Juli 16, 2012

Menjadikan Hidup sebagai Berkah

Dimuat di Media Indonesia, 15 Juli 2012

Berikut ini versi awal sebelum diedit Yth. Redaktur. Matur Sembah Nuwun __/\__

Judul: Swami Sri Sathya Sai Baba, Sebuah Tafsir
Penulis: Sai Das
Kata Pengantar: Ida Pedanda G.K. Sebali Tianyar
Penerbit: Koperasi Global Anand Krishna
Cetakan 2/ Maret 2012
Tebal: xxviii + 195 halaman
Harga: Rp42.000
ISBN:  978-602-95405-8-1

Judul di atas terinspirasi kesaksian seorang Ibu. Ia sahabat karib penulis buku ini. Teman tersebut pernah mengalami kecelakaan fatal di jalan tol. Insiden di jalur bebas hambatan kebanyakan mengakibatkan nyawa melayang. Sebab, kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya, wanita yang saat itu masih berusia 30 tahun selamat.

Kendaraannya terjungkal dan keluar dari ruas jalan. Sehingga hancur total. Ibu tadi sempat mengalami koma selama beberapa hari di rumah sakit (RS). Pasca siuman, ia mengisahkan kronologi kecelakaan yang hampir mengakhiri hidupnya, “Saya masih sadar ketika mobil terbalik, dan saya pikir sudah pasti mati…Tapi, tiba-tiba saya merasakan ada tangan yang menarik saya keluar lewat jendela secara paksa…Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi,” (halaman118).

Seorang yang dituakan dari keluarganya memberi semacam penerawangan. Kerabat tersebut memang rajin melakoni tradisi warisan leluhur, termasuk laku Kejawen. Menurutnya, tangan itu tangan Romo Baba. Demikian ia menyebut nama Swami Sri Sathya Sai Baba (alm).

Singkat cerita, walau sudah sembuh masih ada bekas luka jahitan memanjang di wajah Ibu tadi. Ia bisa saja menjalani operasi bedah plastik. Sehingga parasnya tetap terlihat cantik. Namun ia justru memilih membiarkan apa-adanya. Sebab bekas luka itu mengingatkan pada kebesaran Guru yang menyelamatkan dari ancaman maut.

Baginya hidup ini semacam bonus. Setiap kali ia bercermin terucap pula, “Alhamdulilah, Puji Tuhan! ” Ia bersyukur masih bernafas. Sebagai ungkapan terimakasih, setiap hari Minggu atau hari libur (holiday) ia menjadikannya hari suci (holy day). Ibu tadi mengadopsi sebuah panti asuhan. Seorang diri ia memenuhi segala kebutuhan anak-anak di panti tersebut.

Buku “Swami Sri Sathya Sai Baba, Sebuah Tafsir” ini merupakan cetakan kedua. Edisi pertama terbit pada 1986 silam. Semula judulnya, “Svami – Bhagavan Sri Sathya Sai Baba: Sebuah Tafsiran”. Hampir 30 tahun lebih buku ini hilang dari peredaran. Kemudian Ir. Ni Luh Wayan Sukmawati mengetik ulang kopiannya. Sehingga bisa diterbitkan kembali.

Pada bab 3, Sai Das mengisahkan pengalaman satu teman lain (halaman 51).  Orang tersebut hidup di antara buku. Rumahnya penuh ribuan buku. Oleh sebab itu, ia disebut si kutu buku. Ironisnya, karena banyak membaca ia lupa diri dan merasa lebih pintar dari orang lain. Para tetangga enggan bersahabat dengannya.

Dalam hati kecil, ia merasa kesepian. Segunung pengetahuan tak mampu mengobati kepedihan batinnya. Pada suatu ketika, ia bangkrut. Bisnisnya terpaksa gulung tikar. Kemudian ia mendatangi para kolega untuk mohon bantuan. Tapi ia malah jadi bahan cemoohan/ejekan. “Lihat-lihat si pintar jadi pengemis!”

Ungkapan ini memang tak sopan. Tapi mau bilang apa. Setiap orang menuai apa yang ditanam. Akhirnya, si kutu buku mulai berefleksi, ‘Di mana letak kesalahanku?” Ia berhenti menyalahkan orang lain dan keadaan sekitar. Dalam keadaan hidup enggan mati pun segan, beruntung ia bertemu dengan seorang Pemandu. Sang Guru menasehati, “Kau hanya kekurangan vitamin K alias Kasih. Selama ini, pengetahuan yang kau peroleh dari buku-buku malah menghambat perkembangan jiwamu.” (halaman 54).

Solusi

Sang Pemandu memberi jalan keluar. Gunakanlah pengetahuan untuk menyadarkan diri dan berbagi kesadaran. Gunakan pengetahuan untuk menemukan sumber Kasih di dalam diri. Sehingga kau dapat mulai mengasihi sesama. Uniknya, walau saat itu si kutu buku sedang merugi, Sang Guru justru menasehati untuk melayani sesama, “Pergi dan layanilah mereka yang sedang menderita, kekurangan sandang, dan pangan. Berusahalah, sebatas kemampuanmu saat ini, melayani mereka dengan semangat manembah. Lihatlah Tuhan di dalam diri mereka.” (halaman 57).

Dalam beberapa bulan, orang tadi mulai membaik usahanya. Tak sampai 2 tahun, ia meraup keuntungan kembali. Namun ada satu perubahan drastis. Pasca pengalaman itu, senantiasa ia menyisihkan sebagian laba untuk pelayanan. Minimal 10%, maksimalnya tak terbatas. Ia menyumbang pembangunan rumah sakit, sekolah, dan fasilitas publik lainnya. “Ku sudah tak tahu lagi, apa yang mesti kulakukan dengan uangku. Sungguh ajaib berkah dari-Nya,” ujar si kutu buku.

Buku ini terdiri atas 8 bab. Berisi tafsiran atas ajaran dan kehidupan Swami Sathya Sai Baba. Antara lain: Swami sebagai Sang Avataar, Sang Penuntun, Sang Pengasih, Sang Pemersatu, Sang Pelindung, Sang Pengampun, Sang Penyelamat, Sang Pencegah, dan Sang Sutradara.

Swami Sathya Sai Baba dilahirkan dengan nama kecil Sathya Narayana. Tepatnya  di desa Puttaparti, India Selatan. Pada usia 14 tahun, beliau mengumumkan dirinya sebagai penjelmaan Shirdi Sai Baba, seorang Mistik Sufi dari India Tengah (Shri Sai Satcharitha: 2010).  Kemudian, berduyun-duyun datanglah warga Eropa, Amerika, Amerika Latin, Afrika, Auatralia, Timur Tengah, dan dari Kepulauan Nusantara untuk ngangsu kawruh (belajar).

Berikut ini syair yang memuat intisari ajaran Baba, “Cintailah semua makhluk di dunia, sayangilah seluruh umat manusia, jangan kau menyakiti hati siapa saja, jangan kau menghina diri siapa saja, itulah pelajaran Sathya Sai Baba, itulah intisari ajaran agama.” (halaman 38). Keunggulan buku ini tak hanya memuat khasanah spiritual adiluhung, tapi dilengkapi dengan paparan ihwal pola makan sehat.

Dewasa ini, makanan vegetarian mulai menjadi tren. Dulu susah mencari restoran vegan. Kini, jumlahnya kian menjamur. Karena orang mulai sadar, daging tidak sehat untuk tubuh manusia. Binatang karnivora cocok memakan daging karena ususnya pendek. Sehingga bisa langsung dibuang dengan cepat. Sedangkan pada perut manusia, ususnya relatif panjang. Bisa mencapai 12 meter lebih. Akibatnya, justru bisa meracuni tubuh sendiri.

Tatkala masih muda memang tak terlalu terasa. Makan apa saja masih bisa. Namun saat memasuki usia 40 tahun, benih keteledoran yang ditanam mulai berbuah. Pola makan yang tak karuan mulai berakibat langsung pada kesehatan tubuh. Dari diabetes, jantung, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, hati keropos, dll.

Barulah si empunya badan tersadarkan pada nilai kesehatan. Pun baru mau meluangkan waktu untuk berolahraga. Namun semua sudah terlamabat. Kerusakan terlanjur terjadi tak bisa diperbaiki lagi. Dalam konteks ini, tamsil lama menjadi relevan, “Lebih baik mencegah ketimbang mengobati.”

Sai Das memberi resep sederhana. Minimal sehari dalam seminggu berpuasalah. Hindari nasi, daging dan makanan tinggi kolesterol. Konsumsilah sayuran dan buah-buahan. Pun perbanyak minum air putih (minimal 2 liter sehari). Sehingga memberi kesempatan detoksifikasi. Itulah sebabnya, dalam tradisi Kejawen ada tradisi poso ngrowot. Ternyata mereka lebih bijak ketimbang manusia modern yang hobi menyantap fast food.

Buku setebal 195 halaman ini sekadar mengingatkan sidang pembaca. Tuhan bersemayam di dalam diri segenap titah ciptaan. Pun termasuk di setiap sel badan ini. Menyitir pendapat para bijak, “Bila engkau tak merawat tubuhmu, lantas di mana Sang Jiwa harus tinggal?” Dalam konteks ini dikotomi lahir dan batin menjadi nisbi. Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Bahasa Inggris di Sekolah Alam Angon Yogyakarta)

Tidak ada komentar: