Agustus 12, 2010

Meneladan Karakter Mulia


Judul buku: Character is Destiny, Karakter-karakter yang Menggugah Dunia
Penulis: John McCain dan Mark Salter
Penerjemah: T. Harmaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, Februari 2009
Tebal: xix + 435 halaman

Salah seorang penulis buku ini, John McCain ialah Senator Amerika Serikat yang menjadi pesaing tangguh Barack Obama dalam Pilpres USA tahun lalu. Selain berkecimpung pada ranah politik, ternyata Purnawirawan Angkatan Laut (AL) tersebut juga piawai menulis. Tandemnya dalam merampungkan buku setebal 435 halaman ialah Mark Salter, pengarang buku-buku laris: Why Courage Matter (Pentingnya Keberanian), Faith of My Father (Keyakinan Ayah Saya), dan Worth the Fighting For (Nilai sebuah Perjuangan).

Buku ini memuat 34 kisah tokoh besar kaliber dunia. Secara struktural terbagi atas 7 bab. Masing-masing bagian mengupas sebuah nilai keutamaan. Misalnya pada bab 3: Kekuatan (hlm. 121-185), kualitas tersebut tercermin dalam diri seorang tokoh, antara lain keberanian (Edith Cavell), pengendalian diri (George Washington), kepercayaan diri (Elizabeth 1), fleksibilitas/kelenturan (Abraham Lincoln), kerja keras (Eric Hoffer) dan keyakinan/penuh harapan (John Winthrop).

Silakan membuka buku ini secara acak, niscaya Anda tetap menemukan pelajaran hidup yang berharga. Bukan berupa serangkaian kotbah langitan, tapi pengalaman hidup yang begitu membumi. Tiap lembarnya mengungkap secara jujur dan luwes lika-liku perjalanan para tokoh jempolan. Lengkap dengan suka-duka yang mengiringi sepanjang perlintasan sejarah hidupnya.

Misal kisah dramatis Mark Twain (hlm. 307-324). Seorang penulis yang bernama asli Samuel Langhorne Clemens. Saat itu belum ada komputer ataupun laptop yang terhubung dengan akses internet nirkabel. Tapi pemuda berbakat tersebut tak sudi menyerah pada nasib, ia begitu tekun bekerja di lantai bawah tanah, gelap dan tanpa perabot mewah untuk menciptakan sebuah masterpiece alias karya sastra terbesar pada abad ke-19. Novel pertamanya berjudul The Adventure of Huckeberry Finn (1984).

Yang tak kalah menarik ialah kisah perjuangan tanpa kekerasan (non-violence) seorang wanita "reinkarnasi" Mahatma Gandhi asal Burma bernama Aung San Suu Kyi. Dahulu ia merupakan istri Michael Aris, seorang pengajar terkemuka di Oxford University. Tapi Ibu 2 anak tersebut memilih kembali ke tanah airnya untuk membebaskan rakyat Myanmar dari cengkraman Junta Militer pimpinan Jenderal Ne Win. Pada tahun 1999 Sang suami meninggal dunia akibat kanker, Suu Kyi berduka seorang diri di tahanan rumahnya, karena tak diijinkan melangkahkan kaki ke luar rumah, apalagi ke luar negri.

John McCain pernah mengunjungi “sangkar emas” yang dibuat oleh rezim penindas untuk membatasi ruang gerak Sang Srikandi. Berikut ini petikan wawancarannya, “Bagaimana Anda menghadapi mereka?” tanya McCain. Sebagai gambaran kontekstual Myanmar, kebrutalan dan kekerasan merajarela, sekelompok Jendral menyandera seluruh hajat hidup rakyat demi kepentingan egoistik mereka. Peraih Nobel Perdamaian (1991) itu menjawab sembari menuangkan secangkir teh, “Ya, sama seperti saya bicara dengan Anda, dengan beradab. Saya menyebut mereka dengan panggilan “Paman”.” (hlm. 327, Kesantunan)

Ada juga kisah keberhasilan seorang atlet bernama Wilma Rudolph. Ia ialah juara lari estafet 400 m pada Olimpiade tahun 1960. Padahal saat kecil ia mengidap polio. Tungkai kaki kirinya memuntir ke satu sisi. Bahkan para dokter mengatakan bahwa ia tidak akan bisa berjalan lagi. Tapi semangatnya tak pernah pudar, apalagi ia didukung oleh keluarga, terutama Sang Ibu. Setiap Sabtu, mereka pergi 2 jam bolak-balik ke Sekolah Kedokteran di Nashville untuk terapi panas dan pijat. Perlahan tapi pasti kondisinya kian membaik.

Wilma memberikan 4 tips agar menjadi unggul dalam sebuah cabang olahraga ataupun bidang kehidupan lainnya, yakni ketrampilan, fokus, tekad pantang menyerah, dan cinta (hlm. 405). Ada satu kebiasaan unik darinya, ketika para pelari melakukan peregangan otot di lapangan pada menit-menit akhir menjelang pertandingan, Wilma justru tiduran di ruang ganti. Sebab, ia telah mempersiapkan segalanya sebelumnya jauh-hauh hari. Sehingga ia relatif lebih tenang dan percaya diri; sesaat setelah rekan setimnya membangunkannnya, ia siap bertanding dan menjadi juara.

Ibarat menemukan oase di padang gersang, membaca buku ini niscaya menjadi sebuah pengalaman menyegarkan. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Terutama dari karakter-karakter mulia yang telah mengubah alur sejarah. Kelemahan buku ini kiranya ialah mayoritas tokoh berasal dari luar negeri, sehingga kita merasa sedikit kurang akrab. Alangkah indahnya bila suatu saat, ada seorang penulis lokal yang mengggali kehidupan para tokoh nasional kita yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan meramunya dalam sebuah buku seperti ini. Selamat membaca!

Sumber: http://www.gramedia.com/wacana.asp?id=100104100000

Tidak ada komentar: