Desember 29, 2012

Sukses di Usia Muda

Dimuat di Seputar Indonesia, Minggu/30 Desember 2012
http://www.seputar-indonesia.com/news/sukses-di-usia-muda-0


























Judul: Young on Top
Penulis: Billy Boen
Penerbit:  B first Bentang Pustaka
Cetakan:  II/Oktober 2012 
Tebal: xv + 208 halaman
ISBN: 978-602-8864-67-1
Harga: Rp49.500

Oprah Winfrey mengatakan bahwa dunia dapat menjadi lebih baik kalau manusia sudi saling berbagi dengan sesama yang miskin, lemah, dan tertindas. Pun tak sekadar beretorika, ia mempraksiskan mentalitas berkelimpahannya (abundance mentality).

Lewat Yayasan Angel's Network, perempuan terkaya dalam industri hiburan di negeri Paman Sam tersebut mendirikan sekolah gratis di areal seluas 11 hektar untuk siswi tak mampu di Meyerton, Provinsi Guateng, Afrika Selatan.

Ironisnya, kini ada kecenderungan enggan berbagi dengan sesama. Karena asumsi ada sedikit saja di luar sana sehingga tak cukup dibagi dengan orang lain. Walau hanya berbagi ilmu sekalipun begitu dijual mahal. Sebab, ia tak rela ada orang sepintar atau lebih cerdas ketimbang dirinya. Buku bersampul kuning ini menawarkan terobosan baru. Dalilnya sederhana tapi universal. Bagilah seluruh ilmumu dan terimalah manfaatnya (receiving by sharing).

Penulis siap berbagi ilmu dengan siapa saja. Karena menurutnya, di dunia ini banyak perkara publik yang musti diselesaikan tidak secara individual. Misalnya di lokus bisnis, kalau tim kerja memiliki kepintaran yang merata atau bahkan ada yang lebih cerdas, maka pekerjaan niscaya lebih mudah dituntaskan (halaman 197).

Secara ilmiah, CEO (Chief Executive Officer) PT. Jakarta International Management (JIM) ini mendedah dari aspek psikologis. Jika dari skala 0-10, orang yang memiliki tingkat ilmu 8 hanya berbagi ilmu tingkat 7, secara tak sadar ia menoleransi dirinya sendiri untuk bersikap malas. Kenapa? Karena ia tahu temannya itu tak akan sepintar dirinya.

Dalam konteks ini, tanpa disadari ia enggan mencari ilmu baru dan justru berkubang dalam zona nyaman (comfort zone). Sebaliknya, jika ia sudi berbagi keseluruhan ilmu tingkat 8 kepada temannya, ia sadar 100% kalau temannya itu sudah sepintar dirinya. Alhasil, ia akan berusaha mencari terobosan baru. Agar tingkat ilmunya mencapai tingkat 9 atau bahkan 10.

Menurut alumnus Utah State University ini, kiprah Sergey Brin dan Larry Page dapat menjadi sumber inspirasi. Kedua anak muda tersebut bercita-cita membuat hidup semua orang di dunia lebih mudah. Caranya dengan berbagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di planet ini lewat internet. Penduduk di benua Afrika, Asia, Australia, Amerika, atau Eropa dapat mengakses informasi yang dibutuhkan dengan sekali klik mouse.

Kini impian tersebut telah menjadi kenyataan.  Milyaran orang di seluruh penjuru bumi menggunakan jasa mereka setiap detik. Duo ini berkontribusi positif bagi perubahan global di era digital. Sergey Brin dan Larry Page memersembahkan perusahaan IT berbendera Google Inc (The Google Story, 2006). Keduanya sempat menjadi orang terkaya di Amerika Serikat versi Forbes. Berapa umur mereka ketika itu? (masih) 34 dan 35 tahun.

Sistematikanya, buku Yong on Top memuat 35 kiat sukses para eksekutif muda. Terdiri atas 4 topik bahasan Integrity, Respect, Creativity, dan Humor. Referensinya relatif variatif, menyiratkan bahwa si penulis gemar membaca. Sebagian besar literatur dari luar negeri, antara lain karya Stephen R. Covey, Larry King, Barack Obama, dan J. Donald Trump.

Resep mujarab lainnya ialah dengan menjadi motivator bagi diri sendiri. Ternyata kata “motivator” tidak ada dalam kamus bahasa Inggris! Di negeri manca sana, yang ada hanya istilah motivational speaker.  Yakni, pembicara yang membahas ihwal motivasi. Mereka tak mengklaim diri sebagai sosok yang bisa menjadi “juru selamat” orang lain. Senada dengan tesis Anand Krishna Ph.D, “Setiap orang harus memberdayakan dirinya sendiri (self empowerment)”.

Lewat buku yang telah dicetak ulang kedua ini, Billy Boen juga berbagi testimoni dari eksperimennya. Pada 2010, ia serba berkecukupan sehingga cenderung hidup berpoya-poya. Urusan kesehatan, pola makan, dan olahraga tak dihiraukan. Lantas, seorang sahabat meantangnya, Yonatan mengajak Billy ikut lomba Marathon 21 km di Phuket, Thailand.

Keduanya rajin berlatih di gym untuk memersiapkan diri. Waktu tersisa hanya 4 bulan. Setiap minggu minimal ke gym 2 kali. Pada kali pertama, Billy hanya kuat berlari selama 8 menit alias 1 km saja. Matanya berkunang-kunang dan hampir jatuh pingsan (halaman 167).

Kendati demikian, ia pantang menyerah (never give up). Akhirnya, berkat latihan tekun dan determinasi tinggi, ia kuat berlari keliling Gelora Bung Karno sebanyak 21 kali, dengan jarak tempuh 21 kilometer nonstop. Catatan waktunya pun relatif bagus 2 jam 54 menit. Selain itu, berat badannya turun, jadi lebih atletis. Dalam waktu 4 bulan, ia berhasil membuktikan yang semula secara fisik tampak mustahil ternyata bisa! (I.M.Possible).

Buku setebal 208 halaman ini menyajikan pengetahuan (knowledge) sekaligus pengalaman (experience) untuk mencapai puncak sukses lahir batin secara lebih efektif. Menyitir pendapat Andy F. Noya, “Dengan bahasa yang mudah dimengerti, Billy memaparkan kiat meraih sukses secara sistematis. Sangat berguna bagi para kaum muda, terutama bagi yang sedang meniti karier.” Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam), Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman, TK Mata Air, dan TK Pangudi Luhur Yogyakarta)

Tidak ada komentar: