Tampilkan postingan dengan label Kedaulatan Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedaulatan Rakyat. Tampilkan semua postingan

Januari 06, 2008

Pemanasan Global, Isu atau Fakta?

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa, SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 7 Juli 2007

Menurut Gerard Bonn dari Columbia University, pemanasan Global bersifat siklis. Fenomena alam(i) ini telah terjadi sejak 130.000 silam. Sebaliknya Al Gore dalam film An Inconvinient Truth memvisualisasikan bahwa peningkatan suhu bumi sudah melampaui ambang
batas kewajaran dalam dua dasawarsa terakhir. Dulu di Papua yang alamnya begitu asri, jalan 2 jam bisa ketemu kangguru, sekarang walau sudah blusukan 6 jam dalam hutan belum tentu melihat klebatannya.

Global Warming disebabkan oleh kadar karbondioksida (CO2) berlebih di atmosfer bumi. Daya gravitasi menahan banyak amonia dan methane di sana. Akibanya, salju abadi (permafrost) di kutub lebih cepat mencair, suhu air laut naik dan curah hujan menjadi tinggi. Gejala salah mangsa atau dalam bahasa kerennya El Nina dan La Nina ialah dampak nyata dari kerusakan ekosistem tersebut.

Praktek illegal logging yang "menyulap" areal hutan menjadi lahan kritis ialah penyebab utama pemanasan global. Karena paru-paru dunia yang mampu mentransformasi Co2 menjadi oksigen kian langka. Ironisnya pemerintah tidak berani bersikap tegas kepada para pembalak liar yang
merusak alam titipan anak-cucu tersebut. Selain itu corak peradaban industrial yang mengandalkan bahan bakar fosil seperti batubara, minyak, gas alam juga menjadi kontributor utama kerusakan ekosistem dalam skala makro.

Memang sih sudah ada upaya untuk menurangi dampak kerusakan ini, yakni Protokol Kyoto (1997). Celakanya, Amerika dan Cina yang notabene tercatat sebagai emisor CO2 terbesar emoh meratifikasi kesepakatan tersebut. Sehingga perlu ada persatuan dari negara-negara Asia Afrika guna mendesak Paman Sam dan Negeri Tembok Raksasa untuk mengurangi emisi GHG (Green House Gases) yang mencemari atmosfer bumi yang satu adanya ini.

Fakta-fakta seputar pemanasan global bagi negara-negara Asia-Afrika sungguh membuat bulu roma merinding. 10 juta penduduk pesisir akan menjadi nomaden alias kehilangan tempat tinggal akibat abrasi pantai, 4.000-an pulau di Indonesia bisa tenggelam, 130 juta penduduk Asia Afrika akan menderita kelaparan karena sinar Ultra Violet (UV) membuat tanah (lebih) kering.

Menurut Roy B Efferin para ilmuwan di Taiwan tengah mengadakan eksperimen yakni membuat CO2 sisa industri ke dasar laut. Penulis buku Sains dan Spiritualitas tersebut menyatakan bahwa dalam kedalaman 4900 kaki di bawah permukaan laut CO2 menjadi stabil bahkan aman dikonsumsi sebagai makanan oleh aneka biota laut.

Secara lebih mendalam, sebutan planet Bumi terkesan maskulin banget. Sehingga manusia cenderung mengeksploitasimya habis-habis. Para leluhur kita lebih suka menyebut tanah air dengan Ibu Pertiwi, Motherland . Hubungan parental dengan Ibu Bumi membuat anak manusia
secara alam(i) lebih menghargai alam semesta. Ritual pemberian sesaji di pohon-pohon besar atau dongeng sebelum tidur bagi anak-anak berisi petuah agar tidak menebang pohon sembarangan karena di sana ada wewe gombel ialah bentuk kearifan lokal untuk menjaga kelestarian alam.

Kini langkah konkret yang bisa dilakukan sebagia wujud cinta pada Ibu Bumi ialah, naik sepeda tau jalan kaki saja bila hendak bepergian jarak dekat, mengembangkan PLT tenaga surya, biogas, minyak jarak, dst, mematikan bolam lampu bila tidak digunakan, menanam pohon di
taman-taman kota, bukit dan pekarangan rumah, mendaur ulang kertas, plastik, logam, tisu, dst. Last but not least, menulis artikel ekologis di media massa berkait bahaya pemanasan global dan solusi praktis untuk mengatasinya.

Oase Lokal di Padang Modern

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa, SKH Kedaulatan Rakyat, Kamis, 4 Juni 2007.

"Hare gene ngomong pake basa Jawa, apa kata dunia?" Begitu cletukan ABG gaul menyikapi pemakaian bahasa Jawa di era Milenium ketiga ini. Semilir angin Globalisasi telah melenakan kesadaran generasi muda sehingga lupa akan jati diri bangsa. Ada yang bergaya hidup 'kebarat-baratan", "kearab-araban", "kemarxis-marxisan", dan seterusnya. Padahal budaya Jawa sebagai salah satu Saka Guru budaya Nasional sejatinya mampu membentuk karakter anak bangsa yang tangguh.

Seni pewayangan mengandung ajaran Spiritual Adiluhung. Menurut Mpu Kanwa, "tontonan" yang memberi "tuntunan" sebagai landasan "tatanan" sosio kultural ini telah dikenal luas oleh para leluhur sejak zaman Dinasti Airlangga. Ironisnya kini hanya segelintir anak muda yang tertarik merenungkan makna filosofis di balik tokoh Panakawan. "Pana " berarti arif, "kawan" sinonim dengan sahabat, sehingga Semar, Gareng, Petruk dan Bagong ialah personifikasi "Sahabat arif bijaksana", yakni kesadaran yang bersemayam dalam diri tiap insan.

Lebih lanjut, tatkala Barat mulai mengenal IQ,EQ, SQ dan sejenisnya, Sri Paduka Mangku Negara IV telah mengajarkan Sembah raga, cipta, rasa dan karsa lewat geguritan (tembang) Wedhatama. Namun kaum muda itu, meminjam istilah Imanuel Subangun "di luar baik-di luar buruk". Ibarat lahan masih di-bera, belum tergarap secara memadai. Sehingga butuh kepiawaian dan kesabaran ekstra guna mengkontekstualisasikan nilai-nilai kearifan lokal tersebut dengan bahasa "hare gene" yang selaras dengan semangat anak zaman (modern).

Baru-baru ini Mahkamah Konstitusi menyosialisasikan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 dalam format bahasa Jawa. Upaya yang dipunggawani oleh Bapak Jimly Ashidiqqie ini patut mendapat acungan jempol. Namun menurut catatan statistik ada lebih dari 300 bahasa
daerah di Indonesia. Maka masih banyak gawe 'tuk membangkitkan semangat nasionalitas yang dipadukan dengan dialek lokalitas di tingkatan akar rumput.

Sebaliknya kearifan budaya lokal juga harus melulai berani dimunculkan ke permukaan. Herujiyato, Dosen pendamping skripsi penulis mendokumentasikan 99 Falsafah Jawa dari kitab-kitab kuna warisan leluhur dalam bahasa Inggris. Judulnya "Katrenanism" alias Pious Love Theory. Misal prinsip "Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul". Terjemahan linearnya "Eating or not eating the most important thing is togethering", kiranya paraphrase yang lebih pas ialah "Willingness to Sacrifice in order to Maintain Togetherness".

Nilai lokalitas ibarat oase di padang gersang modernitas. Pesatnya laju Teknologi, Informasi, Komunikasi (TIC ) ternyata tak mampu mengobati dahaga manusia 'tuk memahami Sejatine Urip, makna hidup. Di sisi lain interpretasi ajaran agama cenderung bersifat dogmatis dan
fanatis sehingga membuat manusia tak leluasa bernapas lega di alam bebas Universalitas. Bumi Nusantara menyimpan kekayaan ragam budaya lokal yang potensial sekali. Ironisnya kini perbedaan justru dijadikan alat pemicu konflik bernuansa SARA!

Januari 02, 2008

Mengembalikan Mata Pelajaran Budi Pekerti

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa, SKH Kedaulatan Rakyat, 11 Oktober 2007

Sungguh mengharukan sekaligus menggetarkan tatkala ratusan peserta Temu Hati "Budaya Sebagai Landasan Integrasi Bangsa" pada Minggu Wage 24 September 2006 lalu dengan tokoh humanis lintas agama Nusantara, Anand Krishna, di Auditorium Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Sagan Yogyakarta berbaris antre guna menandatangani petisi menuntut pengembalian mata pelajaran Budi Pekerti di sekolah. Sungguh sebuah peristiwa bersejarah dan kado manis nan tak terlupakan di hari pertama bulan Ramadhan 1427 Hijriyah nan suci dan penuh berkah.

Petisi tersebut akan dikirim kepada Pemerintah Daerah dan Pusat, utamanya Menteri Pendidikan serta dinas-dinas terkait yang bertanggungjawab mengurusi bidang yang kendati amat signifikan dalam pembenahan tata hidup berbangsa di masa depan namun kerap dianaktirikan dari segi atensi dan anggaran finansial.

Pertanyaan lebih lanjut ialah kenapa pengembalian mata pelajaran Budi Pekerti urgently required alias mendesak untuk segera dilaksanakan? Hal ini berangkat dari kasus riil di lapangan yang disharingkan oleh peserta acara "Temu Hati" yang digagas oleh National Integration Movement (NIM) tersebut. Di sebuah sekolah negri, ketika berlangsung pelajaran agama Islam di kelas, anak-anak non Muslim berada di luar kelas. Si guru agama nyeletuk begini, "Anak-anak, mereka yang di luar itu adalah kafir. Mereka tidak akan masuk surga." Lucunya, walau sejatinya amat memprihatinkan, guru murid-murid yang non Muslim juga berkata sebaliknya, " Kasihan orang-orang yang ada di dalam itu. Mereka tidak akan memperoleh keselamatan."

Pola pengkotak-kotakan dan klaim arogan sepihak atas Kebenaran semacam inilah yang berpotensi memunculkan perang saudara dan disintegrasi bangsa. Ironisnya benih-benih kebencian tersebut ditebar di ruang-ruang kelas kepada para murid-murid yang begitu polos. Hal semacam ini tak bisa dibiarkan terus karena bertentangan dengan makna terdalam pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Para peserta didik seyogianya bisa mengapresiasi sesama alau berbeda agama dan kepercayaan. Ambon dan Poso masih parah kondisinya sampai detik ini, sehingga kita musti berupaya sekuat tenaga agar tragedi kemanusiaan semacam ini tak kian meluas di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Agama ialah urusan personal, antara kita dengan Tuhan. Ada banyak cara beribadah dan memuja-Nya, tapi ibarat aliran sungai, semua bermuara di Samudera Kehidupan yang satu adanya, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Kalau kita cermati dengan kepala dingin, sentimen agama yang acapkali dipakai oleh segelintir kelompok radikal yang mau menang dan benar sendiri (baca: fanatik) hanyalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan politis jangka pendek (baca: polotisasi agama). Hal itu merupakan penistaan terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap agama di dunia ini.

Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa menekankan betapa pentingnya pendidikan Budi Pekerti sejak usia dini di sekolah-sekolah kita. Mata pelajaran ini memfasilitasi siswa-siwi untuk mengkaji nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam pelbagai agama dan kepercayaan di jagad raya ini. Misalnya, prinsip kejujuran, keberanian memperjuangkan keadilan, sikap tepa slira dan apresiasi terhadap perbedaan, bela rasa dengan mereka yang menderita dan tertimpa bencana, dlsab. Sedangkan tanggungjawab pendidikan agama biarlah dikembalikan kepada orang tua di keluarga dan pemuka agama di masyarakat, termasuk media massa. Namun perlu diingat bahwa semua itu musti dilandasi dan diwarnai oleh Kasih, Kedamaian dan Harmoni (Love, Peace and Harmony).

Desember 23, 2007

Seni Mengolah Phobia

Dimuat di Rubrik Resensi Buku, SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 16 Desember 2007.

Judul Buku : Fear Management, Mengeloala Ketakutan, memacu evolusi diri
Penulis : Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1, November 2007
Tebal : ix + 158 halaman

"Berani bukan berarti absennya rasa takut" - Anonim

Psikologi modern mengenal pelbagai phobia. Umumnya terkait dengan trauma masa kecil. Misalnya, Acrophobia alias takut berada di ketinggian, mungkin karena pernah jatuh dari pohon mangga, Agarophobia alias takut berada di keluasan, mungkin karena hampir tersambar petir saat main sepak bola, Claustrophobia alias takut berada di ruang sempit, mungkin karena pernah terjebak dalam lift macet, Hematophobia alias takut melihat darah, mungkin karena pernah menyaksikan korban kecelakaan lalu-lintas, Mysophobia alias takut menjadi kotor, mungkin karena pernah masuk selokan saat belajar naik sepeda, Nyctophobia alias takut berada di ruang gelap, mungkin karena terlalu banyak menonton sinetrron mistik dan film horor, Xenophobia alias takut bertemu orang asing, mungkin pernah hampir diculik, Zoophobia alias takut binatang, seperti cecek, kecoa, ular, dst, mungkin karena pernah ketiban cecak waktu mandi (Hal 128). Ironisnya, saat dewasa rasa takut masa lalu tersebut masih mengendap di gudang bawah sadar sedeminikan rupa sehingga fungsi biologis, psikis, mental, intelegensia, bahkan purana roda evolusi batinpun tersendat.

Lebih lanjut, otak manusia merespon rasa takut dengan dua pola umum (defend mechanism), yakni "fight or flight" - adu jotos melawan atau ngacir melarikan diri. Nah buku Fear Management ini menawarkan paradigma baru manusia abad-21, yakni menghadapi rasa takut dengan penuh tanggungjawab. Berlandaskan kesadaran bahwasanya, "If we sleep with a whore, we wake up with a whore," eufimismenya , "Kita menuai apa yang kita tanam."

Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Pada 1991 Anand Krishna pernah mengalami semacam near death experience karena mengidap Leukemia akut (baca juga: Seni Memberdaya Diri 1 dan Soul Quest, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003). Awalnya pria keturunan Inia kelahiran Surakarta ini juga melarikan diri dari kenyataan tersebut. Hingga akhirnya di Leh, di tepi sungai Shindu, di bawah naungan pegunungan Himalaya, beliau bersua dengan seorang Lama yang menasehati agar tak usah melarikan diri ataupun melawan kematian. Sebab ibarat dua sisi dari sekeping mata uang, kelahiran dan kematian ialah bagian dari Kehidupan yang satu adanya.

Sikap pasrah sumarah tersebut membawa kelegaan batin serta kesembuhan fisik. Bahkan dalam satu dasawarsa terakhir, tokoh humanis linta gama ini telah menulis tak kurang dari 110 buku. Penulis produktif ini sedikit membuka kartu, sejatinya yang menyebabkan rasa takut bukanlah kematian itu sendiri, melainkan apa yang terjadi "setelah"-nya. Cara untuk mengatasi The Ultimate Fear tersebut ialah dengan memasukinya dan melampauinya (trancend). Dalam tradisi Kejawen, kita mengenal pula teknik "Ngraga Sukma" serta falsafah "Mati Sakjroning Urip."

Ada juga ketakutan pada takaran fisik, yakni takut lapar. Tatkala 9 bulan 10 hari berada dalam rahim Ibunda, janin tak perlu mencari makan. Sang Ibu senantiasa mensuplai saripati makanan lewat tali pusat. Tapi begitu lahir dan ari-ari dipotong, syahdan ia tersadarkan bahwa tiba saatnya untuk mencari makan sendiri. Sejatinya energi dari rasa takut lapar tersebut bisa ditransformasikan menjadi semangat berkarya dan hidup mandiri (Hal 27).

Selain itu ada juga ketakutan pada lapiasn mental-emosional, yakni takut kesepian. Seorang jomblo mengaku tak pernah merasa kesepian. Tapi kok setiap hari nongkrong di Mal dan mejeng di Kafe? Sejatinya energi "darah muda" tersebut bisa dipakai untuk hal-hal kreatif, konstruktif dan inovatif. Misanya lewat seni lukis, tari, suara, drama, dst (hal 56).

Yang menarik ialah akronim FEAR, yakni False Emotion Appearing Real, artinya Emosi Palsu yang terkesan Nyata. Misanya, saat bermimpi dikejar macan, nafas kita menjadi kacau, jantung berdetak kencang dan sekujur tubuh berkeringat. Walau cuma mimpi tapi terasa riil banget. Cara untuk mengatasinya sederhana, yakni bangun!

Selanjutnya makna tersirat di balik istilah MAN-AGE-MENT, 'man' artinya manusia, 'age' sinonim dengan usia dan 'ment' ialah proses. Jika digabung berarti proses pendewasaan (jiwa) manusia. Fear Management merupakan sarana untuk mengolah phobia dengan penuh kesadaran.

Buku ini juga memberikan solusi praktis untuk mengatasi depresi, misalnya lewat yoga, puasa, dan olah raga ringan. Kenapa birokrat yang berada di ruang ber-AC acapkali terserang stres dan insomnia? sebaliknya pak tani yang bersimbah peluh bekerja seharian di ladang relatif lebih sehat dan nrima ing pandum? Karena tiap bulir keringat yang luruh ke Bumi Pertiwi ialah antioksidan alami yang sehat dan menyehatkan!

Zaman Edan?

Dimuat di Rubrik Masalah Kita SKH Kedaulatan Rakyat 26 November 2006.

Kebijakan impor beras jelas-jelas irasional dan tidak populis! Hal ini tepat benar seperti yang digambarkan oleh pujangga besar Nusantara yang pernah menembangkan syair profetis, "Zamanne zaman edan/ nak ora edan ora komanan!"

Bagaimana ndak edan? Tatkala musim panen raya tiba pemerintah justru berencana mengimpor beras dari luar negri melalui perum bulog. Dalih pemerintah memperlakukan policy ini ialah untuk menjaga stabilitas harga. Tapi realitasnya justru berbanding terbalik. Tatkala rencana impor beras baru menjadi wacana saja, para tengkulak telah menekan harga gabah di kalangan petani, kini harga beras berada pada kisaran Rp 3.000 per kg, penurunan harga ini jelas merugikan petani.

Jika dicermati, kebijakan ini merupakan turunan dari sitem ekonomi neoliberal yang mengedepankan nafsu ekonomis kelompok tertentu ketimbang analisis mendalam dan akal sehat dalam rangka mencapai keadilan sosial bagi semua. Ironisnya, pemerintah justru melupakan alasan berdirnya suaru negara seperi yang termaktub dalam mukadimah UUD 1945 dan pasal 33. Ada dua kemungkinan, pertama karena kekurang jelian para pakar ekonomi kita, dan/atau mereka tak tahan akan godaan meraup fulus.

Meski konsekuensinya petani kita yang bekerja keras di bawah terik mentai dari saat menabur benih hingga menggiling gabah, justru kian menderita. Inilah tugas kita untuk membuat mereka ingat pada amanah pemderitaan sesama putra-putri Ibu Pertiwi. Masih terngiang tembang Ki Ronggowarsito,"Nanging luwih becik menungso sing eling lan waspodo!"

Belajar Menertawai Diri Sendiri

Dimuat di Rubrik Resensi Buku SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 13 Agustus 2006.

Judul: Sama-sama Gila!
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juli, 2006
Tebal: xvi + 166 halaman
Harga Rp 30.000

"Jangan mau tampak baik oleh dunia, orang lain dan terutama dirimu sendiri" - Anonim

Buku ini memuat 180 anekdot pendek. Bisa kita pakai sebagai cermin untuk melihat kegoblokan diri kita sebagai manusia. Uniknya, kalau kita sudi membuka topeng yang selama ini menutupi wajah serta berani melihat diri apa-adanya maka kita akan menemukan sumber kebijaksanaan sejati di dalam diri. Ternyata di balik yang tampak goblok di luar, ada ke bijaksanaan di dalam.

Tokoh gila kita kali ini ialah Mulla Nasruddin. Manusia historis yang pernah hidup benar-benar dan melawat bumi ini. Ia juga terkenal sebagai seorang Sufi. Konon makamnya bisa ditemukan di Rusia yang notabene atheis. Tapi ada juga yang mengklaim bahwa ia hidup di Iran. Orang Arab turut menyatakan bahwa Mullah pernah tinggal di Jazirah Arab. Bahkan di daerah Bukhara, mereka mengenangnya dengan sebuah monumen khusus.

Namun perlu diingat bahwa Mulla Nasruddin bukan seorang manusia semata. Ia mewakili seluruh umat manusia. Ia adalah Anda dan saya pada saat yang bersamaan. Kenapa? Karena ia mewakili kegilaan dan kegoblokan kita! Ia sungguh tan-ekslusif dan universal. Ia menjadi milik dunia dengan segala kesempurnaan (baca: kegilaan dan kegoblokan)nya. Para Murshid/Guru Sufi kerap menggunakan kisah-kisah Mulla Nasrudin untuk menyampaikan ajaran esoteris kehidupan kepada para murid. Kisah-kisah semacam ini sudah tersebar sejak berabad-abad silam.

Sudah siap untuk mengungkap kegilaan dan kegoblokan kita?

Mari kita ulas satu kisah, no 69, hal 74. Kebetulan berkisah tentang makana angka 69. Bagi mereka yang sudah berusia tujuh belas tahun ke atas dan sudah menikah, betapa nikamt postur ini. Eit.. jangan terburu-buru mengeluarkan fatwa porno dan memulu berfikir tentang seks ataupun adegan Kamasutra. Mula Nasruddin yang pintar memainkan lidah menjelaskan demikian,"Enam, mewakili lima indra dan satu keakuan. Berbahagialah kalian wahai manusia yang berhasil mengedalikannya!" Bukankah hidup semacam ini amat nikmat?

Nilai universal yang hendak disampaikan lewat kisah dan perhitungan matematis di atas ialah bahwa roda Sang Kala berputar terus. Hari ini suka, besok duka. Hari ini pesta, besok bela sungkawa. Hari ini kaya, besok miskin. Hari ini makan tempe, besok makan tongseng.

Senada dengan pesan Ki Ageng Surya Mataram, seorang tokoh Kejawen Nusantara yang konon sanggup memasukkan petir ke dalam botol. Beliau berujar begini, "Urip kuwi cen mulur-mungkeret". Secara redaksional beda tapi esensinya sama dengan thesis ilmuwan kondang abad ini, Albert Einstein, segala sesuatu relatif di alam semesta ini, semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Mau terus cemberut mangga, mau tersenyum ya mangga. Sebab, "Beauty is a matter of seeing!"

Banyak cerita jenaka lain yang bisa membuka cakrawala pandang kita yang selama ini terbelenggu oleh dogma usang, pikiran kaku dan arogansi diri. Karena menggunakan joke maka Insya Allah tak akan membuat kita tersinggung dan sakit hati. Kecuali, jika kita tak cukup dewasa. Lewat buku ini kita bisa menjadi polos, lugu dan apa adanya seperti anak-anak tapi tak kekanak-kanakan alias gampang mutungan, marah dan uring-uringan.

Memang dalam proses penelaahan buku gila ini butuh sedikit permenungan. Karena banyak cerita yang kadang membingungkan dan tak masuk akal. Kembali kita bersua dengan realitas paradoksal kehidupan. "Lha wong untuk menertawai diri sendiri kok kudu serius?"

Bahasa buku ini ringan tapi berbobot. Bisa dibaca sambil minum teh hangat ditemani nyamikan pisang goreng. Tapi bersiap-siaplah karena mind set, pola pikir kita tiba-tiba dijungkirbalikkan. Isinya memuat pesan-pesan universal yang dikemas secara santai dan fungky. Dengan membaca, mencerna dan mencecapnya niscaya kita bisa menemukan hikmah kebijaksanaan hidup.

Mars Kebangkitan Yogya!

Dimuat di Rubrik Masalah Kita SKH Kedaulatan Rakyat 20 Juli 2007.

Menurut Anand Krishna, seorang tokoh humanis lintas agama Nusantara, stres dan trauma bukanlah suatu yang harus dilawan atau dimusuhi. Stres atau rasa tegang dan trauma tau luka batin merupakan pertanda kehidupan. Dengan memahami sifat stres dan trauma tersebut kita bisa segera bangkit dan mewarnai kehidupan dengan warna-warni yang lebih cerah!

Paska bencana gempa bumi yang mengguncang Jateng-DIY (27/5/2006) selain menderita secara fisik, banyak pula warga yang merasa stres dan trauma. Namun pertanyaan reflektif untuk kita semua,"Apakah kita mau seumur hidup menangis dan menyesali tragedi yang menimpa itu?" Tentu jawabnya,"Tidak!" Sebab Allah yang Maha Rahman dan Rahim telah menganugerahi kita tangan, kaki, otak dan kesadaran diri untuk menghadapi tantangan kehidupan, termasuk bencana yang datang tanpa dinyana-nyana.

Mari segera bangkit sekarang juga! Yakni dengan saling bahu-membahu dan bergotong-royong. Singsingkan lengan baju dan usah ragu untuk membanting tulang, bersimbah peluh membangun kembali puing-puing Yogyakarta tercinta secara kreatif dan inovatif.

Misalnya dengan mencipta lagu, semoga Mars Kebangkitan Yogya ini mampu menyulut kobaran api semangat cinta dna bhakti bagi Yogya kita, "Bangkitlah bangkit Yogya tercinta/ bencana tak akan patahkan semangat/ walaupun berbeda kita bersaudara/ bergotong-royong kita bangkit bersama!"

Ada Apa di Balik RUU APP?

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa SKH Kedaulatan Rakyat 16 Maret 2006.

Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) telah memancing kontroversi yang kian meluas dan memanas. Topik ini menjadi perbincangan bahkan menjurus ke perseteruan sengit di program diskusi live di televisi maupun di bawah temaram lampu senthir angkringan.

Secara pribadi, penulis menolak tegas pemberlakukan RUU APP ini karena perundangan tersebut akan merampas kebebasan individu, utamanya kaum perempuan. Masalah seksualitas ialah urusan personal, sehingga tidaklah tepat dan sehat bila pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat terlalu jauh campur tangan. Senada dengan syair profetis Iwan Fals dalam lagu "Manusia Setengah Dewa", "Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri/ urus saja moralmu, urus saja akhlakmu/ peraturan yang sehat yang kami mau!"

Budaya asli Indonesia telah melihat perempuan sebagai Shakti. Yakni sumber energi feminin yang inklusif, merangkul semua elemen bangsa, putra-putri Ibu Pertiwi. Sehingga kita tak memerlukan perundangan impor yang justru membungkus tubuh perempuan secara ketat dan menyesakkan. Menyadur kata-kata Shakespeare, "Kebesaran sebuah bangsa, berbanding lurus dengan tingkat apresiasi dan penghargaan pada perempuan!"

Negara beserta seluruh aparatusnya, termasuk tokoh masyarakat dan pemuka agama ialah pengabdi dan pelayan umat. A leader is a server! Tugasnya apa? yakni memfasilitasi setiap orang mencecap kesejahteraan lahir-batin. Sungguh ironis tatkala rakyat dipaksa secara sistemik struktural mengikat pinggang lebih kencang sedangakan para wakil rakyat justru menuntut kenaikan gaji. Apakah masih layak menyandang gelar mulia "wakil" rakyat? Sebuah strategi politik tingkat tinggi tapi jelas tidak berlandaskan nurani!

Lantas, secara "cerdas" perhatian masyarakat dialihkan ke masalah sensitif dan sensual lewat RUU APP ini. Padahal ada problem kebangsaan yang lebih urgen untuk dituntaskan apabila kita tak ingin bangsa ini tergadaikan. Misalnya, konspirasi segelintir elit politik dan para kapitalis alia cukong berduit tuk mengeksploitasi perut Bumi Papua, Cepu, Bojonegoro, dst. Juga jangan pernah lupa pada kasus korupsi berjamaah BLBI yang meraibkan uang rakyat trilyunan rupiah. Masih ditambah awan mendung yang menutupi dunia pendidikan nasional karena anggaran hanya 7 persen dari total APBN.

Segenap Civil Society, elemen masyarakat, utamanya kaum akademisi perlu secara berani dan kritis menyikapi situasi ekonomi, politik nasional tersebut. Dengan berbekal empati dan budi pekerti yang bening maka kita bisa melihat motivasi kunci di balik skenario dagelan RUU APP tersebut. Yakni keserakahan segelintir orang pada fulus, pangkat dan gengsi. Ini berarti mereka telah mengkhianati cita-cita luhur para pejuang dan founding fathers yang termaktub dalam Mukadimah UUD 1945!

Teknologi "Rumah Surya"

Dimuat di Rubrik Masalah Kita SKH Kedaulatan Rakyat 18 Februari 2006.

Pada awal 2006 Pemerintah berencana menaikkan Tarif Dasar Listrik menjadi hampir dua kali lipat dari harga semula. Belum reda derita rakyat jelata akibat kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok paska pencabutan subsidi BBM Oktober tahun lalu, kini masih akan ditambah sengatan "setrum" tegangan tinggi TDL.

Alhamdulilah, kebijakan tak populis ini ditunda pemberlakukannya karena banyak pihak yang keberatan, namun sampai kapan penundaan ini akan berlangsung?

Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai institusi tunggal yang mengurusi kelistrikan nasional perlu mencari alternatif sumber energi fosil. Data terakhir menyebutkan bahwa 87 persen dari total 24.262 MW energi listrik menggunakan bahan bakar minyak, gas dan batu bara. Sehingga otomatis dengan adanya kenaikan minyak dunia maka biaya produksi listrik akan meningkat. Dan cara termudah unuk menutup biaya pengeluaran ialah dengan menikkan tarif bagi konsumen.

Strategi lain yang kiranya lebih berpihak ialah menggunakan sumber energi non fosil. Misal, tenaga aliran arus air, tekanan uap udara, biogas, angin, ataupun cahaya matahari yang melimpah di daerah tropis semacam Indonesia. Tentu dibutuhkan komitmen Pemerintah dalam pembiayaan, penelitian, serta pembangunan sarana infrastruktur teknologi Pembangkit Listrik alternatif semacam itu. Dan untuk mewujudkannya membutuhkan biaya, waktu dan keterlibatan semua pihak.

Selain itu yang lebih pokok, urgent dan bisa dilakukan oleh kita semua sebagai warga negara ialah secara aktif, kreatif dan inovatif menemukan sumber energi non fosil. Sehingga ketergantungan berlebih pada energi listrik konvensional dan intitusi negara bisa diminimalisir. Misalnya seperti Bapak Minto (53) seorang Guru SD d Dusun Prambon, Madiun, Jawa Timur. Beliau mengembangkan teknologi alternatif "Rumah Surya" di mana hampir semua perkakas rumah tangga dari kompor sampai TV menggunakan energi surya alias cahaya mentari.

Jika ada "Minto-Minto" lain di Bumi Nusantara tercinta ini, serta ditambah dukungan Pemerintah dari level pusat sampai pinggiran, serta bekerjasama dengan pihak swasta yang bersedia menjadi sponsor dana, maka masalah ketergantungan berlebih pada energi listrik bisa diatasi. Dengan kata lain, sengatan listrik tak akan membuat kita tersentak kaget, paling banter cuma membuat kita tergelitik keenakan.

Desember 14, 2007

Bike for (Mother) Earth

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa SKH Kedaulatan Rakyat, 7 Desember 2007.

MENURUT Anand Khrishna, umat manusia berpijak di atas bumi yang satu dan bernaung di bawah atap langit yang sama (one earth, one sky, one humankind). Aktivis spiritual ini mengajak setiap insan dan segenap elemen masyarakat untuk proaktif meminimalisir dampak negatif pemanasan global (global warming).

Data terakhir menunjukkan bahwa selain Amerika Serikat dan Cina, ternyata Indonesia juga tercatat sebagai tiga besar emisor CO2 ke atmosfer bumi. Konferensi United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang digelar di Bali pada 3 - 14 Desember 2007 merupakan momentum penting untuk mengubah serapah menjadi berkah.

Salah satu caranya dengan mengkampanyekan program Bike for (Mother) Earth. Ibarat cendawan di musim hujan, kini banyak bermunculan komunitas sepeda di Gudeg City. Misalnya, Jogja Onthel Community (JOC), Komunitas Podjok, Generasi Onthel Club (GOC) Bantul, Bike to Work dll. Selain menyandang gelar kota budaya, pelajar dan wisata, Yogya juga dikenal sebagai kota sepeda. Setiap pagi pekerja dari pelosok Bantul, Godean, Sleman dan Prambanan berduyun-duyun ngonthel menuju Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mencari nafkah. Para akademisi dan seniman juga lebih suka ngepit karena relatif lebih ngirit.

Menurut Dr Damardjati Supadjar istilah onthel itu bernuansa saru. Dalam bahasa Jawa merujuk pada alat kelamin laki-laki. Makanya pakar Kejawen ini lebih suka menyebut sepeda dengan kereta angin. Lebih lanjut keunggulan kereta angin ialah konsep melaju menggunakan kayuhan kedua kaki. Ibarat pepatah, “Sambil menyelam minum air”, sembari bersepeda bisa menyehatkan jantung pula.

Lantas, siapa penemu sepeda? Ada banyak versi. Tapi menurut keputusan The International Cycling History Conference (ICHC) atau Konferensi Internasional Sejarah Sepeda, penemu kendaraan beroda dua yang berputar atas prinsip keseimbangan tersebut bernama Karl Von Drais, pria berkebangsaan Jerman.

Menurut hemat penulis bersepeda ialah praksis ramah lingkungan. Pepatah Afrika mengatakan, “Bicara tak akan membuat nasi menjadi matang”. Artinya, bukan retorika yang diperlukan untuk menyelamatkan ‘Ibu Bumi’ melainkan aksi nyata. Menyitir seruan Benyamin Disraeli, “Tindakan tidak selalu membawa hasil, tapi tak ada hasil tanpa tindakan!” Ambil contoh di Kolombia. Pemerintah setempat berhasil merevolusi sistem moda transportasi di Bogota. Konsepnya sederhana yakni memberikan 75% dari jalan yang ada untuk pesepeda dan pejalan kaki. Hasilnya kemacetan lalu lintas hanya ada dalam mimpi dan tingkat pencemaran udara di sa-lah satu kota terbesar di Amerika Latin tersebut menurun drastis dalam satu dasawarsa terakhir.

Secara lebih mendalam, benar apa yang dikatakan oleh Ngarsa Dalem, istilah global warming itu tak merakyat. Sehingga perlu dicari kosakata lain yang lebih populis. Misalnya, pemanasan bumi, (Ibu) Bumi Gerah dan seterusnya.

Akhirulkalam, alih-alih membangun jalur bus way, Pemkot juga musti menyediakan jalur sepeda (bike way) di sepanjang ruas jalan. Selain itu perlu digalakkan program free motor/car day alias sehari tanpa kendaraan bermotor. Misalnya tiap hari Jumat. Tentu ada pengecualian bila hendak bepergian ke luar kota. Inilah solusi konkret untuk membuat bumi Mataram tercinta sedikit lebih adem sebab, if not us than who, if not now than when?, artinya ‘kalau bukan kita lalu siapa, kalau tidak sekarang lantas kapan?’