Februari 16, 2014

Di Balik Selembar Batik

Dimuat di Suara Merdeka, Minggu/16 Februari 2014

Sejak prosesi siraman, midodaren hingga hari H resepsi pernikahan kain batik selalu dipakai oleh kedua mempelai. Batik memang peninggalan budaya leluhur yang adiluhung. Namun, masyarakat masih kurang mengerti makna filosofis motif-motif batik. Padahal ada nilai spiritual di balik selembar kain batik.

Motif batik cakar, misalnya. Simbol cakar representasi ayam yang notabene hewan paling rajin. Sejak pukul 04.00, ayam-ayam sudah bangun dan mulai mencari makan di pekarangan. Pesan tersirat bagi kedua pengantin, kelak  mereka harus  rajin mencari nafkah juga. Sebab, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Selanjutnya, motif batik sidomukti. Sida berarti jadi dan mukti sendiri berarti sukses secara duniawi. Namun sang pengantin hendaknya tak dikuasai oleh kesuksesan tersebut. Kain motif batik untuk mengingatkan raison d’etre berumah tangga, yakni meraih ke-mukti-an hidup bersama.

Motif lain yang tak kalah penting adalah truntum. Menurut pendapat Norma Harsono, seorang kolektor dan pemerhati kain batik, ada sejarah pemilihan nama tersebut. Dulu, permaisuri Mangkunegara III pernah di-kebon-kan (dikucilkan) di Keputren.  Kenapa? Karena sang permaisuri tak bisa melahirkan putra mahkota. Untuk mengisi waktu dalam masa pengasingannya, sang permaisuri melakukan tirakat dan melukis di atas selembar kain batik.

Tiga kali raja datang dan bertanya kepada sang permaisuri. Apakah kain batik tersebut sudah jadi? Ternyata raja masih mencintainya. Akhirnya, sang permaisuri boleh kembali ke istana. Batik hasil tirakat itu pun sudah jadi, tapi belum diberi nama. Lantas, raja memberi nama motif batik itu truntum. Artinya cinta yang bersemi kembali. Dikisahkan, bahwa setelah sang permaisuri mengenakan batik truntum, tak lama berselang ia mengandung seorang putra mahkota.

Menuju Keberhasilan

Pada hari H resepsi pernikahan di masyarakat Jawa, jaringan keluarga dan handai-tolan datang mengucapkan selamat. Orang tua pengantin biasanya memakai kain batik bermotif sidodrajad. Itulah kumpulan dari motif cakar, truntum, sidomukti, dan sidomulyo. Motif ini mengandung arti, manusia yang memiliki derajat itu rajin mencari uang (cakar). Namun bukan sekadar mencari uang, melainkan juga piawai membina keharmonisan keluarga (truntum). Nah, kalau sebuah keluarga harmonis baru bisa mencapai sidomukti.

Dalam tradisi Kejawen ada juga paribasan, melik (tanpa) nggendong lali - meraih keberhasilan tanpa dikuasai oleh harta duniawi. Oleh sebab itu, boleh meraih kesuksesan materiil tapi jangan sampai dikuasai oleh harta duniawi tersebut. Dengan harapan, pada akhir ziarah hidup manusia mencapai Sidomulyo. Bagi masyarakat Jawa, orang yang telah mencapai kemuliaan punya tugas dan tanggungjawab.  Dan, tugas mereka adalah membawa kebermanfaatan bagi sebanyak mungkin orang dan segenap ciptaan Tuhan.

Petuah-petuah bijak di atas perlu didiseminasikan ke generasi masa depan.  Menyitir pendapat Guruh Soekarnoputra, saat ini banyak penerus bangsa yang kehilangan jati diri. Namun, toh itu bukan seratus persen kesalahan kaum muda. Karena, generasi di atasnya tidak pernah berbagi informasi memadai ihwal keberagaman budaya Nusantara. Salah satunya berkait dengan nilai kearifan di balik selembar kain batik. (T. Nugroho Angkasa, editor dan penerjemah lepas, tinggal di Yogyakarta).

Tidak ada komentar: