Juli 29, 2011

Saling Apresiasi Kebhinekaan? Di Sini Kita Sudah Praksiskan!




131193145258630187

Walau sudah sejak sekolah SMA, kuliah, dan kini bekerja di Yogyakarta, saya belum pernah sekalipun berkunjung ke Candi Plaosan. Padahal jaraknya hanya 16 km dari pusat Gudeg City. Beruntung sore itu National Integration Movement (NIM) menggelar acara Orasi Budaya dan Doa Bersama: Menyambut Ramadhan dalam Kebhinekaan pada Kamis (28/7/2011). Sehingga saya dapat menyaksikan langsung karya agung leluhur tersebut.

Menurut kamus Wikipedia, Candi Plaosan merupakan kompleks percandian yang terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan. Jaraknya hanya 1,5 km ke arah timur-laut Candi Prambanan yang notabene bercorak Hindu. Kendati demikian, Candi Plaosan yang berarsitektur Buddhis dapat berdiri saling berdampingan dalam damai. Hal ini menunjukkan bahwa para leluhur kita begitu mengapresiasi kebhinekaan.

Sejarah mencatat kompleks percandian ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan. Masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai peninggalan Kerajaan Medang/Mataram Kuno. Candi Induk Selatan Plaosan Lor dipugar pada 1962 oleh Dinas Purbakala. Sementara itu, Candi Induk Selatan direnovasi pada 1990-an oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Acara orasi budaya dan doa bersama ini terselengggara berkat kerjasama Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA), National Integration Movement (NIM), Lingkar Pelangi Nusantara, Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai), Gerakan Moral Rekonsiliasi Pancasila, Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), AFSC (American Friends Service Committee), dan Paguyuban Tri Tunggal.

1311932920844570917
dr Wayan Sayoga (kedua dari kiri)

Ramadhan merupakan bulan suci umat Islam. Sebagai sarana kembali ke dalam diri. Sebuah momentum untuk melihat kembali perjalanan kita selama ini. Apakah sudah tepat atau belum? Begitulah kata sambutan dari dr. Wayan Sayoga, selaku Direktur Eksekutif NIM saat membuka acara. Pria asal Bali tersebut mengingatkan pula bahwa prinsip dasar Pancasila tetap dapat diterapkan hingga kini. Bahkan di mana saja, tak hanya di Indonesia.

Lebih lanjut dr. Sayoga mengingatkan bahwa fundamentalisme yang merebak belakangan ini tidak sesuai dengan cita-cita para founding fathers. Kebanggaan pada budaya Nusantara menjadi kata kunci. Pada masa Sriwijaya leluhur kita memiliki maskapai pelayaran sendiri untuk mengekspor rempah-rempah ke Madagaskar, bahkan semua itu dilakukan demi kesejahteraan rakyat. “Kita perlu meneguhkan persatuan dan kecintaan pada bangsa ini kembali, ” ujarnya.

1311932867475999530
Romo Agus Pr (paling kanan)

Seorang rohaniwan muda, Romo Agus Pr dari perwakilan umat Kristiani menyambut baik peristiwa budaya semacam ini. Dalam orasinya, Pastor Paroki Bintaran dan Pringgolayan tersebut mengajak seluruh peserta saling meneguhkan kebhinekaan di antara sesama anak bangsa.

“Perbedaan sebagai suatu kenisacayaan menambah keindahan hidup ini. Sebagai wong Jawa, Ibarat simponi musik gamelan, masing-masing instrumen saling bersinergi menyajikan satu harmoni,” tandasnya.

Lebih lanjut, menurut Dosen Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma ini, memang dalam tataran ritual, setiap umat beragama menjalankan ibadah sesuai ajarannya masing-masing. Kendati demikian, ada ajaran universal yang menyatukan kita semua, seperti misalnya cinta kasih. Entah itu terhadap Tuhan maupun sesama. Apapun agama, suku, bahasa, dan latar belakang kita memiliki misi yang sama, yakni kebersamaan dan kerukunan.

Ia menganalogikannya ibarat ruji sepeda, semakin dekat dengan As atau Pusat, semakin kita dekat dengan sesama yang lainnya. Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk menyucikan diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sehingga kita dapat melayani sesama, hidup rukun dan damai dalam keberagaman.

1311933597228224792
Kyai Jadul Maulana

Kyai Jadul Maulana dari perwakilan umat Islam berpendapat senada, “Setiap manusia sedang mengejar kesempurnaannya sebagai manusia”. Menurut pengasuh Pondok Pesanteren Kali Opak, Bantul ini lakon perwayangan merupakan simbolisasi proses tersebut.

Ia sedikit terkejut karena tema acara ini sama dengan tema peringatan 500 tahun Sunan Kalijogo. Yakni meneguhkan jati diri bangsa dan kebhinekaan. Saat ini digelar selama 11 malam di Alun-alun Utara Yogyakarta oleh Nahdatul Ulama (NU).

Mereka menggunakan wahana wayang golek untuk menyajikan tontonan yang mengandung tuntunan. Pada malam penutupan, Sabtu (30/7/2011) akan dihadiri oleh Ngarso Dalem HB X dan Prof. KH Said Agil Siraq, MA. Beliau mengundang semua peserta yang hadir sore itu untuk berpartisipasi.

Kyai mengungkapkan bahwa dalam kitab Mutiara (nasehat-nasehat), bulan Ramadhan dimaknai sebagai bulan penuh kemuliaan, pintu rahmat dan ampunan di buka selebar-lebarnya.

Secara lebih mendalam, pendiri Yayasan LKiS ini melihat perbedaaan agama sebagai sesuatu yang relatif. Ia menceritakan kisah seorang Yahudi yang tinggal di lingkungan umat Muslim. Ada orang Islam yang berpuasa, tetapi saat berbuka ia tak mempunyai makanan. Lantas, orang Yahudi tersebut menyuguhkan hidangan untuk berbuka. Padahal ia sendiri tidak berpuasa. Keesokan harinya, orang Yahudi itu wafat dan ada Kyai yang bermimpi bahwa orang Yahudi tersebut sudah ke dalam surga.

Intinya, para santri kini cenderung diajar secara dogmatis. Sehingga mereka menutup mata terhadap kebenaran lain. Selain itu, Fiqh juga menjadi ekslusif. “Padahal sejatinya pengelolaan keimanan dan metode lainnya musti diabdikan untuk ketulusan hubungan dengan Tuhan dan sesama,” imbuhnya

Kyai Jadul memaparkan pula bahwa sejatinya ibadah pusa merupakan ajaran luhur para Nabi. Untuk meruhanikan diri. Pada bulan Ramadhan kita mengambil jarak dari materi. Tujuannya agar kesadaran kita total beriman pada-Nya.

Acara ini, menurutnya, ibarat Telaga Al Kautsar. Sarana untuk menyadari bahwa Hyang Satu melahirkan keberagaman dan keberagaman tersebut pada akhirnya juga menuju kembali pada Hyang Satu. Bila kita meminum setetes air dari sini maka kita tidak akan merasa haus lagi. Hidup menjadi tentram, damai, dan tidak lagi mempersoalkan perbedaan duniawi.

1311933763447107549

Bhiku Sasana Bodhitera dari Vihara Gunung Kidul

“Salam damai, senang sekali bisa hadir di sini,”" sapa Bhiku mengawali orasi budayanya. Ia mengaku suka membaca buku-buku Anand Krishna, sering melihatnya di televisi, tapi baru sekarang dapat bertemu langsung. “Sungguh membahagiakan sekali. Suasana ini memberi pengharapan pada bangsa yang besar, plural, dan majemuk,” ujarnya.

Ia tetap optimis, aalaupun peserta yang hadir tidak banyak tetapi mewakili seluruh komponen bangsa. Kita bisa membawa pesan ini ke komunitas kita masing-masing.

Bhiku juga berpendapat bahwa para bapa bagsa kita sangat visioner. Mereka bukan sekedar pujangga, negeri kita sungguh gemah ripah loh jinawi, bahkan ibarat surga di bumi. Tanahnya subur, aneka bunga, buah-buahan, rerumputan tumbuh di sini. Emas dan permata terkandung di dalam bumi Pertiwi.

Tapi ada beberapa anak nakal yang mengadu domba dan hendak menikmati sendiri anugerah tersebut. Khususnya pada beberapa dekade terakhir. Kita berebutan menjadi pejabat, padahal perlu ada juga yang menjadi anggota masyarakat kan?

Bhiku mengajak seluruh peserta yang hadir bertanya pada diri sendiri, “Jangan hanya bertanya pada rumput yang bergoyang, karena jawabannya juga hanya goyangan,” ujarnya dengan penuh canda. Mari bertanya pada diri masing-masing, “Persembahan apa yang telah kita berikan pada Ibu Pertiwi sebagai seorang anak bangsa?”

1311933836992877461

Selanjutnya dari perwakilan umat Hindu. I Wayan Sumerta, selaku Ketua PHDI Yogyakarta menyampaikan dalam orasinya bahwa dalam Hindu ada istilah Brata. Mirip seperti puasa, intinya ialah mawas diri untuk kembali pada Sang Pencipta.

13119338691453783626

Anand Krishna juga turut menyampaikan orasi budaya. Tokoh humanis lintas agama ini menyatakan tak perlu berkecil hati walau peserta yang hadir sedikit. Ibarat membuat yoghurt, kita hanya membutuhkan 1 sendok teh kecil untuk merubah 1 liter susu. Kalau terlalu banyak malah terlalu asam.

Sama halnya kalau jumlah kita terlalu besar kita akan ribut sendiri. Dulu hanya 2 orang yang berani memproklamirkan kemerdekaan Indonesia atas nama bangsa Indonesia (Soekarno Hatta). Kurawa juga banyak, Pandawa hanya 5. Saat dikejar-kejar suku Quraish, Nabi Muhammad SAW hijrah dengan belasan orang saja. Tapi Beliau dikenang dalam sejarah umat manusia.

Menurut Anand Krishna, bangsa Eropa tak akan mengenal peradaban tanpa adanya Islam. Saat itu sungguh sulit menuliskan bilangan Romawi. Angka O (Nol/Sunya) berasal dari peradaban Sindhu (dari Gandahar, sekarang Afganistan sampai Astaraley, kini Australia, termasuk kepulauan Nusantara), lantas dibawa ke Arab dan akhirnya sampai ke Eropa. Ironisnya, kita lupa pada itu semua.

Bahkan seorang pejabat, di sebuah acara formal yang dihadiri ratusan orang berkata bahwa kita tak memiliki budaya Nusantara. Padahal Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa Pancasila merupakan nilai-nilai luhur budaya yang berasal dari seluruh kepulauan di Indonesia.

Almarhum ayahanda Anand Krishna berasal dari Pakistan. Pada 1947 Baba Tolaram menjual semua harta miliknya, ia pindah dari Surakarta kembali ke tanah kelahirannya. Keluarganya di sana ada yang beragama Islam, Sikh, Hindu, dll.

Mereka tinggal di satu rumah besar, tapi masih sering bertengkar sendiri. Oleh sebab itulah, ia memilih Indonesia lagi. Ada 2 hal yang menyebabkanya: Bung Karno dan Pancasila. Padahal saat itu ia diberi kebebasan untuk memilih kewarganegaraan. Entah itu Inggris, Pakistan, atau India.

Oleh sebab itulah, saat menjadi duta bangsa dalam forum internasional Parliament of the World’s Religions di Melbourne, Australia pada 2009, Anand menawarkan Pancasila sebagai solusi bagi dunia. Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika - Tan Hana Dharma Mangrwa berarti tampaknya berbeda tapi esensinya sama (Appearing many but essentially one).

Dalam orasi budayanya sore itu, Anand juga bercerita tentang Sang Ibu. Bahasa ibunya bahasa Arab. Sehingga ia sedikit-banyak bisa membaca Al-Quran. Bahkan Gurunya, Sheikh Baba yang berprofesi sebagai penjual es balok di Lucknow, India begitu “fanatik” dengan sebuah hadis, berikut ini tafsiran bebasnya, “Bila engkau membiarkan tetanggamu tidur dengan perut kosong, maka engkau belum menjadi seorang Mukmin.”

Senada dengan apa yang disabdakan Yesus, “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Di dalam kitab suci Al-Quran juga disampaikan bahwa siapapun yang beramal saleh dan bertakwa maka tak ada kekhawatiran dalam dirinya. Seperti wejangan Sang Buddha, “”Batu-batupun pada akhirnya akan menjadi Buddha.”"

Memang dalam hal akidah, teologi kita tak bisa bersatu. Tapi bukan perbedaan itu yang kita kedepankan, apalagi untuk memicu konflik. Kita musti mengumandangkan kesamaan nilai-nilai universal yang terkandung dalam setiap ajaran agama dan kepercayaan.

Acara di Candi Plaosan ini diakhiri dengan doa bersama. Masing-masing tokoh agama memimpin prosesi sakral tersebut. Ratusan peserta yang hadir berdiri dan memejamkan mata dengan penuh hikmat. Meski berdoa dengan cara berbeda, tapi sejatinya semua berdoa pada Ia Hyang Satu adanya. Saling apresiasi kebhinekaan? Di sini kita sudah praksiskan!

13119318841476560251

Fotografer:

Ni Wayan Suriastini

Agung Kurniawan

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2081613133187.115088.1630856758&type=1

Suryaning Dewanti Sudharmadi

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150262336382662.338021.687112661

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/29/saling-apresiasi-kebhinekaan-di-sini-kita-sudah-praksiskan/

Praktik Meditasi dalam Keseharian

Dimuat di RIMANEWS.COM

http://www.rimanews.com/read/20110729/36222/praktik-meditasi-dalam-keseharian

Jumat, 29 Jul 2011 04:09 WIB

RIMANEWS - Yayasan Anand Ashram (YAA) kembali mengadakan bhakti sosial. Acara bulanan rutin ini merupakan sarana menerapkan meditasi dalam keseharian. Pada Minggu (24/7/2011) yayasan lintas agama yang berafiliasi dengan PBB tersebut berkunjung ke Panti Sosial Perlindungan Bhakti Kasih di Jl. Dakota II RT.010/09 Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Banner besar terpampang di salah satu pojok Panti. Isinya menyatakan bahwa kita sebagai manusia sejatinya sama. Sehingga harus saling menyelamatkan, melindungi, dan memulihkan. Sebab apa yang terjadi pada dirimu, bisa juga terjadi pada diriku.

Panti yang dikelola Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta ini menampung para perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan rumah tangga ataupun perceraian. Di Panti Sosial Perlindungan Bhakti Kasih, Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA) memberikan terapi mengatasi kecemasan. Sehingga para penghuni panti dapat mengatasi masalah psikologis mereka. Ketua Panitia, Rudi Hartono menyampaikan kata sambutan dan mengenalkan ihwal YAA.

Selanjutnya, secara lebih rinci Maya Safira Muchtar menjelaskan tentang Program Mengatasi Trauma. Terapis di L'Ayurveda ini pernah mengalami trauma juga. Tapi ia bisa bebas dari hal tersebut berkat latihan meditasi dan bimbingan Anand Krishna.

Para peserta yang terdiri dari 30 orang ini begitu antusias mendengarkan. Mereka ingin segera mempraktikkan terapi untuk membuang kecemasan. Tapi sebelumnya, Dian Martin selaku Fasilitator mendemonstrasikan cara membuang kecemasan tersebut. Analoginya ibarat menuangkan air ke wadah yang lain. Sehingga kita menjadi bersih, lega, dan nyaman. Otomatis kita mampu bangkit untuk mengisi hidup dengan penuh warna.

Awalnya, semua diajak untuk menutup mata dan melihat segala macam kegelisahan di dalam diri. Setelah itu dikeluarkan dengan gerakan, tangisan, ataupun teriakan. Latihan sederhana ini membuat mereka merasa lega. Lantas, peserta diajak bernyanyi dan menari. Sitha Soerjo memimpin sesi heboh ini. Beban peserta yang tadi sudah sedikit terbuang harus diisi dengan sesuatu yang baru. Yakni keceriaan dan semangat.

Beban kehidupan mereka menjadi lebih ringan. Kenapa? karena pancaran oleh energi keceriaan yang berasal dari dalam diri mereka sendiri. Sebagai kenang-kenangan dan ucapan terimakasih Komunitas Pecinta Anand Ashram memberikan cinderamata dan membagikan makanan ke peserta. Acara diakhiri dengan makan bersama dan penyerahan obat-obatan kepada Panti Sosial Perlindungan Bhakti Kasih yang langsung diberikan oleh Anand Krishna.

Juli 27, 2011

Orasi Budaya dan Doa Bersama “Menyambut Ramadhan Dalam Kebhinnekaan”

13117504472002221149

Marhaban Ya Ramadhan, tidak terasa satu tahun telah berlalu, dan kini bulan Ramadhan kembali datang menyapa. Ramadhan kita maknai sebagai hikmah perdamaian dan berkah bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bagi umat Muslim semata. Kekerasan atas nama agama yang bereskalasi tinggi akhir-akhir ini, secara tidak langsung berimbas pada terancamnya kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan antar umat beragama dan kepercayaan di Indonesia. Masyarakat menjadi kehilangan rasa percaya diri dan kedamaian hati.

Bulan Ramadhan mengajak seluruh umat kembali melakukan refleksi ke dalam diri, mengingatkan kita bahwasanya kedamaian dapat kita wujudkan bersama. Ramadhan membawa hikmah persaudaraan dan kesahajaan yang memekarkan kembali semangat nilai-nilai kemanusiaan yang dalam kondisi saat ini, mulai terkikis.

Kami mengundang semua saja untuk hadir dalam acara:

Orasi Budaya dan Doa Bersama dengan tema ”Menyambut Ramadhan Dalam Kebhinnekaan” yang akan diselenggarakan pada

Hari/tanggal : Kamis, 28 Juli 2011, 16.00-17.00 WIB

Kawasan Kompleks Candi Plaosan

Jalan Raya Jogja-Solo KM.16 (Dukuh Plaosan, Desa Bugisan sebelah timur laut Prambanan)

Pembicara:
- Kyai Jadul
- Rm.Sapto Raharjo
- Anand Krishna

Doa Bersama yg dipimpin oleh Tokoh2 Agama.

Acara yang diselenggarakan oleh National Integration Movement (NIM) bekerja sama, Komunitas Pecinta Anand Ashram, LSIP (Lembaga Studi Islam & Politik), Aji Damai (Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai), AFSC (American Friends Service Committee), dan Paguyuban Tri Tunggal.

Semua ini untuk mengingatkan kembali bahwasanya bangsa Indonesia tidak pernah memiliki budaya anarkis. Justru sebaliknya, mewarisi nilai-nilai luhur universal yang terumuskan dalam Pancasila. Selain itu, para tokoh agama dari berbagai latar belakang agama akan menggelar doa bersama, untuk kedamaian bangsa ini.

Pancasila sebagai jati-diri bangsa Indonesia yang majemuk, dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika, mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan, yang sekaligus menjadi ajaran inti semua ajaran agama di dunia. Seluruh agama menganjurkan persatuan, dan saling mengarifi. Dalam momen kesukacitaan menyambut Ramadhan ini, kembali menoleh ke Jati Diri Bangsa, diharapkan kita menyadari dalam keberagaman, tanpa memandang suku, agama, ras ataupun bahasa, kita wujudkan kehidupan damai.

Damai Ramadhan adalah berkah bagi seluruh umat manusia.

Contact Person: Tunggul (081932581234) / Kikiq (0811258648)

Juli 23, 2011

Berguru pada Katak

Dimuat di http://www.rimanews.com/read/20110722/35583/berguru-pada-katak

Jumat, 22 Jul 2011 10:41 WIB

Selama ini falsafah Kejawen cenderung diajarkan secara lisan. Turun-temurun dari leluhur terdahulu kepada anak-cucu kita. Karena sebatas getog tular, acapkali terjadi salah persepsi. Jerih payah Jalu Suwangsa untuk mendokumentasikan wewarah para pinisepuh secara tertulis patut diapresiasi. Agar generasi muda kelak tidak menjadi seperti kacang lupa kulitnya.

Buku ini berisi wejangan seekor katak tua (sepuh) kepada para precil (katak muda). Setting-nya berupa kolam ikan berair jernih di halaman rumah Ki Jalu. Khotbah sang katak berlangsung selama 5 senja non stop. Setiap sore mereka berkumpul dan saling urun rembug ihwal apa/siapa manusia itu.

Menurut katak tua, struktur manusia terdiri atas 3 tataran. Pertama, tataran manusia wadhag yang bersifat fisikal. Kedua, tataran jejering menungsa, blegering menungsa, menungsa urip atau manusia hidup yang bersifat fisikal dan rohaniah. Ketiga, tataran menungsa sampurna atau manusia yang bersifat adikodrati (halaman 67).

Uniknya, komposisi kemanusiaan seseorang tersebut digambarkan ibarat secangkir kopi susu. Di dalam cangkir terdapat kopi, susu, gula, dan air mendidih. Kendati demikian, yang terlihat kini hanya minuman panas yang siap di-sruput untuk menghangatkan badan.

Bedanya, kalau minuman tersebut masih bisa diurai secara kimiawi, sampai ditemukan kembali unsur-unsur pembentuk awal. Sedangkan pada manusia, tak bisa diurai aneka unsur pembentuknya. Kenapa? karena manusia sangatlah istimewa. Dalam bahasa Ki Jalu, tan kena dinalar alias tak dapat dijelaskan dengan kata-kata secara tuntas.

Catur Ha

Wejangan lainnya ialah ihwal Catur Ha. Menurut sang katak, setiap manusia sejati menyandang 4 “ha”. Pertama, (ha)mersudi karahajaning diri berarti memelihara kesejahteraan diri sendiri. Sekurang-kurangnya memikirkan: angga (tubuh diri pribadi), kulawarga (keluarga, istri/suami, anak), wisma (rumah), turangga (kendaraan), sifat kandel (benda-benda pusaka), dan kukila atau kelangenan (hewan peliharaan). Sebagai manusia hidup memang musti memikirkan sandang, pangan, dan papan.

Kedua, (ha)linuberan sih ing sasama yang berarti dipenuhi rasa belas kasih kepada sesama. Menurut sang katak, manusia sejati tidak membedakan sesama. Terlepas dari perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Manusia sejati menghormati dan mengasihi sesama seperti menghormati dan mengasihi dirinya sendiri. Manusia sejati hidup mandiri dalam kebersamaan dengan segenap titah ciptaan lainnya.

Ketiga, (ha)memayu hayuning bawana yang artinya ikut memelihara kebaikan dunia. Alam dengan segala isinya diciptakan oleh Sang Khalik dengan baik adanya. Manusia berkewajiban untuk memeliharanya. Manusia sejati tidak akan berperilaku yang merusak dunia ini.

Keempat, (ha)ngabekti ing Pangeran yang berarti manusia sejati di-ewengkoni atau bergayut pada dan dikendalikan oleh roh yang ditiupkan sendiri oleh Penciptanya. Perilaku manusia sejati sehari-harinya kaya dene nyandhang catur “ha” atau mbudi daya keempat dimensi kehidupan di atas. Dengan kata lain manusia sejati akan bersikap sumarah mring Pangeran atau berserah diri pada Penciptanya.

Secara filsafati bacaan ini tergolong berbobot. Sungguh jenius cara Ki Jalu mengemasnya lewat dialog ringan di senja kala. Dengan memainkan lakon Katak, lengkap dengan para precil-nya. Kalau katak saja ingin memuliakan Penciptanya, masakan manusia enggan melakukan laku serupa. Begitulah sindirian halus Jalu Suwangsa yang hendak disampaikan lewat buku ini.

____________________________

Peresensi: T. Nugroho Angkasa

Judul: Katak pun Ingin Memuliakan Penciptanya

Penulis: Ki Jalu Suwangsa

Penerbit: Kepel Press

Cetakan: I, 2011

Tebal: viii +135 halaman

ISBN: 978-979-3075-92-1

Upaya Sistematis Membungkam Suara Anand Krishna Kian Terungkap


HMINEWS – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martha P Berliana Tobing SH hanya mendatangkan 2 saksi dalam persidangan Anand Krishna pada Rabu (20/7/2011) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Padahal sebelumnya ia mengusulkan agar persidangan berjalan efisien dan hemat karena sudah hampir setahun berlangsung. Setidaknya dalam setiap persidangan JPU bisa menghadirkan 3 saksi.

Saksi pertama, Demitrius mengaku bahwa bukan karena isu pelecehan ia keluar dari Anand Ashram tapi karena hal lain. “Saksi bersaksi di persidangan, ia kecewa dengan konstruksi rumah yang dibeli di Ciawi. Tapi saksi juga mengakui bahwa persoalan ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan pada 2005-2006 lalu. Adapun rumah yang dimaksud tak bersertifikat atas nama dirinya, melainkan atas nama mantan istrinya,” ujar kuasa hukum Anand, Astro Girsang.

Demitrius merupakan mantan pecandu narkoba jenis shabu-shabu, seperti diceritakan mantan istrinya dalam buku Neo Man Neo Vision. Ia mengaku pernah melihat terdakwa melakukan hubungan seksual di kegelapan malam. Padahal ia melihatnya dari jarak 30 meter lewat sebuah jendela yang tirainya sedikit terbuka.

“Bagaimana dia mampu melihat dari jarak sejauh itu, di kegelapan malam hari, dari sebuah jendela kecil berkorden? Itu pun terjadi sebelum dirinya keluar pada 2005 sehingga tidak ada kaitannya sama sekali dengan kasus yang dilaporkan. Kualitas kesaksian seperti ini sangat meragukan dan mudah direkayasa,” ujar kuasa hukum Anand lainnya, Andreas Nahod.

Pada kesaksian kali ini pun, keterangan yang diberikan sangat berbeda dengan kesaksian sebelumnya ini. Saksi justru bercerita ihwal kegiatan-kegiatan meditasi di Anand Ashram. Selai itu ia juga mengatakan bahwa ajaran Anand tidak boleh dibantah siapapun.

Bantahan

“Anand Krishna sendiri membantah seluruh keterangan saksi ini, apalagi saksi ini tidak mengenal pelapor ketika dia keluar dari Ashram,” tukas Astro Girsang.

Salah satu peserta meditasi dari Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA), H. Abdul Aziz, yang ditemui di PN Jaksel usai sidang juga membantah keterangan saksi. Menurutnya, dalam setiap pertemuan selalu bersifat dinamis dan terjadi dialog. Selain itu, ada juga sesi tanya-jawab.

“Pak Anand bukanlah guru yang pantang dibantah, melainkan penceramah yang selalu menginginkan terjadinya proses interaktif. Yakni antara dirinya dan para pendengar dan pembaca bukunya,” tutur produser film Soul Quest ini.

Dirinya juga membantah adanya bai’at untuk mengangkat murid di Anand Ashram, ia menganggap tuntutan hukum ini sebagai upaya membungkam suara vokal Anand yang selama ini gigih membela pluralisme dan kemanusiaan di Indonesia. Dirinya berharap keterangan saksi ini diabaikan oleh majelis hakim yang ketuai Albertina Ho ini.

Premeditated Crime

Sidang dilanjutkan setelah istirahat makan siang. Agendanya memeriksa ulang saksi yang kerap disebut namanya oleh saksi lain dan pelapor. Yakni seputar pertemuan-pertemuan sebelum mereka melapor ke polisi. Orang tersebut ialah Muhammad Djumat Abrory Djabbar.

Ternyata saksi Abrory Djabbar ketahuan menggunakan 2 identitas. Hanya beda alamat (Jl. Yupiter IV/3 Villa Cinere Mas dan Jl. Raya PLN No. 41 Gandul Cinere) dan beda tanggal lahir (1/1/65 dan 5/2/76). Fakta ini dengan mudah dapat ditemukan dalam berkas laporan (BAP) kepolisian. Sehingga kemungkinan besar ia mempunyai 2 KTP. Penggandaan identitas tersebut sempat ditegur keras oleh Hakim Ketua Albertina Ho.

“Sebagai seorang ahli hukum, anda tahu konsekuensi dari hal ini, tanya Hakim kepada saksi,” cerita salah satu kuasa hukum dari kantor hukum Darwin Aritonang, Aziz.

Saksi juga mengakui bahwa pertemuan-pertemuan sebelum pelaporan ke polisi kerap dilakukan atas inisiatif istrinya Dian Maya Sari dan dikoordinir Shinta Kencana Kheng, terutama di rumahnya di Cinere. Shinta Kencana Kheng adalah saksi yang diduga mempunyai affair dengan hakim ketua lama Hari Sasangka yang kini dipindah ke Pengadilan Tinggi di Ambon.

Abrory Djabbar juga mengaku pernah menyaksikan istrinya dilecehkan terdakwa pada 2001. Tetapi, ketika ditanya hakim ketua kenapa tidak melapor ketika memutuskan keluar di 2005, Abrory menjawab bahwa tidak cukup bukti.

Jawaban saksi membuat Hakim Ketua Albertina Ho geram dan menegaskan bahwa sebagai orang yang mengerti hukum, semesti tahu bahwa yang menentukan apakah sebuah kasus cukup bukti adalah polisi, bukan kuasa hukum.

Teguran ini memperkuat dugaan Abrory Djabbar menunggu momentum yang tepat dan sudah merencanakan pelaporan ini sejak lama. “Dugaannya, telah terjadi apa yang disebut Premeditated Crime,” tandas Kuasa Hukum Andreas Nahod.

Dugaan ini diperkuat keterangan kuasa hukum Darwin Aritonang bahwa dirinya pernah diberi syarat oleh saksi Abrory Djabbar di salah satu TV swasta untuk menyelesaikan kasus ini, Anand harus menyerahkan Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) dan keluar dari lembaga yang didirikannya tersebut. (Reporter: Su Rahman, Editor: T. Nugroho Angkasa)