Desember 17, 2012

Menangkap Hikmah di Balik Musibah

13557300451520441526

Dimuat di Wasathon.com, Senin/17 Desember 2012

Judul: Setengah Pecah Setengah Utuh
Penulis: Parlindungan Marpaung
Penerbit: Esensi Erlangga Group
Cetakan: 1/Juni 2012
Tebal: xxii + 330 halaman
ISBN: 9786027596030
Harga: Rp69.000

Para pecinta sepakbola tentu familiar dengan Martunis.  Tatkala tsunami Desember 2004 melanda Aceh dan sekitarnya, ia menjadi sorotan media dari pelbagai penjuru dunia. Siswa kelas dua SMPN 8 Banda Aceh sedang bermain bola di lapangan dengan mengenakan kostum Portugal bernomor punggung 10. Syahdan, ombak pasang menyapu bersih semua orang dan bangunan di sana. Ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuannya turut terhempas ganas gelombang.

Martunis menggantungkan hidup pada sebilah papan. Sedangkan, ibu, saudara dan saudarinya tak ditemukan hingga kini. Selama 19 hari ia terombang-ambing di tengah samudera. Martunis menengadahkan mulut untuk meminum air hujan. Selain itu, ia memakan remah-remah mi instan yang terapung. Berkat kegigihan dan berkah-Nya, anak kelahiran 10 Oktober 1992 tersebut selamat. Ia mampu bertahan melawan terik sengatan mentari, dingin angin malam, dan badai yang acapkali menghampiri. Akhirnya, Martunis terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Teungku Syiah Kuala (halaman 102).

Ketika tim penyelamat menemukan bocah tersebut, ia masih mengenakan kostum tim Selecao bertuliskan nama Rui Costa. Kemudian, Federasi Sepak Bola Portugal mengundang Martunis ke negaranya pada Juni 2005. Sang ayah, Sarbini menemani putra tercinta. Mereka sempat menonton pertandingan sepakbola secara langsung. Pada saat jeda, Martunis diundang ke tengah lapangan dan disambut gemuruh tepuk tangan ribuan suporter.

Christiano Ronaldo, para pemain timnas Portugal, dan tim pelatih menyalaminya. Martunis mendapat kostum kesebelasan Selecao yang baru dan asli pula. Hampir seluruh media massa menjadikannya berita di halaman pertama. Martunis pun kebanjiran hadiah dan cinderamata untuk dibawa pulang ke tanah air. Lewat kisah nyata tersebut, Parlindungan Marpaung menandaskan bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah.

Setengah Pecah Setengah Utuh merupakan buku ketiga penulis. Ia seorang trainer bersertifikat dari John C. Maxwell. Menurutnya, judul tersebut terinspirasi oleh penggunaan telur dalam pembuatan kue. “Ia” terlebih dahulu dipecah dan dikocok bersama tepung sampai jadi adonan. Sistematikanya terdiri atas 58 subbab. Antara lain bertajuk, “10 menit Menuju Alam Baka,” “Derap Langkah Ulat Bulu,” “Menjual Sisir Kepada Biksu,” dan “Mobil Sport dalam Kitab Suci.”

Ada juga kisah romantis Kaisar Hirohito. Beliau kaisar ke-124 dalam sejarah kekaisaran Jepang. Pria kelahiran 29 April 1901 tersebut memegang tampuk kepemimpinan sejak 1921. Kemudian, pada 1924, sang Kaisar menikahi seorang dara manis bernama Nagako. Buah hati mereka 4 orang, semuanya perempuan. Padahal perlu ada penerus kekaisaran, sehingga kehadiran anak laki-laki sangat diharapkan.

Serangkaian upaya ditempuh agar sang Kaisar mau mengambil selir. Bahkan keluarga besar istana menyodorkan foto-foto wanita cantik untuk dipilih Kaisar. Sederetan acara pun digelar dengan menghadirkan langsung calon pengganti Permaisuri Nagako. Hebatnya,  kaisar Hirohito menolak semua tawaran tersebut. Ia tak sudi menikah lagi hanya untuk mendapatkan seorang anak lelaki.

Ternyata kesetiaan sang Kaisar berujung indah. Pasca 10 tahun menikah, lahirlah seorang putra, namanya Akihito. Beliau menjadi kaisar Jepang hingga kini. Pada bagian refleksi, penulis mengutip Ken Blanchard yang memaparkan perbedaan antara ketertarikan dan komitmen. Ketertarikan adalah kesetiaan kita pada seseorang atau sesuatu dalam saat menyenangkan saja. Sedangkan, komitmen senantiasa setia dalam suka dan duka. Teguh memegang janji yang telah diikrarkan (halaman 127).

Ironisnya, saat ini banyak pejabat yang mengkhianati amanah penderitaan rakyat. Mereka melanggar sumpah suci dan justru memperkaya diri lewat korupsi. Menurut penulis, orang serakah ibarat minum air laut. Semakin banyak minum semakin haus yang dirasa. Padahal Junior Murchison pun menandaskan, “Uang itu seperti pupuk kandang. Jika disebar ke sekeliling, manfaatnya banyak. Tapi jika ditumpuk di satu tempat, baunya busuk sekali.”

Cerita inspiratif dan renungan reflektif yang disajikan dalam buku setebal 330 halaman ini niscaya menginspirasi pembaca. Sehingga dapat melihat kehidupan dengan kacamata berbeda. Kualitas hidup manusia memang berbanding lurus dengan sikapnya dalam menghadapi masalah. “99 persen dari mereka yang gagal karena mengeluarkan 1001 alasan. Sedangkan mereka yang berhasil selalu mencari alternatif solusi dan bertindak,“ tulis George Washington Carver. Selamat membaca!

Sumber: http://wasathon.com/resensi-buku/read/menangkap_hikmah_di_balik_musibah/

Tidak ada komentar: