Mei 20, 2016

Welcome Lea Arum Rahajeng Putri (Earth/22 Maret 2016)

Tulisan istri terkait proses persalinan putri kami: Lea Arum Rahajeng Putri
Minggu malam (20/3/2016) jam 22.30 WIB aku mulai merasakan gelombang rahim yang sudah lama dinanti sejak HPL lewat. Rasanya perut mulas dan kencang-kencang. Datangnya kurang lebih 20 menit sekali. Nafas perut dalam-dalam selalu aku praktekkan. 

Pada tengah malam pukul 00.00 WIB aku menyempatkan diri untuk meditasi dan rileksasi dengan mendengarkan CD Hypnobirthing yang dibeli di Bidan Kita http://www.bidankita.com/ dan Aplikasi Kontraksi Nyaman.

Sekitar jam 02.00 WIB hari Senin dinihari aku mengecek pembukaan di bidan Nina dekat rumah. Setelah sampai di sana dan dicek dalam sudah bukaan 4 ke 5. Kami lalu pulang ke rumah lagi di Nyutran.

Sampai rumah jam 04.30 WIB aku kembali mendengarkan CD Hypnobirthing dan Aplikasi Nyaman.

Senin pagi jam 06.00 WIB aku berangkat ke RS Jogja International Hospital (JIH) di Condong Catur, Sleman. Sesampainya di sana aku diperiksa dalam, beda hasilnya dari bidan di dekat rumah, ternyata masih bukaan 2 ke 3.

Sambil menanti gelombang rahim selanjutnya aku menyempatkan diri mandi air hangat dan sarapan pagi untuk rileksasi otot-otot tubuh dan mengumpulkan energi. Suami juga terus memijat akupressur, endhorphin dan oksitosin massage yg dipelajari di kelas persiapan persalinan di Bidan Kita.

Senin siang jam 14.00 WIB aku dicek dalam lagi oleh bidan di JIH. Ternyata sudah bukaan 5. Lalu jam 16.00 WIB dicek dalam lagi sudah naik ke bukaan 7. 

Di sela-sela waktu pemeriksaan dalam aku berjalan-jalan di lorong lantai 3 JIH. Melihat lukisan yang ditempel di dinding dan memandang pepohonan hijau dari balik jendela kaca. Kalau gelombang rahim datang aku tetap bergerak, jongkok, njengking dan fokus ke nafas perut. Suami juga selalu memijat dan mengelus sambil membisikkan afirmasi positif.

Aku pun membawa buku Gentle Birth Balance. Sambil menunggu aku baca-baca lagi utk mengingatkan diri sendiri.

Jam 16.30 WIB sore aku dipindah ke ruang bersalin karena sudah bukaan 7. Gelombang rahim makin sering datang. Di JIH dengan dr. Adi boleh membawa gymball. Jadi tetap bisa goyang Inul di ruang bersalin.

Jam 20.30 WIB dr. Adi datang menjenguk di ruang bersalin. Setelah dicek dalam sudah bukaan 9.

Tapi setelah menunggu sampai keesokan harinya (Selasa, 22 Maret 2016) pembukaan tetap 9. Aku lalu mandi air hangat agar lebih segar.

Lalu aku mempraktekkan video side lying release yang didapat dari bidan Yesie. 

Selasa pagi jam 08.00 WIB dr. Adi kembali datang dan melakukan USG. Air ketuban sudah mulai merembes keluar. Akhirnya kami memutuskan untuk diinfus agar bisa bukaan komplit. Karena sudah menunggu semalam suntuk. Dr. Adi memberi dosis yg ringan saja. 

Sekitar jam 12.30 gelombang rahim datang dengan lebih intens. Aku merilekskan diri dengan nafas perut. Suami juga memutarkan musik intrumental dari HP.

Tepat jam 13.22 WIB malaikat kecil yg kami terlahir ke bumi. Dibantu oleh dr. Adi dan bidan-bidan di JIH.
Sungguh anugerah terindah dari Tuhan yang telah kami nanti 5 tahun sejak pernikahan 11-11-2011. 

Terima kasih bidan Yesie dan teman-teman di Bidan Kita. Tak lupa untuk teman-teman di kelas Pre Natal Gentle Birth Yoga, kalian luar biasa.

Majalah Dinda

Dimuat di Majalah Utusan edisi Oktober 2015
"Kenapa dari tadi Dinda mukanya cemberut terus? Mungkin karena hari ini aku datang terlambat. Tidak seperti biasanya Dinda bersikap seperti itu,” Ratih membatin dalam hati sambil memandangi Dinda yang wajahnya seperti baju belum disetrika.

“Tasya, Alexa…ada apa dengan Dinda? Dari tadi ia terus bermuram durja seperti itu. Apa mungkin ia sedang bete?” Ratih bertanya kepada Tasya dan Alexa yang duduk di bangku urutan paling belakang.
Tasya dan Alexa diam tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ratih.

Ratih makin dibuat bingung. Apalagi setelah ia bertanya kepada Tasya dan Alexa tadi, mimik wajah Dinda kian terlihat jutek. Dinda menopang dagu dan mengerutkan dahi.

Dengan perasaan makin penasaran, ia pun bertanya kepada Andre dan Reynold yang duduk di bangku di depannya, “Andre, Reynold, kalian datang ke sekolah lebih dulu dari aku. Pasti kalian tahu kenapa Dinda cemberut terus. Tasya dan Alexa juga tidak seperti biasanya. Apa mereka bertiga sedang marahan?” 

Setelah saling bertatap muka, akhirnya secara bergantian Andre dan Reynold pun mulai menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tadi terjadi.

“Iya Tih, Dinda memang sedang marah kepada Tasya dan Alexa,” papar Andre.

Ratih mengernyitkan keningnya dan bertanya, “Kenapa?”

“Karena majalah barunya direbut dan tersobek oleh Tasya dan Alexa,” timpal Reynold.

“Tadi pagi, aku, Tasya, Alexa, dan Andre datang lebih awal dari Dinda. Ketika Dinda baru datang, ia langsung menunjukkan majalah yang baru ia beli. Kata Dinda majalah itu memuat puisi yang dikirimnya.

Mendengar itu, Tasya dan Alexa langsung merebut majalah tersebut dari tangan Dinda. Mereka tak sabar dan ingin membaca puisi Dinda,” Reynold menjelaskan dengan terperinci.

“Lancangnya…” tanggap Bagas yang juga mendengarkan percakapan tersebut. Ratih sontak melotot ke arah Bagas.

“Tapi, Dinda belum mau meminjamkannya karena ia sendiri belum selesai membaca puisinya di majalah tersebut,” sambung Reynold.

“Hmm … terus, kenapa mereka bisa sampai marah?” Ratih makin penasaran.

“Karena Tasya dan Alexa tak menghiraukan kata-kata Dinda. Mereka malah sibuk tarik-menarik memperebutkan majalah Dinda sampai akhirnya bagian depan majalah itu sobek. Melihat majalahnya sobek, Dinda pun menangis dan marah besar kepada Tasya dan Alexa,”

“Nah, melihat Dinda menangis, Tasya dan Alexa menyesal dan meminta maaf kepada Dinda. Tapi Dinda tidak mau memaafkan mereka,” lanjut Andre menambahkan cerita Reynold.

“Jadi begitulah kejadiannya tadi sebelum kamu datang, dan sampai sekarang pun, Dinda masih terlihat sedih dan cemberut seperti,” pungkas Reynold sambil melirik ke arah Dinda.

Perasaan Ratih pun sedikit lega usai menyimak paparan tersebut karena ia tahu duduk persoalannya.

**

Setelah itu, Ratih duduk di samping Dinda dan menghiburnya agar jangan bersedih. Ia juga mencoba membujuk Dinda agar mau memaafkan Tasya dan Alexa yang tak sengaja menyobek majalahnya.

“Sudahlah, Din. Maafkan mereka. Mungkin mereka tidak mendengarkan penjelasan kamu. Kita semua kan sahabat. Jangan hanya karena masalah seperti itu, tali persahabatan kita dengan mereka sejak kelas 1 sampai kelas 5 sekarang ini langsung putus?” bisik Ratih sambil menepuk-nepuk bahu Dinda.

Alhasil, setelah beberapa lama dihibur dan dibujuk oleh Ratih, Dinda pun mulai mau membuka diri dan bisa memaafkan keteledoran Tasya dan Alexa tadi pagi. 

Begitu juga dengan Tasya dan Alexa, setelah dibujuk oleh Ratih mereka pun mulai sadar perbuatannya kurang tepat. Mereka pun bersedia meminta maaf sekali lagi kepada Dinda. Tasya dan Alexa berharap kali ini Dinda mau memaafkan mereka.

Pasca-kurang lebih 2 jam belajar, bel tanda waktu istirahat pun berbunyi. Semua anak-anak kelas enam keluar dari kelas kecuali Ratih, Dinda, Tasya, dan Alexa. 

Dengan perasaan sedikit ragu, Tasya dan Alexa mencoba mendekati Dinda yang masih terlihat cemberut dan sedih.

“Din, Din… maafkan kami ya! Karena tadi pagi kami menyobek majalahmu,” ucap Tasya dengan terbata-bata.

“Iya Din. Maafkan kami… kami berjanji, nanti kami akan mengganti koranmu yang rusak itu,” sambung Alexa.

Dinda pun terdiam sejenak sembari berpikir. Lalu, ia menoleh ke arah Tasya dan Alexa.

“Baiklah, aku maafkan kalian. Tapi lain kali, kalian jangan merebut dan merampas barang-barang milik orang lain sebelum diijinkan pemiliknya ya, harus minta ijin baik-baik dulu,” Dinda akhirnya mau berbicara.

“Terima kasih Dinda karena kamu sudah mau memaafkan aku dan Alexa. Sebagai permintaan maaf dari kami, ijinkan kami untuk membelikanmu majalah baru,” ucap Tasya dengan perasaan lega.

“Iya, tapi kalian juga harus berterima kasih kepada Ratih, kalau bukan karena bujukan darinya, belum tentu sekarang aku mau memaafkan kalian,” imbuh Dinda sambil melihat Ratih yang sibuk menghapus tulisan di papan tulis.

Alexa pun segera melangkah menghampiri Ratih dan berkata, “Terima kasih ya, Tih. Kalau bukan bujukan dari kamu, mungkin sampai sekarang aku dan Tasya masih bertengkar dengan Dinda.”

Ratna pun berbalik badan. Ia menuruni kedua anak tangga kecil tempatnya berdiri tadi. “Oh, iya … sama-sama Alexa. Itu kan sudah tugasku sebagai sahabat kalian,” ucap Ratih dengan hati berbunga-bunga.

"Iya Ratih. Mulai sekarang kita harus saling menyayangi dan melengkapi sebagai sahabat,” sahut Dinda sembari tersenyum. Ratih, Alexa, dan Dinda pun serempak mengangguk tanda setuju.

“Eh, dari tadi kita di kelas terus, keluar yuk sebelum bel masuk istirahat berbunyi!” ajak Ratih sambil berlari kecil menuju ke depan pintu kelas.

“Oh, iya ya! Kita ke kantin yuk!” sahut Dinda sembari menyusul Ratih ke depan pintu kelas. Mereka pun melangkah bersama-sama menuju kantin sekolah sambil bergandengan tangan dan bernyanyi riang.

April 08, 2015

Bakulan Online, Berharap Maju dan Membuka Lapangan Kerja Baru

Dimuat di Majalah Utusan edisi April 2015


Sejak awal Januari 2014, saya dan istri merintis usaha bakulan (berdagang) produk pangan sehat-alami secara online. Tetapi, saat itu aktivitas berjualan dengan bendera Dapur Sehat Alami (DSA) masih sambil lalu saja (part time) karena saya masih aktif menulis di media massa.

Lalu pada awal Juni 2014, saya memutuskan cuti menulis dan mulai bekerja penuh waktu (full time) sebagai pedagang di dunia maya. Sarana promosi dan transaksi yang saya optimalkan saat itu ialah Facebook, SMS/telpon dan nomor rekening bank. Saya menangani bagian marketing, pengiriman dan pengantaran (delivery). Sedangkan, istri mengurus bagian pengepakan (packing), pembukuan dan administrasi keuangan.

Alasan utama kami memilih membuka usaha di rumah agar bisa lebih banyak bekerja bersama. Kami sudah hampir empat tahun menikah tapi belum dikaruniai momongan oleh Tuhan. Jadi, sembari terus berusaha dan berdoa agar segera mendapatkan buah hati tercinta, kami menjadikan DSA ini layaknya “anak”. Energi, waktu, dan modal kami curahkan untuk merawat dan membesarkannya.

Selain itu, usaha di DSA juga kami maknai sebagai green business alias bakulan ramah lingkungan. Maka, kami hanya menjual produk pangan sehat-alami, misalnya beras (putih, coklat, merah, hitam) organik, kacang hijau dan kacang merah organik, mi sayur (buah naga, bayam merah, bayam hijau, wortel) organik tanpa MSG, pengawet dan pewarna sintetis, kaldu sehat (rasa jamur, ayam, sapi) non MSG; mi lethek; mi ganyong; mi aren; wedang uwuh, dan lain sebagainya.  Keyakinan kami, kalau dalam berbisnis turut menjaga kesehatan tubuh, keluarga, dan lingkungan sekitar niscaya dilancarkan oleh-Nya.

Usaha berdagang online di dunia maya ini terbilang sederhana. Awalnya, kami blusukan mencari aneka produk pangan sehat-alami dan/atau berbincang-bincang langsung dengan petani serta pengrajin di desa. Lalu, saya mengambil foto produknya serta menanyakan berapa harga kulakan dari mereka. Kami menekankan agar harga jual dari petani dan pengrajin harus menguntungkan. Ini sebuah apresiasi konkret atas kerja keras petani dan pengrajin yang telah menghasilkan beragam produk pangan sehat-alami bagi penduduk di kota.

Setelah itu, saya mengunggah foto-foto produk dagangan sehat-alami tersebut di dinding  Facebook. Kebetulan jumlah teman di Facebook hampir 5.000 orang dari dalam dan luar negeri. Jika ada yang berminat,  bisa berkomunikasi lebih detail lewat inbox. Saya tak pernah nyang-nyangan harga di dinding FB. Kalau sudah setuju (deal) di inbox, untuk pembeli yang berasal dari luar kota, pesanan akan dikirim lewat pos atau jasa ekspedisi lainnya. Kalau pembelinya berdomisili di dalam kota Yogyakarta, pesanan bisa diantar langsung. Ongkos kirim atau antar ditanggung pembeli. Pembayaran bisa ditransfer lewat rekening bank atau COD (cash on delivery).

Setahun lebih menjalankan usaha bakulan di DSS banyak sukanya. Terutama karena kami bisa menjalin relasi dengan petani dan pengrajin. Selama ini mereka memang agak kesulitan memasarkan produknya secara masif. Kami sekadar mengambil peran untuk mendongkrak angka penjualan lewat sistem pemasaran online. Jumlah laba yang kami ambil selaku distributor sewajarnya saja.

Konsumen pun menarik manfaat karena mereka tak perlu boros waktu dan tenaga keluar rumah untuk berbelanja. Cukup dengan memesan secara online, barang sudah dikirim/diantar sampai ke depan pintu di seluruh pelosok Nusantara. Bahkan kami pernah juga mengirim pesanan hingga ke luar negeri via jasa pos. Jadi, prinsipnya produsen dan konsumen sama-sama senang.

Laba bersih berjualan aneka produk pangan sehat-alami tergolong lumayan, lebih tinggi dibanding UMP (Upah Minimum Provinsi) per bulan. Untuk keluarga kecil seperti kami jumlah ini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Nominal pastinya tersebut tergantung sepi-ramainya transaksi. Dalam sebulan berkisar antara 50-100 deals jual-beli.

Sejak awal berdirinya hingga kini, DSA menargetkan harus ada (minimal) satu transaksi setiap hari. Memilih membuka usaha sendiri berarti menjadi bos atas diri sendiri. Tak ada lagi yang akan menggaji kami setiap bulannya. Kalau tidak ada transaksi dan pemasukan dalam sehari bisa tidak makan. Dalam konteks ini, filosofi Kejawen omah mamah (bergerak agar bisa makan) dan ubet ngliwet (aktif agar bisa memasak) kian menemukan relevansinya.

Sejak berwirausaha mandiri kami juga berkomitmen menyisihkan 10% pemasukan sebulan untuk ditabung, 10% lagi untuk amal/dana sosial dan 10% lainnya untuk mencicil utang di Credit Union Cindelaras Tumangkar (CUCT). Baru kemudian sisanya 70% dipakai untuk belanja kebutuhan bulanan. Jangan pernah dibalik karena tak akan tersisa anggaran untuk menabung, beramal/sosial dan mencicil utang.

Analoginya seperti mengisi akuarium. Pertama, masukkan dulu batu karangnya. Kedua, masukkan pasir-pasir lembut. Terakhir, baru diisi air. Kalau dibalik niscaya akan tumpah meluber airnya. Dalam lingkup ekonomi keluarga, ini berarti besar pasak daripada tiang, lebih banyak pengeluaran ketimbang pemasukan. Jadi, mau pemasukan Rp500.000/bulan atau Rp5 milyar per bulan, ingat selalu rumus 10:10:10:70%.

Dalam usaha bisnis, baik online maupun offline,  tentu ada pasang-surutnya. Kalau sedang sepi pembeli di dunia maya, saya gencarkan promosi. Caranya dengan berselancar ke grup-grup Facebook dan menawarkan dagangan DSA di situ. Selain itu, saya dan istri juga acap blusukan mencari produk pangan sehat-alami yang baru di desa. Sedapat mungkin mendapatkan langsung dari petani/pengrajinnya langsung karena dengan menyaksikan proses produksi pangan sehat-alami niscaya membuat kami lebih semangat memasarkannya secara on line.

Bagaimana memulainya?

Saya pernah mengalami menjadi pegawai (sebagai guru Bahasa Inggris di SMP), begitu juga istri saya (sebagai ahli gizi di rumah sakit). Tetapi kini kami bersepakat untuk berwirausaha (entrepreneur) secara mandiri. Harapannya, semoga usaha DSA kian maju dan bisa membuka lapangan kerja baru. Maka, kini promosi dan pemasaran tak lagi hanya lewat Facebook tapi juga lewat WA, Line, BBM, Twitter, olx.co.id, dan media sosial lainnya.

Bagi kaum muda yang tidak ingin bekerja formal tetapi ingin membuka usaha sendiri yang kadang mendapat tentangan dari orang tua, solusinya sederhana saja. Silakan tunjukkan dengan bukti pencapaian. Sebab, setiap orang tua mau anaknya bahagia dan sukses. Masih banyak orang tua yang memegang pola pikir lama, yaitu menganggap menjadi pegawai ialah satu-satunya cara untuk hidup layak dan bisa menjamin hari tua. Padahal, di era digital seperti ini terbuka aneka kesempatan bisnis.

Tetapi, sebelum berwirausaha mandiri bergabunglah terlebih dahulu dengan Credit Union (CU). Bagi kami, CU merupakan lembaga keuangan yang (lebih) adil dan manusiawi. Maka, jadikan CU sebagai mitra usaha. Ikutilah kelas-kelas pendidikan dasar dan lanjutan di CU sehingga bisa belajar dan semakin bijak mengelola finansial.

Setelah itu bergabung dengan CU, mulailah usaha dari apa yang disukai. Saya dan istri mencintai dunia pertanian organik dan makanan sehat-alami, oleh sebab itu DSA menjadi pilihan usaha kami di dunia maya. Setialah dan tekuni pilihan usaha tersebut. Pada saat yang sama, tetaplah membuka diri terhadap segala kemungkinan. Kalau target satu hari satu transaksi sudah terpenuhi, bidik juga peluang untuk deal satu transaksi yang nominal keuntungannya relatif besar.

Selama ini, saya dan istri menjual sepeda onthel, lukisan artistik, produk kerajinan tangan, furniture antik, tas rajut, dan sebagainya. Tak jarang saya menjual pula jasa guiding turis domestik atau manca negara bersepeda onthel keliling desa dan tempat-tempat wisata cantik lainnya yang ada di Yogyakarta. Memang, tidak setiap hari ada transaksi barang atau jasa. Tetapi tapi sekali ada satu transaksi, pemasukannya lumayan besar.

Terakhir tapi penting, kenalilah hukum distribusi barang/jasa sebelum memulai usaha. Saya banyak belajar dari Wiyadi S.Ag, owner PT. Bumi Wira Muda dan Nabura Grup. Misalnya, kalau menjual ternak dari daerah surplus pakan ke daerah minus pakan atau kulakan ayam dari desa lalu dijual di kota niscaya akan untung.

Hukum distribusi barang/jasa lainnya ialah kulakan produk dari daerah industri, lalu menjualnya di daerah konsumtif. Intinya, jangan asal spekulasi tanpa kalkulasi matang dalam berbisnis. Sebab, seperti kata pepatah, "Orang yang gagal membuat perencanaan adalah orang yang sedang merencanakan kegagalannya sendiri."

Januari 29, 2015

Sisi Lain Putra Sang Fajar

Dimuat di Tribun Jogja, 14 Desember 2014 

Judul: Sukarno Undercover, Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen
Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge
Penerbit: Galang Pustaka
Cetakan: 1/Oktober 2013
Tebal: ix + 209 halaman
ISBN: 978-602-9431-29-2

Walentina Waluyanti de Jonge, perempuan kelahiran Makassar yang kini hijrah ke Belanda. Alumna Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini sempat mengikuti program studi Pendidikan Managemen di ROC Flevoland, Netherland. Lalu, ibu beranak satu ini menjadi dosen bahasa Indonesia di Volsuniversiteit Belanda. Ia bekerja juga sebagai peneliti independen. Fokus kajiannya seputar sejarah dan budaya Indonesia.

Kegemarannya mengoleksi buku langka bergenre sejarah membuahkan dua buku dan sederet artikel di sebuah situs jurnalisme warga. “Sukarno Undercover, Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen” merupakan buku kedua pasca “Hindia Belanda Tumbang di Depan Mata”. Pilihannya jatuh pada Sukarno karena Putra Sang Fajar sosok pemersatu di zamannya.  Menyatukan berbagai perbedaan suku, agama, warna kulit, golongan, budaya, dan juga belasan ribu pulau, ke dalam sebuah republik bukan pekerjaan yang bisa dipandang remeh.

Di bagian pengantar, eks pemimpin  “Stiching SEBARI” yang bergerak di ranah pendidikan tersebut menulis, “Saya akui, buku ini terlahir dari kekaguman atas peran Sukarno yang telah melekatkan kehormatan pada bangsa Indonesia hingga berdiri sejajar dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Namun demikian, pemujaan berlebihan terhadap Sukarno bukanlah hal yang perlu. Pemujaan secara fanatik berpeluang melunturkan objektivitas.” (halaman viii)

Lewat buku ini, penulis jeli menyoroti sejarah Indonesia - khususnya Soekarno - dari jendela luar sana (baca: Belanda). Sebelumnya, selama masih tinggal di Indonesia, ia acap mendengar cerita sejarah dari pihak yang dijajah. Dalam konteks ini, memang diperlukan jarak untuk menilai sejarah Indonesia secara netral. Sehingga “History” tidak menjelma jadi “His Story.” Terlebih pada masa Orde Baru, sisi positif Bung Karno dan nilai-nilai kepahlawananya cenderung ditutup-tutupi.

Lebih lanjut, sejak era revolusi kemerdekaan ternyata situasi nasional Indonesia tak kunjung steril dari campur tangan pihak asing. Fakta tersebut diungkap secara gamblang dalam esai “Bung Karno Geram, Ike dan John Repot”. Hari itu, 18 Mei 1958, sedang terjadi pertempuran udara melawan pemberontakan separatis: Permesta, Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII), dan Republik Maluku Selatan (RMS). Di atas perairan Ambon, Kapten Ignatius Dewanto, pilot pesawat Mustang P-51, menembak jatuh pesawat B-26. Pesawat tempur yang jatuh tersebut dipiloti Allen Pope. Pilot itu selamat, dibekuk, dan dinterogasi. Pun terkuaklah bahwa Allen Pope seorang agen CIA.

“Sebelumnya pada bulan April 1958, pilot asal Amerika Serikat itu telah mengebom gereja di Ambon yang dipenuhi umat yang sedang beribadah. Gerejanya hancur, semua umat di gereja itu meninggal dunia. Demikian juga dengan kapal Indonesia penuh penumpang yang berada di pelabuhan Ambon, turut pula terkena bom, dan semua penumpangnya menjadi korban. Peristiwa pengeboman tersebut mengakibatkan lebih dari 700 nyawa melayang.” (halaman 140). 

Bung Karno berang karena Amerika tak mau mengakui tindakan keji tersebut. Empat hari pasca-peristiwa pengeboman oleh Pope, Sukarno diundang oleh Howard Jones ke Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Tanpa rasa bersalah Pemerintah Amerika meminta Allen Pope tetap harus dibebaskan. Bung Karno menyadari Allen Pope ialah kartu truf-nya. Ia tegas menuntut permintaan maaf secara terbuka dari Amerika.

Namun Ike – nama panggilan presiden Eisenhower - bersikukuh menyangkal tuduhan Amerika terlibat dalam aksi CIA itu. Tapi, akhirnya 5 hari sesudah insiden pengangkapan Pope,  Amerika setuju mengirimkan 37.000 ton beras, pencabutan embargo, bantuan pesawat, dan bantuan peralatan sistem radio komunikasi untuk Indonesia. Lalu, bagaimana komentar Pope sendiri? Pilot pesawat B-26 itu mengatakan, “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang.” (halaman 148).

Sistematika buku ini terdiri atas 3 bab. Penulis menganalogikannya laksana hari. Mulai dari “Sang Fajar Terbit”, “Sang Fajar Bersinar”, hingga “Sang Fajar Terbenam.” Masing-masing bab memuat esai-esai yang mengungkap sisi lain Bung Karno yang selama ini jarang diekspose ke khalayak ramai. Oleh sebab itu, di pojok kanan sampul buku tertera stempel “Soekarno Undercover”.

Salah satunya ihwal keprihatinan mendalam Bung Karno atas tragedi 1965. Dalam Pidato Presiden di Istana Bogor, 18 Desember 1965, ia sampai mengatakan,”Misalnya, ya, misalnya di Jawa Timur. Demikian dilaporkan oleh Gubernur Jawa Timur, oleh Panglima Jawa Timur, dan juga dari pengetahuan informasi kami sendiri, di Jawa Timur atau Jawa Tengah itu banyak sekali Pemuda Rakyat atau anggota PKI atau orang yang hanya simpati saja kepada PKI dibunuh, disembelih, atau ditikam atau dipentungi, dikepruki sampai pecah kepalanya; itu satu kejadian. Tapi kemudian itu jenasah yang lehernya tergorok, yang kepalanya pecah dikepruk, karena perutnya keluar ia punya usus karena ditikam, jenasah itu kalau ada orang yang mau ngerumat, ngerumat itu bahasa Jawa Timur. Apa ngerumat, mengurus, ngerumat jenasah itu, awas, engkau pun akan kami bunuh. Malah banyak jenazah itu di-keleler-kan begitu saja.”

Lalu, Walentina Waluyanti de Jonge mengafirmasi pendapat sejarawan Asvi Warman Adam, tanggal 30 September memang “malam terkutuk dan laknat”. Namun patut juga dipertanyakan, “….bukankah malam-malam sesudahnya dan berlangsung selama beberapa bulan tatkala terjadi pembunuhan sesama bangsa sendiri – minimal 500.000 jiwa jadi korban – itu secara keseluruhan jauh lebih “jahanam”?” (halaman 173). Dalam konteks ini, wejangan ahimsa Mahatma Gandhi kian menemukan relevansinya, “Jika mata diganti mata maka semua manusia akan menjadi buta.”

Buku setebal 209 ini tak hanya memuat teori konspirasi dan narasi besar sejarah Indonesia di tahun 1965, ada juga sisi-sisi jenaka sebagai ekses kebijakan politik Bung Karno. Antara lain terjadi pada tahun 1964. Ia pernah memerintahkan polisi untuk membawa anak-anak muda berambut model Beatles ke tukang cukur. Ini sebuah pidato resmi presiden.

Siapapun yang berambut gondrong harus diplontos. Kenyataannya di lapangan memang polisi tidak perlu membawa “pasukan gondrong” ke tukang cukur. Karena aparat keamanan sendirilah yang menjadi tukang cukurnya. Mungkin itulah razia paling konyol dalam sejarah bangsa Indonesia. Orang-orang yang terkena razia, terpaksa manut saja model rambut di kepalanya dibuat jadi mirip batok kelapa. Langsung dipangkas di tengah jalan dan jadi tontonan orang banyak (halaman 52).

Buku ini sebuah oase segar di tengah tumpukan buku-buku sejarah yang kering. Gaya penulisan yang santai, bahasa yang mengalir lancar, dan materi yang mudah dicerna menyajikan kenikmatan tersendiri. Belajar sejarah tak melulu harus mengeryitkan dahi, belajar (dari) sejarah bisa menjadi penjelajahan penuh kejutan. Selamat membaca!

Oktober 11, 2014

Adik Tersayang

Dimuat di Majalah Utusan edisi Oktober 2014 

Tidak seperti biasanya, pagi itu Tiwi datang ke sekolah dengan wajah cemberut. Tidak ada senyum sama sekali. Santi yang duduk di sebelahnya sampai bingung. Mau menegur, ia takut Tiwi sedang tidak ingin ditegur. Mau mendiamkan, hmmm… kok sepertinya tidak enak diam-diaman terus.

“Kamu bawa bekal apa hari ini Wi?” tanya Santi ketika bel tanda istirahat berbunyi.
“Aku tidak bawa bekal, San. Adi tadi pagi rewel. Jadi, ibu tidak sempat menyiapkan bekal untukku,” jelas Tiwi dengan nada kesal.

Adi itu adik Tiwi. Tampangnya lucu dan imut-imut sekali. Usianya baru tiga tahun. Santi suka sekali menggendong Adi bila bermain ke rumah Tiwi.

"Apa Adi sakit, Wi?" tanya Santi lirih.

Tiwi mengangguk. “Iya, Adi demam.”
“Oh, pantas sejak tadi kamu murung. Yuk aku temani kamu ke kantin,” ajak Santi.

Sambil berjalan bersisian, mereka melangkah menuju ke kantin yang terletak di pojok sekolah.

“Aku sebel. Kalau sedang sakit, Adi pasti rewel. Ibu jadi tidak lagi memperhatikan aku,” keluh Tiwi.
“Kamu sih enak, San. Tidak punya adik, tidak punya kakak jadi selalu diperhatikan oleh mama dan papamu."

Santi tidak menjawab. Namun ia tetap ikut menemani Tiwi membeli arem-arem di kantin. Setelah itu, mereka bergegas kembali ke dalam kelas.

Di kelas, Santi mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya.

“Ini buat kamu dan Adi,” kata Santi sambil menyodorkan bungkusan itu.
“Apa ini?” tanya Tiwi.
“Kue lapis legit,” jawab Santi.
“Kemarin papaku baru pulang dinas dari luar kota. Papa membawa oleh-oleh, tapi terlalu banyak kalau harus kuhabiskan sendiri.”

"Mm...makasih ya, San," ucap Tiwi senang. “Enak ya kalau tidak punya adik atau kakak. Tidak harus berbagi.”

“Iya memang.. tapi juga tidak ada yang diajak main, tidak ada teman bercanda, tidak ada yang suka menyambut dan mencium kalau aku pulang sekolah,” tanggap Santi.

Mendengar itu, sekarang giliran Tiwi yang terdiam. Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Masing-masing asyik menikmati makanan di jam istirahat pertama itu sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan pelajaran pun dilanjutkan kembali.

“Hari ini kamu langsung pulang, Wi? tanya Santi sambil membereskan tas dan buku-buku setelah bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi.
“Iya,”  jawab Tiwi pendek.

“Jangan sampai lupa menyampaikan titipanku buat Adi, ya,” ujar Santi sambil berjalan keluar kelas.
“Iya,” lagi-lagi Tiwi menjawab pendek

“Jangan dimakan sendiri lho,” pesan Santi lagi.
“Iyaaaa…” Tiwi menjawab dengan gemas.

Beberapa siswa yang kebetulan berdekatan dengan mereka berdua saat turun tangga menoleh ke arah mereka dengan pandangan heran.

Setiba di rumah, Tiwi langsung diberi tugas menjaga Adi karena Ibu pergi berbelanja ke warung.

Adi merengek-rengek mengajak Tiwi bermain sepeda keliling kompleks. Kebetulan demamnya sudah reda. Nah, saat bermain sepeda itu, Tiwi kurang berhati-hati sehingga terjatuh karena tersandung batu. Untung, Adi tidak terluka, karena mendarat di atas rerumputan empuk. Tapi nahas bagi Tiwi, lututnya tergores besi di ujung stang sepeda.

"Kak Tiwi, di situ saja. Nanti sakit kalau jalan," kata Adi kepada kakaknya.

Tiwi hanya mengangguk dan menahan perih. Adi kemudian pergi entah kemana dengan langkah kecilnya.

Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara. "Kak Tiwi... ini obatnya…," seru Adi sambil memberikan betadine kepada kakaknya.

Tiwi mengambilnya dari tangan Adi, lalu mengoleskannya pada luka di kakinya yang berdarah itu. Saat itu juga ia baru sadar ternyata Adi sangat baik dan sayang kepadanya.

Kemudian, Tiwi teringat kue lapis legit titipan Santi. Semula, ia ingin memakannya sendiri. Tetapi, kini ia hendak berbagi dengan Adi, sang adik tersayang. 

Oktober 09, 2014

Mengalami Sentuhan Kasih Tuhan

Dimuat di Majalah Salam Damai edisi Oktober 2014

Judul: Teaching as The Real School, Hidup Bijaksana Hidup Bermakna
Penulis: Yulia Murdianti
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1/2013
Tebal: 181 halaman
ISBN: 978-979-21-3536-7

Dalam buku ini, Yulia Murdianti memaparkan bahwa kemampuan setiap orang tidak sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, ada seorang siswa yang mendapat nilai merah untuk pelajaran Matematika, tapi ia mendapat nilai sempurna pada pelajaran Olahraga. Sementara itu, seorang kawan lainnya mendapat nilai sempurna pada pelajaran Matematika, tapi harus berjuang keras untuk menembus nilai enam pada pelajaran Olahraga (halaman 140).

Pada saat yang sama, Yulia juga berpendapat bahwa bukan berarti kita boleh pasrah terhadap sesuatu yang bukan menjadi keahlian kita. Kadang-kadang justru keberadaan kita bisa lebih berkembang jika kita berani menghadapi tantangan terbesar, serta kelemahan kita sendiri. Menurut alumna Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang ini, hidup tanpa perjuangan ibarat kereta bawah tanah, cepat tapi membosankan.

Tak sekadar beretorika “Teaching as The Real School” juga memuat aneka tips praktis. Salah satunya tentang cara mengatasi gejolak amarah. Yakni, dengan menghembuskan nafas perlahan-lahan dan minum air putih. Tatkala seseorang marah, nafas menjadi cenderung tidak stabil dan tekanan darah naik. Nah, dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan akan membuat nafas kembali teratur. Sementara, minum air putih dapat menurunkan tekanan darah sehingga mampu membuat kita merasa lebih tenang (halaman 162).

Buku ini sebuah referensi berharga untuk hidup lebih bijaksana dan bermakna. Isinya mengajak sidang pembaca belajar dari aneka pengalaman dalam keseharian. Ternyata sentuhan tangan kasih Tuhan senantiasa mendidik kita agar lebih bersyukur dan sudi berbagi dengan sesama. (T. Nugroho Angkasa S.Pd)


September 05, 2014

Belajar Rendah Hati, Wirausaha, dan Silaturahmi

Esai ini termaktub dalam buku antologi "Kapur dan Papan" terbitan Lingkar Antarnusa, September 2014

Robertus Zidan, salah satu murid saya di kelas VII B SMP Fransiba (Fransiskus Bandar Lampung).  Dulu saya pernah mengajar di sana selama satu semester (tahun ajaran 2010-2011).

Saat itu, saya mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya meneruskan pekerjaan guru Bahasa Inggris yang mengundurkan diri di tengah tahun ajaran. Saya masuk 6 hari dalam seminggu sejak pukul 07.00-14.00 WIB. Kelas VII pararel 4 kelas dari A, B, C, D. Masing-masing kelas terdiri atas 40 murid, jadi total murid ada 160.

Kini Zidan (begitu nama panggilannya di sekolah) sudah lulus dari SMP Fransiba. Ia melanjutkan studi di SMKN 2 Bandar Lampung. Sedangkan saya sendiri sudah kembali ke Yogyakarta. Tapi, saya dan Zidan tetap saling berkomunikasi lewat media sosial Facebook.

Tatkala masih duduk di bangku kelas VII B, kemampuan bahasa Inggris Zidan termasuk rata-rata. Dalam pengertian, tak terlalu terlalu menonjol dan juga tak terlalu anjlok. Misalnya saat saya mengajar tema bagaimana mendeskripsikan benda (how to describe a thing). Zidan bisa menggambarkan dengan memadai dari segi ukuran (size), bentuk (shape), warna (color), dan bahan (material).

Belakangan saya baru tahu bahwa selain seorang Slankers (fans berat grup musik Slank) ternyata Zidan memiliki hobi unik. Ia suka mengotak-atik tampilan blog dan website. Oleh sebab itu, saya chatting dengannya lewat inbox FB beberapa waktu lalu:

+ Kalau Zidan bisa otak-atik blog, tolong dong blog saya dibagusin tampilannya, kalau saya gaptek je…
- Oh ya udah kalo ada waktu saya bagusin Blog nya deh Pak

Sekilas flashback, awal 2007 saya mulai mengenal blog. Isinya dokumentasi tulisan yang pernah dimuat di media massa. Sejak masih kuliah PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, saya memang sudah hobi membaca dan menulis. Sampai saat ini, Puji Tuhan total ada hampir 800 buah pena yang pernah dimuat di media cetak maupun online.

Tapi, saya merasa kurang sreg dengan tampilan blog tersebut. Kenapa? karena masih terlalu polos. Dari segi warna dan layout juga kurang eye catching (menyolok). Oleh sebab itu, saya meminta bantuan dari Zidan secara profesional. Saya memang tak mau kalau gratisan. Saya pun mengontaknya lagi lewat pesan inbox FB:

+ Wah saya malah tidak mau kalau gratisan, harus bayar Bro, profesional kita hehe karena Zidan sudah luangkan waktu utk permak tuh blog. Intinya, modifikasi sekreatif mungkin, yg penting tampilannya jadi lebih gaul Bro.
-  Wah iyaa deh Pakk, saya akan cobaa

Semula Zidan memang merasa tidak enak kalau menerima bayaran. Tapi saya meyakinkannya bahwa kita harus profesional. Sebab, ia telah meluangkan waktu, keahlian, dan energi untuk merombak blog jadul saya tersebut. Terlebih, saat itu Zidan masih menjalani masa-masa orientasi siswa (MOS) di sekolah baru. Biasanya, Zidan menggarap proyek renovasi blog tersebut pada akhir pekan (weekend).

Tak lama berselang, abrakadabra!!! Saya takjub dengan kemampuan dan kreativitas Zidan. Kini tampilan dan layout blog saya jadi lebih segar. Silakan mampir jika hendak melihat langsung karya apik Zidan di www.local-wisdom.blogspot.com. Uniknya, saat saya hendak men-transfer pembayaran, ia mengaku tak memiliki nomor rekening di bank karena belum berusia 17 tahun. Zidan meminta dikirimi pulsa sejumlah nominal awal yang telah kami sepakati bersama.

Refleksi

Dari pengalaman tersebut setidaknya saya belajar 3 nilai keutamaan. Pertama, rendah hati. Ternyata guru tak selalu menjadi sumber ilmu satu-satunya. Bisa jadi saya lebih menguasai kemampuan berbahasa Inggris karena  memang termasuk man of letters, yakni orang yang kecenderungan gaya belajarnya – meminjam istilah Prof. Howard Gardner (Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, 1983) – linguistik/verbal.

Tapi secara visual/spasial jujur saya kurang bisa optimal. Oleh sebab itu, saya meminta bantuan Zidan yang walau secara linguistik/verbal biasa saja tapi kecerdasan visual/spasialnya lebih mumpuni. Keenam model kecerdasan majemuk lainnya ialah logical/mathematical,  bodily/kinesthetic, musical/rhythmic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistic.

Ironisnya, menurut Handy Susanto S.Psi saat ini kecerdasan murid hanya diukur berdasarkan hasil tes IQ. Padahal tes IQ membatasi hanya  pada kecerdasan logika (matematika) dan bahasa (linguistik). Oleh sebab itu, para guru perlu membuka diri terhadap temuan mutakhir terkait konsep kecerdasan jamak (multiple intelligences).

Caranya kurangi frekuensi mengajar satu arah dengan terus berceramah di depan kelas. Sebab menyitir tesis Paulo Freire – metode gaya bank - semacam itu sudah kadaluarsa. Alangkah lebih baik, kalau aktivitas belajar diisi dengan menggambar, membuat kerajinan tangan, senam otak (brain gym), menciptakan lagu, menyanyi bersama, menari bebas, mendengarkan musik, permainan kelompok, mendongeng, menonton film, bermain sulap, pentas drama, presentasi kelompok, dll.  Aneka aktivitas tersebut niscaya memunculkan kembali semangat belajar murid.

Kedua, wirausaha atau istilah kerennya entrepreneurship. Ini bukan semata soal nominal berapa besaran honor yang saya bayarkan kepada Zidan sebagai balas jasanya memercantik tampilan blog, tapi bagaimana sejak belia ia bisa belajar berwirausaha.

Beberapa waktu lalu, saya juga membesarkan hati Zidan yang memilih masuk ke SMK bukan ke SMA seperti banyak teman-teman lainnya. “Tak apa Zidan, kalau di SMK setelah lulus bisa langsung kerja karena sudah punya bekal keahlian,” tulis saya via pesan FB saat ia mengabarkan diterima di SMKN 2 Bandar Lampung.

Dalam konteks makro, jumlah wirausahawan di Indonesia memang masih minim, Padahal syarat menjadi negara maju salah satunya  dengan memiliki jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Saat ini, jumlah wirausaha Indonesia masih kurang dari 2 persen atau sebanyak 700 ribu orang, jadi masih dibutuhkan sedikitnya 4 juta lebih wirausahawan baru.

Sebagai komparasi, dibandingkan dengan negara-negara lain perkembangan kewirausahaan di Indonesia masih tergolong lambat. Kewirausahaan di Amerika Serikat tercatat mencapai 11 persen dari total penduduknya, Singapura sebanyak 7 persen, dan Malaysia sebanyak 5 persen.  Oleh sebab itu, peluang menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru masih terbuka lebar di Indonesia. (Sumber Data: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/18/090462035/Minim-Jiwa-Kewirausahaan-di-Indonesia).

Ketiga, silaturahmi guru-murid. Walau kini saya dan Zidan terpisah jarak dan ruang tapi hubungan baik perlu terus dijalin. Terlebih saat ini sarana TIK (teknologi informasi dan komunikasi) begitu memadai sehingga kita bisa bertukar informasi dan sharing power (berbagi kekuatan) secara real time (pada waktu yang bersamaan). Tentu sesuai dengan kemampuan kita di lingkar pengaruh masing-masing.

Hingga kini saya juga tetap menjalin silaturahmi dengan St. Kartono, guru Bahasa Indonesia saya di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta dulu. Selain saya menimba ilmu ihwal skill dan etika menulis, setiap bulan pasti berkunjung ke rumah beliau. Kenapa? Karena  mengantar pesanan beras organik dan telur bebek.

Saya juga sempat merasa pakewuh (sungkan) seperti Zidan, karena Pak Kartono itu guru saya. Awalnya, saya tak mau mengambil untung dari penjualan beras organik dan telur bebek tersebut. Tapi beliau sendiri yang mengatakan agar mengambil untung sewajarnya karena saya telah bersedia mengambilkan beras dari petani organik di Sleman dan mengantarkannya langsung ke rumah. Sehingga uang tersebut bisa untuk mengganti biaya bensin, waktu yang dihabiskan selama perjalanan, dan jasa pengiriman (delivery service).

Secara lebih mendalam, saya pun memaknai gaya hidup mengkonsumsi produk organik bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan pangan semata, tapi wujud kepedulian pada kesehatan diri sendiri dan anggota keluarga tercinta. Selain itu, juga merupakan sikap ramah lingkungan dalam keseharian, serta sebuah apresiasi terhadap jerih payah para petani organik yang telah merawat tanaman dari sejak masa persiapan lahan sampai panen raya tiba. Let's go green! Tentu mulai dari diri pribadi dan keluarga sendiri serta orang-orang terkasih termasuk para guru kita.

Akhir kata, saya percaya pada pepatah berbahasa Inggris, “There is no coincidence.” Tiada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk perjumpaan antara guru dan murid di ruang kelas. Sekarang barangkali belum terasa manfaatnya, bahkan kadang kita menganggapnya sebagai rutinitas belaka. Tapi niscaya tiba saatnya, kita menyadari makna yang lebih dalam dari relasi guru-murid di masa depan.  

Juli 18, 2014

Menyelami Kedalaman Cinta

Dimuat di Majalah Hidup, Tahun ke-68, Edisi 25, 22 Juni 2014

Judul: Cara Menguji Ketulusan Cinta
Penulis: A. Setyawan, S.J
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I/ Oktober 2013
Tebal: 303 halaman
ISBN: 978-979-21-3620-3

Di era modern ini ada satu kecenderungan yang membahayakan peri kehidupan bersama. Karena sadar atau tidak sadar manusia terdorong untuk memanfaatkan orang dan lebih mencintai barang. Dalam lingkup keluarga, misalnya, ada orangtua yang memiliki paham bawah sadar bahwa anak adalah aset. Menurut penulis buku ini, A. Setyawan, S.J, seorang anak juga memiliki martabat pribadi.

Lebih lanjut, penulis memaparkan konsekuensi dari cara pandang yang kurang tepat tersebut. Akibatnya, orangtua akan menghadapi anak seolah-olah sedang berhadapan dengan barang yang bisa dipakai seturut keinginan mereka. Sebaliknya, tatkala berhadapan dengan barang, orangtua tersebut berperilaku seolah barang itu adalah person yang harus dicintai.

Berikut ini nukilan dialog yang menyiratkan contoh konkretnya. Seorang ayah menunggu mobil yang sedang dipakai anaknya. Seperempat jam terlambat sudah membuat sang ayah merasa resah. Tiba-tiba si anak masuk ke rumah sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah. Wajahnya pucat pasi dan kelihatan ketakutan sekali. Alih-alih menolong dan segera mengobati, sang ayah malah bertanya dengan ketus, “Mana mobilnya?” Si anak tadi menceritakan bahwa mobilnya menabrak tiang listrik. Mendengar hal tersebut sang ayah marah besar, “Kamu itu, kamu pikir mbetulin mobil itu murah apa?” (halaman 152).

Sebagai alternatif, penulis menawarkan perspektif lain yang lebih tepat (baca: manusiawi). Tujuannya untuk menumbuhkan cinta dalam diri si anak. Orangtua jangan sekadar mementingkan keselamatan mobil, karena anak tetap lebih bernilai daripada barang. Alangkah lebih mengena jika sang ayah berkata, “Kamu terluka? Syukurlah tidak terlalu parah. Kita masih bisa perbaiki mobil tersebut. Tapi ayah tak bisa mendapatkan kamu yang lain kan?” Dalam konteks ini, artinya anak sebagai pribadi dipandang unik. Ia tiada duanya di dunia.

Buku setebal 303 halaman ini sebuah referensi berharga untuk menyelami kedalaman cinta. Sebab cinta merupakan bagian terpenting dari kedalaman kemanusiaan kita.

1405751415696635040

Juli 15, 2014

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Dimuat di Okezone.com, Senin/14 Juli 2014

Judul: Top Words 2, Kisah Inspiratif dan Sukses Orang-orang Top Indonesia
Penulis: Billy Boen
Penerbit: B-first (PT. Bentang Pustaka)
Cetakan: 1/2013
Tebal: xii + 200 hlmn
ISBN: 978-602-8864-80-0
Harga: Rp50.000

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga. Usai membaca buku ini diharapkan muncul pertanyaan reflektif, “Kalau dia bisa, kenapa saya tidak?” atau “Wah kok dia bisa ya kepikiran begitu? Kreatif banget! Apa yang bisa saya lakukan dengan kondisi yang sedang saya alami saat ini?”

Contohnya, kiprah elok Entrepreneurship Organization asuhan Rachmat Harsono. Mereka pernah mengundang narasumber dari Afrika Selatan. Pembicara tersebut seorang tentara khusus. Tapi, ia tidak berbicara ihwal kewirausahaan kepada para peserta, melainkan berkisah tentang perjuangannya tatkala dikurung dalam penjara sempit di Zimbabwe selama 15 tahun.

Sebanyak 8.5000 pengusaha yang tersebar di 120 kota dan 42 negara di seluruh dunia menyimak dengan takzim ihwal fighting spirit (semangat juang). Yakni, bagaimana caranya untuk mengatasi rasa takut dan bertekad untuk terus hidup. Nilai keutamaan tersebut dapat pula diterapkan oleh para pebisnis dalam mengembangkan usahanya di lingkar pengaruh masing-masing (halaman 143).

Contoh lainnya, Gilang Iskandar, Direktur Ekesekutif World Peace Movement. Gilang bersedia mulai merangkak dari bawah sebagai staf biasa untuk meniti puncak karir. Menurutnya, proses ini penting agar kelak sebagai pemimpin bisa punya wawasan yang cukup. Selain itu, agar ia dapat  berempati pada apa yang dialami pegawainya.

Tokoh yang pernah malang-melintang di berbagai stasiun televisi swasta tersebut berpedoman pada 4 hal. Pertama, kerja keras sebagai poin utama. Tidak ada sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah. Kedua, tidak semua hal kita tahu. Untuk itu diperlukan sikap open minded dan mau terus belajar, termasuk bertanya kepada anak buah yang lebih pintar. Ketiga, jangan takut untuk berbagi karena takut kalah prestasi dengan orang lain. Kalau yakin punya suatu kelebihan, harus kita share. Keempat, harus memiliki sikap positif. Kalau dimarahi atasan orang cenderung mutung dan tak mau berkomunikasi dengannya lagi. Tapi Gilang justru merenung dan melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kinerja (halaman 60).

Uniknya, pasca-meraih sukses di usaha broadcasting, Gilang justru memilih mengundurkan diri. Padahal, di lingkungan perusahan besar televisi swasta ia telah masuk jajaran papan atas managemen dan merasakan betapa nikmat hidup di zona nyaman. Kini, ia dipercaya menjadi pemimpin World Peace Movement, bidang yang berbeda 180 derajat dari dunia pertelevisian yang telah ia geluti selama 23 tahun terakhir. Gilang hendak bertindak sebagai semacam promotor perdamaian dunia. Aneka kegiatan dilakukan untuk mengajak masyarakat terutama kaum muda. Mereka terlibat dalam World Peace Movement lewat ajang seni, budaya, politik, hingga penghijauan dan isu lingkungan hidup.

Kisah sukses Dr. Handry Satriago juga tak kalah menarik. Walau kondisi fisiknya tak seperti dulu lagi, Presiden dan CEO General Electric Indonesia ini tetap semangat berkarya. Awalnya, ia mengaku marah saat pertama kali sakit sehingga membuatnya tak bisa berjalan. Seiring berjalannya waktu, pasca 20 tahun bergulir Dr. Handry menyimpulkan bahwa lewat kanker yang ia derita, Tuhan justru memberi lebih banyak ketimbang apa yang diambil darinya.

Sebagai manusia biasa, rasa kecewa, frustasi, putus asa memang pernah menghantui hari-harinya di masa lalu. Tapi justru kondisi terbatas tersebut memberinya pelajaran berharga. Ternyata dinamika perjalanan hidupnya memang harus seperti itu. Toh pada akhirnya, Dr. Handry meyakini bahwa program Tuhan lebih baik daripada pikiran manusia. Seperti kata petuah bijak: manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Lewat buku ini, ia juga berpesan kepada kaum muda, “Jika kita ingin Indonesia menjadi lebih baik. Kuncinya ada di pendidikan, dan itu tak selalu berupa pendidikan formal. Saya ingin melihat semua young leaders Indonesia punya mimpi untuk menjadi global players. Juga tetap rendah hati bahwa gelas itu masih setengah penuh dan harus terus diisi.” (halaman 47).

Buku setebal 200 halaman mengulas aneka kisah hidup orang sukses. Billy Boen mengemasnya secara santai dengan bahasa khas anak muda.  Layak dibaca oleh generasi penerus bangsa yang hendak menjadikan Nusantara kian bertaji di kancah dunia - See more at: http://suar.okezone.com/read/2014/07/14/285/1012544/antologi-kisah-hidup-orang-sukses#sthash.kNh5rVJe.dpuf

Juni 11, 2014

Asta Brata, Panduan Memilih Pemimpin Nusantara

Dimuat di Radar Surabaya, Rabu/11 Juni 2014 

Hajatan pesta demokrasi 2014 memasuki separuh jalan. Pasca-memilih para wakil rakyat, kita akan memiliki presiden dan wakil presiden baru. Pertanyaannya, apa kriteria dalam memilih pemimpin?

Sederet referensi luar negeri dapat dijadikan rujukan. Salah satunya buku "The Leader in Me" (Stephen R. Covey, Gramedia Pustaka Utama, 2009). Stephen R. Covey dikenal luas berkat buku bestseller “The 7 Habits of Highly Effective People.” Majalah Times mengukuhkan Covey sebagai salah satu tokoh terbesar abad ini.

Tapi sesungguhnya dari bumi Nusantara kita pun bisa menggali inspirasi terkait kepemimpinan. Dalam catatan sejarah, leluhur bangsa ini memiliki filosofi Asta Brata. Kitab pedoman hukum manusia gubahan Manu tersebut berjudul Manusmriti atau Manawardharma Shastra. Para ahli memerkirakan usianya mencapai 5.000 tahun lebih.

Ada juga rumusan Mpu Yogishwara yang relatif lebih muda. Wejangan tersebut dikemas dalam bentuk Kakawin Ramayana. Usia karya itu sekitar sepuluh abad. Yang paling mutakhir tentu Asta Brata versi Keraton Surakarta. Karya tersebut diadaptasi dari kedua kitab terdahulu. Isinya telah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Almarhum Sri Paku Buwono III memopulerkan versi ini sekitar 125 tahun silam. Kebijaksanaan adiluhung tersebut dianalogikan laksana delapan kelopak bunga teratai. Setiap helai kelopaknya mengandung nilai-nilai filosofi kepemimpinan (Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2004).

Kelopak pertama, matahari. Matahari memberikan cahaya kepada semua makhluk. Walau matahari merupakan sumber energi utama segenap ciptaan Tuhan di muka bumi ini, tapi matahari tidak pernah menyombongkan dirinya. Setiap hari matahari tepat waktu terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Seorang pemimpin juga perlu belajar dari matahari. Ia berkarya tanpa pamrih (rame ing gawe sepi ing pamrih). Ia bersinar dan berbagi sinar. Ia cerah dan berbagi pencerahan kepada semua tanpa pilih kasih.

Kelopak kedua, bulan. Bulan bersinar menerangi pekat gulita malam. Meski terjadi krisis dan konflik seorang pemimpin tetap selalu memandu. Ia tidak melarikan diri atau mencari kambing hitam. Ketika manusia letih dan memilih untuk tidur, bulan tetap menunggui dengan penuh kesabaran. Dengan sinarnya yang lembut, bulan mengantar kita ke alam mimpi. Dalam alam mimpi itulah Bung Karno, Bung Hatta, Romo Mangun, Gus Dur, Cak Nur, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Luther King Jr, Nelson Mandela, dan lain-lain memimpikan kemerdekaan. Dalam alam jaga mereka pun mewujudkan mimpi itu demi bangsa dan kemanusiaan

Kelopak ketiga, bintang. Bintang kutub (pole star) menjadi pandu bagi para pelaut yang tersesat. Artinya, seorang pemimpin selalu siap hadir tanpa diminta. Ia senantiasa menuntun, mengarahkan, dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih sekalipun.  (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Penerjemah dan Guru Privat Bahasa Inggris)

Juni 07, 2014

Jambu Air dan Ikan Guppy

Dimuat di Suara Merdeka, Minggu/8 Juni 2014 

Minggu pagi matahari bersinar cerah. Secerah wajah Doni yang sedang duduk di beranda rumah. Ia menunggu kedatangan Tuti sambil bersiul-siul. Mereka berdua sudah janjian hendak bersepeda dan berkunjung ke rumah nenek Doni di desa.

“Doni!” suara ibu memanggil namanya dari arah dapur.

“Piring yang kamu pakai untuk sarapan tadi kenapa belum dicuci?” tanya ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.

“Ah…nanti saja Bu,” jawab Doni santai.

Doni memang sering menunda-nunda.

Tak lama berselang, Tuti datang dengan menaiki sepeda mininya.

“Selamat pagi Doni, maaf ya aku baru sampai. Tadi aku membantu dulu ibu mencuci piring setelah sarapan,” kata Tuti.

Tuti memang rajin membantu orangtua.

“Ayo kita segera berangkat,” sahut Doni.

Ia menaiki sepeda BMX-nya. Doni bersemangat sekali karena akan berkeliling dan mengunjungi nenek di desa.

Setelah puas bersepeda melintasi daerah pedesaan yang masih asri, Doni dan Tuti singgah ke rumah nenek.

Nenek Doni suka sekali berkebun dan memelihara ikan hias. Di pekarangan rumah beliau, ada taman sayuran, buah, obat-obatan, dan umbi-umbian. Mulai dari kangkung, sawi, bayam, jambu air, mangga, rambutan, kelengkeng, jahe, lengkuas, sirih, dan lain-lain.

Tanaman sayur ditanam nenek di polibag atau pot kecil. Tanaman buah ditanam nenek di tabulampot atau pot besar. Sedangkan, tanaman obat-obatan dan umbi-umbian ditanam nenek langsung di tanah.

Di siang hari bolong, lingkungan di taman depan rumah nenek tetap sejuk. Mereka bisa betah duduk di bawah pohon sambil memberi makan ikan hias di kolam. Ada ikan komet, guppy, molly, dan lain-lain.

Nenek memang tekun merawat tanaman dan memelihara ikan hias.

Doni dan Tuti berbincang-bincang dengan nenek di tengah taman tersebut. Mereka beristirahat sambil menikmati sajian buah segar. Kebetulan pohon jambu air di tabulampot nenek sedang berbuah lebat.

Mereka bisa memetik langsung dari pohon yang tak terlalu tinggi tersebut. Cukup dengan sedikit berjinjit, Doni sudah bisa memetik beberapa jambu air yang bewarna merah muda. Ketika jambu air itu digigit mak kress, rasanya segar sekali.

Sebelum mereka berpamitan hendak pulang, nenek memberi Doni dan Tuti oleh-oleh. Bukan buah jambu air tersebut tapi masing-masing mendapat tunas pohon jambu air dan sepasang ikan guppy.

“Kalian berdua bisa belajar menyayangi dan merawat tanaman jambu air dan ikan guppy ini. Tunas jambu airnya bisa ditanam di tabulampot atau pot besar. Sedangkan sepasang ikan guppy-nya bisa dipelihara dalam akuarium,“ pesan nenek.

Setibanya di rumah, Tuti segera menanam tunas jambu air tersebut di tabulampot. Ia memanfaatkan bekas tong cat ukuran besar. Bagian bawahnya sudah di lubangi untuk perembesan air. Sedangkan media tanamnya tanah, pupuk kompos, dan sekam. Semua dicampur menjadi satu. Setiap pagi dan sore, Tuti selalu rajin menyirami.

Sedangkan sepasang ikan guppy dari nenek ditaruh di akuarium. Ia senang sekali memandangi ikan guppy aneka warna ini berenang lincah. Tak lupa ia memberi makan dengan jentik-jentik nyamuk atau cacing sutra. Jika sedang libur, Tuti juga mengganti air dalam akuarium dengan air baru yang segar dari sumur.

Tapi berbeda dengan Doni, ia hanya menancapkan tunas jambu air tadi di pekarangan rumah yang gersang. Ia juga sering lupa menyiraminya. Sepasang ikan guppy dari nenek juga hanya ditaruh di akuarium begitu saja. Tapi ia juga sering menunda memberi makan dan mengganti airnya.

Akibatnya, sepasang ikan guppy itu mati. Begitu juga  tanaman jambu air di pekarangan rumahnya, layu sebelum berkembang.

Ia sedih dan menyesal sekali. Tapi ibarat kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Ia juga merasa malu kepada nenek yang telah memberi tunas jambu air dan sepasang ikan guppy tersebut.

Lain halnya dengan Tuti, ia merasa bahagia dan bersyukur sekali. Tunas jambu air di tabulampot-nya telah tumbuh besar dan mulai berbunga. Sebentar lagi, ia sekeluarga juga bisa memetik jambu air yang segar dan kaya vitamin.

Sepasang ikan guppy di akuariumnya juga sudah bertelur. Tinggal menunggu waktu untuk menetas. Ia akan segera melihat lebih banyak ikan guppy aneka warna yang berenang lincah di dalam akuariumnya.

Akhirnya, Doni sadar bahwa menunda-nunda pekerjaan kecil bisa berakibat fatal. Ia berjanji akan lebih tekun melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Tak lagi menunda-nunda tugas. Misalnya dengan mencuci piring sesudah makan, menyirami tanaman di pekarangan rumah, memberi makan ikan hias, dan mengganti air di akuarium. Terima kasih jambu air dan ikan guppy, kalian telah memberi pelajaran yang sangat berharga.

Mei 23, 2014

Mengenang 15 Tahun Wafatnya Romo Mangun

Dimuat di Sesawi.net, Jumat/23 Mei 2014

Selasa malam (6/5) pelataran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) di Jln. Suroto 2 Kotabaru dipenuhi lautan manusia. Ratusan pengunjung rela lesehan, berjongkok, duduk di kursi, berdiri, dan bahkan berjinjit dari pukul 19.00-22.00 WIB. Mereka takzim mengikuti peringatan 15 tahun wafatnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. Pagelaran budaya tersebut terbuka bagi khalayak ramai. Siapa pun boleh hadir tanpa dipungut biaya, mulai dari tukang becak hingga pejabat teras kota Yogyakarta.

Dalam kata sambutan sebelum membuka pameran seni rupa “Pager Piring” Imam Priyono mengapresiasi jerih payah panitia. Sebab, ternyata Wakil Walikota Yogyakarta tersebut juga dulu merupakan salah satu anak yang menerima pager piring alias dibiayai pendidikannya oleh Romo Mangun. “Cita-cita Romo Mangun yang masih saya ingat ialah keseimbangan dalam kehidupan. Misalnya yang kaya membantu yang miskin, saling peduli dan mencintai antar sesama manusia dan juga turut serta menjaga keseimbangan ekologi,” ujarnya di hadapan para hadirin dan tamu undangan.

Wayang Milehnium Wae juga turut memanaskan suasana. Puluhan muda-mudi dari Institut Sansekerta Indonesia menyuguhkan atraksi musik perkusi, gamelan, tarian, pembacaan puisi, pantomim, wayang seng, dan teater. Pentas kolaborasi malam itu bertajuk Mlarat Ning Ningrat (Miskin Tapi Ningrat). Romo Sindhunata S.J selaku tuan rumah mengatakan bahwa Romo Mangun bukan sekadar tokoh intelektual, beliau juga seorang seniman.

Lebih lanjut, menurut Romo Sindhu salah satu kontribusi Romo Mangun bagi dunia literasi ialah sastra yang berpamor. “Susastra bukan dicipta, tapi digali lewat permenungan atas filsafat, realitas historis, sosial dan politik. Demi ide intelektual dan bersama ide tersebut, Romo Mangun siap mogok makan bersama warga Kali Code yang hendak digusur, memperjuangkan keadilan bagi masyarakat Kedung Ombo, berdemonstrasi bersama mahasiswa, buruh dan petani, mengembangkan ide pendidikan dasar lewat Dinamika Edukasi Dasar (DED) dan SD Kanisius Mangunan. Karena pengalaman otentik memang berasal dari grassroot,” ujar Romo Sindhu.

Selaras dengan paparan Prastowo selaku Ketua Panitia. Ia mengatakan bahwa YB Mangunwijaya ialah tokoh multidimensional. Beliau seorang arsitek, sastrawan, budayawan, pendidik dan juga filsuf. “Kita tidak cukup jika hanya menapakinya, tapi kita juga harus menjelajahi pemikiran beliau yang sangat kaya. Menjelajahi pemikiran Romo Mangun berarti memahami seluruh dimensi persoalan yang plural dimana beliau selalu berpijak pada nilai-nilai sosial, spiritual dan humanisme,” imbuhnya.

Tak ketinggalan pada Selasa malam itu, Shri Krishna Encik turut menyumbangkan suara emasnya diiringi petikan gitar dan gesekan cello. Salah satu lagu gubahannya bertajuk “Sang Pelayan”. Berikut ini petikan syairnya yang tepat melukiskan karakter Romo Mangun:

Selalu saja kau tenang
Dengan semua sikapmu
Selalu saja kau tegar dengan
Pendirianmu…

Tak sekadar kata-kata
Yang engkau utarakan
Tak sekadar perbuatan
Yang selalu kau wujudkan

Lukisan karya Menol Juminar berjudul Remis
Lukisan karya Menol Juminar berjudul Remis

Mei 20, 2014

Butet & JHF Kampanye Gerakan Jujur Barengan

Dimuat di Okezone.com, Rabu/21 Mei 2014

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan Pemda DIY mendeklarasikan gerakan Jujur Barengan di depan Kompleks Kepatihan, Malioboro, Yogyakarta, Selasa (20/5) malam.

Sebelumnya pada sore hari telah digelar pawai budaya. Pawai tersebut diikuti 1.500 orang lebih dari 45 komunitas. Mulai dari komunitas becak anti korupsi, pecinta satwa, bregada keraton, perwakilan pelajar, perwakilan mahasiswa, paguyuban sepeda onthel, veteran pejuang kemerdekaan hingga seniman tradisional.

Butet Kartaredjasa dan JHF (Jogja Hip-hop Foundation) turut memeriahkan puncak malam pentas seni lewat orasi budaya dan hentakan lagu-lagu hip-hop.  

Dalam orasi budayanya, aktor yang terkenal piawai memerankan aksi monolog dengan menirukan suara Soeharto itu mengatakan, “20 Mei 1908 merupakan Hari Kebangkitan Nasional. Mari kita jadikan 20 Mei 2014 sebagai Hari Kebangkitan Kejujuran Nasional!” Sontak ajakan tersebut disambut gemuruh tepuk tangan ribuan penonton.

Menurut Butet, korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah. “Karena korupsi dilakukan sesuai asas demokrasi. Keuntungannya dibagi merata, mulai dari eksekutif, legislatif hingga yudikatif. Inilah yang disebut korupsi berjamaah,” imbuhnya.

Butet juga tidak setuju dengan istilah “budaya korupsi”. Sebab, koruptor akan disebut “budayawan”. “Jangan sampai kalimat dalam pembukaan UUD 1945 juga diplesetkan menjadi korupsi ialah hak segala bangsa,” tegasnya lagi.

Sebagai penutup, presiden guyonan Nusantara itu menceritakan petualangan anak kecil mencari arti kejujuran. Ia berkeliling pelosok negeri. Tatkala bertemu dengan politisi, ternyata kejujuran tergantung kawan koalisi partai.

Saat bertemu tentara, ternyata kejujuran tergantung perintah komandan. Ketika bertemu Gus Dur di surga, ternyata menurut almarhum tidak ada lagi orang jujur. “Akhirnya, anak kecil tersebut bertanya kepada kita semua di sini, mari kita jawab bersama bahwa kejujuran adalah kita. Mari tanamkan nilai kejujuran mulai dari keluarga sejak kanak-kanak dan dari diri kita sendiri,” pungkasnya.

Sederet tokoh nasional dan lokal turut hadir dalam deklarasi gerakan Jujur Barengan. Antara lain Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta Herry Zudianto, Gus Miftah sebagai perwakilan dari agamawan, dan masih banyak lagi. Mereka semua bertekad memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.

Muhammad Marzuki alias Juki, salah satu punggawa JHF mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung kampanye kejujuran hari itu. “Terima kasih kepada pedagang lesehan dan tukang parkir yang tempat kerjanya direlakan untuk dijadikan panggung malam ini,” ujarnya.

Sederet tembang hip-hop berbahasa Jawa sukses mengajak seluruh penonton bernyanyi dan berjingkrak bersama. Mulai dari Ngelmu Pring, Sembah Raga, hingga Jogja Istimewa. (Reporter dan Fotografer: T. Nugroho Angkasa).

Mei 19, 2014

Imam Priyono: Saya Anak yang Menerima Pager Piring dari Romo Mangun

Dimuat di Okezone.com, Selasa/20 Mei 2014

Imam Priyono  
Imam Priyono  


YOGYAKARTA - Siapa tak kenal Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr? Ia seorang budayawan, sastrawan, pendidik, penulis, novelis, arsitek, dan pejuang kemanusiaan.

Salah satu nilai keutamaan yang dihayati Romo Mangun ialah filosofi “Pager Piring”. Jangan memagari rumahmu dengan pecahan kaca (beling) namun pagarilah rumahmu dengan piring. Di era modern yang cenderung individualistis, spirit kebersamaan tersebut kian menemukan relevansinya.

Dalam rangka memperingati 15 tahun wafatnya Romo Mangun, Yayasan Galang Press, ASA Art Management, Komunitas Seni Rupa Blendang-blendhung, Teater Lilin, Djarum Foundation, Yayasan Persekolahan Bellarminus Jakarta dan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED) mengadakan rangkaian acara bertajuk “Menjelajah Pemikiran Y.B. Mangunwijaya”.

Sejak 6-11 Mei 2014 digelar pameran seni rupa di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), seminar pendidikan di Hotel Santika, sarasehan "Gerundelan Orang-orang Republik" dan workshop seni rupa untuk anak di Jalan Suroto No. 2 Kotabaru.

Sebelum membuka pameran seni rupa “Pager Piring”, Sindhunata S.J menceritakan pengalamannya mengedit 12 buku saat merayakan 100 tahun Mangunwijaya beberapa tahun silam. Salah satu buku berjudul “Menjadi Generasi Pasca-Indonesia” yang diterbitkan Kanisius. Romo Sindhu mengutip petuah Romo Mangun, “Kita boleh lahir di Timur, tapi dunia ialah rumah kita.”

Pembukaan pameran seni rupa “Pager Piring” Selasa malam itu dimeriahkan juga atraksi kolosal Wayang Milehnium dan suara emas Shri Krishna Encik. Sederet perupa kondang turut berpartisipasi, yakni A.B. Dwiantoro, A.C. Andre Tanama, Achmad Santoso, Andy Miswandi, Agus Yuliantara, Ambar Pranasmara, Budi Barnabas, Budiyana, Budi Ubrux, Choerodin, Djoko Pekik, Dunadi, Greg Susanto, Hadi Soesanto, Hedi Hariyanto, Imron Safii, Joko "Gundul" Sulistio, Justin Copertino, Kadafi, Ketut Suwidiarta, Lanny Andriani, Made Toris, Menol Juminar, Mujiharjo, Ouda Teda Ena, S. Teddy d, Stefan Buana, Tatang Maruto, Win Dwilaksono, Yun Suroso, dan Yundhi Pra.

Semua dipersatukan oleh kecintaan mereka pada Romo Mangun. Prastowo selaku ketua panitia mengatakan, “Kami mempersiapkan seluruh rangkaian acara ini selama 2 bulan.”

Imam Priyono dalam kata sambutannya mengungkap fakta mengejutkan. Ternyata ia salah satu orang yang mendapatkan “piring” dari Romo Mangun.

“Dulu di daerah Kemetiran Kidul ada seorang anak dari keluarga miskin. Tahun 1983 anak tersebut lulus SMA. Tapi anak itu tidak bisa kuliah maupun kerja karena kondisi ekonomi keluarganya yang tidak mampu. Lalu, anak itu bertemu dengan Romo Mangun dan menerima pager piring. Di tahun 1986 anak tersebut kemudian bisa berkuliah. Anak yang menerima pager piring tersebut berhasil menjadi Wakil Walikota Yogyakarta. Ya, saya adalah si anak miskin yang mendapatkan pager piring dari Romo Mangun,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin yang memadati pelataran BBY. (T. Nugroho Angkasa)
(//ful)

Mei 09, 2014

Sajak Orang Sinting

Dimuat di SLiLiT Arena edisi April 2014 


1.
Sajak Dagang

Kamu panggil aku karena aku jualan barang
apa urusanmu?
kamu mau tahu barang yang kujual?
mau kamu beli juga?

Aku buka warung
aku jualan teh, kopi, mi instan
apa urusanmu?

Mau makan dan minum?
aku layani sepenuh hati
pokoknya kamu bayar aku terima

Kenapa pula aku tanya asal-usul uangmu?
hasil korupsikah?

Uang dari mana pun itu bukan urusanku
urusanku kamu beli yang aku jual
jangan lupa bayar

Kenapa pula aku sampai dipanggil-panggil yang berwenang?
bayaranmu padaku semua turut disita pula

Kalau terus seperti itu urusan di negeri ini
siapa yang mau dagang lagi?

Kamu yang sedang baca sajak ini
jangan senyum-senyum dan malah senang begitu
daganganku ini usaha paling tua

Anak, istri, dan keluargaku aman tidak pernah diganggu
maka harus ada warung seperti warungku ini
memangnya salah?

Kalau ada orang korupsi, ya tangkap saja dia
apa urusannya denganku?

Apa urusannya dengan uang yang sudah dia bayar kepadaku
untuk barang dagangan yang sudah kuserahkan padanya

Kenapa setelah kamu seret dia, aku juga diseret-seret segala?
Apa karena aku melayani koruptor?

Bukankah banyak juga di tempat-tempat ibadah?
sita juga sumbangan-sumbangan mereka di sana
berani?

2.
Sajak Kambing Korban

Kau memberiku makan, rumah, uang, dan kedudukan
amboi aku merasa girang
bukan main senangnya

Tapi akhirnya baru kutahu
kau telah jadikan aku kambing korban

Kau menggemukkan diriku
bukan karena kau menyayangiku

Kau menggemukkanku untuk keuntunganmu sendiri
supaya aku jadi paling gemuk

Sekarang aku baru tahu
tega-teganya kau wahai manusia!

Hukum dan segala peraturan pun kau buat
semata untuk membenarkan penyembelihanku

Sungguh kejam kau wahai manusia…
apa salahku sehingga kau sembelih?

Aku kambing di pinggir jalan
aku juga pejabat di pusat pemerintahan

Aku berada di mana-mana
Di mana saja selama masih ada manusia jahanam

3.
Sajak Cuci Uang

Koruptor dikenai pasal cuci uang?
jujur aku bingung
kenapa korupsi tidak disebut korupsi saja

Seenaknya kalian memasuki rumah mereka
menggeledah dan menyita baju mereka, barang-barang mereka

Kenapa kalian tidak berani ke tempat-tempat ibadah juga
yang jatah mereka lebih dari yang diperoleh koruptor

Aku bingung kenapa dianggap bersekongkol dan dipersalahkan?
bagaimana dengan para ahli kitab
di tempat-tempat ibadah yang notabene tidak menjual apa-apa
tapi tetap dapat jatah!

Aku masih berdagang barang
Sedangkan mereka hanya berjualan harapan

Aku sungguh bingung
kenapa mereka tak tersentuh
dan kenapa aku yang justru dicari-cari dan jadi buronan terus?

Aku sungguh bingung, bingung, bingung…

4.
Sajak S3: Sumpah Seekor Sapi

Kamu pikir dengan menyembelihku perkara selesai
tidak, tidak semudah itu

Saat penjagal-penjagalmu
memisahkan kepala dari badanku
segala kebangsatanmu pun tampak jelas di depan mata
dan terekam oleh jiwaku

Mereka yang sekarang membuatmu pusing tujuh keliling dan tak bisa tidur malam
adalah roh sapi-sapi gentayangan yang kamu sembelih
mereka datang untuk balas dendam

Silakan memerah tetek susu kami, monggo silakan
ambil semua susu kami, kami rela

Tapi kalau kami disembelih
bagaimana kalau suatu saat kami berkuasa
dan kami ganti menyembelih kalian semua?

Cukup sudah kamu perdagangkan bangsaku, rasku, keluargaku, wahai bangsa manusia!
sekarang giliran kalian mesti membayar utang
aku datang untuk menyelesaikan utang – piutangmu

Akhirat masih lama
kamu mesti bayar sekarang juga

Ayo kuantar kamu ke rumah-rumah
tempat penjagalan manusia-manusia seperti kamu!

5.
Sajak Pangeran

Bangun pagi itu kerja petani
aku pangeran putra petinggi

Untuk apa bangun pagi-pagi?
aku tidak perlu ke ladang untuk bertani

Mohon komisi itu kerja makelar
aku pangeran, bukan makelar

Money laundering? Kenapa harus dicuci?
walau kotor, haram toh uang tetap uang
kutelan mentah-mentah, enak juga kok rasanya

Kalau dicuci bisa susut, untuk apa?
anak bisa haram, istri juga bisa
tapi uang, tak ada uang haram
dengan uang akan kupertahankan kerajaan ayahku
bahkan mengembangkannya!

Dengan uang akan kubuat singgasana
yang berukuran pas untuk pantatku

Ingat aku pangeran, anak raja
aku pengganti ayahku, raja kalian

Kubuka diriku
bagi kalian yang mau memasukiku
aku selalu terbuka!

6.
Sajak Revolusi

Dulu aku gembong becak
sekarang tidak

aku jadi pengurus beberapa gembong
sudah naik pangkat

Dulu aku gembong becak
tapi kini aku tidak lagi mau jadi oncom

Pengalamanku banyak sekali
semua karena kegembonganku

Dulu paling banyak terjadi kecelakaan
itu prestasi yang luar biasa

Pasalnya bagiku orang-orang yang tak mampu adalah makhluk lemah
tidak berguna bagi bangsa
tak bermanfaat untuk negara

Terlebih rakyat semua berotak tempe
ditambah lemah lagi
apa mau jadi tempe mereka

Dulu aku gembong becak
kecelakaan-kecelakaan itu
justru untuk menyelamatkan
agar bangsa tempe tetap jadi tempe
tidak jadi oncom

Tempe masih sehat
oncom bisa buat sakit perut

Orang-orang yang mati dalam kecelakaan itu
sudah hampir jadi oncom
jadi ya biarlah semua terjadi
seleksi alam namanya
supaya tempe tidak berubah jadi oncom

Dulu aku gembong becak
jadi masih banyak kenalan
tukang-tukang becak sejati

Anakku pernah ditabrak becak
eh malah orang lemah itu melapor
kok cepat melapor ya?
Seperti kecoa saja

Bukan, bukan kecoa
karena kalau kecoa itu seperti politisi
mereka tidak pernah mati
abadi

Kelak di sajak lain
kapan-kapan akan aku ceritakan
hubungan kecoa dan politisi

Jadi untung juga ya
dulu aku gembong becak
sehingga masih banyak kenalan

Tapi tetap saja
lebih untung sekarang
aku mengurusi beberapa gembong
tinggal kutelpon mereka
salah seorang langsung membereskan

Satu orang mati untuk mengurusi
anakku, pangeranku
“no problem” itu kata toke-toke yang kuhubungi
semuanya beres dalam sekejap mata

Berkat kegembonganku dulu
pangeranku selamat

Ya bagaimana tidak selamat?
keluarga  yang tak mampu itu dapat uang
mereka malah berterimakasih
jadi mau apa lagi?

Orang lemah, tak berguna
mereka tak mampu
tak pernah memberi keuntungan
untuk apa mereka hidup?

Inilah baiknya hidup di alam demokrasi.
peraturan dan undang-undang berjaya!
berjaya  karena bisa diubah-ubah
diatur, disulap, diapa-apakan saja oleh para toke-toke!

Dulu aku gembong becak
sebelumnya hanya tukang becak

Bagiku perjalanan hidup ini layaknya rambutku
tak beruban begitu saja

Semua jalan ini pernah kulewati
sekarang aku tahu cara-cara jitu
untuk memanipulasi apa saja

Manipulasi itulah caraku
bagi politisi kegembongan
seperti diriku ini

Dulu aku gembong becak…

 

Sumber Foto dari Ki Aris Hasyim dan Taufiqurrohman
Sumber Foto dari Ki Aris Hasyim dan Taufiqurrohman