April 08, 2015

Bakulan Online, Berharap Maju dan Membuka Lapangan Kerja Baru

Dimuat di Majalah Utusan edisi April 2015


Sejak awal Januari 2014, saya dan istri merintis usaha bakulan (berdagang) produk pangan sehat-alami secara online. Tetapi, saat itu aktivitas berjualan dengan bendera Dapur Sehat Alami (DSA) masih sambil lalu saja (part time) karena saya masih aktif menulis di media massa.

Lalu pada awal Juni 2014, saya memutuskan cuti menulis dan mulai bekerja penuh waktu (full time) sebagai pedagang di dunia maya. Sarana promosi dan transaksi yang saya optimalkan saat itu ialah Facebook, SMS/telpon dan nomor rekening bank. Saya menangani bagian marketing, pengiriman dan pengantaran (delivery). Sedangkan, istri mengurus bagian pengepakan (packing), pembukuan dan administrasi keuangan.

Alasan utama kami memilih membuka usaha di rumah agar bisa lebih banyak bekerja bersama. Kami sudah hampir empat tahun menikah tapi belum dikaruniai momongan oleh Tuhan. Jadi, sembari terus berusaha dan berdoa agar segera mendapatkan buah hati tercinta, kami menjadikan DSA ini layaknya “anak”. Energi, waktu, dan modal kami curahkan untuk merawat dan membesarkannya.

Selain itu, usaha di DSA juga kami maknai sebagai green business alias bakulan ramah lingkungan. Maka, kami hanya menjual produk pangan sehat-alami, misalnya beras (putih, coklat, merah, hitam) organik, kacang hijau dan kacang merah organik, mi sayur (buah naga, bayam merah, bayam hijau, wortel) organik tanpa MSG, pengawet dan pewarna sintetis, kaldu sehat (rasa jamur, ayam, sapi) non MSG; mi lethek; mi ganyong; mi aren; wedang uwuh, dan lain sebagainya.  Keyakinan kami, kalau dalam berbisnis turut menjaga kesehatan tubuh, keluarga, dan lingkungan sekitar niscaya dilancarkan oleh-Nya.

Usaha berdagang online di dunia maya ini terbilang sederhana. Awalnya, kami blusukan mencari aneka produk pangan sehat-alami dan/atau berbincang-bincang langsung dengan petani serta pengrajin di desa. Lalu, saya mengambil foto produknya serta menanyakan berapa harga kulakan dari mereka. Kami menekankan agar harga jual dari petani dan pengrajin harus menguntungkan. Ini sebuah apresiasi konkret atas kerja keras petani dan pengrajin yang telah menghasilkan beragam produk pangan sehat-alami bagi penduduk di kota.

Setelah itu, saya mengunggah foto-foto produk dagangan sehat-alami tersebut di dinding  Facebook. Kebetulan jumlah teman di Facebook hampir 5.000 orang dari dalam dan luar negeri. Jika ada yang berminat,  bisa berkomunikasi lebih detail lewat inbox. Saya tak pernah nyang-nyangan harga di dinding FB. Kalau sudah setuju (deal) di inbox, untuk pembeli yang berasal dari luar kota, pesanan akan dikirim lewat pos atau jasa ekspedisi lainnya. Kalau pembelinya berdomisili di dalam kota Yogyakarta, pesanan bisa diantar langsung. Ongkos kirim atau antar ditanggung pembeli. Pembayaran bisa ditransfer lewat rekening bank atau COD (cash on delivery).

Setahun lebih menjalankan usaha bakulan di DSS banyak sukanya. Terutama karena kami bisa menjalin relasi dengan petani dan pengrajin. Selama ini mereka memang agak kesulitan memasarkan produknya secara masif. Kami sekadar mengambil peran untuk mendongkrak angka penjualan lewat sistem pemasaran online. Jumlah laba yang kami ambil selaku distributor sewajarnya saja.

Konsumen pun menarik manfaat karena mereka tak perlu boros waktu dan tenaga keluar rumah untuk berbelanja. Cukup dengan memesan secara online, barang sudah dikirim/diantar sampai ke depan pintu di seluruh pelosok Nusantara. Bahkan kami pernah juga mengirim pesanan hingga ke luar negeri via jasa pos. Jadi, prinsipnya produsen dan konsumen sama-sama senang.

Laba bersih berjualan aneka produk pangan sehat-alami tergolong lumayan, lebih tinggi dibanding UMP (Upah Minimum Provinsi) per bulan. Untuk keluarga kecil seperti kami jumlah ini bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Nominal pastinya tersebut tergantung sepi-ramainya transaksi. Dalam sebulan berkisar antara 50-100 deals jual-beli.

Sejak awal berdirinya hingga kini, DSA menargetkan harus ada (minimal) satu transaksi setiap hari. Memilih membuka usaha sendiri berarti menjadi bos atas diri sendiri. Tak ada lagi yang akan menggaji kami setiap bulannya. Kalau tidak ada transaksi dan pemasukan dalam sehari bisa tidak makan. Dalam konteks ini, filosofi Kejawen omah mamah (bergerak agar bisa makan) dan ubet ngliwet (aktif agar bisa memasak) kian menemukan relevansinya.

Sejak berwirausaha mandiri kami juga berkomitmen menyisihkan 10% pemasukan sebulan untuk ditabung, 10% lagi untuk amal/dana sosial dan 10% lainnya untuk mencicil utang di Credit Union Cindelaras Tumangkar (CUCT). Baru kemudian sisanya 70% dipakai untuk belanja kebutuhan bulanan. Jangan pernah dibalik karena tak akan tersisa anggaran untuk menabung, beramal/sosial dan mencicil utang.

Analoginya seperti mengisi akuarium. Pertama, masukkan dulu batu karangnya. Kedua, masukkan pasir-pasir lembut. Terakhir, baru diisi air. Kalau dibalik niscaya akan tumpah meluber airnya. Dalam lingkup ekonomi keluarga, ini berarti besar pasak daripada tiang, lebih banyak pengeluaran ketimbang pemasukan. Jadi, mau pemasukan Rp500.000/bulan atau Rp5 milyar per bulan, ingat selalu rumus 10:10:10:70%.

Dalam usaha bisnis, baik online maupun offline,  tentu ada pasang-surutnya. Kalau sedang sepi pembeli di dunia maya, saya gencarkan promosi. Caranya dengan berselancar ke grup-grup Facebook dan menawarkan dagangan DSA di situ. Selain itu, saya dan istri juga acap blusukan mencari produk pangan sehat-alami yang baru di desa. Sedapat mungkin mendapatkan langsung dari petani/pengrajinnya langsung karena dengan menyaksikan proses produksi pangan sehat-alami niscaya membuat kami lebih semangat memasarkannya secara on line.

Bagaimana memulainya?

Saya pernah mengalami menjadi pegawai (sebagai guru Bahasa Inggris di SMP), begitu juga istri saya (sebagai ahli gizi di rumah sakit). Tetapi kini kami bersepakat untuk berwirausaha (entrepreneur) secara mandiri. Harapannya, semoga usaha DSA kian maju dan bisa membuka lapangan kerja baru. Maka, kini promosi dan pemasaran tak lagi hanya lewat Facebook tapi juga lewat WA, Line, BBM, Twitter, olx.co.id, dan media sosial lainnya.

Bagi kaum muda yang tidak ingin bekerja formal tetapi ingin membuka usaha sendiri yang kadang mendapat tentangan dari orang tua, solusinya sederhana saja. Silakan tunjukkan dengan bukti pencapaian. Sebab, setiap orang tua mau anaknya bahagia dan sukses. Masih banyak orang tua yang memegang pola pikir lama, yaitu menganggap menjadi pegawai ialah satu-satunya cara untuk hidup layak dan bisa menjamin hari tua. Padahal, di era digital seperti ini terbuka aneka kesempatan bisnis.

Tetapi, sebelum berwirausaha mandiri bergabunglah terlebih dahulu dengan Credit Union (CU). Bagi kami, CU merupakan lembaga keuangan yang (lebih) adil dan manusiawi. Maka, jadikan CU sebagai mitra usaha. Ikutilah kelas-kelas pendidikan dasar dan lanjutan di CU sehingga bisa belajar dan semakin bijak mengelola finansial.

Setelah itu bergabung dengan CU, mulailah usaha dari apa yang disukai. Saya dan istri mencintai dunia pertanian organik dan makanan sehat-alami, oleh sebab itu DSA menjadi pilihan usaha kami di dunia maya. Setialah dan tekuni pilihan usaha tersebut. Pada saat yang sama, tetaplah membuka diri terhadap segala kemungkinan. Kalau target satu hari satu transaksi sudah terpenuhi, bidik juga peluang untuk deal satu transaksi yang nominal keuntungannya relatif besar.

Selama ini, saya dan istri menjual sepeda onthel, lukisan artistik, produk kerajinan tangan, furniture antik, tas rajut, dan sebagainya. Tak jarang saya menjual pula jasa guiding turis domestik atau manca negara bersepeda onthel keliling desa dan tempat-tempat wisata cantik lainnya yang ada di Yogyakarta. Memang, tidak setiap hari ada transaksi barang atau jasa. Tetapi tapi sekali ada satu transaksi, pemasukannya lumayan besar.

Terakhir tapi penting, kenalilah hukum distribusi barang/jasa sebelum memulai usaha. Saya banyak belajar dari Wiyadi S.Ag, owner PT. Bumi Wira Muda dan Nabura Grup. Misalnya, kalau menjual ternak dari daerah surplus pakan ke daerah minus pakan atau kulakan ayam dari desa lalu dijual di kota niscaya akan untung.

Hukum distribusi barang/jasa lainnya ialah kulakan produk dari daerah industri, lalu menjualnya di daerah konsumtif. Intinya, jangan asal spekulasi tanpa kalkulasi matang dalam berbisnis. Sebab, seperti kata pepatah, "Orang yang gagal membuat perencanaan adalah orang yang sedang merencanakan kegagalannya sendiri."

Januari 29, 2015

Sisi Lain Putra Sang Fajar

Dimuat di Tribun Jogja, 14 Desember 2014 

Judul: Sukarno Undercover, Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen
Penulis: Walentina Waluyanti de Jonge
Penerbit: Galang Pustaka
Cetakan: 1/Oktober 2013
Tebal: ix + 209 halaman
ISBN: 978-602-9431-29-2

Walentina Waluyanti de Jonge, perempuan kelahiran Makassar yang kini hijrah ke Belanda. Alumna Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini sempat mengikuti program studi Pendidikan Managemen di ROC Flevoland, Netherland. Lalu, ibu beranak satu ini menjadi dosen bahasa Indonesia di Volsuniversiteit Belanda. Ia bekerja juga sebagai peneliti independen. Fokus kajiannya seputar sejarah dan budaya Indonesia.

Kegemarannya mengoleksi buku langka bergenre sejarah membuahkan dua buku dan sederet artikel di sebuah situs jurnalisme warga. “Sukarno Undercover, Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen” merupakan buku kedua pasca “Hindia Belanda Tumbang di Depan Mata”. Pilihannya jatuh pada Sukarno karena Putra Sang Fajar sosok pemersatu di zamannya.  Menyatukan berbagai perbedaan suku, agama, warna kulit, golongan, budaya, dan juga belasan ribu pulau, ke dalam sebuah republik bukan pekerjaan yang bisa dipandang remeh.

Di bagian pengantar, eks pemimpin  “Stiching SEBARI” yang bergerak di ranah pendidikan tersebut menulis, “Saya akui, buku ini terlahir dari kekaguman atas peran Sukarno yang telah melekatkan kehormatan pada bangsa Indonesia hingga berdiri sejajar dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Namun demikian, pemujaan berlebihan terhadap Sukarno bukanlah hal yang perlu. Pemujaan secara fanatik berpeluang melunturkan objektivitas.” (halaman viii)

Lewat buku ini, penulis jeli menyoroti sejarah Indonesia - khususnya Soekarno - dari jendela luar sana (baca: Belanda). Sebelumnya, selama masih tinggal di Indonesia, ia acap mendengar cerita sejarah dari pihak yang dijajah. Dalam konteks ini, memang diperlukan jarak untuk menilai sejarah Indonesia secara netral. Sehingga “History” tidak menjelma jadi “His Story.” Terlebih pada masa Orde Baru, sisi positif Bung Karno dan nilai-nilai kepahlawananya cenderung ditutup-tutupi.

Lebih lanjut, sejak era revolusi kemerdekaan ternyata situasi nasional Indonesia tak kunjung steril dari campur tangan pihak asing. Fakta tersebut diungkap secara gamblang dalam esai “Bung Karno Geram, Ike dan John Repot”. Hari itu, 18 Mei 1958, sedang terjadi pertempuran udara melawan pemberontakan separatis: Permesta, Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII), dan Republik Maluku Selatan (RMS). Di atas perairan Ambon, Kapten Ignatius Dewanto, pilot pesawat Mustang P-51, menembak jatuh pesawat B-26. Pesawat tempur yang jatuh tersebut dipiloti Allen Pope. Pilot itu selamat, dibekuk, dan dinterogasi. Pun terkuaklah bahwa Allen Pope seorang agen CIA.

“Sebelumnya pada bulan April 1958, pilot asal Amerika Serikat itu telah mengebom gereja di Ambon yang dipenuhi umat yang sedang beribadah. Gerejanya hancur, semua umat di gereja itu meninggal dunia. Demikian juga dengan kapal Indonesia penuh penumpang yang berada di pelabuhan Ambon, turut pula terkena bom, dan semua penumpangnya menjadi korban. Peristiwa pengeboman tersebut mengakibatkan lebih dari 700 nyawa melayang.” (halaman 140). 

Bung Karno berang karena Amerika tak mau mengakui tindakan keji tersebut. Empat hari pasca-peristiwa pengeboman oleh Pope, Sukarno diundang oleh Howard Jones ke Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Tanpa rasa bersalah Pemerintah Amerika meminta Allen Pope tetap harus dibebaskan. Bung Karno menyadari Allen Pope ialah kartu truf-nya. Ia tegas menuntut permintaan maaf secara terbuka dari Amerika.

Namun Ike – nama panggilan presiden Eisenhower - bersikukuh menyangkal tuduhan Amerika terlibat dalam aksi CIA itu. Tapi, akhirnya 5 hari sesudah insiden pengangkapan Pope,  Amerika setuju mengirimkan 37.000 ton beras, pencabutan embargo, bantuan pesawat, dan bantuan peralatan sistem radio komunikasi untuk Indonesia. Lalu, bagaimana komentar Pope sendiri? Pilot pesawat B-26 itu mengatakan, “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang.” (halaman 148).

Sistematika buku ini terdiri atas 3 bab. Penulis menganalogikannya laksana hari. Mulai dari “Sang Fajar Terbit”, “Sang Fajar Bersinar”, hingga “Sang Fajar Terbenam.” Masing-masing bab memuat esai-esai yang mengungkap sisi lain Bung Karno yang selama ini jarang diekspose ke khalayak ramai. Oleh sebab itu, di pojok kanan sampul buku tertera stempel “Soekarno Undercover”.

Salah satunya ihwal keprihatinan mendalam Bung Karno atas tragedi 1965. Dalam Pidato Presiden di Istana Bogor, 18 Desember 1965, ia sampai mengatakan,”Misalnya, ya, misalnya di Jawa Timur. Demikian dilaporkan oleh Gubernur Jawa Timur, oleh Panglima Jawa Timur, dan juga dari pengetahuan informasi kami sendiri, di Jawa Timur atau Jawa Tengah itu banyak sekali Pemuda Rakyat atau anggota PKI atau orang yang hanya simpati saja kepada PKI dibunuh, disembelih, atau ditikam atau dipentungi, dikepruki sampai pecah kepalanya; itu satu kejadian. Tapi kemudian itu jenasah yang lehernya tergorok, yang kepalanya pecah dikepruk, karena perutnya keluar ia punya usus karena ditikam, jenasah itu kalau ada orang yang mau ngerumat, ngerumat itu bahasa Jawa Timur. Apa ngerumat, mengurus, ngerumat jenasah itu, awas, engkau pun akan kami bunuh. Malah banyak jenazah itu di-keleler-kan begitu saja.”

Lalu, Walentina Waluyanti de Jonge mengafirmasi pendapat sejarawan Asvi Warman Adam, tanggal 30 September memang “malam terkutuk dan laknat”. Namun patut juga dipertanyakan, “….bukankah malam-malam sesudahnya dan berlangsung selama beberapa bulan tatkala terjadi pembunuhan sesama bangsa sendiri – minimal 500.000 jiwa jadi korban – itu secara keseluruhan jauh lebih “jahanam”?” (halaman 173). Dalam konteks ini, wejangan ahimsa Mahatma Gandhi kian menemukan relevansinya, “Jika mata diganti mata maka semua manusia akan menjadi buta.”

Buku setebal 209 ini tak hanya memuat teori konspirasi dan narasi besar sejarah Indonesia di tahun 1965, ada juga sisi-sisi jenaka sebagai ekses kebijakan politik Bung Karno. Antara lain terjadi pada tahun 1964. Ia pernah memerintahkan polisi untuk membawa anak-anak muda berambut model Beatles ke tukang cukur. Ini sebuah pidato resmi presiden.

Siapapun yang berambut gondrong harus diplontos. Kenyataannya di lapangan memang polisi tidak perlu membawa “pasukan gondrong” ke tukang cukur. Karena aparat keamanan sendirilah yang menjadi tukang cukurnya. Mungkin itulah razia paling konyol dalam sejarah bangsa Indonesia. Orang-orang yang terkena razia, terpaksa manut saja model rambut di kepalanya dibuat jadi mirip batok kelapa. Langsung dipangkas di tengah jalan dan jadi tontonan orang banyak (halaman 52).

Buku ini sebuah oase segar di tengah tumpukan buku-buku sejarah yang kering. Gaya penulisan yang santai, bahasa yang mengalir lancar, dan materi yang mudah dicerna menyajikan kenikmatan tersendiri. Belajar sejarah tak melulu harus mengeryitkan dahi, belajar (dari) sejarah bisa menjadi penjelajahan penuh kejutan. Selamat membaca!

Oktober 11, 2014

Adik Tersayang

Dimuat di Majalah Utusan edisi Oktober 2014 

Tidak seperti biasanya, pagi itu Tiwi datang ke sekolah dengan wajah cemberut. Tidak ada senyum sama sekali. Santi yang duduk di sebelahnya sampai bingung. Mau menegur, ia takut Tiwi sedang tidak ingin ditegur. Mau mendiamkan, hmmm… kok sepertinya tidak enak diam-diaman terus.

“Kamu bawa bekal apa hari ini Wi?” tanya Santi ketika bel tanda istirahat berbunyi.
“Aku tidak bawa bekal, San. Adi tadi pagi rewel. Jadi, ibu tidak sempat menyiapkan bekal untukku,” jelas Tiwi dengan nada kesal.

Adi itu adik Tiwi. Tampangnya lucu dan imut-imut sekali. Usianya baru tiga tahun. Santi suka sekali menggendong Adi bila bermain ke rumah Tiwi.

"Apa Adi sakit, Wi?" tanya Santi lirih.

Tiwi mengangguk. “Iya, Adi demam.”
“Oh, pantas sejak tadi kamu murung. Yuk aku temani kamu ke kantin,” ajak Santi.

Sambil berjalan bersisian, mereka melangkah menuju ke kantin yang terletak di pojok sekolah.

“Aku sebel. Kalau sedang sakit, Adi pasti rewel. Ibu jadi tidak lagi memperhatikan aku,” keluh Tiwi.
“Kamu sih enak, San. Tidak punya adik, tidak punya kakak jadi selalu diperhatikan oleh mama dan papamu."

Santi tidak menjawab. Namun ia tetap ikut menemani Tiwi membeli arem-arem di kantin. Setelah itu, mereka bergegas kembali ke dalam kelas.

Di kelas, Santi mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya.

“Ini buat kamu dan Adi,” kata Santi sambil menyodorkan bungkusan itu.
“Apa ini?” tanya Tiwi.
“Kue lapis legit,” jawab Santi.
“Kemarin papaku baru pulang dinas dari luar kota. Papa membawa oleh-oleh, tapi terlalu banyak kalau harus kuhabiskan sendiri.”

"Mm...makasih ya, San," ucap Tiwi senang. “Enak ya kalau tidak punya adik atau kakak. Tidak harus berbagi.”

“Iya memang.. tapi juga tidak ada yang diajak main, tidak ada teman bercanda, tidak ada yang suka menyambut dan mencium kalau aku pulang sekolah,” tanggap Santi.

Mendengar itu, sekarang giliran Tiwi yang terdiam. Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Masing-masing asyik menikmati makanan di jam istirahat pertama itu sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan pelajaran pun dilanjutkan kembali.

“Hari ini kamu langsung pulang, Wi? tanya Santi sambil membereskan tas dan buku-buku setelah bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi.
“Iya,”  jawab Tiwi pendek.

“Jangan sampai lupa menyampaikan titipanku buat Adi, ya,” ujar Santi sambil berjalan keluar kelas.
“Iya,” lagi-lagi Tiwi menjawab pendek

“Jangan dimakan sendiri lho,” pesan Santi lagi.
“Iyaaaa…” Tiwi menjawab dengan gemas.

Beberapa siswa yang kebetulan berdekatan dengan mereka berdua saat turun tangga menoleh ke arah mereka dengan pandangan heran.

Setiba di rumah, Tiwi langsung diberi tugas menjaga Adi karena Ibu pergi berbelanja ke warung.

Adi merengek-rengek mengajak Tiwi bermain sepeda keliling kompleks. Kebetulan demamnya sudah reda. Nah, saat bermain sepeda itu, Tiwi kurang berhati-hati sehingga terjatuh karena tersandung batu. Untung, Adi tidak terluka, karena mendarat di atas rerumputan empuk. Tapi nahas bagi Tiwi, lututnya tergores besi di ujung stang sepeda.

"Kak Tiwi, di situ saja. Nanti sakit kalau jalan," kata Adi kepada kakaknya.

Tiwi hanya mengangguk dan menahan perih. Adi kemudian pergi entah kemana dengan langkah kecilnya.

Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara. "Kak Tiwi... ini obatnya…," seru Adi sambil memberikan betadine kepada kakaknya.

Tiwi mengambilnya dari tangan Adi, lalu mengoleskannya pada luka di kakinya yang berdarah itu. Saat itu juga ia baru sadar ternyata Adi sangat baik dan sayang kepadanya.

Kemudian, Tiwi teringat kue lapis legit titipan Santi. Semula, ia ingin memakannya sendiri. Tetapi, kini ia hendak berbagi dengan Adi, sang adik tersayang. 

Oktober 09, 2014

Mengalami Sentuhan Kasih Tuhan

Dimuat di Majalah Salam Damai edisi Oktober 2014

Judul: Teaching as The Real School, Hidup Bijaksana Hidup Bermakna
Penulis: Yulia Murdianti
Penerbit: Kanisius
Cetakan: 1/2013
Tebal: 181 halaman
ISBN: 978-979-21-3536-7

Dalam buku ini, Yulia Murdianti memaparkan bahwa kemampuan setiap orang tidak sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, ada seorang siswa yang mendapat nilai merah untuk pelajaran Matematika, tapi ia mendapat nilai sempurna pada pelajaran Olahraga. Sementara itu, seorang kawan lainnya mendapat nilai sempurna pada pelajaran Matematika, tapi harus berjuang keras untuk menembus nilai enam pada pelajaran Olahraga (halaman 140).

Pada saat yang sama, Yulia juga berpendapat bahwa bukan berarti kita boleh pasrah terhadap sesuatu yang bukan menjadi keahlian kita. Kadang-kadang justru keberadaan kita bisa lebih berkembang jika kita berani menghadapi tantangan terbesar, serta kelemahan kita sendiri. Menurut alumna Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang ini, hidup tanpa perjuangan ibarat kereta bawah tanah, cepat tapi membosankan.

Tak sekadar beretorika “Teaching as The Real School” juga memuat aneka tips praktis. Salah satunya tentang cara mengatasi gejolak amarah. Yakni, dengan menghembuskan nafas perlahan-lahan dan minum air putih. Tatkala seseorang marah, nafas menjadi cenderung tidak stabil dan tekanan darah naik. Nah, dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan akan membuat nafas kembali teratur. Sementara, minum air putih dapat menurunkan tekanan darah sehingga mampu membuat kita merasa lebih tenang (halaman 162).

Buku ini sebuah referensi berharga untuk hidup lebih bijaksana dan bermakna. Isinya mengajak sidang pembaca belajar dari aneka pengalaman dalam keseharian. Ternyata sentuhan tangan kasih Tuhan senantiasa mendidik kita agar lebih bersyukur dan sudi berbagi dengan sesama. (T. Nugroho Angkasa S.Pd)


September 05, 2014

Belajar Rendah Hati, Wirausaha, dan Silaturahmi

Esai ini termaktub dalam buku antologi "Kapur dan Papan" terbitan Lingkar Antarnusa, September 2014

Robertus Zidan, salah satu murid saya di kelas VII B SMP Fransiba (Fransiskus Bandar Lampung).  Dulu saya pernah mengajar di sana selama satu semester (tahun ajaran 2010-2011).

Saat itu, saya mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya meneruskan pekerjaan guru Bahasa Inggris yang mengundurkan diri di tengah tahun ajaran. Saya masuk 6 hari dalam seminggu sejak pukul 07.00-14.00 WIB. Kelas VII pararel 4 kelas dari A, B, C, D. Masing-masing kelas terdiri atas 40 murid, jadi total murid ada 160.

Kini Zidan (begitu nama panggilannya di sekolah) sudah lulus dari SMP Fransiba. Ia melanjutkan studi di SMKN 2 Bandar Lampung. Sedangkan saya sendiri sudah kembali ke Yogyakarta. Tapi, saya dan Zidan tetap saling berkomunikasi lewat media sosial Facebook.

Tatkala masih duduk di bangku kelas VII B, kemampuan bahasa Inggris Zidan termasuk rata-rata. Dalam pengertian, tak terlalu terlalu menonjol dan juga tak terlalu anjlok. Misalnya saat saya mengajar tema bagaimana mendeskripsikan benda (how to describe a thing). Zidan bisa menggambarkan dengan memadai dari segi ukuran (size), bentuk (shape), warna (color), dan bahan (material).

Belakangan saya baru tahu bahwa selain seorang Slankers (fans berat grup musik Slank) ternyata Zidan memiliki hobi unik. Ia suka mengotak-atik tampilan blog dan website. Oleh sebab itu, saya chatting dengannya lewat inbox FB beberapa waktu lalu:

+ Kalau Zidan bisa otak-atik blog, tolong dong blog saya dibagusin tampilannya, kalau saya gaptek je…
- Oh ya udah kalo ada waktu saya bagusin Blog nya deh Pak

Sekilas flashback, awal 2007 saya mulai mengenal blog. Isinya dokumentasi tulisan yang pernah dimuat di media massa. Sejak masih kuliah PBI (Pendidikan Bahasa Inggris) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, saya memang sudah hobi membaca dan menulis. Sampai saat ini, Puji Tuhan total ada hampir 800 buah pena yang pernah dimuat di media cetak maupun online.

Tapi, saya merasa kurang sreg dengan tampilan blog tersebut. Kenapa? karena masih terlalu polos. Dari segi warna dan layout juga kurang eye catching (menyolok). Oleh sebab itu, saya meminta bantuan dari Zidan secara profesional. Saya memang tak mau kalau gratisan. Saya pun mengontaknya lagi lewat pesan inbox FB:

+ Wah saya malah tidak mau kalau gratisan, harus bayar Bro, profesional kita hehe karena Zidan sudah luangkan waktu utk permak tuh blog. Intinya, modifikasi sekreatif mungkin, yg penting tampilannya jadi lebih gaul Bro.
-  Wah iyaa deh Pakk, saya akan cobaa

Semula Zidan memang merasa tidak enak kalau menerima bayaran. Tapi saya meyakinkannya bahwa kita harus profesional. Sebab, ia telah meluangkan waktu, keahlian, dan energi untuk merombak blog jadul saya tersebut. Terlebih, saat itu Zidan masih menjalani masa-masa orientasi siswa (MOS) di sekolah baru. Biasanya, Zidan menggarap proyek renovasi blog tersebut pada akhir pekan (weekend).

Tak lama berselang, abrakadabra!!! Saya takjub dengan kemampuan dan kreativitas Zidan. Kini tampilan dan layout blog saya jadi lebih segar. Silakan mampir jika hendak melihat langsung karya apik Zidan di www.local-wisdom.blogspot.com. Uniknya, saat saya hendak men-transfer pembayaran, ia mengaku tak memiliki nomor rekening di bank karena belum berusia 17 tahun. Zidan meminta dikirimi pulsa sejumlah nominal awal yang telah kami sepakati bersama.

Refleksi

Dari pengalaman tersebut setidaknya saya belajar 3 nilai keutamaan. Pertama, rendah hati. Ternyata guru tak selalu menjadi sumber ilmu satu-satunya. Bisa jadi saya lebih menguasai kemampuan berbahasa Inggris karena  memang termasuk man of letters, yakni orang yang kecenderungan gaya belajarnya – meminjam istilah Prof. Howard Gardner (Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, 1983) – linguistik/verbal.

Tapi secara visual/spasial jujur saya kurang bisa optimal. Oleh sebab itu, saya meminta bantuan Zidan yang walau secara linguistik/verbal biasa saja tapi kecerdasan visual/spasialnya lebih mumpuni. Keenam model kecerdasan majemuk lainnya ialah logical/mathematical,  bodily/kinesthetic, musical/rhythmic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistic.

Ironisnya, menurut Handy Susanto S.Psi saat ini kecerdasan murid hanya diukur berdasarkan hasil tes IQ. Padahal tes IQ membatasi hanya  pada kecerdasan logika (matematika) dan bahasa (linguistik). Oleh sebab itu, para guru perlu membuka diri terhadap temuan mutakhir terkait konsep kecerdasan jamak (multiple intelligences).

Caranya kurangi frekuensi mengajar satu arah dengan terus berceramah di depan kelas. Sebab menyitir tesis Paulo Freire – metode gaya bank - semacam itu sudah kadaluarsa. Alangkah lebih baik, kalau aktivitas belajar diisi dengan menggambar, membuat kerajinan tangan, senam otak (brain gym), menciptakan lagu, menyanyi bersama, menari bebas, mendengarkan musik, permainan kelompok, mendongeng, menonton film, bermain sulap, pentas drama, presentasi kelompok, dll.  Aneka aktivitas tersebut niscaya memunculkan kembali semangat belajar murid.

Kedua, wirausaha atau istilah kerennya entrepreneurship. Ini bukan semata soal nominal berapa besaran honor yang saya bayarkan kepada Zidan sebagai balas jasanya memercantik tampilan blog, tapi bagaimana sejak belia ia bisa belajar berwirausaha.

Beberapa waktu lalu, saya juga membesarkan hati Zidan yang memilih masuk ke SMK bukan ke SMA seperti banyak teman-teman lainnya. “Tak apa Zidan, kalau di SMK setelah lulus bisa langsung kerja karena sudah punya bekal keahlian,” tulis saya via pesan FB saat ia mengabarkan diterima di SMKN 2 Bandar Lampung.

Dalam konteks makro, jumlah wirausahawan di Indonesia memang masih minim, Padahal syarat menjadi negara maju salah satunya  dengan memiliki jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Saat ini, jumlah wirausaha Indonesia masih kurang dari 2 persen atau sebanyak 700 ribu orang, jadi masih dibutuhkan sedikitnya 4 juta lebih wirausahawan baru.

Sebagai komparasi, dibandingkan dengan negara-negara lain perkembangan kewirausahaan di Indonesia masih tergolong lambat. Kewirausahaan di Amerika Serikat tercatat mencapai 11 persen dari total penduduknya, Singapura sebanyak 7 persen, dan Malaysia sebanyak 5 persen.  Oleh sebab itu, peluang menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru masih terbuka lebar di Indonesia. (Sumber Data: http://www.tempo.co/read/news/2013/02/18/090462035/Minim-Jiwa-Kewirausahaan-di-Indonesia).

Ketiga, silaturahmi guru-murid. Walau kini saya dan Zidan terpisah jarak dan ruang tapi hubungan baik perlu terus dijalin. Terlebih saat ini sarana TIK (teknologi informasi dan komunikasi) begitu memadai sehingga kita bisa bertukar informasi dan sharing power (berbagi kekuatan) secara real time (pada waktu yang bersamaan). Tentu sesuai dengan kemampuan kita di lingkar pengaruh masing-masing.

Hingga kini saya juga tetap menjalin silaturahmi dengan St. Kartono, guru Bahasa Indonesia saya di SMA Kolese De Britto, Yogyakarta dulu. Selain saya menimba ilmu ihwal skill dan etika menulis, setiap bulan pasti berkunjung ke rumah beliau. Kenapa? Karena  mengantar pesanan beras organik dan telur bebek.

Saya juga sempat merasa pakewuh (sungkan) seperti Zidan, karena Pak Kartono itu guru saya. Awalnya, saya tak mau mengambil untung dari penjualan beras organik dan telur bebek tersebut. Tapi beliau sendiri yang mengatakan agar mengambil untung sewajarnya karena saya telah bersedia mengambilkan beras dari petani organik di Sleman dan mengantarkannya langsung ke rumah. Sehingga uang tersebut bisa untuk mengganti biaya bensin, waktu yang dihabiskan selama perjalanan, dan jasa pengiriman (delivery service).

Secara lebih mendalam, saya pun memaknai gaya hidup mengkonsumsi produk organik bukan sekadar untuk mencukupi kebutuhan pangan semata, tapi wujud kepedulian pada kesehatan diri sendiri dan anggota keluarga tercinta. Selain itu, juga merupakan sikap ramah lingkungan dalam keseharian, serta sebuah apresiasi terhadap jerih payah para petani organik yang telah merawat tanaman dari sejak masa persiapan lahan sampai panen raya tiba. Let's go green! Tentu mulai dari diri pribadi dan keluarga sendiri serta orang-orang terkasih termasuk para guru kita.

Akhir kata, saya percaya pada pepatah berbahasa Inggris, “There is no coincidence.” Tiada yang kebetulan dalam hidup ini. Termasuk perjumpaan antara guru dan murid di ruang kelas. Sekarang barangkali belum terasa manfaatnya, bahkan kadang kita menganggapnya sebagai rutinitas belaka. Tapi niscaya tiba saatnya, kita menyadari makna yang lebih dalam dari relasi guru-murid di masa depan.  

Loading...