September 16, 2011

Saksi Kunci JPU Kembali Mangkir dalam Persidangan Kasus Anand Krishna

JAKARTA, RIMANEWS- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martha Berliana P Tobing, untuk kesekian kalinya, gagal menghadirkan salah satu saksi kunci, Dian Mayasari, dalam lanjutan Persidangan Kasus Anand Krishna (AK) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (14/9).

"Dalam ruang sidang, Hakim Ketua Albertina Ho sempat bertanya tentang keberadaan saksi, dan JPU menyatakan dirinya tidak lagi mampu menghadirkan saksi walaupun sudah dicoba beberapa kali," ungkap Kuasa Hukum AK, Astro Girsang,

Berdasarkan keterangan saksi lainnya di persidangan sebelumnya, nama saksi Dian Mayasari sering disebut berulang kali oleh beberapa saksi, seperti saksi pelapor Tara Pradipta Laksmi, saksi Shinta Kencana Kheng, Faradiba Agustin, Leon Filman, Chandra alias Phung Soe Swe, Veronica Sumidah alias Sum, serta Muhammad Djumaat Abrory Djabbar, sebagai pihak yang secara aktif mengkoordinir dan mefasilitasi pertemuan-pertemuan di rumah mereka selama berkali-kali, dan selama berbulan-bulan berikutnya mengadakan roadshow ke berbagai media dan beberapa tokoh yang mengenal Anand Krishna sebelum melaporkannya ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual.

Otto Hasibuan, Ketua Peradi yang juga adalah salah satu penasehat hukum Anand Krishna menyesalkan ketidakhadiran saksi Dian Mayasari, "Menurut pengakuan suaminya sendiri, Muhammad Djumaat Abrory Djabbar, pertemuan-pertemuan itu terjadi atas inisiatif Dian Mayasari bersama Shinta Kencana Kheng yang juga kemudian diketahui dari saksi lain, menghubungi dan mengumpulkan mereka."

"Jadi," tambah Otto, "adanya dugaan konspirasi di balik kasus ini sudah semakin jelas.

"Dalam kesaksiannya yang terakhir, Muhammad Djumaat Abrory Djabbar terasa melemparkan bola panas ini ke isterinya. Dan, sekarang isterinya tidak mau hadir," ujarnya.

Sidang kali ini juga menghadirkan saksi meringankan, Riko Perlambang, dan Saksi Ahli Hukum Pidana Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, SH., M.Hum

Menurut Kuasa Hukum AK lainnya, Nahod dari Gani Djemaat Law Office, Saksi Riko menegaskan bahwa Anand Krishna bukan pemilik perusahaan yang selama ini digembar-gemborkan di media.

"Saksi Riko ini adalah salah satu pemegang saham dan komisaris sejak awal berdirinya perusahaan ini sampai sekarang. Dan dalam persidangan dirinya bersaksi bahwa tak pernah Anand Krishna sebagai pemegang saham ataupun pengendali di tempat ini. Tuduhan bahwa klien kami sebagai pemilik atau pengendali perusahaan ini adalah upaya sistematis untuk mencemarkan nama baik klien kami dan juga rekan-rekannya," ujarnya menambahkan.

Sementara itu, aktivis perempuan yang juga salah satu kuasa hukum AK lainnya, Dwi Ria Latifa SH, juga turut prihatin atas dugaan rekayasa hukum ini, "Saya ulangi untuk kesekian kalinya, saya ini seorang aktivis, perempuan, dan sangat menghormati keprofesian pengacara. Sejak awal saya melihat kasus ini, saya bisa merasakan Anand Krishna adalah korban konspirasi yang diatur dan direncanakan secara matang."

Ia menambahkan, "Alhamdulillah, keyakinan saya itu terbukti dalam persidangan. Aneh sekali, seorang saksi perempuan Shinta Kencana Kheng, yang mengaku pernah menjadi korban pelecehan, malah bersedia bertemu dengan Hakim Hari Sasangka, di malam hari, berduaan, dalam kendaraan tertutup rapat, di tempat yang sepi, berkali-kali. Urusannya apa? Saya percaya Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung akan mengusut hal ini sampai tuntas, sehingga tidak ada lain seorang oknum yang bisa mencemari nama institusi seenaknya."

Sementara itu Saksi Ahli dan Dosen Hukum Pidana dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, SH., M.Hum memberikan kesaksian yang meringankan terdakwa.

Otto Hasibuan mengungkapkan jalannya sidang, "Prof Edy telah mengutarakan dengan baik sekali bahwa terlepas dari materi dan fakta yang sudah semakin jelas tidak terbukti - bahkan dari legal formalitasnya pun kasus ini dipaksakan. Kami yakin Majelis Hakim yang Mulia sudah dapat melihat dan merasakan hal itu."

Prof Edy yang sempat ditemui sebelum kembali ke Yogyakarta turut menjelaskan, "Jangankan dari legal formal, kalau ada orang yang mengaku berulangkali dilecehkan, dan ternyata dia datang sendiri ke tempat yang sama tanpa ada paksaan maupun ancaman secara fisik. Ini sudah jelas merupakan perbuatan with consent (dengan persetujuan). Dan dalam hukum pun demikian, jadi ini bukan tindakan pidana."

"Apalagi dari segi hukumnya pun jika beberapa kasus yang berdiri sendiri-sendiri, tanpa disertai bukti kuat dan atau saksi yang relevan pula, dipaksakan untuk memperkuat pasal 64 dan dinyatakan sebagai tindakan berlanjut, jelas ini tidak bisa. Menurut saya memang dakwaan semacam itu jelas tidak cermat dan sangat tidak bijaksana karena sama sekali tidak memenuhi unsur hukum formal maupun materiil," ujarnya.

Spiritualis lintas agama, Anand Krishna adalah penulis produktif yang dikenal karena karya-karyanya yang sering mengkritik berbagai pihak yang dianggapnya dapat membahayakan integrasi bangsa.

Kasusnya sendiri sudah berlangsung lebih dari setahun di PN Jaksel yang diwarnai terjadinya pergantian majelis hakim karena Hakim Ketua lama, Hari Sasangka terindikasi berhubungan langsung dengan saksi Shinta Kencana Kheng dalam kasus hukum yang ditanganinya, sebagaimana laporan yang masuk ke Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA).

Sumber: http://www.rimanews.com/read/20110915/41169/saksi-kunci-jpu-kembali-mangkir-dalam-persidangan-kasus-anand-krishna

Studi Lintas Agama Lewat Internet

RIMANEWS- Salah satu ciri globalisasi ialah eksistensi jejaring internet. Inovasi teknologi ini memudahkan komunikasi antar manusia. Jarak, ruang, dan waktu tak lagi menjadi penghalang. Terlepas dari ekses negatifnya, internet dapat meningkatkan kualitas hidup manusia modern.

Universitas berkaliber dunia seperti Harvard sudah meluncurkan program online. Bahkan 70% Perguruan Tinggi (PT) di Amerika dan Eropa memiliki program serupa. Sebenarnya, program online memberi harapan bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia. Sehingga tidak ada lagi satu orang pun penduduk yang buta huruf.

Selain itu, program pendidikan jarak jauh menyediakan keuntungan bagi para praktisi pendidikan, masyarakat umum, maupun kaum profesional yang memiliki kesibukan padat. Sebab jadwal belajar online relatif lebih fleksibel. Biayanya pun lebih murah ketimbang program pendidikan konvensional. Kualitas hasil e-learning pun tidak kalah dibanding pembelajaran via jalur formal

Oleh karena itulah, Yayasan One Earth Integral Education bekerja sama dengan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) mencanangkan program pembelajaran online pada Jumat (9/9/2011) di Ruang Yustisia UC, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bentuknya berupa pendidikan Online One Earth College of Higher Learning (www.oneearthcollege.com).

Pada awal kelahirannya e-learning yang digagas Anand Krishna ini membuka 3 fakultas:

1. Transcendental Approach to Comparative Religions/Interfaith Studies, yakni pengkajian terhadap kitab agama dan kepercayaan manusia. Sebagai wujud saling apresiasi terhadap perbedaaan yang ada. Sehingga para peserta dapat memahami esensi dari ajaran agama dan kepercayaan di dunia.

2. Spiritual Transpersonal Psychology, yakni penggalian jiwa manusia. Sebagai proses pencarian jati diri. Sehingga para peserta dapat melampaui ego pribadi dan berkerjasama dengan siapa saja demi kepentingan yang lebih mulia.

3. The Ancient History and Culture of The Indonesian Archipelago, yakni pembelajaran sejarah. Sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur kita. Dengan mempelajari dinamika peradaban terdahulu, para peserta dapat mengetahui kesalahan masa lampau dan memperbaikinya demi masa depan yang lebih cemerlang.

Dalam kesempatan ini, Ketua One Earth Integral Education Foundation, Wayan Suriastini mengatakan, "Kebutuhan penyebarluasan pendidikan integral. Pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek fisik dan intelek saja, tapi juga aspek mental, emosional, dan jiwa sangatlah mendesak." Yayasan One Earth Integral Education merupakan "adik" dari One Earth School di Denpasar, Bali, yang berdiri pada 2008 silam.

Secara lebih mendalam, Dr.Sayoga dari Bali, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Anand Ashram menandaskan, "E-learning ini merupakan kesinambungan upaya yang dilakukan Anand Ashram sejak 20 tahun silam, yakni dalam mewujudkan visi One Earth, One Sky, One Humankind (Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia)."

Seminar Spiritual Transpersonal Psikologi sekaligus Peluncuran Progmam Studi Online ini dimoderatori oleh Tunggul Setiawan. Menghadirkan 3 pembicara kunci, yakni Hendro Prabowo S.Psi, Dosen UGM, Dra. Nadiroh As Sariroh aktivis perempuan dan pluralisme, serta Anand Krishna, sebagai penggagas program.

Akademisi transpersonal psikologi Hendro Prabowo menyebutkan bahwa ada upaya-upaya agar hasil pendidikan menjadi buruk dan terpuruk seperti yang terjadi sekarang ini. Lebih dari itu, telah terjadi pula pembusukan. Sehingga pendidikan akan lebih mudah dijadikan sebagai lahan bisnis atau industrialisasi.

Dra. Nadiroh As Sariroh dari Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) membagikan pengalamannya. Praktisi pendidikan di Sanggar Sekolah Alam ini berpendapat, "Keberagaman yang ada di Indonesia merupakan berkah. Seperti falsafah Bhineka Tunggal Ika, kebhinekaan kita diikat oleh kebersamaan. Kita perlu saling mengapresiasi agama yang berbeda sejak dari pendidikan anak-anak usia dini." Nadiroh mendukung proses pembelajaran e-learning ini sebagai wujud kegiatan pendidikan partisipatif dua arah.

Anand Krishna menyampaikan bahwa akar masalah edukasi saat ini adalah kapitalisme. Anak-anak dihadapkan lebih pada kompetisi untuk mengejar angka, namun tidak menyentuh pikiran dan rasa. Padahal sejatinya pendidikan dapat membuat orang lebih bertanggungjawab terhadap sesama dan orang lain, bukan semata mengejar sukses untuk dirinya sendiri.

Animo para peserta cukup tinggi. Beberapa orang yang walaupun telah lanjut usia tak mau ketinggalan mendaftar kelas online. Salah satunya, Susilowati, pensiunan dosen Fakultas Ekonomi UNS Solo, ia mengakui, "Program pendidikan lewat internet ini baik sekali, karena memfasilitasi kita mendalami nilai-nilai universal yang terkandung dalam setiap agama dan kepercayaan. Memang akhir dari proses pendidikan bukanlah selembar kertas ijasah, melainkan perubahan karakter. "

Sumber: http://www.rimanews.com/read/20110913/40920/studi-lintas-agama-lewat-internet

September 07, 2011

Seminar Spiritual Transpersonal Psychology and Interfaith Studies (UC UGM Yogyakarta, Jumat 9/9/2011)

13152773231143568332

SIARAN PERS

Launching Program Pendidikan Online One Earth College of Higher Learning
dan Seminar Spiritual Transpersonal Psychology and Interfaith Studies

Salah satu ciri globalisasi ialah kehadiran jejaring internet. Inovasi teknologi ini memudahkan komunikasi antar manusia. Jarak, ruang, dan waktu tak lagi menjadi penghalang. Pun kemajuan ini mendorong perkembangan diri kita. Bukan sekadar fisik dan pikiran, tapi juga mental, emosional dan jiwa. Terlepas dari ekses negatifnya, teknologi internet dapat meningkatkan kualitas hidup manusia modern.

Pada saat yang sama, banyak celah kekurangan dalam sistem pendidikan nasional kita. Baik dari aspek isi, cara maupun arahnya. Sehingga kita kurang apresiatif terhadap perbedaan. Muaranya berupa pengkerdilan/pematian kreativitas dan penurunan budi pekerti, ketertinggalan dan ketidakmandirian dalam bidang ekonomi, tata pemerintahan dan perpolitikan yang tidak berpihak pada rakyat, ketertinggalan dalam kancah percaturan internasional, dan last but not least berkembangnya radikalisme dan fanatisme berkedok agama.

Termotivasi oleh dua situasi di atas, Yayasan One Earth Integral Education bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) mencanangkan program pembelajaran bersama yang memanfaatkan teknologi internet untuk menyebarluaskan pendidikan integral.

Proses pembelajaran ini tak hanya mengasah intelek dan fisik, tetapi juga menyentuh rasa, psikis dan jiwa manusia. Pembangunan karakter, penanaman budi pekerti, nilai-nilai kemanusiaan di atas basis kearifan budaya Nusantara: Kedamaian, Kasih, dan Harmoni menjadi perhatian utama kita.

Bentuknya berupa program pendidikan Online One Earth College of Higher Learning (www.oneearthcollege.com ). Higher Learning merupakan upaya nyata untuk menjangkau nilaiyang belum terakomodir sistem pendidikan kita. Pada awal kelahirannya, One Earth College membuka 2 program, yaitu Spiritual Transpersonal Psychology dan Interfaith Studies.

Secara khsusus, rekan-rekan Wartawan dan Media kami undang untuk meliput dan menyebarluaskan acara Launching Pendidikan Online One Earth College of Higher Learning dan Seminar Spiritual Transpersonal Psychology and Interfaith Studies pada:

Tanggal : Jum’at, 9 September 2011

Jam : 09.00 – 11.00 WIB

Tempat : Ruang Yustisia, UC UGM

Pembicara :

1. Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M. Eng (Ketua Program Studi One Earth College)

2. Hendro Prabowo, S.Psi., M.Si. (Akademisi Transpersonal Psychology UGM)

3. Dra. Nadlroh As Sariroh (Aktivis Perempuan dan Pluralisme)

4. Anand Krishna, Ph.D (Program Creator One Earth College)

Terimakasih atas perhatian rekan-rekan Wartawan dan Media, untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi Contact Person: Triwidodo (081326127289) / Suriastini (0811266309).


Term of Reference (TOR)

Pada Februari 2011 Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menyadari pentingnya pengembangan pendidikan online di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa Pendidikan Jarak Jauh - khususnya edukasi berbasis elektronik, e-education, online program - dapat menjadi solusi pemerataan pendidikan. Karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar.

“Jika hanya mengandalkan pembelajaran konservatif, kita perlu tambahan infrastruktur yang sangat luar biasa jumlahnya,” ujarnya.

Dalam Soft-launching One Earth College, di Ciawi, 1 September 2011 lalu, Anand Krishna, Program Creator Online Program One Earth College, menyebutkan bahwa Universitas bergengsi seperti Harvard, Columbia sudah me-launching program online.

“Hampir 70 persen Universitas di Amerika dan Eropa sudah memiliki program online, ujar tokoh humanis lintas agama tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa yang belum bisa online adalah fakultas Kedokteran, jurusan yang menyangkut teknik atau pratikum di suatu laboratorium. Tetapi itu pun sekarang sudah direncanakan 60-70 persen online, 40 persennya hadir di kelas.

Jadi, sebenarnya program online adalah harapan bagi kita semua sehingga tidak ada lagi satu orang pun orang yang buta huruf.

Disamping itu, program pendidikan jarak jauh melalui Internet memberi banyak keuntungan bagi para praktisi, pendidik, masyarakat umum, maupun profesional yang memiliki kesibukan padat, namun berkomitmen untuk selalu meningkatkan kualitas diri.

Selain biaya yang juga lebih murah dibanding program pendidikan konvensional serta jadual belajar fleksibel, kualitas hasil belajar pun tidak kalah jika dibandingkan dengan yang melalui jalur formal.

Terkait program Spiritual Transpersonal Psychology, Anand Krishna mengungkap pemikiran Ken Wilber dan beberapa tokoh lain. Mereka menelaah kembali tulisan-tulisan William James, Aurobindo, serta tulisan-tulisan dari tahun 1900-an dan 1800-an. Para tokoh tersebut melihat bahwa ternyata selama 100 tahun ini, penilaian kita tentang psikis manusia itu keliru.

Leluhur kita berpatokan bahwa manusia tidak personal dan ego based. Ironisnya, kini Psikologi mengatakan bahwa ego itu adalah yang tertinggi . Jika kamu kehilangan ego, kamu kehilangan segala-galanya.

Sedangkan, spiritual timur mengatakan jika kamu masih punya ego, kamu belum punya apa-apa, ego itu harus dinafikan, no-self, no-mind; dan sekarang itu diakui oleh pemikir-pemikir dunia sehingga terciptalah Psikologi Transpersonal.

Di Amerika dan Inggris, istilah tersebut dikenal dengan nama Integral Psychology. Bahkan kini sudah diakui secara ilmiah bahwa memang inilah Psikologi yang bisa menjawab begitu banyak pertanyaan kita.

Sedangkan terkait Kajian Interfaith Studies. Ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan adaptabilitas, dalam bekerjasama dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Sehingga tercapai kemajuan dalam teamwork dengan semangat gotong royong.

Program Online, One Earth College memiliki tujuan yang jauh lebih besar dari pada sekedar “ikut” program. Itulah kenapa persyaratannya minimal pernah mengenyam pendidikan di Universitas dan sudah mantap dalam pekerjaanya. Para peserta yang belajar, diharapkan bisa sharing. Baik saat berinteraksi di kantor, tempat usaha mereka, dan di rumah dalam keluarga. Nantinya program online ini juga akan menjadi bagian dari SKS untuk meraih gelar. Terimakasih.

Membangkitkan Ruh Kepemimpinan

Dimuat di Rubrik Gagasan, Koran Jakarta, Senin/5 September 2011

http://m.koran-jakarta.com/index.php?id=70437&mode_beritadetail=1

Leluhur kita tak menyelewengkan kekuasaan untuk menindas rakyat. Saat penjajahan Jepang, almarhum Ngarso Dalem HB IX sengaja memerintahkan penggalian Selokan Mataram. Agar aliran Progo bisa mengairi lahan pertanian di Kulon Progo-Kalasan secara merata. Pun warga desa setempat terhindar dari kerja rodi yang tak kenal peri kemanusiaan.

Sepakat dengan pendapat Anand Krishna, sebelum menjadi pejabat publik pemimpin seyogianya terlebih dahulu membangkitkan jiwa kepemimpinan dalam diri (Self Leadership, 2004). Tokoh humanis lintas agama tersebut mengingatkan tanggung jawab pejabat publik. Yakni pelayanan terhadap bangsa dan negara.

Bagi yang belum terpilih toh tetap bisa melayani. Sehingga tidak perlu mengamuk bila kalah. Sektor pelayanan sosial bukan monopoli para pejabat ataupun wakil rakyat. Pelayanan terhadap sesama anak bangsa menjadi tanggung jawab setiap warga negara. Tentu sesuai kompetensi individu di lingkar pengaruh masing-masing.

Dalam catatan sejarah, ada sebuah versi Asta Brata dari Kitab Pedoman Hukum Manusia gubahan Manu. Judulnya Manusmriti atau Manawardharma Shastra. Asalnya dari India dan berusia 5.000 tahun lebih. Rumusan Mpu Yogishwara dianggap lebih muda. Wejangan tersebut dikemas dalam Kakawin Ramayana. Usia karya klasik itu sekitar 1.000 tahun.

Yang teraktual ialah Asta Brata versi Keraton Surakarta. Karya ini diadaptasi dari kedua Kitab terdahulu. Namun sudah di-update sesuai perubahan zaman. Versi ini dipopulerkan oleh almarhum Sri Paku Buwono III sekitar 125 tahun silam. Nilai-nilai luhur tersebut dianalogikan ibarat 8 kelopak bunga teratai. Setiap helai kelopak mengandung sebuah pesan.

Kelopak pertama, matahari. Ia memberikan cahaya kepada semua makhluk. Matahari menjadi sumber energi utama segenap titah ciptaan. Kendati demikian, ia tidak pernah menyombongkan diri. Setiap pagi matahari selalu terbit di ufuk timur. Para pemimpin perlu belajar setia mengasihi dan sharing tanpa diskriminasi dari matahari.

Kelopak kedua, bulan. Ia bersinar menerangi gulita malam. Meski terjadi krisis, dan konflik seorang pemimpin tetap bersinar dan melayani masyarakat. Kelopak ketiga, bintang. Ibarat bintang kutub (pole star), ia menjadi pandu bagi pelaut yang tersesat. Pemimpin perlu tegas membubarkan ormas pemuja kekerasan berkedok agama yang acapkali menghakimi keyakinan orang lain dan mengganggu ketertiban umum.

Kelopak keempat, api. Ia membakar ego dan sederet sifat destruktif lain. Inilah laku akbar seumur hidup. Api dapat membakar pula ketidakadilan dan ilalang fanatisme. Harmoni dalam keberagaman niscaya dapat terwujud. Kerendahan hati dan sikap apresiatif menjadi kata kunci di sini.

Kelopak kelima, angin. Ia bersifat halus, lembut, tak terlihat, tetapi kuat dan berada di mana saja. Tak ada yang bisa menghalangi penetrasi Sang Bayu. Walau dibatasi tembok beton sekalipun. Seorang pemimpin trengginas, lincah, dan mampu bergerak bebas. Ia tidak terlalu diproteksi oleh para pembantu di istana megahnya. Sungguh ironis menyaksikan gaya hidup mewah para pejabat tatkala para petani gagal panen akibat terjangan hama wereng.

Kelopak keenam, bumi. Walau diinjak-injak, dieksploitasi, dan dilecehkan Ibu Bumi terus memberi dan memaafkan. Sebagai pelayan publik, seorang pemimpin bersedia menerima segala macam kritikan. Dalam konteks ini, tidak perlu terlalu emosional menyikapi kekritisan kelompok madani.

Kelopak ketujuh, air. Ia mengingatkan kita akan aliran yang konsisten. Air berbagi hidup dan penghidupan dengan semua. Bahkan ketika aliran terhambat oleh sebuah bukit, ia tak akan kemrungsung menabrak, justru dengan sabar mengitari dan tetap mengalir meneruskan perjalanan.

Air juga tidak pilih kasih. Saat mengalir di Timur Tengah, ia tak menjadi Arab dan memberi kehidupan pada orang Muslim saja. Ketika mengalir di India, ia tidak menjadi Hindu dan menjadi sumber kehidupan bagi orang Hindu saja. Tatkala mengalir di Barat, ia tidak menjadi Kristen dan menganggap dirinya lebih beradab ketimbang leluhur kita yang tinggal di kepulauan Nusantara ini.

Kelopak kedelapan, samudera. Ia melambangkan keluasan dan kedalaman. Ia juga memiliki kemampuan untuk menyerap, membersihkan dan mempersiapkan air kotor untuk diuapkan menjadi awan. Kemudian mengembalikan air tersebut dalam bentuk tetes air hujan pemberi kehidupan.

Seorang pemimpin seperti lautan. Dalam arti luas pengetahuannya dan pecinta buku. Konkretnya, seperti para bapa bangsa. Terutama Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta. Mereka berdua pembaca ulung. Menurut Maya Safira, BUKU atau BOOK dalam bahasa Inggris singkatan dari Broad Ocean of Knowledge (Pengetahuan luas laksana samudera).

Demikianlah Asta Brata, praksis kepemimpinan ala Nusantara. Leluhur kita tidak mengimpor kearifan lokal tersebut dari luar, tapi titen mengamati lingkungan alam sekitar. Selamat membangkitkan ruh kepemimpinan dalam diri dan melakoninya dalam keseharian ziarah hidup ini.

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Penulis adalah, Guru Bahasa Inggris SMA Budya Wacana Yogyakarta


Galang Persatuan dengan Semangat Cinta Ibu Pertiwi

Galang Persatuan dengan Semangat Cinta Ibu Pertiwi

HMINEWS – Masih dalam suasana Lebaran, National Integration Movement (NIM) merayakan peringatan Hari Bhakti Bagimu Ibu Pertiwi (1/9/2011) secara serentak di Jabodetabek, Joglosemar dan Bali. Masing-masing dipusatkan di Ciawi, Jogja dan Denpasar. Kegiatan ini sekaligus Halal Bihalal Keluarga Besar Pecinta Anand Ashram (KPAA).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di Padepokan One Earth – Ciawi, ratusan peserta menghadiri perayaan Bhakti Bagimu Ibu Pertiwi. Pertama kali dicanangkan oleh Menteri Pertahanan, Prof Juwono Sudharsono pada Simposium Kebangsaan NIM: Bagimu Ibu Pertiwi pada 1 September 2005 di Aula Dwi Warna, Lemhanas, Jakarta.

Acara tahun ini mementaskan sendratari unik. Dimainkan oleh muda mudi NIM dan dihadiri beberapa aktivis kemanusiaan, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintahan. Antara lain H Widodo mewakili Kementrian Budaya dan Pariwisata, I Wayan Bude dari Kementerian Agama, Bhikku Dhammasubho, dan Utami Pidada, seorang mantan anggota DPR/MPR RI.

Tema pagelaran kali ini, “One for All, All for One, Gotong Royong Menuju Kejayaan Negeri.” H Widodo mengapresiasi upaya NIM melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa lewat pagelaran seni dan budaya, terutama nilai-nilai kebersamaan. “Perbedaan adalah rahmat dan kebersamaan adalah nikmat,” ujar Widodo usai menyaksikan acara ini.

Senada dengan yang dilontarkan I Wayan Bude. Ia melihat sendiri bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan telah ditanamkan di komunitas ini.
“(Pertunjukan) ini jelas adalah cerminan atas apa yang telah dipelajari di tempat ini. Menggalang persatuan dengan semangat mencintai Ibu Pertiwi yang telah menyusui kita selama ini dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar salah satu Direktur di Kementerian Agama ini.

Sendratari dalam acara ini bercerita ihwal bagaimana cara memecah-belah persatuan dengan hasutan keserakahan dan kebencian. Sekum NIM, Joehanes Budiman menjelaskan, “Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat luas betapa keji dan berbahayanya hasutan, omongan, keserakahan, dan sebagainya yang dapat mengadu domba di antara kita, dengan tujuan melemahkan persatuan bangsa.”

Pada kesempatan ini, Ketua Yayasan Anand Ashram Dr Sayoga, bersama Peneliti Senior Dr Suriastini selaku pendiri Yayasan Pendidikan Satu Bumi, bersama Ir. Triwidodo M.Eng sebagai Direktur Program melakukan softlaunching e-learning dalam bidang Humanitas. Yakni jurusan Interfaith Study dan Spiritual Transpersonal Psychology. Program studi on line ini didirikan oleh tokoh humanis lintas agama, Anand Krishna, yang juga merupakan inspirator NIM

Peringatan Hari Bhakti Bagimu Ibu Pertiwi juga digelar secara serentak di Denpasar, Bali. Juru bicara KPAA Bali, Hadi Susanto, menegaskan bahwa kasus hukum janggal bermuatan konspirasi yang sekarang sedang dihadapi Anand Krishna, sama sekali tidak mempengaruhi ritme kegiatan komunitas. “Kami tetap berkarya secara nyata dalam membhaktikan diri kami bagi masyarakat dan bangsa. Buktinya kegiatan-kegiatan ini masih kami lakukan dan dihadiri oleh banyak partisipan. Komitmen kami kepada Ibu Pertiwi dalam mengkampanyekan Perdamaian, Cinta-Kasih dan Persatuan dalam keberagaman dan harmoni tidak pernah berubah. Kami jalan terus,” tegasnya

Sumber: http://hminews.com/news/galang-persatuan-dengan-semangat-cinta-ibu-pertiwi/