Mei 02, 2014

Inspirasi Kreatif bagi Anak Negeri

Dimuat di Majalah Tebuireng edisi 32, April-Mei 2014 

Judul: Yoris Sebastian’s 101 Creative Notes

Penulis: Yoris Sebastian

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: IV/ April 2013

Tebal: 207 halaman

ISBN: 978-979-22-9114-8

“Membuat sesuatu untuk mengalahkan orang lain? Bagi saya era tersebut sudah berakhir!” – Yoris Sebastian (halaman 23).

Begitulah tesis dasar penulis buku ini. Peraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur of the Year Awards 2006 dari British Council di London tersebut berpendapat sekarang ialah zaman kolaborasi. Artinya, tak lagi relevan kalau sebuah proyek dimonopoli oleh segelintir orang.

Penerima penghargaan dari Markplus untuk program musik mingguan I Like Monday di Hard Rock Café itu keranjingan membuat sesuatu yang baru karena ingin menghasilkan karya. Ia tak pernah membuat sesuatu yang kreatif hanya untuk naik gaji atau mendapat bonus dari bos.

Prinsip tersebut kian terpancang kokoh tatkala ia membaca buku Drive. Di sana terungkap hasil penelitian mutakhir Daniel H. Pink.  Iming-iming berupa gaji bagi seseorang atau kelompok tertentu hanya efektif untuk pekerjaan yang tak perlu berpikir kreatif. Sebaliknya, untuk pekerjaan yang berhubungan dengan kreativitas, uang justru menghambat proses kreatif itu sendiri. Intinya, visi memang lebih penting ketimbang materi.

Lazimnya, seorang yang kreatif  memiliki wawasan luas (a broad perspective). Alhasil, karya-karya yang dihasilkan tak hanya berbeda tapi juga bermanfaat (migunani) bagi orang banyak termasuk diri sendiri.

Tidak ada salahnya mengasah kreativitas dalam segala lini. Caranya dengan rajin membaca buku filsafat, antropologi, dan aneka bidang ilmu lainnya. TCDC (Thailand Creative and Design Centre)  mempunyai perpustakaan yang tak melulu berisi buku tentang desain, branding, dan marketing, tapi juga buku filsafat dan religi. Semboyan mereka unik, “Dance with your imagination and change your life (menarilah dengan imaginasimu dan ubah hidupmu)…” (halaman 51).

Lewat buku ini, pemenang Indonesian Young Marketers Awards 2003 dari Indonesian Marketing Association tersebut juga menceritakan kebiasaan lamanya. Tatkala masih tinggal di Pulo Raya, Yoris sering naik ke atap rumah dan tiduran di sana sembari memandangi bintang. Lalu, saat tinggal di apartmen Rasuna Tower 7, ia juga suka memandangi jalanan yang sunyi dari atas lantai 7 apartemen.

Ia enggan memikirkan ide tentang proyek tertentu. Apalagi mencari jalan keluar untuk suatu masalah yang ruwet. Ia sekadar menikmati the hour of silence alias saat-saat hening. Tapi, kalau kebetulan melintas ide-ide kreatif, ya langsung ia tangkap. Caranya dengan menuliskan ide-ide baru tersebut. Tapi kalau terlalu panjang, ia akan merekam suaranya di app Audio Notes.

Kendati demikian, Yoris mengaku lebih suka menulis dengan tangan. Kenapa? Karena sewaktu-waktu mudah untuk ditelusuri kembali di kemudian hari. Kalau di gadget-nya ia membuat folder khusus, judulnya “sleeping ideas”. Kelak tatkala bertemu klien yang cocok, ide-ide tersebut tinggal dibangunkan saja. Salah satunya adalah acara “Lomba Nyontek Nasional” yang telah dipaparkan panjang lebar dalam buku Creative Junkies (2010).  

Sistematika buku ini terdiri atas 101 catatan kreatif General Manager Hard Rock Cafe termuda di Asia saat masih berusia 26 tahun itu. Mulai dari pemikiran, pengamatan, tindakan, berbagi ke orang lain, refleksi pengalaman pribadi dan tentu dipungkasi dengan doa syukur kepada Tuhan, Sang Maha Kreatif.

Judulnya sebagian besar menggunakan bahasa Inggris, antara lain “Have a Good Sleep”, “A Broad Perspective”, “Watch Inspiring Movie”, “Tenacity”, “Listen”, “Initiate Conversation”, “Less Rule – Simple Rule,” dll. Pada setiap halaman genap tersaji foto, gambar, ilustrasi, dan kalimat puitis. Sehingga tatkala sidang pembaca menikmati buku ini, niscaya otak kiri dan kanan terpuaskan semua.

Pemecah rekor MURI untuk program Destination Nowhere  2003 ini juga memaparkan pengamatan jelinya. Banyak tokoh kreatif di Indonesia dan bahkan dunia, semuanya menjalani hidup dengan bahagia. Ia menyebutnya Happynomics.

Intinya, manusia harus menomorsatukan keceriaan, nilai kedua baru aspek ekonomis. Dalam kamus hidup Yoris, uang tak pernah menjadi no. 1. Selama bekerja di majalah HAI, HRC, HaagensDazs, MTV Trax, dan sederet perusahaan terkemuka lainnya, Yoris bekerja karena memang suka dengan pekerjaannya.

Lantas, ia mengutip syair lagu dari REM yang berjudul Shiny Happy People (Out of Time Album), “Shiny happy people laughing. There is no time to cry (Orang yang ceria selalu tertawa. Tak ada waktu untuk menangis.” (halaman 183).

Orang kreatif juga harus senantiasa menjaga tubuh tetap fit. Karena kreativitas akan berkurang kalau kondisi badan sedang sakit. Bagaimana orang sakit gigi bisa berpikir secara kreatif? Oleh sebab itu, Yoris rutin berenang dan pergi fitness untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Bahkan saat masih bekerja di HRC ada ring basket, jadi ia bisa main kapan saja.

Tiada gading yang tak retak begitupula buku ini. Penulis terlalu kentara memromosikan produk IT dari sebuah pabrikan. Karena ia memang menulis dengan gadget tersebut. Dalam beberapa halaman Yoris tampak memaparkan aneka kelebihan dan aplikasi. Tak pelak timbul kesan di benak pembaca bahwa ia sedang berjualan merek dagang tertentu.

Terlepas dari kelemahan minor tersebut, buku setebal 207 halaman yang telah mengalami cetak ulang keempat ini kaya inspirasi kreatif bagi segenap anak negeri. Sebab senada dengan petuah Michael Yanover, “Kreativitas lahir dari rahim kebebasan. Bebaskan pikiranmu, ketika kita memberi kebebasan, kita niscaya jadi lebih kreatif.”  Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Privat Bahasa Inggris di Yogyakarta. Tinggal di Kampung Nyutran)

 

April 26, 2014

Menghindari Jebakan Ranjau (Menulis) Biografi

Dimuat di Dunia Pustaka, Tribun Jogja, Minggu/27 April 2014
Berikut ini versi awal sebelum diedit Yth. Redaksi

Judul: Ranjau Biografi
Penulis: Pepih Nugraha
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: 1/Oktober 2013
Tebal : xxii + 178 halaman
ISBN: 978-602-7888-77-7
Harga: Rp 38.000,-

Saat ini hampir semua koran dan majalah memiliki rubrik sosok. Rubrik "Sosok" di harian Kompas misalnya, biasa tampil di halaman 16. Sejak Kompas berganti wajah pada 28 Juni 1985, banyak tokoh telah dimuat di sana. Tidak mesti orang terkenal, tapi yang penting biografi singkat mereka memberi inspirasi segar bagi pembaca. Mulai dari nilai kreativitas, orisinalitas, keberhasilan, hingga keunikan orang yang bersangkutan.

Di bagian pendahuluan buku ini, Pepih Nugraha menjelaskan bahwa rubrik "Sosok" menjadi eksklusif karena khusus memuat orang-orang berprestasi atau orang yang mampu menggerakkan orang lain. Bagi wartawan penulisnya, inilah lahan paling demokratis yang terbuka bagi siapa saja. Ada semangat kompetitif konstruktif yang terbangun dengan sendirinya, karena unsur berita "menarik" (interesting) jauh lebih mengemuka dibanding berebut lahan di halaman utama sebuah media yang pasti ditempati berita-berita langsung (straight) dan terkini (update) (halaman xiii).

Kalau dalam buku sebelumnya Menulis Sosok: Secara Inspiratif, Menarik, dan Unik (Penerbit Buku Kompas, 2013), alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran tersebut banyak berkisah tentang apa saja yang mesti dilakukan (the do) saat menulis sebuah biografi untuk koran atau majalah, maka dalam buku Ranjau Biografi ini pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1964 tersebut mengulas secara terperinci sebelas "ranjau" yang mesti dihindari (the do not). Sebagian besar "ranjau" tersebut pernah ia temukan sendiri berdasarkan pengalaman empiris saat menulis sosok atau biografi singkat.

Misalnya, Cantik Sumber Inspirasi, Tetapi Menyimpan Bahaya Tersembunyi (Ranjau#5). Saat pelopor blog sosial Kompasiana tersebut menulis sosok Alexandra Kosteniuk di Kompas edisi Sabtu, 16 Maret 2002, beberapa rekan jurnalis sontak mengkritisinya. Bukan terkait kualitas atau konten tulisannya melainkan soal pilihan. Kenapa harus Alexandra Kosteniuk yang hanya meraih runner-up juara dunia? Mengapa bukan pecatur asal China, Zhu Chen yang notabebe menjadi juara dunia?

Singkat cerita, muncul asumsi kalau pertimbangannya sekadar isu seksis. Pepih dianggap hanya menulis sosok perempuan yang ia anggap cantik. Alih-alih bersikap resisten, suami Tantri Sulastri tersebut justru senang mendapat pertanyaan kristis dari koleganya. Di lingkungan redaksi Kompas memang biasa terjadi dinamika semacam itu dan sudah dianggap sebagai bagian dari pekerjaan yang wajar. Salah satu pertimbangan Pepih menulis sosok Sasha karena ia seorang dara multitalenta. Dunia Sasha bukan catur semata. Ia juga foto model dan penulis puisi (halaman 81).

Sistematika buku ini terdiri atas 11 bab. Setiap bab memaparkan satu "ranjau" dalam menulis sosok (feature) atau biografi singkat. Tak sekadar beretorika, ayah dua anak tersebut juga memberikan contoh tulisannya yang pernah dimuat di harian Kompas.  Pepih juga membuka interaksi lebih lanjut dengan pembaca yang berminat mendalami dunia jurnalistik lewat "sekolah menulis virtual" di http://facebook.com/pepih.nugraha atau di laman blog sosial http://kompasiana.com/pepihnugraha. Gratis dan terbuka untuk umum. Dalam konteks ini, tesis Rene Suhardono menjadi relevan, "Menulis bukan sekadar untuk merasa tahu (knowing), tapi untuk berbagi (sharing) dan berempati (caring)."

"Ranjau" berikutnya adalah Karena Masih Dianggap Bau Kencur (Ranjau#8). Menurut Pepih, selama ini rubrik Sosok Kompas terlalu didominasi oleh sosok-sosok dewasa, bahkan cenderung tua. Padahal baginya, anak-anak adalah inspirasi. "Lebih baik berpaling kepada anak-anak yang berprestasi sejak dini di tingkat dunia daripada mereka yang mungkin kebetulan meraihnya setelah dewasa (halaman 121)."

Fahma Waluya Rosmansyah (12) dan adiknya, Hania Pracika menjadi sosok orang Indonesia termuda yang pernah muncul di rubrik Sosok Kompas. Prestasi kedua tunas bangsa tersebut sangat membanggakan karena mereka tercatat sebagai pembuat aplikasi mobile paling belia di dunia. Fahma dan Hania juga pernah memenangi lomba pembuatan software Asia Pasific Information 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia. Lomba tersebut diikuti 16 negara.

Pepih sempat menantang mereka membuat aplikasi ponsel dalam waktu lima menit. Seorang relawan, anak kelas 1 SD, meminta Fahma membuat kupu-kupu. Fahma langsung bekerja di laptopnya. Dengan software Adobe Flash, ia menggambar sebelah sayap kupu-kupu dengan tetikus, sayap satunya lagi tinggal menduplikasi sehingga tak lebih dari satu menit rancangan grafis kupu-kupu selesai. Fahma mewarnai kupu-kupu yang kelak bisa bergerak. Kurang dari empat menit animasi sudah tercipta, tinggal memasukkan suara (halaman 126).

Buku Ranjau Biografi ini sebuah referensi berharga bagi siapa saja yang hendak menulis sosok atau biografi singkat, sehingga dapat terhindar dari jebakan "ranjau". Menyitir pendapat Pepih Nugraha, "Pendekatan jurnalistik diperlukan untuk penulisan biografi daripada metode ilmiah seperti menyusun sejarah. Gunanya agar sosok atau biografi seseorang itu menjadi "hidup" sebagaimana orang menonton film." Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, guru privat bahasa Inggris, editor, dan penerjemah lepas. Tinggal di Kampung Nyutran, Jogjakarta).

April 22, 2014

Reaktualisasi Pemikiran Romo Mangun

Dimuat di Surat Pembaca, Suara Merdeka, Selasa/22 April 2014 
Berikut ini versi awal sebelum diedit Yth. Redaktur:

Siapa tak kenal almarhum Romo Mangun? Pria bernama lengkap Y.B Mangunwijaya Pr itu  ialah Indonesian Great Thinker (pemikir besar dari Indonesia). Beliau juga seorang budayawan, penulis buku, kolumnis di berbagai media cetak, arsitek, dan imam Katolik dari ordo Praja (Pr).

Beberapa waktu lalu, guna mereaktualisasikan pemikiran Romo Mangun dalam konteks kekinian, komunitas Mangunwijayan dan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) menggelar dialog kebangsaan bertajuk “Romo Mangun Menggugat” pada Minggu malam (9/2/2014) di Aula Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Jl. Kaliurang Km 7, Yogyakarta.

Lokasinya hanya seperlemparan batu dari Kerkop tempat jasad almarhum dikebumikan di pangkuan Ibu Pertiwi.  15 tahun silam, pada 10 Februari 1999 pejuang kemanusiaan yang rindu keadilan serta kebebasan itu mengembuskan nafas terakhir di Jakarta. Namun, warisan beliau berupa teladan nilai-nilai hidup senantiasa abadi.

Senada dengan pendapat Romo Yosep Suyatno Hadiatmojo Pr selaku Ketua Panitia. Inilah perbedaan antara warisan berupa materi dan warisan keteladanan hidup. Kalau warisan uang lama-kelamaan bisa habis. Namun, kalau warisan kebijaksanaan hidup dari almarhum Romo Mangun dapat terus berkembang jika kita gali bersama.

Warga eks Kedung Ombo, Sragen, Jawa Tengah dan Komunitas Kali Code, Yogyakarta yang pernah didampingi langsung secara intens oleh Romo Mangun juga hadir. Mereka rela duduk lesehan di aula. Menarik apa yang disampaikan Wakimin. Perwakilan warga eks Kedung Ombo, Romo Mangun itu tidak pernah membeda-bedakan agama A, B, atau C. Beliau pun siap sedia menolong masyarakat yang diintimidasi oleh pemerintah Orde Baru pada 1985-1989. Oleh sebab itu, sampai sekarang warga masih memajang foto Romo Mangun di setiap rumah. “Karena saking cintanya kami pada sang pejuang keadilan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, pada 1979-1981, di bantaran Kali Code masih banyak berjajar rumah kumuh yang terbuat dari kardus bekas. Kalau menjelang kedatangan tamu kenegaraan ke Kota Gudeg, rumah-rumah kardus tersebut dibakar Satpol PP. Agar tak mengganggu pemandangan di sepanjang jalan. Di tengah apatisme kaum intelektual, Romo Mangun tanpa tedeng aling-aling menunjukkan keberpihakan kepada kaum miskin. Beliau tinggal bersama di tengah-tengah warga di bantaran Kali Code.

Menurut kesaksian Pendeta Bambang, jika ada petugas yang datang hendak membakar rumah-rumah kardus tersebut, Romo Mangun berkata tegas, “Bakar dulu saya!” Artinya, Romo Mangun tak hanya berkotbah di atas mimbar, tapi terjun langsung dan berjuang demi kaum marjinal.

Dari aspek sosial, ilustrasi yang disampaikan Ki Demang dari Komunitas Sunda Wiwitan menunjukkan sisi manusiawi Romo Mangun. Menurutnya, almarhum mengajari manusia agar jangan memagari rumah dengan beling (pecahan kaca). Namun, gunakanlah piring (makanan). Agar tetangga yang hendak berkunjung ke rumah merasa nyaman. Jangan seperti kebanyakan rumah-rumah di kota besar yang berpagar tinggi, dijaga satpam, dan ada tulisan: awas anjing galak! Kiranya filosofi tersebut kian menemukan relevansinya dalam konteks zaman modern dewasa ini, bukan?

Ahmad Zaenudin yang bertindak sebagai moderator diskusi turut urun rembug. Dalam pengantarnya, arsitek asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut memaparkan ciri-ciri bangunan ala Romo Mangun. Kalau disingkat menjadi 3 A. Yakni ayu (cantik atau indah), ayom (aman), ayem (damai dan nyaman). Bahkan di Gg. Kuwera, Yogyakarta Romo Mangun begitu telaten memanfaatkan potongan-potongan kayu ukuran 2 x 3cm. Material yang dipandang sebelah mata tetap memiliki nilai guna dan artistik. Sekecil apapun bahan yang tersisa jangan sampai dibuang percuma.

Acara malam itu juga dimeriahkan dengan aneka sajian seni dan budaya. Antara lain kelompok karawitan Santi Laras dari Turi, Yogyakarta, bhajan dari Komunitas Muda-mudi Hindu Narayana Semitri, petikan siter dan tembang Jawa dari Aris, dan pembacaan pernak-pernik kehidupan Romo Mangun oleh Nasarius Sudaryono. Dari situ tampak jelas bahwa sosok Romo Mangun dapat diterima oleh semua golongan dan lintas generasi pula.

Ramah Lingkungan

Ada sebuah kisah unik. Menurut Romo Yatno, almarhum sangat tidak setuju kalau ada areal tanah yang di-corblok. Kenapa? Karena air hujan tak bisa meresap ke dalam tanah. Alhasil, air langsung mengalir ke selokan dan kalau meluber akan menyebabkan banjir.

Romo Mangun ternyata juga suka membuat kolam ikan. Karena itu merupakan AC/pendingin alami. Kalau orang marah melihat ikan-ikan berenang-renang di kolam sontak bisa mereda tensinya. Selain itu, air kolam juga bisa untuk menyirami tanaman dan memberi kesegaran bagi lingkungan di sekitarnya.

Dari aspek teologis, tesis Kiai Muhaimin ada benarnya. Agama-agama saat ini cenderung bersifat teosentris. Sehingga nilai-nilai kemanusiaan kurang mendapatkan tempat. Bahkan hanya karena perbedaan pada aspek teologis, antar sesama manusia bisa saling ejek dan bersitegang. Dalam konteks ini, teladan kehidupan Romo Mangun dan Gus Dus tetaplah relevan. Beliau-beliau menggeser kecenderungan teosentris ke antroposentris. Bahkan tak hanya menjunjung tinggi kemanusiaan tapi juga sampai memuliakan lingkungan dan segenap titah ciptaan Tuhan.

Salah satu ilmu dari Romo Mangun ialah ngelmu selang atau paralon. Intinya, karunia Allah itu tak boleh dinikmati sendiri. Karena kalau disalurkan dan dibagikan kepada sesama bisa menyegarkan semua. Mirip seperti selang atau paralon air, kalau tersumbat bisa jebol. Tapi kalau dipakai untuk menyirami tanaman atau mengisi air kolam bisa memberi kehidupan. Selain itu, selang dan paralon juga tak pernah kering karena menjadi saluran untuk berbagi berkah.

Ada juga kisah menarik dari Anton Soedjarwo. Ia ketua Yayasan Dian Desa Jogjakarta. Pria berusia 66 tahun tersebut pernah tinggal serumah bersama Romo Mangunwijaya, Gus Dur (Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama), dan dr. Sarino (Pendiri Taman Siswa) di Bali selama beberapa hari. Karena mereka menghadiri suatu pertemuan lintas iman.

Pada malam hari seusai seminar, mereka sering berbincang-bincang santai di ruang tengah. Intinya, semua setuju kalau penyebab terjadinya konflik atas nama agama dan kepercayaan di dunia ini karena manusia terlalu mementingkan bungkus luaran. Senada dengan pendapat Anand Krishna Ph.D, padahal esensinya kan sama, yakni berbagi kehidupan dengan cinta dan kasih.

Akhir kata, seiring makin memanasnya suhu politik nasional jelang  hajatan Pemilu 2014, dialog kebangsaan dan reaktualisasi pemikiran Romo Mangun kian menemukan relevansinya. Semoga gerakan-gerakan komunal menuju perdamaian multikultural dan lintas iman (interfaith) seperti yang dicita-citakan almarhum bisa segera terwujud.

April 12, 2014

Sepatu Jadul

Cerita Anak ini dimuat Rubrik Dunia Anak, Lampung Post, Minggu/13 April 2014 

Senin pagi ini Rahmad tak bersemangat pergi ke sekolah. Apalagi ketika ia harus memakai sepatu. Walau sepatu hitam tersebut masih baru dibeli, modelnya tak sesuai dengan tren anak jaman sekarang. Teman-teman sekelasnya di SD Budi Mulia sebagian besar menggunakan sepatu hitam dengan model perekat.

Di bagian atas sepatu model terbaru biasanya ada dua lapisan. Yang satu lapis lembut sedangkan yang satu lapis kasar. Cara merekatkannya pun praktis, tinggal menyatukan lapisan kasar dan lembut.  Sehingga tak perlu repot lagi mengikatkan tali sepatu.

Kemarin Minggu Rahmad sudah minta kepada ayah. Saat beliau hendak berangkat membelikan sepatu baru tersebut untuknya. Yakni agar ayah memilihkan model sepatu terbaru yang ada perekatnya. Tapi ayah malah membelikan sepatu model kuno yang masih menggunakan tali.

“Ini sepatu jelek! Aku tak suka modelnya…” keluh Rahmad saat mengeluarkan sepasang sepatu tersebut dari dalam kardus.

Ayah hanya diam saja. Beliau tak menanggapi keluhan Rahmad tersebut. Karena sebenarnya, ayah sempat mengajak Rahmad untuk pergi ke toko bersamanya. Sehingga bisa memilih sendiri sepatu model apa yang diinginkan. Tapi Rahmad tak mau, ia lebih senang bermain game online di rumah.

Sebagai solusi, ayah mengukur kaki Rahmad. Caranya dengan menggunakan sebatang lidi. Panjang lidi tersebut sama dengan panjang telapak kaki kanan Rahmad. Ukurannya memang pas, tapi modelnya tak sesuai dengan selera Rahmad.

**

Selama berada di dalam kelas, Rahmad tak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Ia masih merasa kecewa dengan model sepatu yang ia kenakan tersebut. Ia juga berpikiran negatif, jangan-jangan kalau teman-teman sekelas memerhatikan sepatunya yang masih menggunakan tali, mereka akan mengejeknya. Karena modelnya yang jadul (jaman dulu).

Waktu terasa bergulir begitu lambat. Tepat pukul 13.00 WIB bel tanda pelajaran berakhir  berbunyi. Rahmad menarik dan menghembuskan nafas lega karena tak ada teman yang mengomentari sepatunya.

Ia lalu bergegas memasukkan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas. Setelah doa penutup dan bersalaman dengan Bu Guru, ia melangkah pulang ke rumah. Jarak sekolah ke tempat tinggalnya tak seberapa jauh. Kalau berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 15 menit.

Siang itu, matahari bersinar sangat terik. Sehingga menyebabkan aspal jalanan menjadi panas.  Tapi Rahmad masih terus bersungut-sungut. Ia tak menyadari bahwa sepatu model jadul yang ia pakai saat itu telah melindungi kaki kecilnya dari sengatan aspal yang bersuhu tinggi. Ibarat wajan penggorengan, jika ada telur dadar di atas aspal pasti dalam waktu tak sampai 5 menit sudah matang.

Di tikungan terakhir sebelum sampai ke rumah, Rahmad menyaksikan satu pemandangan yang menarik perhatiannya. Ada seorang lelaki tua “berjalan” menggunakan kursi roda. Beliau tidaak memiliki sepasang kaki. Mulai dari lutut hingga telapak kakinya telah hilang. Mungkin ia pernah mengalami kecelakaan sehingga harus diamputasi. Jadi agar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ia harus memutarkan kedua roda dengan menggunakan tangannya.

Nah saat itu Rahmad baru mulai merenung. Ia langsung duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon rindang. Lalu, ia merapatkan kedua kakinya dan memandangi sepatu jadul-nya dengan takzim. Rahmad menyesal sekali karena kemarin sore tak berterimakasih kepada ayah yang telah membelikan sepatu hitam tersebut. Padahal ayah sudah bekerja keras dan mengumpulkan uang.

Rahmad juga merasa menyesal karena tak mensyukuri anugerah Tuhan berupa sepasang kaki yang bisa mengantarnya kemanapun ia hendak pergi. Ia bisa melompat, berlari, dan bermain sepak bola.

Dalam hati ia bertekad, nanti sore akan minta maaf kepada ayah dan berterimakasih karena telah membelikan sepatu baru tersebut. Akhirnya, Rahmad berjalan pulang dengan langkah mantap sambil bersiul-siul gembira.

April 11, 2014

Kreativitas Mampu Bengkokkan Logika

Dimuat di Rubrik Pustaka, Bernas Jogja, Jumat/11 April 2014

Judul: Kreativitas Itu “Dipraktekin”

Penulis: Tim Wesfix

Penerbit: Grasindo

Cetakan: 1/September 2013

Tebal: x + 144 halaman

ISBN: 978-602-251-216-5

Budaya instan mengkondisikan orang ingin meraih hasil serba cepat. Padahal semua membutuhkan proses. Mustahil saat menanam padi langsung bisa menikmati sepiring nasi, bukan? Artinya, manusia memang harus taat pada kuasa sang waktu.

Sama halnya dalam melatih otot-otot kreativitas, sekadar mengetahui teori belum memadai. Di bahasa Inggris ada istilah practice makes perfect. Latihanlah yang mendekatkan orang pada kesempurnaan. Buku bersampul kuning ini memuat aneka cara untuk menjadikan kreativitas sebagai gaya hidup sehari-hari.

Misalnya, dengan memanfaatkan kanal di sosial media (sosmed). Saat seorang teman meng-update statusnya - baik lewat Facebook, Twitter, atau Path - jadikan itu ajang untuk mengasah kreativitas. Jangan hanya membubuhkan “like” (jempol). Tapi, tuliskan juga komentar lucu sehingga dapat mengundang senyum dan gelak tawa pembaca (halaman 67).

Selain itu, Tim Wesfix juga memaparkan bahwa inovasi tampak keren kalau sudah jadi. Tapi, pada awalnya sering dianggap aneh (freak).  Ada kisah unik di balik model celana 3/4 ala Michael Jordan. Ia pebasket pertama yang memopulerkan tren celana pendek yang melebihi lutut. Ternyata, Jordan  mencari cara agar tetap bisa memakai celana basket kesayangannya. Jadi, ia selalu memakai celana yang melebihi lutut sehingga celana double yang dipakai sebelumnya tidak kelihatan (halaman 50).

Sistematika buku ini terdiri atas 12 subbab. Seluruhnya mengupas serba-serbi seputar kreativitas. Mulai dari mengukur level kreatif seseorang, membangkitkan motivasi dari dalam diri, mengeksplorasi keunikan pribadi, sabar menanti masa inkubasi, hingga (checklist) daftar untuk mengabadikan temuan terbaru. Yakni, dengan meminta pembaca menuliskan 10 inovasi mutakhir pada 1.000 tahun ke depan.

Selanjutnya, ada juga analisis menarik terkait mekanisme kerja otak manusia. Ternyata, saat seseorang memaksa dirinya sendiri untuk menghasilkan sesuatu, alam bawah sadarnya justru mengalami kemacetan berpikir (mental block). Alhasil, semua usahanya sia-sia. Ia tak mampu menciptakan apapun.

Artinya, ketika otak tahu bahwa tuannya terlalu over alias berlebihan (dan itu berarti melenceng dari apa yang alami dan diyakini baik bagi dirinya) otak segera memerintahkan untuk berhenti berpikir. Menyikapi kondisi macet (stuck) semacam itu, petuah Paul Alen menemukan relevansinya, “Tidak perlu terlalu pusing dengan produktivitas. Fokuslah pada pertanyaan, apakah aku sudah memiliki tujuan jelas?”

Inilah yang disebut living purposely (halaman 105). Salah satu resep mujarab untuk memiliki tujuan hidup  yang jelas ialah dengan menuliskan obituari (pidato kematian). Riwayat hidup semacam apa yang mau diwariskan pada anak-cucu dan generasi selanjutnya? Lazimnya, para tokoh besar telah menyiapkan obituari jauh hari sebelum mereka meninggal dunia. Bukan karena mereka bosan hidup,  tapi untuk merangsang antusiasme.

Obituary juga dapat mendekatkan seseorang dengan pedalaman seluk-beluk batinnya. Manusia jadi lebih mengenal dirinya sendiri. Mengetahui apa cita-citanya dan makna kehadirannya bagi sesama makhluk ciptaan Tuhan. Monggo, silakan berimajinasi sebebas mungkin saat menyusun obituari, tapi yang terpenting jangan lupa untuk mewujudkannya selama nafas masih dikandung badan.

Lalu, penulis merekomendasikan model belajar ala anak kecil.  Mereka bisa sangat terperinci melukiskan apa yang baru saja dilihat. Dari detail yang dicermati dengan penuh rasa takjub tersebut, para pekerja kreatif juga dapat menimba inspirasi segar. Alhasil, ia tidak sekadar mencipta secara mekanis tapi juga bisa menangkap spiritnya.

Keunggulan buku Kreativitas Itu “Dipraktekin” terletak pada pilihan gaya bahasa. Pembahasan di dalamnya singkat, padat, dan jelas. Tampilannya juga full color (penuh warna-warni) cerah. Daya visualisasi pembaca niscaya terstimuli setiap kali membolak-balik halamannya. Namun, kritik pedas perlu dilayangkan untuk tim editor. Sebab, acapkali dijumpai kesalahan ketik. Hal ini sedikit mengganggu kenikmatan membaca.

Terlepas dari kelemahan minor tersebut, buku setebal 144 halaman ini sebuah referensi berharga. Karena dapat menjadi sarana untuk membengkokkan logika yang kaku. Menyitir tesis Picasso, “Musuh utama kreativitas ialah terlalu berpikir rasional.” Selamat membaca dan salam kreatif!