Maret 30, 2008

Jer Basuki Mawa Bea

Dimuat di Rubrik Suara Mahasiswa, SKH Kedaulatan Rakyat, 11 September 2007

Walau (konon) PM Abdullah Badawi sudah meminta maaf sedalam-dalamnya (profound apologize) atas insiden pengeroyokan Donald Luther oleh empat polisi Diraja Malaysia (PDRM), namun masih tercabik hati ini sebagai seorang anak negeri. Kenapa? sebab ada kisah sentimentil di balik aksi barbarian tersebut. Ketua delegasi wasit Indonesia itu dikira TKI ilegal. Seburam itukah potret negri kita di mata dunia, khususnya negara-negara tetangga? kenapa kini yang dominan ialah image (citra) meminjam istilah Bung Karno - bangsa kuli? Padahal dulu banyak profesor universitas negri jiran yang menuntut ilmu di kepulauan nusantara ini.

Mari sejenak meninjau peziarahan kita sebagai suatu bangsa. Referensinya ialah cita-cita luhur para founding fathers yang termaktub dalam Mukadimah UUD 1945, alinea ke-4. Berikut ini dua petikannya:

Pertama, "...suatu pemerintah negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa." Konsekuensinya, pemerintah musti mengelola sumber daya alam guna mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan seluruh rakyat. Misalnya dengan menggiatkan usaha koperasi di akar rumput. Sehingga mereka tak perlu hijrah ke luar negri untuk mengais rejeki.

Lebih lanjut, bangsa ini harus memberi perhatian lebih pada tarnsformasi sektor pendidikan nasional. Bukankah untuk melahirkan generasi masa depan yang cerdas, manusiawi dan trampil pelu komitmen, kerja keras sera anggaran minimal 20 persen dari APBN. Sebab pepatah lama mengatakan, "Jer Basuki Mawa Bea."

Kedua, idealnya anak bangsa melawat negri manca dalam rangka mengharumkan nama Ibu Pertiwi,"...ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial." Konkretnya, seperti Anand Krishna yang diundang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Konferensi Internasional ke-60 bertema Climate Change - How It Affects Us All (Perubahan Iklim serta Dampaknya pada Kita Semua) pada 5-7 September 2007 lalu di New York. Selain itu, penulis produktif 110 buku ini akan melaunching karya terbarunya Voice of Indonesia (Seruan dari Indonesia) di Los Angeles (LA) pada detik-detik peringatan tragedi kemanusaan pengebomam World Trade Center (WTC) pada 11 September 2007.

Prestasi membanggakan tersebut seyogyanya memicu kobaran api proaktivitas dalam diri setiap anak negri untuk bergotong-royong dan berkarya lebih giat demi kebangkitan bangsa dan perdamaian dunia. Caranya ialah dengan - menyitir judul lagu Sheila on Seven - Berhenti Berharap...pada bantuan lembaga donor, pemerintah yang melik nggendong lali, instatnsi militer, politikus korup, tokoh masyarakat maupun pemuka agama yang rumangsa isa tapi ora isa rumangsa, wakil rakyat yang bermental proyek aji mumpung, dst.

Mari kita semua sebagai warga negara mulai memberdaya diri dan meningkatkan kesadaran sipil (civic awareness). Yakni dengan membudayakan sikap lepas-bebas, kreatif-inovatif mengikuti percikan energi ilahi dalam diri di lingkap pengaruh masing-masing. Lebih mau memberi ketimbang menghisap. Menyadur seruan mendiang John F Kennedy,"Jangan bertanya apa yang negara telah berikan padamu. Tapi bertanyalah pada dirimu sendiri, apa yang sudah kupersembahkan bagi tanah airku, bangsaku dan last but not least kemanusiaanku?"

Maret 27, 2008

SEMBAH BHAKTI BAGI IBU PERTIWI

Dimuat di Rubrik Bebas Bicara, BERNAS Jogja, 28 Maret 2008

Pepatah lama mengatakan, "Surga di bawah telapak kaki Ibu." Raja Sanjaya memahami filosofi ini. Penguasa Bumi Jawa Dwipa pada medio abad ketujuh tersebut memperkenalkan istilah "Mataram" yang berarti Ibu Pertiwi. Lantas 1.200 tahun kemudian, pada era revolusi kemerdekaan, kata sandi (password) "Ibu Pertiwi Memanggil" kembali dipakai oleh para founding fathers untuk menggelorakan semangat rakyat mengusir kaum imperialis yang menginjak-injak kehormatan Ibu Pertiwi selama 350 tahun lebih.

Anand Krishna aktivis spiritual lintas agama Nusantara kembali mempopulerkan mantra "Bende Mataram" di era milenium ini. Artinya sinonim dengan, Sembah Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Walau kita berbeda latar belakang suku, agama, ras, profesi, status, gender, ideologi, dst tapi kita semua adalah anak bangsa. Kita boleh memeluk agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu, ataupun beraliran kepercayaan Kejawen, Kaharingan, Samin, Teosofi, dst namun sejatinya kita saudara sekandung yang notabene dilahirkan, disusui, dan dibesarkan oleh Bunda Indonesia hingga menjadi dewasa seperti saat ini.

Dalam psikologi ada istilah "marasmus". Yakni bayi yang meninggal akibat ditelantarkan. Ia merasa kesepiaan dan depresi karena tak mendapat sentuhan kasih sayang dari ortu, khususnya Ibu. Kondisi sakratul maut ini mirip seperti yang dialami bangsa Indonesia. Bencana alam silih berganti, belitan krisis multifaset tak kunjung reda sejak 1997 silam, kondisi keamanan tak menentu karena bom bisa meledak sewaktu-waktu, Amrozi Cs yang telah divonis bersalah oleh pengadilan masih bisa cengar-cengir, birokrasi pemerintahan berbelit-belit, aparat pelayan masyarakat bermental korup dan melik nggendong lali. Memperpanjang KTP pun musti dilambari uang "rokok".

Kita musti bangkit dan membenahi kebobrokan ini. Mulai dari diri sendiri di di lingkar pengaruh masing-masing. Mari galakkan acara yang membangkitkan jiwa nasionalis dan cinta tanah air dalam diri. Usah melulu yang berbau hedonis dan/atau dogmatis. Konkretnya seperti yang dilakukan National Integration Movement (NIM) Joglosemar. Berupa lomba pidato, melukis, menulis, bagi siswa-siswi SD, SMP, SMU se-Jateng dan DIY.

Misal Bintang Cesario dari SMAN 8 Jogja yang kebetulan menjadi juara I menulis esai kebangsaan. Generasi kelahiran era 1990-an tersebut memiliki cita-cita menjadi pengusaha restoran. Kinerja bisnis kuliner tersebut musti profesional ala fastfood. Tapi ia emoh (tak mau) menjual produk impor, yang dijual ialah masakan tradisional khas Nusantara. Seperti soto, gado-gado, lotek, ketoprak, nasi liwet, sambal balado dst. Selain itu ia bertekad melebarkan sayap pemasaran sampai ke negri manca. Kebayang kan nongkrong makan pecel lele di bawah menara Eifel?

Memang solusi fundamental guna mengatasi problematika kehidupan berbangsa kita ialah dengan merajut kembali romantika dengan Ibu Pertiwi. Mari kesampingkan sejenak kepentingan egoistik berlabel SARA yang cenderung memecah-belah bangsa dan menghisap sesama. Prinsipnya sederhana, kalau kita mencintai seseorang, apapun kita lakukan untuk membuat ia bahagia.

Maret 26, 2008

APRESIASI BUKU MAWAR MISTIK

Dimuat di website http://www.anandkrishna.org

APRESIASI BUKU MAWAR MISTIK DI RADIO ELTIRA 102,1 FM JOGJA BERSAMA BAPAK ANAND KRISHNA, Sabtu 7 April 2007, jam 12.00-13.00 WIB

Menurut Bapak Anand Krishna, dosa adalah pikiran manusia. Senada dengan apa yang dikatakan oleh Almarhum Paus terakhir bahwasanya surga-neraka adalah state of mind alias keadaan yang kita lewati dalam keseharian hidup. Kita yang menciptakan-kita pula yang mengakhiri. Kuncinya ialah dengan menjadi ceria dan membagikan keceriaan tersebut pada sesama, "Be Joyful and Share Your Joy With Others."

Di Jakarta ada Klub Tawa, diawali dengan 30 orang 2 tahun lalu. Kini tiap dua minggu sekali, Pesta Rakyat di Monas dihadiri oleh 3.000-an orang. Kita tertawa, menyanyi dan menari bersama dan nggak ada masalah. Di Joglosemar ini kita juga mengadakan rutin 2 minggu sekali di Borobudur dan Prambanan.

Menanggapi penelpon yang masuk, Bapak Susilo bertanya kenapa agama justru menyebabkan perpecahan di bangsa ini? Bapak Anand Krishna menngatakan bahwa tak ada yang salah dengan religi, agama, ritual dan sebagainya. Yang utama adalah "spirit" di balik ritual tersebut. Ajaran spiritual Nabi Isa yang tertinggi tertuang dalam sepenggal kalimat pendek, "Cintailah tetanggamu". Kini kita lupa, sebelum mencintai tetangga kita tanya dulu kolom agama di KTP-nya apa? Kita musti mulai dari diri sendiri, dari hal-hal sederhana di lingkungan kita masing-masing.

Moderator dari Radio Eltira FM bertanya, "Bagaimana Pak Anand kalau tetangga se-RT itu menyebalkan. Bukankah ada ayat dalam Injil yang mengatakan kalau kita ditampar pipi kiri berikanlah pula pipi kananmu. "Sederhana, sekali-kali kirimi kue pada tetangga itu. Kalau di tampar satu pipi, tak usahlah beri pipi yang lainnya," canda Pak Anand. "Iya lho…para pendengar sekalian, tatapan Pak Anand ini begitu teduh, membuat kita merasa adem di studio ini" ujar Moderator untuk lebih mencairkan suasana.

"Apakah ada latihan meditasi rutin di Joglosemar ini, siapa tahu ada pendengar yang hendak mencicipi " lanjut Moderator. "Ya ada, kalau di Jogja ini, kita memakai salah satu aula di UGM (sekarang di Perum Dayu Permai P-18, Jakal Km 9) nanti bisa kita informasikan kontak person dan no telpon yang bisa dihubungi."

Kembali ada sms masuk, yang bertanya tentang segmen pembaca buku ini. "Buku ini diperuntukkan bagi semua orang. Memang dari penerbit ada peringatan, tapi saya oka-oke saja. Orang-orang yang belum kenal Nabi Isa semoga setelah membaca buku ini bisa lebih mengenal ajaran-ajaran beliau yang begitu universal."

Selanjutnya sms dari Rani, "Bagaimana menurut Bapak mengenai isu yang menyatakan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena? Dan apa pentingnya buku ini bagi umat lain?" "Kalau memang Yesus menikah dengan Maria Magdalena, so what? Itu tak akan mengurangi Kekristusan Sang Nabi. Tak ada, suka-suka kita aja, mau baca silakan, tidak silakan." jawab Pak Anand dengan santai.

Sms lain masuk dari Nugroho di Soropadan, "Kenapa Yesus begitu sayang dengan Maria Magdalena?" "Wah saya harus tanya pada Yesus nih," canda Pak Anand. "Para rasul pernah mengkritik Maria Magdalena yang membasuh kaki Yesus dengan minyak yang begitu mahal. Mereka bilang lebih baik uang tersebut diberikan untuk fakir miskin. Namun apa jawab Yesus, fakir miskin akan selalu ada dalam setiap zaman. Yang terpenting adalah reseptifitas dan getaran kasih kita kepada orang yang kita sayangi, entah itu orang tua, Guru atau apapun."

Sari dari Gejayan bertanya bagaimana Bapak bisa menulis buku begitu banyak? Dan berapa lama Bapak menyelesaikan buku Maria Magdalena ini? "Saya biasanya menulis dengan seminimal mungkin referensi, mengalir saja. Untuk buku ini saya menyelesaikannya dalam sebulan."

Budi seorang peng-sms lain bertanya, "Bagaimana kalau kita ingin belajar sessuatu tapi dilarang oleh orang tua?" Pak Anand menanggapi, "Jika kita sudah cukup dewasa maka kita bisa memutuskan mana yang terbaik untuk kita sendiri."

"Apakah ada protes atau kritikan berkait tulisan dan aktivitas Bapak? "tanya Moderator "Ya ada, hampir setiap minggu saya menerima sms, e-mail semacam itu, but it'ok, fine-fine saja." Jawab Pak Anand.

Totok seorang penelpon lain bertanya, "Pak kenapa Maria Magdalena dipersonifikasikan dengan bunga Mawar? "Mawar tidak pamer keindahannya, ia menyebarkan keharumannya tanpa gembar-gembor. Ia tercerahkan dan mencerahkan. Indah bagi mereka yang melihatnya."

"Apakah penerbitan buku ini mengambil momentum Paskah?" tanya Sang Moderator lebih lanjut. "Tidak sih, sebenarnya saya merencanakan buku ini bisa beredar saat Natal tahun lalu" jawab Bapak.

Astuti dari Lempuyangan bertanya via sms, "Apakah buku ini fiksi atau non fiksi?" "Bukan kedua-duanya, bukan pula tafsir resmi dari Gereja. Saya terobsesi dengan apresiasi, bukan sebatas toleransi, artinya kita bisa menghormati semua Nabi yang ada seperti kita menghormati Nabi yang ada dalam agama kita. Saya dekat dengan semua agama, lintas agama. Ritual adalah urusan pribadi kita dengan Allah, Bapa di Surga, Buddha, Widhi, Tao apapun sebutannya" jawab Bapak.

Michael dari Magelang bertanya tentang hukum aksi-reaksi, "Dosa kita memang dimaafkan tapi tetap saja kita harus menanggung akibat dari perbuatan kita." "Ya setiap pikiran, ucapan dan tindakan merupakan sebab dan ada akibatnya. Tak bisa bila kita berbuat baik 10 kali lantas berbuat jahat 2 kali, lantas perbuatan baik masih 8. Bukan seperti itu." jelas Pak Anand.

"Ketika menulis Buku Mawar Mistik ini saya sedang jatuh cinta dengan Maria Magdalena, yang ada di kepala saya hanya Dia, Dia, Dia. Saya merasa mendapat insight dan saya kaitkan dengan Maria Magdalena, bulan depan segera terbit buku lain tentang pesan-pesan Mahamaya. Sebenarnya sudah jadi bahkan dalam dua bahasa : Indonesia dan Inggris, tapi saya merasa perlu memberikan penjelasan berkait 365 poin (satu hari satu, untuk setahun penuh) tersebut."

"Kasih tak dapat dijelaskan. Ibarat orang bisu yang mencicipi gula. Ia tak bisa menjelaskan rasa manis itu seperti apa. Ia hanya senyam-senyum saja." jawab Bapak Anand ketika ditanya tentang makna Kasih oleh Sang Moderator.

Mbak Jati dari Gramedia menjelaskan kenapa Gramedia berani menerbitkan buku-buku Pak Anand Krishna walau pernah terjadi kontroversi seperti pada tahun 2001 lalu. Selalu ada sisi menarik yang diulas oleh Bapak Anand krishna dalam 90-an buku karya beliau sehingga Gramedia siap menanggung apapun resikonya. Kini telah terbit pula buku terbaru Karya Bapak Anand Krishna berjudul "The Gita of Management."

Pertanyaan terakhir Pak Anand, "Inspirasinya apa sehingga bapak bisa menulis buku ini? tanya Moderator penasaran. "Dulu saya seorang pengusaha lantas pada tahun 1991 saya divonis mati karena mengidap Leukemia (kanker darah). 15 tahun lalu saya bertemu dengan beberapa orang, bukan pertemuan gaib, melainkan pertemuan biasa seperti sekarang ini. Itu membuka wawasan saya berkait Maria Magdalena. Sudah sejak lama saya hendak menulis tentang Maria Magdalena, tapi ternyata baru sekarang kesampaian bisa menulis buku tentang tokoh satu ini," jawab Pak Anand sekaligus mengakhiri acara interaktif ini.

STOP GLOBAL WARMING SEKARANG JUGA!

*Sumber: www.oprah.com

Tahukah Anda bahwa :

1. Tidak menancapkan colokan listrik walaupun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40 - 50% biaya listrik yang harus anda bayarkan tiap bulannya. Dan berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.

2. Kantong plastik butuh waktu 1000 tahun untuk terurai di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di Indonesia. Belum lagi yang dibuang di sungai belakang rumah dan tempat lain yang tidak semestinya. Dan 10 kg kertas koran yang siap dijual loakan membutuhkan 1 pohon berumur 10 tahun. Bayangkan yang terjadi dengan illegal logging (pembalakan liar) berapa banyak pohon telah ditebang? Bukankah itu yang membuat dunia ini lebih panas?)

3. Ketika kita membeli 1 liter air mineral di supermarket = beli 5 liter air. Tanya kenapa?
Karena di pabrik, untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air... cek cek cek...(cecak aja berdecak)

4. Tisue yang sudah di pakai itu tidak bisa di-recycle... begitu juga karton-karton yang bekas kena minyak, makanan, kue, minuman. Mau tidak mau tanahlah yang harus mendaur ulang.
Perkiraan orang memakai tisue 6 biji sehari. 2.200 biji setahun. Berarti kira-kira 44 MILIAR biji di seluruh Indonesia setahun... Kalau kita menghemat 1 lembar saja tiap hari... berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIAR biji setahun... HEBAT KAN!!!!

5. Jadilah hijau di ATM? Artinya, kalau di bank 'kan ada cara ambil fulus tanpa receipt atau be smart dong. Transfer lewat Internet banking atau mobile banking aja lagi....Sebab 8 MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap tahun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia. Kalau selama setahun orang transaksi tidak pakai kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 15 kali. cek cek (kembali cecak berdecak)

6. Minimal punya 2 macam tempat sampah di rumah, membantu mengurangi polusi air, udara dan tanah. Pisahkan sampah basah (sisa makanan dan masakan, daun, minuman) dan sampah kering (botol, plastik, kertas, kaca, dll) Hanya butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman.

7. Polar Bear/Beruang kutub tidak bisa berenang... tapi karena global warming di Kutub Utara, mereka harus berenang 30 km untuk mencari es tempat berteduh. Tonton di DISCOVERY CHANNEL: PLANET BUMI, alangkah sedihnya menyaksikan perjuangan seekor beruang kutub yang akhirnya mati karena kelelahan berenang mencari daratan :(

Is that the world you will leave for your children? Itukah dunia yang hendah kita warihkan pada anak cucu kita? Tentu tidak! Bersama kita bisa menghambat laju Pemanasan Global, yakni dengan menerapkan prinsip 3 R: Reduce, Reuse, Recycle di lingkar pengaruh kita masing-masing dalam hidup sehari-hari. INDONESIA JAYA !



Sufi Mehfil Bende Mataram di Karaton Surakarta

Dimuat di Website http://www.nationalintegrationmovement.org

SUFI MEHFIL BENDE MATARAM: SEMBAH SUJUD BAGI IBU PERTIWI BERSAMA BAPAK ANAND KRISHNA di Magangan Karaton Surakarta, Minggu 1 April 2007 Jam 19.00 - 21.30 WIB

Tamu kehormatan: Ibu Liny Tjeris, Ibu Maya Safira Muchtar, Putra-putri Almarhum Sinuwun Paku Buwono XII: Gusti Kanjeng Ratu Galuh Kencana, Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kencono, Drs. KG Kusumo Yudho, Gusti Kanjeng Ratu Retno Dumilah SH, Dra Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari (Gusti Mung) serta para Sesepuh Karaton Surakarta seperti Prabu Winoso, Noto Sewoyo, Edi Wirobumi, Haryo Kusumo, Wiyogo Saputro dll.

Peserta: 300 orang

Disiarkan langsung oleh RRI Surakarta dan diliput oleh Jogja TV

Paska tarian persembahan Whirling Meditation Dances, Role Play dan lagu-lagu riang bernafaskan spirit Bhinneka Tunggal Ika - Tan Hana Dharma Mangra. Acara bersejarah ini dilanjutkan dengan penganugerahan penghargaan "Aku Bangga Jadi Orang Indonesia" kepada Gusti Mung dan Wejangan dari Bapak Anand Krishna.

Dalam sambutannya Ibu Maya Safira Muchtar selaku ketua National Integration Movement (NIM) mengungkapkan syukur karena bisa berada di Surakarta ini karena Bapak Anand Krishna pun lahir di sini. Suatu kebanggaan pula bagi Bangsa dan Rakyat Indonesia karena Yayasan Anand Ashram pada Desember 2006 lalu resmi berafiliasi dengan Badan Informasi Publik PBB.

Sebelumnya Menhan RI, Juwono Sudarsono pada 1 September 2005 di Jakarta mencanangkan Hari Bhakti "Bagimu Ibu Pertiwi" pada Simposium NIM pertama. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh dari berbagai kalangan. Sejak saat itu setiap tanggal 1 September kita peringati sebagai Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi.

Kini dalam rangka merayakan hari ulang tahun NIM yang kedua (11 April 2007), NIM menganugerahkan penghargaan "Aku Bangga Jadi Orang Indonesia". Suatu kebetulan yang indah karena Gusti Kanjeng Ratu Wandan Sari (Gusti Mung) merupakan tokoh pertama yang mendapat anugerah penghargaan ini berkat jasa-jasa beliau melestarikan seni budaya di Surakarta ini. Penghargaan ini dipersembahkan pula bagi seluruh Masyarakat Solo.

"Semoga keselamatan dilimpahkan bagi kita semua..." begitulah kata pembuka Gusti Mung dalam sambutan beliau. Putri Bungsu Almarhum Sinuwun PB XII ini memiliki visi untuk mewariskan budaya luhur Nusantara pada anak cucu kita. Beliau menyampaikan kata maaf dan penyesalan sedalam-dalamnya karena Sang Kakak yakni Sinuwun PB XIII tidak dapat hadir di Magangan malam ini karena tengah mengadakan pertemuan dengan Dipertuan Agung di Malaysia.

"Kraton Surakarta Hadiningrat ini merupakan kelanjutan Mataram Islam yang didirikan oleh Eyang Sultan Agung." Begitu papar beliau. Pada 17 Februari 1745 terjadi boyongan dari Kartasura ke Solo, setelah 3 hari di Solo, pada 20 Februari 1745 beliau mendeklarasikan Negara Surakarta Hadininrat. Kraton sejatinya ialah simbol spiritual, yakni proses perjalanan spiritual seseorang 'tuk menemukan jati diri, kesucian dalam diri. Caranya dengan mengendalikan hawa nafsu. Ajaran luhur ini tersimbolisasikan dalam struktur, arsitektur dan tata letak bangunan Karaton.

Misal, alun-alun yang berupa padang pasir yang amat luas. Tatkala siang begitu panas sedangkan pada malam hari terasa dingin. Begitulah kehidupan di dunia ini, ada panas ada dingin, ada baik ada buruk, ada gelap ada terang dst. Alun-alun juga merupakan tempat tapa pepe, yakni cara rakyat menyampaikan aspirasi pada Raja berkait kebijakan dan keadilan. Lantas di Bangsal Pangrawit, Raja duduk di moncong meriam. Maknanya setiap ucapan dan tindakah Raja harus terjaga, tidak boleh semena-mena. Jika keliru berarti harus berani bertanggung-jawab dan siap mati duluan.

Magangan (tempat berlangsungnya acara malam tersebut) secara lahiriah berarti tempat untuk magang abdi dalem, sedangkan secara batiniah berarti alam penantian sebelum menuju alam kesempuranaan, alam awang-uwung. Masih banyak uraian lainnya yang begitu menarik dan menyadarkan bahwa begitu kaya dan luhurnya budaya Spiritual Nusantara.

Bapak Anand Krishna menyemarakkan acara malam tersebut dengan wejangan yang berapi-api.

Sebelum memulai semuanya, dengan penuh kerendahan hati beliau mohon ijin kepada para Pangeran, Gusti Putri dan Sesepuh Karaton untuk bicara dan urun rembug. Sura dalam bahasa Jawa Kuno berarti Dewa sedangkan Karta berarti kerja. Surakarta berarti berprilaku seperti para Dewa. Sura juga bermakna Irama. Para pelaku teror kurang berirama. (Disambut dengan tepuk tangan oleh para Pangeran, Sesepuh dan hadirin yang hadir).

Sultan Agung amat berjasa pada kita semua. Selain memperkenalkan perhitungan kalender Jawa, beliau juga mempopulerkan istilah Mataram. Raja Sanjaya seribu tahun sebelumnya telah mempopulerkan istilah Mataram yang berarti Ibu Pertiwi. Kita boleh berada di manapun juga di belahan bumi ini tapi kita tidak bisa menghilangkan ke-Indonesiaan kita, kita semua adalah purtra-putri Ibu Pertiwi.

Kini pasir laut disedot (bukan cuma dikeruk). Tanpa bayaran sepeserpun. Untuk apa? untuk reklamasi dan membangun 20 rumah mewah di Singapura. Ironisnya para pemiliknya adalah orang Indonesia juga. Rotan kita dicuri. Raib secara gaib ibarat dibawa terbang oleh Gatot Kaca sehingga tak ada yang tahu dan bisa menangkap pelakunya. Pengrajin rotan kita kesulitan mendapat bahan baku rotan, order sih tinggi tapi bahan baku langka. Kita juga akan mendatangkan petani dari luar negri untuk mengajarkan cara bercocok tanam di negri agraris ini.

BBC memberitakan bahwa di luar negri produksi pertanian disubsidi Negara. Misal di Amsterdam, 1 sapi perah disubsidi 2,5 dolar USA setiap hari. Di sini buruh-buruh kita tak lebih dari 2,5 dolar USA gaji hariannya. Bahkan untuk melindungi harga susu agar tetap menguntungkan peternak, kelebihan produksi susu dibuang ke laut untuk makanan biota-biota laut. Lha...kita di sini: toge, kangkung, beras, biskuit semuanya impor dari luar.

Almarhum Sinuwun Paku Buwono XII pernah berkunjung ke Padepokan kami di One Earth Ciawi Bogor, beliua merasa begitu krasan di tempat itu. Bahkan turut menandatangani Prasasti yang menyatakan tekad anak bangsa untuk kembali kepada nilai-nilai budaya spiritual Nusantara.

Sir Thomas Stamford Raffles tahu benar hal ini. Kalau mau menguasi Nusantara harus lewat pendekatan budaya. Lantas Karaton dibuat-buat seolah feodal sehingga terpisah dengan rakyat jelata sehingga mudah dikuasai.

Bahkan kini ada pihak-pihak yang melarang orang menari, kita boleh beragama Islam tapi jangan beragama Arab dan mengimpor budaya asing. Saya ada dokumentasi di Perpustakaan Dewantara Tagore di Bogor sana yang memperlihatkan secara jelas cara orang-orang Arab menari. Mereka membawa pedang karena belum beradab. Sehingga bisa saling membunuh satu sama lain. Itulah sebabnya kenapa Kanjeng Nabi melarang tarian. Sekarang konteksnya beda, Dan kita, bangsa Indonesia sudah beradab dan berbudaya sehingga tak perlu ada larangan untuk menari. Ada prediksi yang menyatakan bahwa pada 2020 Indoneisa akan terpecah menjadi 5 negara. Kita semua harus mencegahnya.

Sejak 2000 tahun silam kita sudah punya sistem hukum yang berjalan baik. Di Arab belum ada jaksa, hakim dan penjara sehingga jika ada orang mencuri langsung dipotong tangannya.

Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa memang pusat Sriwijaya ada di sini. Sebuah Dinasti yang mampu berkuasa selama 400 tahun (800-1200) . Dalam sejarah umat manusia belum ada dinasti lain yang berkuasa selama itu. Lantas Singasari dan Majapahit berjaya selam 400 tahun. Sultan Agung yang memimpin kerajaan Mataram juga meneruskan kejayaaan tersebut. Saat itu budaya yang menyatukan tak ditinggalkan, walau ada agama yang berbeda-beda.

Walau kita sekolah bahasa dengan metode secanggih apapun jua tak akan membuat kita fasih berbahasa Arab. Sayangnya lagi, saat naik haji, para jemaah hanya dibawa ke Saudi Arabia saja yang dikuasai oleh aliran Wahabi. Satu sekte dalam Islam yang begitu keras.

Jika Wahabi dan Taliban berkuasa di Indonesia ini. Mereka hanya akan mampu bertahan selama 2, 5 tahun. Tapi biayanya begitu besar. Kita akan terpecah belah. Papua, Bali, Sulawesi, Jawa, Sumatra akan memisahkan diri. Padahal Jawa sudah tak memiliki Sumber Daya Alam lagi.

Fanatisme agama memang sengaja dimunculkan untuk menyulut pertikaian dan kericuhan. Bayangkan 200 juta orang rakyat Indonesia. Mereka tak butuh beras, mereka menjadi konsumen senjata. Konflik di Poso dan Maluku, kita semua tahu lah siap dalangnya. Kita semua harus bersatu, tak perlu menunggu Pemerintah yang sibuk mengurusi kekuasaan.

Di San Fransisco kini ada regulasi pembatasan penggunaan tas kresek karena itu berdampak pada pemanasan global (Global Warming). Jika suhu air laut naik 1,5 derajat celsius ribuan pulau di Indonesia akan tenggelam. Sedangkan kita sibuk mengurus Laptop. Bukan kembali ke laptop...tapi Lempar laptop! (berapi-api)

Bahkan lampu-lapu neon di Magangan inipun harus kita impor dari luar. Saat saya ke Shanghai/ Beijing beberapa tahun lalu, tak ada motor rongsokan di sana. Kenapa? Saya diberi tahu oleh warga setempat bahwa motor-motor rongsokan tersebut sudah di ekspor ke Indonesia. Mulai sekarang jangan beli motor itu. Swadesi kata Mahatma Gandhi, cinta pada negara diwujudkan dengan memakai produk dalam negeri.

Kini marak terjadi orang-orang kaya baru ditelpon oleh Bank-Bank Internasional, mereka para OKB tersebut ditawari kartu kredit. Kita diproyeksikan menjadi bangsa dan negara penghutang. Aset negara dijual. Tiap kata yang kita ucapkan lewat telpon/HP dalam seminggu bisa direkam dan didengar oleh orang-orang asing. Perbankan dan sarana Telekomunikasi semuanya dikuasai oleh orang luar.

Lantas apakah kita harus berontak? Tidak! Yang dibutuhkan adalah Kesadaran!

Masakan air yang berasal dari negri kita sendiri kok harus bayar ke orang Prancis. Mulai sekarang kalau belanja di Mall cek "made in", buatan mana? beli dan pakai yang buatan dalam negri. Jika ada 200-300 orang yang melakukan hal ini kita bisa bangkit. Kunjungi juga pasar-pasar tradisonal. Dengan cara itu Gandhi bisa mengusir kaum imperialis Inggris dari India.

Kini setiap tahun 200 juta dollar USA kita boroskan untuk membeli sayuran, buah-buahan dari Cina, yang keesokan harinya akan menjadi kotoran. Kita semua bertanggung jawab! (berapi-api) Jangan hanya mengadakan Pesta Rakyat di Prambanan dan Borobudur. Keluar juga, adakan Pesta Rakyat di Mall. Cukup memberi tahu pada pihak pengelola Mall dan Aparat Kemanaan. Catat memberi tahu saja!. Kita ngamen tanpa terima uang sepeserpun. Jika ditangkap dan dipenjara, nyanyi lagi di dalam Penjara! Kalian siap? (tanya Beliau...)

Siap! (jawab muda-mudi lintas agama The Torchbearars)

Tapi perlu diingat NIM adalah organisasi non partisan, aturannya jelas dan tegas, setiap pengurus NIM tak boleh menjadi anggota partai tertentu dan terjun ke dalam politik praktis. Mari kita melayani Ibu Pertiwi dan segenap anak bangsa. Perlu ada revitalisasi bangunan Karaton, baik yang diluar maupun yang di dalam. Indonesia Jaya!