Tampilkan postingan dengan label kompas jateng - DIY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompas jateng - DIY. Tampilkan semua postingan

Desember 23, 2007

Melihat Hikmah di Balik Bencana

Dimuat di Rubrik Forum Akademia, KOMPAS Jateng-DIY, Jumat 18 Agustus 2006.

Pada tahap awal pemerintah berencana membangun 42.000 unit rumah masing-masing seharga Rp 15 juta. Padahal, menurut Pemprov DI Yogyakarta, tercatat ada 206.000 unit rumah hancur atau rusak berat. Hal ini bisa menyebabkan gesekan vertikal antara masyarakat dan pemerintah maupun secara horizontal yang bisa memantik "api" kecemburuan sosial antarwarga.

Dari segi anggaran juga amat terbatas karena ada penyusutan yang cukup signifikan, semula Rp 37 miliar kemudian tinggal Rp 20 miliar saja. Dana rehab rumah korban gempa sebesar Rp 30 juta yang pernah dijanjikan oleh Bung Jusuf Kalla ternyata hanya angin lalu, senada dengan tembang Broery Pesolima Memang Lidah Tak Bertulang. Ironisnya lagi pemberian living cost yang hanya sekali itu pun tak merata distribusinya karena terkendala birokrasi.

Alhamdulilah wong Yogya memang biasa bersikap nrima. Walau rumah roboh masih bilang, "Untung masih selamat." Namun, pertanyaan kritis bagi para pejabat di pusat sana, apakah masih terus tega menelantarkan dan mengecewakan para korban bencana? Di tengah situasi mendung semacam ini semua pihak perlu menjaga ucapan serta sudi duduk bersama guna membahas kebijakan recovery yang paling tepat.

Lebih lanjut, koordinasi dan sosialisasi kebijakan ini juga mesti hati-hati dan transparan, termasuk sampai pada hal yang tampaknya sepele, yakni urutan pembangunan unit rumah. Haruslah diprioritaskan pembangunan rumah rusak berat dan yang empunya secara ekonomi memang tak mampu. Hingga saat ini masih ada sekitar 100.000 KK yang masih terlunta-lunta dan berteduh di bawah tenda.

Menurut catatan Sekretaris Daerah DIY, pihak lembaga swadaya masyarakat dan organisasi nonpemerintahan sudah secara aktif memfasilitasi pembangunan 2.000-an unit rumah di seputaran DIY. Kemudian, yang patut mendapat acungan jempol adalah usaha swadaya warga yang bergotong royong membangun sendiri rumahnya. Jumlahnya tak sedikit, sekitar 10.000 rumah. Inisiatif yang terlahir dari grass root macam ini patut dicontoh karena para korban tidak melulu menunggu uluran tangan dari pemerintah maupun pihak luar.

Secara lebih mendalam, proses rekonstruksi pascagempa ini juga harus mendidik warga untuk mandiri. Semisal dengan memberikan tanggung jawab pembangunan kepada fungsionaris desa. Wilayah teritori tadi dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri atas 10 KK. Tujuannya supaya mereka dapat secara demokratis bermusyawarah guna menentukan mekanisme pembangunan, yakni dari pernak-pernik pembagian dana, pembelian bahan material secara kolektif, operasional pembangunan, sampai laporan pertanggungjawaban akhir pascarekonstruksi.

Hal ini akan sinergis dengan program pendewasaan publik menuju masyarakat madani. Pemerintah dan pihak asing janganlah terlalu jauh campur tangan dalam proses rekonstruksi karena kita tak tahu situasi riil di lapangan. Seyogianya sebatas pada subsidi finansial dan pengawasan kelayakan arsitektur bangunan, yakni ketahanan terhadap guncangan gempa dan kesehatan. Jika hal tersebut sungguh diimplementasikan, niscaya Jateng-DIY akan menjadi daerah yang lebih temata. Sehingga, kita sungguh bisa merasakan hikmah di balik bencana yang mendera Bumi Mataram tercinta.

Desember 14, 2007

Kesaktian untuk Kejayaan Bangsa

Dimuat di Forum Akademia, KOMPAS Jateng-DIY, Jumat 15 Juni 2007.

Pada perayaan hari lahir ke-62 Pancasila lalu penulis bersama National Integration Movement Joglosemar berziarah ke Makam Bung Karno dan menghadiri Kenduri Pancasila yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Yang mencolok ialah seluruh peserta mengenakan kaus hitam bertuliskan GPP (Gerakan Pengamal Pancasila). Memang cara untuk membangkitkan kembali nilai-nilai Pancasila ialah dengan nglakoni alias mengamalkannya dalam hidup sehari-hari.

Menurut Bung Karno, Pancasila adalah meja statis sekaligus Leidstar (bintang pimpinan) dinamis. Bung Karno menggogo (menyelami) saf-saf peradaban leluhur kita sejak zaman pra Hindu hingga masuknya imperialisme Barat.

Sejak belia Putra Sang Fajar sudah memikirkan landasan kokoh bagi struktur bangsa. Buah permenungan tersebut lantas dipersembahkan ke haribaan rakyat dan di altar Ibu Pertiwi. Tepatnya pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Secara aklamasi, diiringi tepuk tangan riuh rendah, semua golongan tanpa terkecuali menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Celakanya, kini ada segelintir orang yang lupa sejarah hendak mengganti Pancasila dengan ideologi "impor" yang tak berakar pada budaya Nusantara. Padahal, Pancasila sakti, menurut Ki Hadjar Dewantara, merupakan saripati budaya bangsa telah terbukti mampu mempersatukan segenap elemen masyarakat. Memang dalam perjalanannya ada penyelewengan. Misal pada masa Orde Baru, waktu itu terjadi penyeragaman pola pikir secara massif dan terorganisasi lewat penataran P4.

Kini perlu upaya konkret untuk membumikan nilai-nilai Pancasila bagi orang modern, utamanya generasi muda. Misal, seperti yang dilakukan oleh Pusat Pemulihan Stres dan Trauma Keliling (PPSTK) pada akhir Agustus 2006. Kebetulan penulis menjadi koordinator lomba menulis kebangsaan bagi siswa-siswi SMA se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tersebut. Energi stres yang terakumulasi akibat gempa bisa ditransformasi menjadi energi kreatif yang konstruktif, caranya dengan menulis esai.

Anand Krishna selaku penggagas acara ini memaknai kembali nilai- nilai Pancasila secara gaul dan funky. Sila I Spiritualitas: Banyak Jalan Satu Tujuan; Sila II Humanitas: Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia; Sila III Nasionalitas: Siapapun Kau, Kau Orang Indonesia; Sila IV Soverenitas: Ramah Tamah dan Sopan Santun; Sila V Sosialitas: Gotong Royong.

Peserta yang sebagian besar kelahiran 1990-an ini begitu elegan mengemas nilai- nilai Pancasila. Misal Adjeng Bunga Bangsa dari SMA Taruna Nusantara menulis dalam esai bertajuk "Bersatu dan Kau Menang", berikut kutipannya, "...Perbedaan itu adalah harta karun Indonesia. Perbedaan itu adalah anugerah dan kurnia Tuhan Yang Maha Esa yang wajib kita syukuri. Semua itu adalah amanat yang harus kita jaga dan kita lestarikan dengan baik. Pernahkah Anda melihat negara lain yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang tiap-tiap daerahnya memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan yang lainnya, dan mampu bersatu padu? Carilah di seluruh dunia dan jawabannya hanya Indonesia" (halaman 8).

Sepakat Dik! Pancasila memang alat pemersatu yang sakti untuk mewujudkan Indonesia Jaya!