Juli 03, 2012

Memuisikan Matematika dengan Cinta

Dimuat di Koran Jakarta, 4 Juli 2012
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/94818

Berikut ini versi awal sebelum diedit th. Redaktur
1341362989628976014
Judul: Sekolah itu Surga
Penulis: HJ. Sriyanto
Kata Pengantar dan Epilog: St. Kartono dan A.A. Kunto A
Penerbit:  Selingkar Rumah Idea (SRI) Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: 1/April 2012
Tebal:  xvi + 162 halaman
ISBN:  978-602-98333-8-6

Cintaku padamu tak terlimitkan // Bagaikan sebuah tangen 90 // Tak tersubtitusikan di hatiku // Tak terbagi laksana bilangan prima… (halaman 116)

Begitulah petikan puisi matematika karya Aditya Yudhatama. Judulnya “Cinta Tanpa Limit”. Tatkala mengajar pada jam ke-8 (12.45 WIB), penulis - yang berprofesi sebagai guru matematika SMA Kolese De Britto, Yogyakarta tersebut - membuat terobosan baru. Tujuannya untuk menghapus sterotip pelajaran matematika itu memusingkan.

Berdasar pengalaman HJ. Sriyanto, resep ini mujarab. Pun dapat menjadi model alternatif pembelajaran. Terlebih pada jam-jam terakhir, tatkala keletihan mulai menghinggapi para murid. Alhasil, mereka dapat tertawa terbahak-bahak bersama, usai mendengar salah satu siswa membaca buah kreatifitasnya di depan kelas. Berikut ini kutipan puisi lain dari Silvio Adriano, “Terus engkau berlari lepas // layaknya faktorial tak berujung // Entah kapan piktogram hatiku ini // Mendendang cinta kita dalam union… (halaman 117, Polinomial Cinta).

Dalam buku ini, pendamping ekstrakurikuler Teater tersebut memaparkan filosofi di balik puisi matematika. Selama ini, para siswa cenderung menghafal rumus-rumus. Mereka kurang memahami arti di balik simbol. Jika seorang murid dapat mempuisikan matematika dengan cinta, niscaya ia dapat merasakan samudera keindahannya.

“Sekolah itu Surga” merupakan buku perdana penulis. Isinya antologi artikel. Sebagian besar pernah dimuat di pelbagai media massa. Baik koran lokal maupun nasional. HJ. Sriyanto berguru cara merangkai gagasan lewat untaian kata dari St. Kartono. Berikut ini kesaksiannya, “Takkan pernah terlupakan dialah yang mencorat-coret tulisan pertamaku sebelum dimuat di sebuah harian lokal di Jogja.” (halaman viii). Buku ini terdiri atas 4 bab: Dari “Siapa Bilang Jadi Guru Itu Gampang?!” sampai “Mengarungi Arus Globalisasi.”

Ada sebuah kisah menggetarkan. Jelang kelahiran anak pertama,  penulis beserta istri pindah ke rumah di Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 45 km dari sekolah tempatnya bekerja di kota gudeg. Pilihan ini berdasarkan pertimbangan matang. Ia ingin anaknya menghabiskan masa kecil di desa. Sehingga relatif dekat dengan alam (baca: sawah) dan tumbuh mengakar dari lingkungan yang kental nuansa kebersamaan(gemeinscaft).

Konsekuensinya tidak mudah. Pak guru harus nglaju (ulang-alik) dari Cawas ke Jogja setiap hari. Berangkat pagi-pagi ketika orang lain masih terlelap di alam mimpi dan pulang larut malam ketika pintu rumah para tetangga telah rapat terkunci. Inilah rutinitas yang ia jalani dengan ugahari. Ban bocor malam-malam, menembus kabus pagi, basah kuyup terguyur hujan sudah biasa (halaman 7). Ibarat sebatang tongkat. Saat seseorang memegang ujung yang satu, maka ujung lainnya menjadi tak terpisahkan.

Namun berkat kompetensi dan dedikasinya, penulis beroleh kesempatan mengikuti Advanced Teacher Programm (ATP) di St. Ignatius College Riverview. Letaknya tak jauh dari Rose Garden Sydney nan asri itu. Puluhan guru dari pelbagai negara se-Asia Oseania berkumpul untuk berbagi pengalaman mengajar. Ajang ini ibarat kawah candradimuka. Tempat berefleksi, mengevaluasi dan mengembangkan skill mengajar dengan dukungan fasilitas ICT.

Berdasarkan observasi Mbah Joyo (nama panggilannya di kelas), di sana para guru mempunyai target yang jelas dalam setiap proses pembelajaran. Mereka menyiapkan media belajar yang dibutuhkan secara rinci. Pun menguasai pelbagai metode untuk memudahkan siswa menguasai materi ajar. Misalnya di kelas sains, sebelum praktik dilakukan guru meminta siswa yang memiliki alergi atau penyakit tertentu tidak boleh mengikuti praktikum tersebut. Sang guru menguasai dan mengetahui betul resiko dari kegiatan praktik tersebut. Sehingga ia melakukan langkah antisipatif (halaman 236).

Colegio De Sao Jose merupakan sekolah lain yang sempat disambangi penulis. Letaknya di pelosok Timor Leste. Meski sudah 10 tahun berpisah dari NKRI, negeri muda itu menghadapi kendala pendidikan. Akarnya karena perbedaan bahasa. Ada 3 ragam di sana: Tetun, Indonesia, dan Portugis. Bahasa Tetun merupakan dialek lokal. Sayangnya, banyak istilah iptek yang tak ada padanan katanya. Secara politis, pemerintah lebih menginginkan bahasa Portugis sebagai bahasa pengantar di sekolah.

Dalam perjalanan ke Maubara, penulis juga menyaksikan pemandangan aneh. Para guru duduk berdesak-desakan di bak belakang truk. Selama 3 jam mereka terpanggang sinar matahari yang begitu terik. HJ Sriyanto teringat teman-temannya di pulau Jawa. Mereka acapkali berkeluh-kesah meski pergi ke sekolah dengan bus ber-AC. Padahal wajah para guru di Dili itu tak sekilas pun menyiratkan keputusasaan.

Selain itu, terungkap pula kisah mencekam pascareferendum. Para guru bertaruh nyawa di bandara Timor Leste. Mereka berupaya menenangkan pengungsi dan anak didik yang ketakutan. Desingan peluru jelas terdengar di atas kepala. Kesaksian itu membuat penulis tak kuasa berkata-kata. Dalam hati ia membatin, “Semoga aku bisa menjadi perpanjangan tangan untuk menyalurkan harapan…” (halaman 143)

Buku setebal 162 halaman ini buah pemikiran seorang guru. Ia tak bicara dari menara gading, tapi dari dalam ruang kelas. Dengan menyelaminya, pembaca belajar menerima kelebihan dan kekurangan dalam diri anak didik. Menyitir pendapat Andy Ardana, “Membaca buku ini, seakan mendarat di tempat yang tak lazim dan kelaparan. Kemudian bertemu sepotong ayam goreng. Tidak asing di lidah, ringan, namun mengenyangkan. Dan yang pasti memberi semangat untuk bergerak.” Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Sekolah Alam Angon dan Ekstrakurikuler Bahasa Inggris SMP Kanisius Sleman, Yogyakarta)

Tidak ada komentar: