Oktober 16, 2012

Seberapa Amankah Anda?


Dimuat di The Globe Journal, Senin/15 Oktober 2012
http://theglobejournal.com/opini/seberapa-amankah-anda/index.php

Seberapakah aman Anda? Jawabnya sederhana, hanya satu baris, tapi sekaligus tragis, pun begitu memilukan, yaitu: “Seaman mendiang Duta Besar Amerika Serikat di Libya.” Ya, pembunuhan yang menimpa John Christopher Stevens di Benghazi pada Selasa malam (11/09/2012) membuktikan bahwa dunia tempat tinggal kita tak seaman dulu.

Bepergian ke Eropa dan Amerika Serikat, terutama bagi warga berkebangsaan tertentu, tak semudah dulu. Visa tak lagi dikeluarkan secepat biasanya, dan pihak imigrasi di negara tujuan acapkali membuat anda merasa kedatangan anda tak diharapkan. Situasi ini berlaku pula bagi masyarakat Barat yang bepergian ke Timur. Mereka pun merasa tak seaman dulu.

Terorisme itu nyata, serangan teroris memang ada, dan bisa terjadi kapan saja. Tak peduli anda berada di udara atau di atas tanah, bepergian tak lagi semengasyikkan dulu.

Lantas, apa akar penyebab terorisme? Sangat mudah langsung meloncat ke kesimpulan umum, masalah “ekonomi”. Menjadikan “materi” sebagai biang keladi. Seolah jika anda tak punya cukup uang otomatis tumbuh tanduk dan menjadi teroris.

Ekonomi - kemiskinan dan kelaparan, lebih tepatnya ketidakmerataan distribusi kekayaan dapat, toh pada ujungnya maksimal menjadi pemicu. Tapi, itu bukan akar penyebab terorisme dan aktifitas teroris. Itu bisa memunculkan ke permukaan kekerasan dalam diri, itu bisa mengungkapkan kecenderungan teroris dalam diri, tapi tetap bukan akar penyebabnya.

Kendati demikian, kita tidak membenarkan adanya kemiskinan, kelaparan, dan ketidakmerataan distribusi kekayaan. Tidak. Itu semua berbahaya. Dunia yang beradab harus berupaya sungguh menghapuskan kondisi yang tak dimaui tersebut. Tapi, sekali lagi, dengan menghapuskan kondisi-kondisi tersebut saja, anda tak dapat mengakhiri terorisme dan aktifitas teroris.

Terorisme tumbuh dalam pikiran. Dan, kekerasan ialah sebuah “kondisi mental”. Oleh sebab itu, untuk mengakhiri terorisme dan kegiatan teroris, pikiran manusialah yang harus “pertama” diolah. Tanpa mengolah pikiran manusia, tanpa mengoreksinya terorisme akan terus menghantui.

Mereka yang meragukan tesis ini silakan memelajari kehidupan Osama bin Laden. Apakah ia miskin, berkekurangan, atau seorang pria yang tak punya apa-apa? Bagaimana dengan pelaku bom Bali? Mereka tak melilit kelaparan perutnya sehingga terpaksa melakukan kekerasan untuk mendapat sekeping uang recehan untuk makan.

Rekrutan “umum” Osama memang ada yang berasal dari golongan orang miskin. Tapi, para pentolannya, termasuk, para eksekutor rencana paling mematikannya, tak sebegitu miskin dan berada di bawah tekanan ekonomi sehingga terpaksa melakukan aksi bunuh diri.

Banyak dari para eksekutornya ternyata golongan kaya dan terdidik. Mereka tak “menjadi” teroris untuk uang atau perolehan materi semata. Ya, mereka memang “menggunakan” uang - materi - untuk memfasilitasi misi mereka. Uang dibutuhkan untuk merencanakan dan mengeksekusi misi, tapi, sekali lagi, mereka tak melakukannya melulu untuk uang.

Mereka digerakkan oleh ideologi yang mereka percayai. Saya mendengar dari pejabat tinggi, ketika ia menemui pelaku bom Bali, salah satu dari mereka meludahi wajahnya dan memanggilnya kafir. Apakah akar penyebab, sumber dari keyakinan yang sedemikian membatu tersebut?

Otak manusia bisa diibaratkan sebuah komputer, dengan pikiran sebagai sistem operasinya. Beberapa programnya sudah bawaan, tertanam di DNA, dan beberapa lainnya ditambahkan oleh keluarga, masyarakat, sistem pendidikan, dan tentu saja pengalaman dan eksperimen dalam kehidupan.

Sekarang, sistem dasar operasinya “hampir” selalu ramah untuk para penggunanya. “Hampir” selalu ramah dengan kehidupan. Saya mengatakan “hampir”, karena kekerasan ialah salah satu kecenderungan dasar. Hampir selalu ada, kurang di satu kelompok, lebih di kelompok yang lainnya.

Beberapa anak bisa jadi menunjukkan kegelisahannya dari masa awal kanak-kanak. Ada anak yang “suka” merusak mainannnya. Kita tak akan masuk ke “kenapa” nya - kenapa beberapa anak tak begitu kasar dibanding lainnya - karena itu akan membawa kita ke ranah metafisika, sosial dan parapsikologi, yang melangkahi ruang dari pendapat ini.

Tapi, faktanya ialah, dan saya mengatakan ini dari pengamatan pribadi dan penemuan selama bertahun-tahun, anak-anak yang menunjukkan kecenderungan kekerasan dari masa kecilnya “lebih mudah” diprogram menjadi seorang fanatik, ektrimis, radikal, dan akhirnya teroris. Dengan kata lain, ini tergantung pada kemampuan sistem pemrogramannya, bahkan anak yang lugu dan sangat lembut tutur katanya dapat pula diprogram menjadi orang dewasa yang keras.

“Program” Penting

Dalam konteks ini, sistem pendidikan menjadi penting. Jika seorang anak “dididik” untuk mempercayai kemurnian kepercayaannya “saja”, dan kekafiran pihak lainnya. Sehingga dibenarkan membela orang yang hanya sealiran denganmu, bahkan jika ia salah sekalipun. Bukan justru membela orang yang benar yang memiliki keyakinan berbeda.

Alhasil, orang dewasa semacam apa yang bisa kita harapkan? Barangkali, ini menjelaskan pembatalan putusan bebas aktifis lintas agama Anand Krishna oleh tiga Hakim Mahkamah Agung, bernama Zaharuddin Utama, Achmad Yamanie, dan Sofyan Sitompul cacat hukum dan tidak konstitusional; menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, dan melanggar HAM.

Itu bisa jadi karena mereka mendapat sistem pendidikan yang keliru, sehingga masa dewasa mereka saat harusnya menegakkan keadilan, mereka malah tak bisa melampaui conditioning masa kecil yang salah dan tak tepat tersebut. Juga karena kondisi semacam itu, mereka bersikukuh untuk membuktikan kesalahan putusan yang dibuat oleh hakim paling jujur di negeri ini sekaliber Albertina Ho?

Barangkali, karena alasan yang sama pula pengacara pelapor Agung Mattauch menyatakan kepada publik dan secara bangga pula mengakui bahwa tuntutan pelecehan seksual (yang tak pernah terbukti, sebaliknya, justru pelapor yang terbukti berbohong di persidangan hukum, “hanyalah pintu masuk ke masalah yang lebih serius. Ini (akan menjadi) penyesatan agama.”

Ini jelas menunjukkan bahwa kebebasan beragama sedang diserang! Anand Krishna selama ini memang lantang bersuara lewat tulisan demi memangkas tumbuhnya ilalang radikalisme di Indonesia.
Tentu saja kaum radikal, kroni mereka, dan beberapa anasir dalam tubuh pemerintahan atau partai politik, yang sering mencari perlindungan demi agenda tertentu, tak menyukai aktifitas inklusifnya.

Sekarang, tatkala kita berbicara tentang kebebasan beragama di wilayah teritori seperti Indonesia, kita sesungguhnya memperjuangkan nilai universal demokrasi, pluralisme, dll yang notabene membuat kaum radikal alergi.

Barangkali, komunitas internasional sudah merasakan hal itu, dan ini menjelaskan kejatuhan nilai saham perusahaan Indonesia dan penurunan riil angka investasi.

Dengan adanya anasir radikal yang menyusup ke kantor pemerintahan, termasuk Mahkamah Agung (MA), lumrah kalau para investor harus berpikir dua kali sebelum menginvestasikan dana mereka di sini.

Pertanyaan 1 juta dolarnya ialah bagaimana masa depan Indonesia, baik dalam jangka waktu dekat maupun panjang? Apakah kita sedang menyaksikan 10 negara Pakistan sedang dalam proses menjadi di negeri ini? Wahai Tuhan lindungilah kami!

1350448342808445181

Tidak ada komentar: