September 18, 2013

Pawai Budaya Hidup dalam Kebersamaan sebagai Media Edukasi dan Pendidikan Karakter

Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Sabtu/14 September 2013
http://mjeducation.co/pawai-budaya-hidup-dalam-kebersamaan-sebagai-media-edukasi-dan-pendidikan-karakter/


Minggu siang (1/9/2013) cuaca kota Yogyakarta cerah. Kendati matahari bersinar terik tapi tak menyurutkan semangat ribuan peserta pawai budaya Hidup dalam Kebersamaan untuk memperingati hari Bhakti Ibu Pertiwi ke-9. Acara tersebut diadakan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB).

Para peserta terus berdatangan ke lokasi acara. Ada yang menumpang mobil pick up, bis, andong, dan bahkan becak. Personil Paksi Katon (Paguyuban Seksi Keamanan Keraton) menunjukkan lokasi untuk berganti pakaian bagi rombongan peserta yang datang dari Solo. Mereka boleh menggunakan kamar mandi di sisi timur Pagelaran Keraton.

Menurut salah seorang personil FKPM Paksi Katon, sejak pukul 14.00 WIB 50-an lebih anggotanya telah stand by (bersiap) di titik-titik sepanjang rute pawai. Mereka mengatur lalu-lintas bersama pihak kepolisian, antara lain di perempatan Kantor Pos Besar Malioboro, perempatan Gondomanan, jembatan Sayidan, bekas bioskop Permata hingga di garis akhir di Lapangan Sewandanan Kadipaten Paku Alaman Yogyakarta.

Tepat pukul 14.10 WIB MC (master of ceremony) membuka acara. Aiu Hariyadi dari Bandung dan Fera Yudiastuti dari Bali mengajak seluruh peserta dan penonton pawai merapat ke panggung. Mereka juga mengajak para fotografer untuk turut menyumbangkan hasil bidikan kameranya. Seluruh foto yang terkumpul akan diterbitkan dalam bentuk buku. Aksi non profit tersebut sebagai wujud semangat kesukarelawanan, sumbangan nyata untuk Yogyakarta. Inilah yang membuat kota gudeg tetap istimewa.

“Marilah catatkan nama kita dalam sejarah Indonesia dan dunia. Inilah pawai budaya Hidup dalam Kebersamaan yang dilaksanakan dengan penuh cinta,” ujar MC dengan suara menggema.  MC juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dan semua pihak yang telah mendukung terwujudnya acara ini, antara lain kepada One Earth Integral Education Foundation, National Integration Movement, IWAG Peace, FKJ, Radio Sonora, Koran Merapi, Radar Jogja, TVRI Jogja, BKKBN, Harjo, dan lainnya.

Lalu panitia meminta para peserta berbaris sesuai nomor urut karena pawai akan segera dimulai. Sembari menata barisan lagu-lagu untuk membangkitkan semangat kembali dinyanyikan dengan iringan gitar, kendang, dan tamborin. 

“Inilah luar biasanya Indonesia, semua bisa berkumpul di Alun-alun Lor. Kebersamaan tak hanya dibicarakan tapi dibuktikan,” ujar pasangan MC yang mengenakan blangkon pakaian beskap (pria) dan kebaya Jawa (wanita) tersebut. “Senyuman ribuan peserta pawai lebih cerah ketimbang terik mentari,“ imbuh salah satu MC dan sontak disambut gemuruh tepuk tangan seluruh hadirin.

Tibalah saatnya kata sambutan dari dr. Wayan Sayoga, selaku Ketua Yayasan Anand Ashram. Pria asal Bali tersebut menyampaikan terima kasih kepada semua tamu undangan, peserta, dan hadirin yang telah berkenan hadir. “Ini hari yang sangat bersejarah, sebab 9 tahun lalu, Menhan (Menteri Pertahanan) Juwono Sudarsono menetapkan 1 September sebagai hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Tujuannya untuk mengingatkan kita semua pada semangat kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong,” ujarnya.

“Panas terik tak akan mematahkan semangat kita untuk terus mencintai tanah air. Mari kita terus menyebarkan pesan-pesan damai. Sebab walau berbeda kita semua satu bangsa, Indonesia. Indonesia Jaya!” imbuhnya lagi  sembari mengepalkan tangan kanannya.

Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY mengirim perwakilannya untuk memberikan kata sambutan sebelum peserta pawai mulai bergerak. Beliau meminta maaf tak bisa hadir secara langsung karena  sedang berada di Cina menjalankan tugas kerja. Begitulah prolog Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY, Ibu Kuskasriati.

Intinya dalam kata sambutan yang dibacakan Ibu Kuskasriati, Pemerintah DIY menyambut baik perayaan hari Bhakti Ibu Pertiwi yang bertema Kasih Bunda Pertiwi Tiada Henti ini. “Semoga berjalan lancar dan sukses. 1 September juga merupakan hari Bhakti kepada Mother Earth. Marilah kita memperbarui komitmen One Earth, One Sky One Humankind. Walau berbeda tradisi budaya tapi tetap mau saling mengisi.

Ajaran universal seperti peace, love, harmony merupakan warisan leluhur dan para tokoh besar dunia. Sebab kita semua hidup di atas satu bumi, di bawah satu langit, dan satu umat manusia. Semoga pawai hidup dalam kebersamaan ini menjadi media edukasi dan pendidikan karakter. Dari Yogyakarta mari kira tebarkan kebersamaan dalam cinta dan damai. Dirgahayu hari Bhakti Ibu Pertiwi, Indonesia Jaya!“ pungkas Ngarso Dalem dalam sambutan tertulisnya.

Selanjutnya dr. Wayan Sayoga dan Ibu Kuskasriati, mengangkat bendera start tanda pemberangkatan peserta pawai budaya. Dari puluhan kelompok peserta pawai tersebut nantinya akan dipilih 3 juara. Penilaiannya berdasarkan kreativitas, kekompakan, kesesuaian dengan isi pesan, dan keindahan.

Para peserta tampak menampilkan totalitasnya. SMP Immaculata Yogyakarta membentangkan spanduk bertuliskan kami muda, beda, dan berbudaya. Selanjutnya ada SD Sang Timur Yogyakarta. Anak-anak SD tersebut memakai konsep 3R (reduced, reused, recycled). Pakaian yang dikenakan terbuat dari barang-barang bekas seperti koran, botol air mineral, dan galon untuk alat tabuhan musik.

Lalu berturut-turut ada rombongan dari SMK Marsudi Luhur Yogyakarta, Survey Metter, TIM SAR, AAU, Resimen Mahasiswa Mahakarta, SMKN 1 Depok, SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta, PAUD Kentungan, SMPN 1 Bantul, Keluarga Taman Ceria, Yayasan Pareanom, Pura Jagatnatha Banguntopo Banguntapan Bantul, Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) Yogyakarta.

Tak ketinggalan para teller CIMB Niaga juga turut berpartisipasi. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan Global Harmoni. Lalu disusul oleh Unit Penerangan Keluarga Berencana, BKKBN, Mahasiswa MSD, Komunitas Pulsar dan Vespa, dan masih banyak lagi. Tepat pukul 15.30 WIB seluruh peserta pawai sudah meninggalkan Alun-alun Lor menuju Lapangan Sewandanan Kadipaten Paku Alaman Yogyakarta.

Sepanjang perjalanan, warga masyarakat antusias menyaksikan iring-iringan peserta pawai. Rutenya dari Alun-alun Utara menuju ke perempatan Kantor Pos Besar Malioboro, lalu berbelok ke timur, melintasi Jalan Panembahan Senopati. Setelah menyeberangi perempatan Gondomanan melewati jembatan Sayidan. Di sana tim juri sudah menanti dan menilai rombongan peserta satu per satu. Selanjutnya menuju bekas gedung bioskop Permata dan berakhir di Lapangan Sewandanan Kadipaten Paku Alaman. Jarak tembuknya sekitar 2 km. Rombongan pertama sampai di sana pukul 15.30 WIB.

Budaya Adiluhung

Sembari menunggu peserta lainnya, mereka bisa beristirahat dan berteduh di bawah pepohonon di lapangan Paku Alaman. Beberapa peserta berbagi pengalamannya, misal Laura, perwakilan dari SMKN 1 Depok. Menurutnya ada 30 peserta putri yang ikut dalam pawai hari ini. Perwakilan sekolah kejuruan yang memiliki tiga jurusan itu mengatakan bahwa persiapan mereka selama dua minggu. “Asyik sekali acaranya,” ujarnya.

Lantas Geovani Boscha dari SMK Marsudi Luhur I juga turut berbagi cerita. Siswa kelas XII jurusan Akuntansi tersebut mengatakan ada 24 orang yang mewakili sekolah ikut dalam pawai budaya ini. Ia sendiri mengaku baru pertama kali menjadi peserta walau sudah lama tinggal di Yogyakarta. “Tadi kami menyanyi lagu Suwe Ora Jamu sepanjang perjalanan. Latihannya seminggu. Senang rasanya bisa merasakan kesatuan Indonesia,” ujarnya.

Acara ini tak hanya diikuti para siswa sekolah, ada juga para guru yang terlibat aktif. Misalnya dari SMP Immaculata, Yogyakarta. Mereka mendampingi 50 anak dari kelas 7, 8, dan 9, “Kami tadi ada yang naik sepeda, jalan kaki sambil menari, dan mengendarai becak hias seperti yang biasa dipakai di Alun-alun Kidul.”

Ternyata persiapan mereka seminggu di sela-sela aktivitas belajar di sekolah. Menurut Denta, salah seorang penari, “Kami tadi menari Tari Beber Jarik Batik”. Ceritanya tentang bagaimana proses membuat jarik batik dari mulai menggambar pola, nyanting, mewarnai, dan beber (memamerkan) jarik batik. Bu Tiar menambahkan bahwa tari itu yang dipilih agar anak-anak generasi penerus bangsa tahu budaya adiluhung kita yang bernama batik. “Biar ingat terus,” pungkasnya.

Peserta paling jauh dari Solo, yakni Kelompok Sadar Wisata Surakarta (Pokdarwis). “Ini bukan kelompok modar yo wis lho,” canda Pak Budoyo. Mereka terdiri atas 30 prajurit dengan kostum lengkap. Warnanya merah menyala, mengenakan topi hitam, celana putih, sepatu kulit, dan memegang tombak panjang.

Menurut Pak Joko selaku komandan Tepas (Tentara Pariwisata) sepanjang perjalanan tadi kami berbaris rapi. Salah satu atraksi yang ditampilkan ialah penghormatan ala tentara Jawa. “Aba-abanya bukan siapppp….grak! Tapi Prasetya Eka Prapti….Tandyo!” ujarnya sambil memperagakan.

“Tadi senang sekali, karena banyak masyarakat yang menonton. Acara ini bisa memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa,” imbuhnya.

Dari kawula muda, ada Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Sebuah ormas yang bergerak di bidang ilmiah, sosial, dan budaya. Anggota Gafatar terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa universitas, dan masyarakat umum. Menurut Arif dan Gunawan selaku Sekretaris Sanggar Seni Cheting Teles yang menaungi Gafatar, mereka sengaja membuat simbol-simbol khusus.

“Intinya gabungan antara budaya Madura, Padang, dan suku bangsa lainnya. Indonesia kan terdiri dari banyak suku, beragam budaya tapi semua disatukan oleh Pancasila. Selain itu, ada juga teman-teman yang berpakaian peri dan kupu-kupu dari koran bekas. Itu sebagai simbol keindahan. Nusantara juga ‘kan indah,” ujar Gunawan.

“Analoginya ibarat sebuah piring, kalau satu namanya piring. Tapi kalau pecah namanya beling. Oleh sebab itu, kita harus menyatu kembali mengembalikan kejayaan bangsa ini. Tema acara pawai budaya ini sama dengan visi-misi Gafatar, yakni memperkuat solidaritas, kebersamaan, persatuan, dan kesatuan,” imbuh Arif.

Saat ditanya tentang kesan mereka, Arif berbagi pengalamannya, “Suka sekali, karena ini pertama kali kami menampilkan hiasan model itu. Rutenya juga tak terlalu jauh, masyarakat pun antusias menonton di sepanjang jalan.”

Selanjutnya, Pak Gatot dari SD Tarakanita Bumijo juga turut berbagi cerita. Guru kelas IV tersebut mendampingi 50 murid dari kelas 5 dan 6. Selain itu, masih ada 25 guru lain yang juga turut berpartispasi.

“Kami sengaja membawa permainan tradisional, bunyi dan namanya sama, yakni otok-otok! Karena sekarang anak-anak jarang yang memainkannya lagi. Selain itu, kostum kami juga dari bahan-bahan daur ulang. Untuk alat musik kami juga memanfaatkan blek seng kaleng kerupuk dan galon air mineral,” ujarnya.

Akhirnya tiba saat yang ditunggu-tunggu yakni pengumuman juara. “Sebenarnya seluruh peserta yang telah ikut dalam acara ini adalah juara,” ujar MC. Tepat pukul 16.35 WIB seluruh peserta pawai berkumpul di sekitar panggung di Lapangan Sewandanan Kadipaten Paku Alaman Yogyakarta. Dewan juri dari Komunitas Blogger Indonesia, seniman, dan perwakilan Yayasan Anand Ashram, Ibu Wayan Sukmawati menyampaikan hasil penilaian. Kriterianya adalah kreativitas, kekompakan, kesesuaian dengan tema, dan keindahan.

Juara III jatuh pada SD Tarakanita Bumijo, Juara II  Yayasan Pareanom, dan Juara pertama SMPN 1 Bantul. Bapak Joehanes Budiman dari Yayasan Anand Ashram menyerahkan piala kepada para juara. Lantas, sebagai penutup seluruh peserta menari ala Caesar bersama dalam keceriaan dan kebersamaan.

Dr. H. Djoko Pramono, M.M selaku Ketua Panitia Acara menandaskan bahwa pawai budaya ini sebagai alat untuk saling mengingatkan diri akan nilai-nilai universal inner peace, communal love, dan global harmony, yang mana ekspresi serupa juga telah ditanamkan dalam karya-karya luhur para pujangga nusantara dan mancanegara, seperti Anand Krishna, Dalai Lama, Al Gore, Paus Yohanes Paulus II, Rumi, Nelson Mandela, Mangkunegara IV, Ronggowarsito, Bung  Karno, Tolstoy, Tagore, Gandhi, Martin Luther King Jr, dan lain-lain.

Sumber Foto: http://www.soundshaman.net/free-anand-krishna.html
Sumber Foto: http://www.soundshaman.net/free-anand-krishna.html

Tidak ada komentar: