November 24, 2010

Bocah Merapi dan Masa Depan

Dimuat di http://www.harianjoglosemar.com/berita/bocah-merapi-dan-masa-depan-29781.html

Sepanjang 2010 bencana alam silih berganti melanda Indonesia. Dari banjir bandang di Wasior, Papua Barat; gempa dan gelombang tsunami di Mentawai, Sumatra Barat; sampai rentetan letusan Merapi di perbatasan Jateng dan DIY. Bencana alam tak hanya merenggut korban jiwa dan menelan kerugian miliaran rupiah. Tapi juga menyebabkan trauma psikis dalam diri warga. Tak terkecuali anak-anak di barak pengungsian.

Misal yang dialami seorang anak pengungsi Merapi dari Boyolali, Jawa Tengah. Setiap kali ia melihat masker, yang terpikir ialah segera bersiap-siap mengungsi dengan truk. Karena takut terkena semburan awan panas dan guyuran hujan abu vulkanik. Lain lagi anak pengungsi dari Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, ia langsung merasa panik kalau mendengar suara gembludug (gemuruh) dan raungan sirene ambulans.

Menurut Maya Safira Muchtar, terapis kesehatan holistik L’Ayurveda Jakarta, istilah psikologi ihwal gangguan stres pascatrauma semacam itu ialah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Rekaman pengalaman menakutkan ketika bencana alam terjadi berulang terus-menerus (reexperience) di benak para korban. Bentuknya berupa khayalan, mimpi, halusinasi, dan flash back (kilas balik).

Sehingga para pengungsi akan ketakutan dan bereaksi panik seperti saat trauma itu terjadi. Bila berkepanjangan gangguan ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Antara lain, menjadi mudah tersinggung, emosional, dan suka melongo (melamun). Oleh sebab itu, selain pemenuhan kebutuhan logistik, ganti rugi ternak, dan rehabilitasi infrastruktur, para pengungsi juga membutuhkan terapi pemulihan stres dan trauma. Terutama sekali bagi anak-anak di barak pengungsian.

Para ilmuwan menyatakan bahwa sebelum masuk sekolah, tepatnya sekitar usia 4 sampai 5 tahun, terdapat lebih dari 50 persen neuron otak yang sedang tumbuh dan membentuk sirkuit tertentu. Itulah kenapa tahun-tahun awal tersebut dinamai the golden age (masa keemasan). Peran orangtua dan guru ialah untuk memberikan stimulus positif. Berupa kata dan keteladanan tingkah laku. Agar tercipta rangkaian sel yang relatif berkualitas.

Lebih lanjut, kemampuan otak anak pada masa keemasan ibarat spons (busa). Secara prima mampu menyerap aneka pengetahuan dan pengalaman baru. Perbendaharaan kosakata mereka bisa mencapai 12.000 kata. Ironisnya, situasi di barak-barak pengungsian serba terbatas. Privasi tidak ada sama sekali. Faktor eksternal ini niscaya menghambat pemekaran potensi dalam diri si anak. Bahkan masa ceria untuk bermain dan berkumpul dengan teman sebaya terlewatkan begitu saja.

Rentetan erupsi Merapi jelas menginterupsi kehidupan bocah-bocah lereng Merapi. Akibat insiden post majeur ini, kegiatan belajar di sekolah mereka terpaksa diliburkan. Selain itu, akses ekonomi keluarga dalam mencari nafkah juga terganggu. Hal ini niscaya berimbas pada tersendatnya pemenuhan kebutuhan dasar anak. Bagaimana hendak membeli buku dan mendapat uang jajan bila para orangtua tak bisa berangkat kerja? Karena status gunung Merapi masih Awas.

Rentan Trauma

Berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi relawan Pusat Pemuliahan Stres dan Trauma Keliling (PPSTK) Joglosemar yang digagas oleh Anand Krishna pascabencana gempa bumi tektonik Yogyakarta (27 Mei 2006), memang anak-anaklah yang paling rentan mengalami trauma psikis. Karena kondisi kejiwaan yang masih relatif labil. Pada 31 Oktober 2010 dan setiap pekan berikutnya PPSTK juga mengadakan terapi bagi para pengungsi Merapi.

Ratusan warga hadir dan mempraktikkan latihan nafas dan teknik katarsis untuk mengatasi stres dan trauma. Sehingga mereka dapat merasakan kelegaan dan kebahagiaan yang bersumber dari dalam diri. Saat itu kami juga mengajak anak-anak untuk bermain, bernyanyi, menari, menggambar, menulis puisi, dan bercerita. Intinya agar energi stres yang terakumulasi bisa tersalurkan secara memadai, konstruktif, dan kreatif.

Awalnya begitu sulit, namun dengan teknik tertentu dan sedikit kesabaran akhirnya mereka berani mengekspresikan diri kembali. Cara yang paling ampuh ialah dengan mengajak mereka bernyanyi dan menari. Mereka begitu cepat menghafal lagu Pelangi yang digubah dengan lirik bernuansa kebangsaan, “Oh Indonesia, negeri yang kucinta, beraneka ragam suku dan agama, walaupun berbeda kita tetap saudara, indahnya damainya Indonesia.”

Ada juga pemutaran film anak-anak. Yakni dengan memanfaatkan tembok bangunan stadion sebagai layar. Contoh lainnya ialah kegiatan salah satu stasiun televisi swasta. Mereka menghibur ratusan anak korban letusan Gunung Merapi di pengungsian Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Caranya, dengan memboyong tokoh-tokoh kartun ke barak pengungsian. Sehingga anak-anak berkesempatan menyaksikan idola mereka secara langsung. Hadiah berupa buku bacaan, mainan, dan alat tulis juga membuat mereka tersenyum kembali.

Selain itu, untuk melancarkan ketersendatan pendidikan anak-anak di pengungsian. Pemerintah musti sesegera mungkin mendatangkan para guru dan relawan pendidikan untuk mendampingi proses pembelajaran darurat di barak pengungsian. Karena sampai saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi tercanggih sekalipun tak mampu memprediksi sampai kapan aktivitas Merapi akan kembali normal.

Yang paling menyentuh nurani kemanusiaan ialah kegiatan prajurit Marinir Pasmar-1 Surabaya. Pada Sabtu (13/11) anggota TNI tersebut mengajak anak-anak pengungsi berwisata ke Candi Prambanan. Acara ini diikuti oleh 275 anak dari Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Tujuannya agar anak-anak pengungsi dapat sejenak berekreasi dan mengenal sejarah Candi Prambanan. Warisan budaya nenek moyang nan adiluhung. Pada kesempatan itu, mereka diajak bermain outbond juga. Tentara yang biasanya mengokang senjata kini menggandeng jemari mungil bocah-bocah lereng Merapi.

Inilah berkah terselubung (blessing in disguise) di balik bencana dahsyat erupsi Merapi. Segenap elemen masyarakat madani (civil society), relawan, tim SAR, aparat kepolisian, tentara, seniman, praktisi media, pemerintah, tenaga medis, akademisi, pihak swasta, dll bahu-membahu meringankan beban penderitaan para korban. Mereka bergotong-royong menyumbangkan tenaga, bantuan materiil, dan dukungan moril kepada para pengungsi tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan.

Akhir kata, bocah lereng Merapi ialah masa depan Indonesia. Bumi Mataram dan kepulauan Nusantara bukan sekedar warisan leluhur dan para bapa bangsa, melainkan titipan anak cucu. Jangan sampai bencana alam merenggut keceriaan generasi penerus bangsa. Terngiang syair lagu Asa Jatmika yang biasa dinyanyikan anak-anak di dusun Sumber, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, "Burung gagak menjahit langit, lenguh lembu di kejauhan, petani gelaga di puncak bukit, nyanyi katak di ladang kerinduan, menebar sejuk, damai, kehidupan..."

1 komentar:

vino mengatakan...

Peduli dengan nasib anak2 di camp pengungsian korban bencana?

Atau anda ingin tahu segala serba-serbi tentang gizi ibu dan anak?

Mari berpartisipasi aktif di http://nutrisiuntukbangsa.org/ Gabung juga di http://www.facebook.com/Nutrisi.untuk.Bangsa