah passion (hasrat) untuk meraih kesuksesan. Kedua, harus punya mimpi. Kita tahu apa yang hendak kita tuju, jadi jalannya tidak muter-muter. Senada dengan petuah Stephen R. Covey, “Begin with the end.” Ketiga, miliki karakter yang baik. Sebab kita selalu butuh bantuan orang lain untuk meraih kesuksesan. Nah, jaringan relasi yang luas (wide networking) berbanding lurus dengan kesuksesan kita. Dalam konteks ini reputasi menjadi sangat penting. Keempat, terus mau belajar dan berbagi (learn and share).

Secara khusus, Billy Boen membuat portal online https://www.youngontop.com/ sebagai ajang saling belajar dan berbagi anak-anak muda di seluruh Indonesia. “Tak perlu menunggu yang wah, misalnya kalau teman-teman melihat ada seorang pemuda memberi tempat duduk di bis kepada seorang ibu tua. Tulis dan unggah segera di situs tersebut, sign up-nya gratis. Karena kepedulian semacam itu kini menjadi barang langka, terutama di kota-kota besar,” ujarnya. “Saya juga sedang mengusahakan agar kalau kalian share di situ dan mendapat sekian view maka akan mendapat fee. Enak kan sudah berbagi dapat duit lagi hahaha,” imbuhnya lagi dan disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Yang Muda yang Bersuara

Giliran berbagi selanjutnya jatuh pada Palmira Vidya Mumpuni, seorang dokter gigi. “Dulu saya ini sering gagap kalau disuruh berbicara di depan banyak orang. Ide sih sudah ada di kepala, tapi tak bisa untuk mengungkapkannya secara verbal. Untungnya, sekarang bisa lancar karena tahu tekniknya, yakni dengan aktif menggerakkan tangan ketika berbicara,” ujarnya.

“Saya menyadari kelemahan saya, tapi saya tidak jadi minder, saya justru nekat ikutan lomba public speaking, speech (pidato), debate (debat), dll. Pernah suatu ketika dalam kompetisi lomba debat, penyakit gagap saya kumat. Pada babak-babak awal penyisihan semua baik-baik saja, eh giliran sampai ke final saya seperti blank. Oleh guru pendamping saya diberitahu bahwa kalau berbicara itu harus ada iramanya, jadi seperti orang sedang menyanyi. Ternyata resep itu mujarab, saya bisa mengatasi penyakit gagap saya,” imbuhnya lagi.

Dari sharing pengalamannya tersebut, Palmira sekadar mengajak para peserta untuk melihat dan belajar dari masa lalu orang-orang yang sukses. “Ternyata mereka pun mempunyai masalah yang sama seperti kita juga. Bedanya, orang yang sukses tidak menyerah kepada keadaan dan berani melakukan perubahan. Role model saya ialah Billy Boen dan Iwan Setyawan. Salute untuk Om Billy yang walau sibuk masih bisa menjaga kondisi tubuh tetap fit dengan jogging, menyediakan waktu untuk keluarga dan juga beribadah ke gereja setiap Minggu,” katanya.

Selanjutnya, Jonathan C. Susanto juga menyampaikan sebuah cerita. Menjelang kematian seorang ayah, ia memanggil kedua anaknya. Sang ayah membagikan harta warisan dan menyampaikan dua wejangan. Pertama, tidak boleh meminta uang kepada orang lain. Kedua, tidak boleh terkena sinar matahari.

Tahun-tahun berlalu seiring bergulirnya waktu, si sulung tetap miskin dan serba berkesusahan. Badannya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit. Ketika sang ibu mengunjunginya dan bertanya apa yang ia lakukan dengan harta warisan dan wejangan ayahnya? Si sulung menjawab, “Karena tidak boleh meminta uang ke orang lain, saya memakai harta warisan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Akhirnya uang habis, lalu saya bekerja di kantor. Karena ayah berpesan tidak boleh kena sinar matahari, saya berangkat dan pulang dari kantor dengan naik taksi. Jadi gaji bulanan yang sudah mepet tersebut harus dipotong juga untuk biaya transportasi.”

Lantas, sang ibu mengunjungi si bungsu. Keadaannya berbeda 180 derajat dengan anak pertamanya tadi. Si bungsu menjadi orang kaya dan dikenal sebagai dermawan. Ketika ditanya apa yang ia lakukan dengan harta warisan dan wejangan sang ayah? Si bungsu menjawab, “Saya bederma kepada orang-orang yang berkesusahan.  Karena tak boleh kena sinar matahari, saya berangkat kerja sebelum matahari terbit dan baru pulang dari kantor setelah matahari tenggelam. Saya bekerja dalam rentang waktu yang lebih lama dibanding teman-teman sekantor lainnya. Alhasil, saya menjadi karyawan teladan dan akhirnya diangkat menjadi manajer perusahaan.”

Lewat kisah di atas, Jojo hendak menyampaikan agar kita memiliki mindset yang benar. Pesannya boleh sama, tapi pemaknaan dan implementasinya bisa berbeda 180 derajat. Itu yang menentukan kesuksesan seseorang. “Oleh sebab itu, lakukan yang terbaik, gunakan waktu seefektif mungkin, dan berkaryalah untuk hal-hal yang bermanfaat. Taburlah kebaikan maka cepat atau lambat kita pasti menuai hasilnya, ujarnya.

Tak terasa dua jam telah berlalu, pertemuan sore itu harus segera berakhir. Ada satu hal dari Billy Boen yang menggelitik dan patut menjadi perhatian kita bersama. Sebagian besar lulusan universitas terkemuka di Indonesia dengan IPK tinggi tapi kok tidak bisa bekerja secara profesional, kurang tangguh (tough), dan minus karakter positif. Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Sebagai solusi, ia mendirikan Campus Ambassador (CA) yang sepanjang 2010-2012 telah meluluskan ratusan alumnus. Di awal seleksinya ketat dan kalau di tengah jalan mereka melanggar kesepakatan ada peringatan, bahkan bisa dikeluarkan. Alhasil, hanya 60 persen saja yang lulus dan menjadi alumnus CA. “Tapi saya berani menjamin, Palmira, Jojo, dan alumnus CA lainnya kelak akan menjadi orang-orang hebat yang melakukan hal-hal konkrit bagi bangsa ini,” ujarnya dengan mantap. See You On Top! 

1370162666409707566
Sumber Foto: Dok. Pri

Juni 01, 2013

Mencari Lentera Jiwa bersama Waditya

13700897801925944362
Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Sabtu/1 Juni 2013

“Malam minggu malam yang panjang, malam yang asyik untuk ke Sagan, Waterbank Cafe tempat asyik untuk diskusi dengan Waditya…” Begitulah plesetan lirik lagu “Sedap Betul”-nya Mirdad dan Ederra. Walau hujan mengguyur deras kota gudeg sejak petang, tak menyurutkan para peserta Bentang Street Festival Yogyakarta untuk berjumpa langsung dengan penulis buku “Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati” (Bentang, 2013). Sebelum acara pada Sabtu malam (25/5/2013) dimulai, pria kelahiran Malang tersebut bertanya berapa banyak yang sudah baca bukunya? Ternyata sebagian besar sudah membaca.

Oleh sebab itu, dalam acara Meet and Greet, Wirausaha Muda Mandiri 2008 itu lebih banyak memutarkan karya-karya animasinya.  Pada bagian awal, ia memutarkan film animasi yang dibuat tahun 2002. Saat itu, ia masih bekerja di TransTV. Karena sedang bosan dengan rutinitas pekerjaannya, ia berinisatif mengumpulkan sepuluh animator Trans TV. “Pada saat itulah kami pertama kali bekerja secara tim atas nama nilai eksplorasi,” ujarnya. Waditya bertindak sebagai sutradara sekaligus produser. Alhasil, ia harus menghadapi sepuluh orang yang memiliki karakter berbeda-beda.

Ide film animasinya sederhana, yakni membuktikan benda aneh yang tergeletak di tengah jalan itu kotoran sapi atau bukan? Tapi bagaimana caranya? Dengan memegang, mencium baunya, dan mencicipi rasanya. Ternyata saat dipegang hangat, saat dicium baunya tak sedap, dan saat dicicipi rasanya memuakkan bad taste! Jadi kesimpulannya, benda tersebut valid kotoran sapi (bullshit). Tentu saja adegan kocak itu sontak mengundang gerai tawa penonton.
Menurut juara dunia British Council Young Creative Entrepreneurship 2007 tersebut ada tiga hal pokok dalam proses membuat film animasi. Pertama, harus ada ceritanya, ya semacam story telling. Kedua, desain gambar. Tapi khusus untuk film “Kotoran Sapi” di atas mereka hanya memakai foto-foto, jadi tak perlu menggambar terlebih dahulu. Ketiga, gerakan dari gambar-gambar atau foto-foto tersebut, tentu sesuai alur cerita yang telah dikonsep di awal.

Selain itu, bagi seorang sutradara detail dan pemilihan warna sangat penting, misalnya dalam film animasi “Kotoran Sapi” tadi. Bentuk – maaf - tai-nya harus se-riil mungkin seperti aslinya. Sedangkan warna – maaf - tai ada yang coklat, kuning dan orange, itu semua tergantung jenis makanan si sapi.  Bahkan bentuk bokong sapi juga ditampilkan, tapi agar tak terlalu vulgar disamarkan olehnya.

Lewat paparan tersebut, pencetus HelloFest, salah satu festival Pop Culture terbesar di Indonesia sekadar menyampaikan bahwa di balik karya animasi sederhana yang berdurasi kurang dari lima menit, ada proses panjang dalam pembuatannya. “Yang paling sulit ialah mengakomodir ide-ide dari sepuluh kepala animator yang berbeda-beda,” ujarnya. Tapi kerja kreatif mereka tak sia-sia, sebab film animasi “Kotoran Sapi” masuk ke JiFest dan sempat diputar dalam kompetisi animasi film pendek di Tokyo, Jepang dan Berlin, Jerman.

Selanjutnya, pendiri Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) tersebut memutarkan karya animasi hasil tugas akhir kuliahnya tahun 2000. Film animasi itulah yang membuatnya bisa berkarir di TransTV. Ia menyadari keterbatasannya, kalau membuat manusia teknisnya sulit. “Oleh sebab itu saya memilih tokoh robot agar lebih mudah. Saya tinggal menggabungkan gambar kotak, lingkaran, dan segitiga. Latar belakangnya pun saya memakai warna putih saja sehingga tak perlu menggambar background gunung, sawah, awan dst,” tuturnya.

Selain bisa lulus S1, karya sederhana tersebut membuatnya mendapat pekerjaan tanpa harus mengajukan lamaran dan CV (curriculum vitae). Kok bisa? Sebab film animasi robot tersebut saya unggah ke semacam  situs Youtube. Lalu ada produser yang mengkontak pasca mereka menontonnya, yakni dari TransTV dan salah satu stasiun televisi swasta lainnya. “Saya tak melamar (pekerjaan) tapi malah dilamar oleh mereka. Karya kitalah yang pertama dilihat orang,” imbuhnya lagi. Begitu pula ketika ia hendak membuat video klip animasi “Bayangkanlah” untuk grup band Padi.  Mereka pun langsung bertanya, “Kamu pernah buat film animasi apa?”

Mengasah Kreativitas

Selanjutnya, Waditya juga berbagi tips sederhana untuk mengasah kreativitas. “Kebiasaan saya ialah meneruskan gambar absurd menjadi gambar yang berwujud,” ujarnya. Dulu saya suka memberi kertas kosong ke teman SD di kelas. Lalu saya lanjutkan menjadi gambar tertentu seturut imajinasi dan kreativitas saya, mungkin cara itu bisa kalian tiru juga,” umbuhnya lagi.1370089806266091612
“Prinsipnya sekadar meneruskan goresan orang lain menjadi gambar ala saya. Dari situ, kita belajar merangkai masalah menjadi sebuah jawaban dan merangkul solusi dari bagian-bagian yang terpecah-pecah,” tuturnya.  Lalu, Rizky salah seorang peserta bersedia menjadi volunteer untuk mencorat-coret secara absurd. Waditya mendapat tugas untuk melanjutkan menjadi gambar berwujud.

Ternyata, Rizky memuji dirinya sendiri dengan menulis, “Rizky Ganteng,” (lihat di gambar foto sebelum).  “Jadi ini teks, maka wujudnya nanti akan ramai seperti kerumunan orang yang sedang kumpul. Ada orang yang memakai topi pesta sambil bermain alat semprot, ada orang yang ngantuk sambil memegang botol minuman, ada orang yang melempari botol dari atas tebing,” ujar Waditya sambil terus menggambar (lihat hasilnya di foto sesudah). “Lewat latihan sederhana tersebut, saya belajar mencari potensi-potensi baru, mencari celah-celah yang selama ini tersembunyi,” imbuhnya lagi.
 
13700898311856590385
Pada sesi tanya jawab, Yuris dari Yogyakarta bertanya pada Waditya, “Dalam paparan tadi kan lebih banyak mengangkat konteks desain. Apakah itu bisa juga diterapkan dalam bidang tulis-menulis atau menyanyi?”

Menurut Waditya, prosesnya sama, yakni kita harus dibuat penasaran dulu dengan apa yang akan kita kerjakan. Penasaran bisa menulis, itu sudah bagus, rasa tersebut membantu kita untuk dapat menemukan jawabannya. “Saat menulis buku Sila ke-6, Kreatif Sampai Mati, saya butuh waktu 1 tahun. Saya masih punya file-file-nya dulu. Saya menulis buku mikir cover-nya dulu. Semula judulnya Kreatif itu Hak Semua Insan…cielee…”ujarnya.

“Pembaca pertama draft buku saya adalah istri. Prinsipnya, orang yang paling dekat dengan kita harus senang dulu. Uniknya lagi, saya menulis di  photoshop (psd). Sebab selama 6 bulan menulis di Ms Word tak ada ide yang mengalir. Budaya saya memang beda. Psd bagi saya mirip sebuah kanvas. Jadi medianya yang beradaptasi dengan kemampuan saya,” imbuhnya lagi.

Pertanyaan selanjutnya dari floor, kalau sedang tidak bersemangat berkarya bagaimana solusinya? Menurut Waditya ialah dengan istiqomah, kata sandi itu juga semangat di balik ajang HelloFest yang digagasnya. “Pemikiran tradisional saya memang seperti itu karena dipengaruhi keluarga. Saya juga memilih jalur bikin usaha sendiri karena lingkungan. Padahal orang tua saya dokter dan pegawai PJTKI yang mengirim tenaga kerja Indonesia ke Hongkong,” ujarnya.

Lho bagaimana korelasinya? Pekerjaan orang tua saya tersebut berdampak kepada banyak orang. Itu poin pentingnya. Bapak saya kalau ke klinik pengobatan harus menempuh 1 jam perjalanan dari rumah, kadang beliau tak dibayar dengan uang oleh para pasien tapi dengan sayuran dan buah-buahan. Sedangkan, ibu saya bisa memberangkatkan 10.000  TKI ke luar negeri. Setelah bekerja di negeri orang, banyak yang sukses meningkatkan kesejahteraannya.

Oleh sebab itu, “Jujur saja saya suka berimajinasi, kelak kalau saya mati, nisan saya mau ditulisi atau dihiasi seperti apa ya? Waditya pengusaha dengan gaji tinggi atau Waditya yang telah meluluskan 50.000 murid di HelloMotion Academy sejak 2004 dan mereka semua punya karir cemerlang. Rasanya pilihan kedua lebih menarik ketimbang sekadar gaji tinggi. “Goal itu dulu yang penting, baru niscaya terbuka jalan-jalannya. Pertanyaannya, karir atau model hidup seperti apa yang kalian pilih?” tanyanya kepada hadirin semua.

Sebagai penutup sekaligus penyemangat untuk menemukan jawabannya, Waditya memutarkan video klip lagu “Lentera Jiwa” karya Nugie. “Kebetulan saya menjadi modelnya, selain itu syairnya pun dalam,“ pungkasnya.

Lama sudah kumencari
Apa yang hendak kulakukan
Sgala titik kujelajahi
Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu

Kata-kata yang kubaca
Terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan
Bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku inikah takdirku

Chorus:

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku

Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku
Lentera jiwaku…

Sumber Foto: Dok. Pri
13700898641062061886