Oktober 11, 2014

Adik Tersayang

Dimuat di Majalah Utusan edisi Oktober 2014 

Tidak seperti biasanya, pagi itu Tiwi datang ke sekolah dengan wajah cemberut. Tidak ada senyum sama sekali. Santi yang duduk di sebelahnya sampai bingung. Mau menegur, ia takut Tiwi sedang tidak ingin ditegur. Mau mendiamkan, hmmm… kok sepertinya tidak enak diam-diaman terus.

“Kamu bawa bekal apa hari ini Wi?” tanya Santi ketika bel tanda istirahat berbunyi.
“Aku tidak bawa bekal, San. Adi tadi pagi rewel. Jadi, ibu tidak sempat menyiapkan bekal untukku,” jelas Tiwi dengan nada kesal.

Adi itu adik Tiwi. Tampangnya lucu dan imut-imut sekali. Usianya baru tiga tahun. Santi suka sekali menggendong Adi bila bermain ke rumah Tiwi.

"Apa Adi sakit, Wi?" tanya Santi lirih.

Tiwi mengangguk. “Iya, Adi demam.”
“Oh, pantas sejak tadi kamu murung. Yuk aku temani kamu ke kantin,” ajak Santi.

Sambil berjalan bersisian, mereka melangkah menuju ke kantin yang terletak di pojok sekolah.

“Aku sebel. Kalau sedang sakit, Adi pasti rewel. Ibu jadi tidak lagi memperhatikan aku,” keluh Tiwi.
“Kamu sih enak, San. Tidak punya adik, tidak punya kakak jadi selalu diperhatikan oleh mama dan papamu."

Santi tidak menjawab. Namun ia tetap ikut menemani Tiwi membeli arem-arem di kantin. Setelah itu, mereka bergegas kembali ke dalam kelas.

Di kelas, Santi mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya.

“Ini buat kamu dan Adi,” kata Santi sambil menyodorkan bungkusan itu.
“Apa ini?” tanya Tiwi.
“Kue lapis legit,” jawab Santi.
“Kemarin papaku baru pulang dinas dari luar kota. Papa membawa oleh-oleh, tapi terlalu banyak kalau harus kuhabiskan sendiri.”

"Mm...makasih ya, San," ucap Tiwi senang. “Enak ya kalau tidak punya adik atau kakak. Tidak harus berbagi.”

“Iya memang.. tapi juga tidak ada yang diajak main, tidak ada teman bercanda, tidak ada yang suka menyambut dan mencium kalau aku pulang sekolah,” tanggap Santi.

Mendengar itu, sekarang giliran Tiwi yang terdiam. Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Masing-masing asyik menikmati makanan di jam istirahat pertama itu sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan pelajaran pun dilanjutkan kembali.

“Hari ini kamu langsung pulang, Wi? tanya Santi sambil membereskan tas dan buku-buku setelah bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi.
“Iya,”  jawab Tiwi pendek.

“Jangan sampai lupa menyampaikan titipanku buat Adi, ya,” ujar Santi sambil berjalan keluar kelas.
“Iya,” lagi-lagi Tiwi menjawab pendek

“Jangan dimakan sendiri lho,” pesan Santi lagi.
“Iyaaaa…” Tiwi menjawab dengan gemas.

Beberapa siswa yang kebetulan berdekatan dengan mereka berdua saat turun tangga menoleh ke arah mereka dengan pandangan heran.

Setiba di rumah, Tiwi langsung diberi tugas menjaga Adi karena Ibu pergi berbelanja ke warung.

Adi merengek-rengek mengajak Tiwi bermain sepeda keliling kompleks. Kebetulan demamnya sudah reda. Nah, saat bermain sepeda itu, Tiwi kurang berhati-hati sehingga terjatuh karena tersandung batu. Untung, Adi tidak terluka, karena mendarat di atas rerumputan empuk. Tapi nahas bagi Tiwi, lututnya tergores besi di ujung stang sepeda.

"Kak Tiwi, di situ saja. Nanti sakit kalau jalan," kata Adi kepada kakaknya.

Tiwi hanya mengangguk dan menahan perih. Adi kemudian pergi entah kemana dengan langkah kecilnya.

Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara. "Kak Tiwi... ini obatnya…," seru Adi sambil memberikan betadine kepada kakaknya.

Tiwi mengambilnya dari tangan Adi, lalu mengoleskannya pada luka di kakinya yang berdarah itu. Saat itu juga ia baru sadar ternyata Adi sangat baik dan sayang kepadanya.

Kemudian, Tiwi teringat kue lapis legit titipan Santi. Semula, ia ingin memakannya sendiri. Tetapi, kini ia hendak berbagi dengan Adi, sang adik tersayang. 

Oktober 09, 2014

Mengalami Sentuhan Kasih Tuhan

Dimuat di Majalah Salam Damai edisi Oktober 2014

Judul: Teaching as The Real School, Hidup Bijaksana Hidup Bermakna
Penulis: Yulia Murdianti
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1/2013
Tebal: 181 halaman
ISBN: 978-979-21-3536-7

Dalam buku ini, Yulia Murdianti memaparkan bahwa kemampuan setiap orang tidak sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, ada seorang siswa yang mendapat nilai merah untuk pelajaran Matematika, tapi ia mendapat nilai sempurna pada pelajaran Olahraga. Sementara itu, seorang kawan lainnya mendapat nilai sempurna pada pelajaran Matematika, tapi harus berjuang keras untuk menembus nilai enam pada pelajaran Olahraga (halaman 140).

Pada saat yang sama, Yulia juga berpendapat bahwa bukan berarti kita boleh pasrah terhadap sesuatu yang bukan menjadi keahlian kita. Kadang-kadang justru keberadaan kita bisa lebih berkembang jika kita berani menghadapi tantangan terbesar, serta kelemahan kita sendiri. Menurut alumna Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang ini, hidup tanpa perjuangan ibarat kereta bawah tanah, cepat tapi membosankan.

Tak sekadar beretorika “Teaching as The Real School” juga memuat aneka tips praktis. Salah satunya tentang cara mengatasi gejolak amarah. Yakni, dengan menghembuskan nafas perlahan-lahan dan minum air putih. Tatkala seseorang marah, nafas menjadi cenderung tidak stabil dan tekanan darah naik. Nah, dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan akan membuat nafas kembali teratur. Sementara, minum air putih dapat menurunkan tekanan darah sehingga mampu membuat kita merasa lebih tenang (halaman 162).

Buku ini sebuah referensi berharga untuk hidup lebih bijaksana dan bermakna. Isinya mengajak sidang pembaca belajar dari aneka pengalaman dalam keseharian. Ternyata sentuhan tangan kasih Tuhan senantiasa mendidik kita agar lebih bersyukur dan sudi berbagi dengan sesama. (T. Nugroho Angkasa S.Pd)


September 05, 2014

Belajar Rendah Hati, Wirausaha, dan Silaturahmi

Esai ini termaktub dalam buku antologi "Kapur dan Papan" terbitan Lingkar Antarnusa, September 2014

Robertus Zidan, salah satu murid saya di kelas VII B SMP Fransiba (Fransiskus Bandar Lampung).  Dulu saya pernah mengajar di sana selama satu semester (tahun ajaran 2010-2011).

Saat itu, saya mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya meneruskan pekerjaan guru Bahasa Inggris yang mengundurkan diri di tengah tahun ajaran. Saya masuk 6 hari dalam seminggu sejak pukul 07.00-14.00 WIB. Kelas VII pararel 4 kelas dari A, B, C, D. Masing-masing kelas terdiri atas 40 murid, jadi total murid ada 160.

Kini Zidan (begitu nama panggilannya di sekolah) sudah lulus dari SMP Fransiba. Ia melanjutkan studi di SMKN 2 Bandar Lampung. Sedangkan saya sendiri sudah kembali ke Yogyakarta. Tapi, saya dan Zidan tetap saling berkomunikasi lewat media sosial Facebook.

Tatkala masih duduk di bangku kelas VII B, kemampuan bahasa Inggris Zidan termasuk rata-rata. Dalam pengertian, tak terlalu terlalu menonjol dan juga tak terlalu anjlok. Misalnya saat saya mengajar tema bagaimana mendeskripsikan benda (how to describe a thing). Zidan bisa menggambarkan dengan memadai dari segi ukuran (size), bentuk (shape), warna (color), dan bahan (material).

Belakangan saya baru tahu bahwa selain seorang Slankers (fans berat grup musik Slank) ternyata Zidan memiliki hobi unik. Ia suka mengotak-atik tampilan blog dan website. Oleh sebab itu, saya chatting dengannya lewat inbox FB beberapa waktu lalu:

+ Kalau Zidan bisa otak-atik blog, tolong dong blog saya dibagusin tampilannya, kalau saya gaptek je…
- Oh ya udah kalo ada waktu saya bagusin Blog nya deh Pak

Sekilas flashback, awal 2007 saya mulai mengenal blog. Isinya dokumentasi tulisan yang pernah dimuat di media massa. Sejak masih kuliah PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, saya memang sudah hobi membaca dan menulis. Sampai saat ini, Puji Tuhan total ada hampir 800 buah pena yang pernah dimuat di media cetak maupun online.

Tapi, saya merasa kurang sreg dengan tampilan blog tersebut. Kenapa? karena masih terlalu polos. Dari segi warna dan layout juga kurang eye catching (menyolok). Oleh sebab itu, saya meminta bantuan dari Zidan secara profesional. Saya memang tak mau kalau gratisan. Saya pun mengontaknya lagi lewat pesan inbox FB:

+ Wah saya malah tidak mau kalau gratisan, harus bayar Bro, profesional kita hehe karena Zidan sudah luangkan waktu utk permak tuh blog. Intinya, modifikasi sekreatif mungkin, yg penting tampilannya jadi lebih gaul Bro.
-  Wah iyaa deh Pakk, saya akan cobaa

Semula Zidan memang merasa tidak enak kalau menerima bayaran. Tapi saya meyakinkannya bahwa kita harus profesional. Sebab, ia telah meluangkan waktu, keahlian, dan energi untuk merombak blog jadul saya tersebut. Terlebih, saat itu Zidan masih menjalani masa-masa orientasi siswa (MOS) di sekolah baru. Biasanya, Zidan menggarap proyek renovasi blog tersebut pada akhir pekan (weekend).

Tak lama berselang, abrakadabra!!! Saya takjub dengan kemampuan dan kreativitas Zidan. Kini tampilan dan layout blog saya jadi lebih segar. Silakan mampir jika hendak melihat langsung karya apik Zidan di www.local-wisdom.blogspot.com. Uniknya, saat saya hendak men-transfer pembayaran, ia mengaku tak memiliki nomor rekening di bank karena belum berusia 17 tahun. Zidan meminta dikirimi pulsa sejumlah nominal awal yang telah kami sepakati bersama.

Refleksi

Dari pengalaman tersebut setidaknya saya belajar 3 nilai keutamaan. Pertama, rendah hati. Ternyata guru tak selalu menjadi sumber ilmu satu-satunya. Bisa jadi saya lebih menguasai kemampuan berbahasa Inggris karena  memang termasuk man of letters, yakni orang yang kecenderungan gaya belajarnya – meminjam istilah Prof. Howard Gardner (Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, 1983) – linguistik/verbal.

Tapi secara visual/spasial jujur saya kurang bisa optimal. Oleh sebab itu, saya meminta bantuan Zidan yang walau secara linguistik/verbal biasa saja tapi kecerdasan visual/spasialnya lebih mumpuni. Keenam model kecerdasan majemuk lainnya ialah logical/mathematical,  bodily/kinesthetic, musical/rhythmic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistic.

Ironisnya, menurut Handy Susanto S.Psi saat ini kecerdasan murid hanya diukur berdasarkan hasil tes IQ. Padahal tes IQ membatasi hanya  pada kecerdasan logika (matematika) dan bahasa (linguistik). Oleh sebab itu, para guru perlu membuka diri terhadap temuan mutakhir terkait konsep kecerdasan jamak (multiple intelligences).

Caranya kurangi frekuensi mengajar satu arah dengan terus berceramah di depan kelas. Sebab menyitir tesis Paulo Freire – metode gaya bank - semacam itu sudah kadaluarsa. Alangkah lebih baik, kalau aktivitas belajar diisi dengan menggambar, membuat kerajinan tangan, senam otak (brain gym), menciptakan lagu, menyanyi bersama, menari bebas, mendengarkan musik, permainan kelompok, mendongeng, menonton film, bermain sulap, pentas drama, presentasi kelompok, dll.  Aneka aktivitas tersebut niscaya memunculkan kembali semangat belajar murid.

Kedua, wirausaha atau istilah kerennya entrepreneurship. Ini bukan semata soal nominal berapa besaran honor yang saya bayarkan kepada Zidan sebagai balas jasanya memercantik tampilan blog, tapi bagaimana sejak belia ia bisa belajar berwirausaha.

Beberapa waktu lalu, saya juga membesarkan hati Zidan yang memilih masuk ke SMK bukan ke SMA seperti banyak teman-teman lainnya. “Tak apa Zidan, kalau di SMK setelah lulus bisa langsung kerja karena sudah punya bekal keahlian,” tulis saya via pesan FB saat ia mengabarkan diterima di SMKN 2 Bandar Lampung.

Dalam konteks makro, jumlah wirausahawan di Indonesia memang masih minim, Padahal syarat menjadi negara maju salah satunya  dengan memiliki jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Saat ini, jumlah wirausaha Indonesia masih kurang dari 2 persen atau sebanyak 700 ribu orang, jadi masih dibutuhkan sedikitnya 4 juta lebih wirausahawan baru.

Sebagai komparasi, dibandingkan dengan negara-negara lain perkembangan kewirausahaan di Indonesia masih tergolong lambat. Kewirausahaan di Amerika Serikat tercatat mencapai 11 persen dari total penduduknya, Singapura sebanyak 7 persen, dan Malaysia sebanyak 5 persen.  Oleh sebab itu, peluang menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru masih terbuka lebar di Indonesia. (Sumber Data: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/18/090462035/Minim-Jiwa-Kewirausahaan-di-Indonesia).

Ketiga, silaturahmi guru-murid. Walau kini saya dan Zidan terpisah jarak dan ruang tapi hubungan baik perlu terus dijalin. Terlebih saat ini sarana TIK (teknologi informasi dan komunikasi) begitu memadai sehingga kita bisa bertukar informasi dan sharing power (berbagi kekuatan) secara real time (pada waktu yang bersamaan). Tentu sesuai dengan kemampuan kita di lingkar pengaruh masing-masing.

Hingga kini saya juga tetap menjalin silaturahmi dengan St. Kartono, guru Bahasa Indonesia saya di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta dulu. Selain saya menimba ilmu ihwal skill dan etika menulis, setiap bulan pasti berkunjung ke rumah beliau. Kenapa? Karena  mengantar pesanan beras organik dan telur bebek.

Saya juga sempat merasa pakewuh (sungkan) seperti Zidan, karena Pak Kartono itu guru saya. Awalnya, saya tak mau mengambil untung dari penjualan beras organik dan telur bebek tersebut. Tapi beliau sendiri yang mengatakan agar mengambil untung sewajarnya karena saya telah bersedia mengambilkan beras dari petani organik di Sleman dan mengantarkannya langsung ke rumah. Sehingga uang tersebut bisa untuk mengganti biaya bensin, waktu yang dihabiskan selama perjalanan, dan jasa pengiriman (delivery service).

Secara lebih mendalam, saya pun memaknai gaya hidup mengkonsumsi produk organik bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan pangan semata, tapi wujud kepedulian pada kesehatan diri sendiri dan anggota keluarga tercinta. Selain itu, juga merupakan sikap ramah lingkungan dalam keseharian, serta sebuah apresiasi terhadap jerih payah para petani organik yang telah merawat tanaman dari sejak masa persiapan lahan sampai panen raya tiba. Let's go green! Tentu mulai dari diri pribadi dan keluarga sendiri serta orang-orang terkasih termasuk para guru kita.

Akhir kata, saya percaya pada pepatah berbahasa Inggris, “There is no coincidence.” Tiada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk perjumpaan antara guru dan murid di ruang kelas. Sekarang barangkali belum terasa manfaatnya, bahkan kadang kita menganggapnya sebagai rutinitas belaka. Tapi niscaya tiba saatnya, kita menyadari makna yang lebih dalam dari relasi guru-murid di masa depan.  

Juli 18, 2014

Menyelami Kedalaman Cinta

Dimuat di Majalah Hidup, Tahun ke-68, Edisi 25, 22 Juni 2014

Judul: Cara Menguji Ketulusan Cinta
Penulis: A. Setyawan, S.J
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I/ Oktober 2013
Tebal: 303 halaman
ISBN: 978-979-21-3620-3

Di era modern ini ada satu kecenderungan yang membahayakan peri kehidupan bersama. Karena sadar atau tidak sadar manusia terdorong untuk memanfaatkan orang dan lebih mencintai barang. Dalam lingkup keluarga, misalnya, ada orangtua yang memiliki paham bawah sadar bahwa anak adalah aset. Menurut penulis buku ini, A. Setyawan, S.J, seorang anak juga memiliki martabat pribadi.

Lebih lanjut, penulis memaparkan konsekuensi dari cara pandang yang kurang tepat tersebut. Akibatnya, orangtua akan menghadapi anak seolah-olah sedang berhadapan dengan barang yang bisa dipakai seturut keinginan mereka. Sebaliknya, tatkala berhadapan dengan barang, orangtua tersebut berperilaku seolah barang itu adalah person yang harus dicintai.

Berikut ini nukilan dialog yang menyiratkan contoh konkretnya. Seorang ayah menunggu mobil yang sedang dipakai anaknya. Seperempat jam terlambat sudah membuat sang ayah merasa resah. Tiba-tiba si anak masuk ke rumah sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah. Wajahnya pucat pasi dan kelihatan ketakutan sekali. Alih-alih menolong dan segera mengobati, sang ayah malah bertanya dengan ketus, “Mana mobilnya?” Si anak tadi menceritakan bahwa mobilnya menabrak tiang listrik. Mendengar hal tersebut sang ayah marah besar, “Kamu itu, kamu pikir mbetulin mobil itu murah apa?” (halaman 152).

Sebagai alternatif, penulis menawarkan perspektif lain yang lebih tepat (baca: manusiawi). Tujuannya untuk menumbuhkan cinta dalam diri si anak. Orangtua jangan sekadar mementingkan keselamatan mobil, karena anak tetap lebih bernilai daripada barang. Alangkah lebih mengena jika sang ayah berkata, “Kamu terluka? Syukurlah tidak terlalu parah. Kita masih bisa perbaiki mobil tersebut. Tapi ayah tak bisa mendapatkan kamu yang lain kan?” Dalam konteks ini, artinya anak sebagai pribadi dipandang unik. Ia tiada duanya di dunia.

Buku setebal 303 halaman ini sebuah referensi berharga untuk menyelami kedalaman cinta. Sebab cinta merupakan bagian terpenting dari kedalaman kemanusiaan kita.

1405751415696635040

Juli 15, 2014

Antologi Kisah Hidup Orang Sukses

Dimuat di Okezone.com, Senin/14 Juli 2014

Judul: Top Words 2, Kisah Inspiratif dan Sukses Orang-orang Top Indonesia
Penulis: Billy Boen
Penerbit: B-first (PT. Bentang Pustaka)
Cetakan: 1/2013
Tebal: xii + 200 hlmn
ISBN: 978-602-8864-80-0
Harga: Rp50.000

Buku bersampul kuning ini kelanjutan Top Words 1. Konsep penulisan Billy Boen tidak jauh berbeda, ia sekadar menggali inspirasi dari para orang sukses. Tujuannya untuk membakar semangat kaum muda bisa berprestasi juga. Usai membaca buku ini diharapkan muncul pertanyaan reflektif, “Kalau dia bisa, kenapa saya tidak?” atau “Wah kok dia bisa ya kepikiran begitu? Kreatif banget! Apa yang bisa saya lakukan dengan kondisi yang sedang saya alami saat ini?”

Contohnya, kiprah elok Entrepreneurship Organization asuhan Rachmat Harsono. Mereka pernah mengundang narasumber dari Afrika Selatan. Pembicara tersebut seorang tentara khusus. Tapi, ia tidak berbicara ihwal kewirausahaan kepada para peserta, melainkan berkisah tentang perjuangannya tatkala dikurung dalam penjara sempit di Zimbabwe selama 15 tahun.

Sebanyak 8.5000 pengusaha yang tersebar di 120 kota dan 42 negara di seluruh dunia menyimak dengan takzim ihwal fighting spirit (semangat juang). Yakni, bagaimana caranya untuk mengatasi rasa takut dan bertekad untuk terus hidup. Nilai keutamaan tersebut dapat pula diterapkan oleh para pebisnis dalam mengembangkan usahanya di lingkar pengaruh masing-masing (halaman 143).

Contoh lainnya, Gilang Iskandar, Direktur Ekesekutif World Peace Movement. Gilang bersedia mulai merangkak dari bawah sebagai staf biasa untuk meniti puncak karir. Menurutnya, proses ini penting agar kelak sebagai pemimpin bisa punya wawasan yang cukup. Selain itu, agar ia dapat  berempati pada apa yang dialami pegawainya.

Tokoh yang pernah malang-melintang di berbagai stasiun televisi swasta tersebut berpedoman pada 4 hal. Pertama, kerja keras sebagai poin utama. Tidak ada sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah. Kedua, tidak semua hal kita tahu. Untuk itu diperlukan sikap open minded dan mau terus belajar, termasuk bertanya kepada anak buah yang lebih pintar. Ketiga, jangan takut untuk berbagi karena takut kalah prestasi dengan orang lain. Kalau yakin punya suatu kelebihan, harus kita share. Keempat, harus memiliki sikap positif. Kalau dimarahi atasan orang cenderung mutung dan tak mau berkomunikasi dengannya lagi. Tapi Gilang justru merenung dan melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kinerja (halaman 60).

Uniknya, pasca-meraih sukses di usaha broadcasting, Gilang justru memilih mengundurkan diri. Padahal, di lingkungan perusahan besar televisi swasta ia telah masuk jajaran papan atas managemen dan merasakan betapa nikmat hidup di zona nyaman. Kini, ia dipercaya menjadi pemimpin World Peace Movement, bidang yang berbeda 180 derajat dari dunia pertelevisian yang telah ia geluti selama 23 tahun terakhir. Gilang hendak bertindak sebagai semacam promotor perdamaian dunia. Aneka kegiatan dilakukan untuk mengajak masyarakat terutama kaum muda. Mereka terlibat dalam World Peace Movement lewat ajang seni, budaya, politik, hingga penghijauan dan isu lingkungan hidup.

Kisah sukses Dr. Handry Satriago juga tak kalah menarik. Walau kondisi fisiknya tak seperti dulu lagi, Presiden dan CEO General Electric Indonesia ini tetap semangat berkarya. Awalnya, ia mengaku marah saat pertama kali sakit sehingga membuatnya tak bisa berjalan. Seiring berjalannya waktu, pasca 20 tahun bergulir Dr. Handry menyimpulkan bahwa lewat kanker yang ia derita, Tuhan justru memberi lebih banyak ketimbang apa yang diambil darinya.

Sebagai manusia biasa, rasa kecewa, frustasi, putus asa memang pernah menghantui hari-harinya di masa lalu. Tapi justru kondisi terbatas tersebut memberinya pelajaran berharga. Ternyata dinamika perjalanan hidupnya memang harus seperti itu. Toh pada akhirnya, Dr. Handry meyakini bahwa program Tuhan lebih baik daripada pikiran manusia. Seperti kata petuah bijak: manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Lewat buku ini, ia juga berpesan kepada kaum muda, “Jika kita ingin Indonesia menjadi lebih baik. Kuncinya ada di pendidikan, dan itu tak selalu berupa pendidikan formal. Saya ingin melihat semua young leaders Indonesia punya mimpi untuk menjadi global players. Juga tetap rendah hati bahwa gelas itu masih setengah penuh dan harus terus diisi.” (halaman 47).

Buku setebal 200 halaman mengulas aneka kisah hidup orang sukses. Billy Boen mengemasnya secara santai dengan bahasa khas anak muda.  Layak dibaca oleh generasi penerus bangsa yang hendak menjadikan Nusantara kian bertaji di kancah dunia - See more at: http://suar.okezone.com/read/2014/07/14/285/1012544/antologi-kisah-hidup-orang-sukses#sthash.kNh5rVJe.dpuf
Loading...