Oktober 17, 2013

(FFA) Pelajaran Berharga dari Pak Solikhin

Cerita fiksi anak ini saya ikutsertakan dalam lomba [FFA] Festival Fiksi Anak di Dar! Mizan & Kompasiana. Seluruh karya peserta akan dipublish secara serempak pada tanggal 18, 19, dan 20 Oktober 2013 di Kompasiana.

Untuk 20 karya terbaik (dari 20  penulis berbeda), akan dibukukan oleh penerbit DAR! Mizan serta mendapatkan honor sebesar Rp 400.000,- (empat ratus ribu rupiah) dan satu buah buku setelah buku tersebut terbit.

Mohon dukungan dari teman-teman FB sekalian dengan memberi komentar, me-like, dan menyebarluaskannya. Matur sembah nuwun dan salam fiksi anak :-)

" Aku adalah dongeng masa kecilku ” (Friederich Schiller)

**


412 - “Hahahaha…hahahaha…hahahaha…” terdengar suara tawa anak-anak kelas 5 SD Ponco Warno. Kami baru pulang dari sekolah. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan Pak Solikhin.

Pak Solikhin sedang kebingungan mencari tongkatnya. Beliau penyandang tunanetra yang tinggal tak jauh dari komplek sekolah kami. Setiap hari Pak Solikhin berkeliling menawarkan jasa pijat refleksi kepada warga setempat.“Tek…tek…tek,” begitu suara ujung tongkat yang beradu dengan permukaan aspal keras.

Siang itu, Pak Solikhin tersandung batu hingga jatuh terjerembab di atas aspal. Lutut kaki kanan Pak Solikhin tergores dan berdarah. Tongkatnya pun terlepas dari genggaman tangan. Bukannya menolong, si Burhan, siswa paling nakal di kelasku justru menertawai Pak Solikhin. Jalanan saat itu memang sedang sepi. Tak ada orang dewasa yang memperingati tingkah laku tak patut tersebut.

“Keterlaluan…” ujarku dalam hati.

Semula aku hanya diam saja karena takut kepada si Burhan. Ia suka menantang berkelahi teman-teman sekelas. Badan si Burhan memang tinggi besar. Ia juga ikut ekskul Karate di sekolah. Bahkan, anak-anak kelas 6 SD Ponco Warno pun segan kepadanya.

Tapi lama-kelamaan perbuatan si Burhan dan gang-nya makin tidak patut. Tawa mereka kian keras saja. Penderitaan Pak Solikhin menjadi bahan ejekan. Bagiku itu sama sekali tidak sopan.

“Berhenti!!!” teriakku.

Seketika itu juga suasana menjadi hening. Si Burhan dan teman-temannya tak mengira aku berani melarang mereka.

Sembari mendekatiku Burhan berkata, “Kamu tak usah sok jagoan Ron, tak lihat kami sedang bersenang-senang?”

“Tak sopan kamu Han, Pak Solikhin sedang berkesusahan malah kalian tertawai, bukannya ditolong,” ujarku dengan suara lantang.

“Hey teman-teman, lihat si Roni ini mau jadi Superman seperti di film-film itu lho hahahaha…” sahut Burhan dengan nada meremehkan.

“Sikat saja Han, mentang-mentang ia baru ikut ekskul Karate,“ Andi menimpali dengan suara cemprengnya. Andi ialah salah satu anak buah Burhan yang paling patuh.

Aku memang baru saja ikut ekskul Karate pada tahun ajaran baru kemarin. Pak Jayadi menasehati kami agar menggunakan seni bela diri untuk menolong orang yang berkesusahan. Seperti tokoh Pandawa dalam kisah wayang Mahabarata. Tapi si Burhan dkk malah menggunakan untuk berkelahi dan menjadi sombong.

Jarak antara aku dan Burhan tinggal satu meter lagi. Aku sudah bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh. Ia tampak sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerangku.

“Prit…prit…prit…prit…!” tiba-tiba terdengar peluit Pak Polisi. Beliau biasa membantu kami menyeberang jalan raya di depan sekolah.

“Siapa yang mau berkelahi? Mau saya bawa ke kantor polisi?” ujar Pak Polisi dengan mata melotot.

Tanpa berpikir panjang si Burhan dan gang-nya lari tunggang-langgang. Pak Solikhin masih terduduk di atas aspal jalan yang panas. Segera saja aku menyerahkan tongkatnya yang sempat terlepas tadi.

Lalu, aku memapahnya berteduh di bawah pohon di ujung jalan. Beliau duduk berselonjor, menghirup dan membuang nafas perlahan untuk menenangkan diri. Kebetulan di dekat situ ada warung kecil. Aku bergegas membeli obat plester dan menempelkannya untuk menutup luka di lutut kanan Pak Solikhin.

“Terima kasih Nak, Bapak tak bisa melihat wajahmu tapi bisa merasakan ketulusan hatimu,” ujar Pak Solikhin sambil mau berdiri lagi.

“Bapak istirahat dulu saja,” ujarku.

“Bapak harus segera berkeliling lagi Nak, mencari orang yang butuh dipijat refleksi,“ sahut beliau.

“Baiklah Pak, selamat jalan dan sampai jumpa lagi…” ujarku.

**
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Di kelas, sepanjang pelajaran tampak si Burhan dan gang-nya kasak-kusuk berencana hendak membalas dendam. Padahal aku sama sekali tak mau bermusuhan dengan mereka.

Sepulang sekolah, ketika ekskul Karate berlangsung, Pak Jayadi mengajari kami jurus-jurus pukulan dan tendangan baru.  Seperti biasa beliau selalu menasehati bahwa seni bela diri ialah untuk menolong orang lain yang berkesusahan.

Tanpa disangka tibalah sesi latih tanding (sparing). Ternyata aku berhadap-hadapan dengan si Burhan. Ia tampak begitu ngotot mau mendaratkan bogem mentah di tubuhku. Padahal Pak Jayadi mengatakan bahwa ini hanya latihan biasa.

Anak-anak yang lain duduk berkeliling. Aku dan Burhan berdiri di tengah. Pak Jayadi bertindak sebagai wasit.

“Ayo Han, hajar si Roni!!!” terdengar suara cempreng. Dalam hati aku sudah tahu bahwa itu suara Andi.

Badan si Burhan memang tinggi besar, sedangkan aku ramping dan tak begitu kekar. Dari segi kekuatan ia jelas lebih hebat, tapi aku lebih lincah. Tendangan dan pukulan Burhan banyak yang mengenai angin. Karena aku meloncat kesana-kemari untuk menghindari.

Pada satu ketika, aku melihat celah di bagian kiri pertahanan Burhan. Secepat kilat aku daratkan pukulan di perutnya. Tapi aku hanya menggunakan setengah tenaga agar tak membahayakan keselamatannya.

Tapi karena kuda-kuda Burhan kurang kokoh, ia jatuh terpelanting di atas matras. Ketika mencoba menopang berat tubuh, tangan kanannya terkilir. Ia pun berteriak keras dan mengerang kesakitan.

Pak Jayadi, aku, dan gang-nya bergegas membawa Burhan ke rumah Pak Solikhin. Karena rumah beliau berada di dekat komplek sekolah. Burhan dan gang-nya tampak sungkan ketika hendak memasuki halaman rumah Pak Solikhin. Mereka tentu teringat kejadian kemarin siang. Tapi saking sakitnya, Burhan menurut saja diajak masuk menemui beliau.

Tanpa banyak basa-basi, Pak Solikhin langsung meraba-raba dengan cekatan pergelangan tangan Burhan yang terkilir. Tampaknya Pak Solikhin mencari persendian yang pindah dari tempat semula akibat salah jatuh tadi.
Setelah ditemukan, Pak Solikhin mulai memijit dengan lembut. Tak berapa lama, tangan Burhan yang semula bengkak mulai mengempis. Pak Solikhin juga membalurinya dengan minyak telon dan ramuan rempah-rempah.

“Bagaimana rasanya Nak?” tanya beliau.

“Lebih baikan dan tak senut-senut lagi. Terima kasih banyak Pak,“ jawab Burhan lirih.

Akhirnya, Burhan meminta maaf kepada Pak Solikhin atas tingkah lakunya yang tak patut kemarin siang. Ia mengaku salah dan berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatannya tersebut. Ia mau hormati orang difabel seperti Pak Solikhin. Walau berbeda, Pak Solikhin dikaruniai Tuhan kelebihan untuk memijat dan menyembuhkan orang yang terkilir.

Pak Jayadi, guru ekskul Karate kami sungguh bahagia mendengar pengakuan jujur dan janji tulus Burhan. Beliau juga meminta Burhan tak lupa meminta maaf kepadaku karena tadi terlalu ngotot mau menciderai saat latihan sparing.

“Maafkan aku dan gang-ku ya Ron, mulai saat ini kita berteman dan kita gunakan seni bela diri Karate untuk menolong orang yang berkesusahan,” ujarnya sembari mengulurkan tangan kanan.

“Iya mari kita jadi seperti Pandawa dalam kisah wayang yang diceritakan Pak Jayadi,” kataku sambil menjabat erat tangannya.

“Auw auw auw…” teriak Burhan.

“Ups maaf…aku lupa kalau tanganmu masih sakit Han,” ujarku

“Hahahaha…hahahaha…hahahaha….” kami semua tertawa bersama.

**


**
NB : Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community:

Silahkan bergabung di group FB Fiksiana Community:

Tidak ada komentar: