November 23, 2013

Menjaga Tradisi Gejog Lesung dari Kepunahan

Dimuat di Koran Sindo, Selasa/12 November 2013
 
“Menarik sekali, di negara saya tidak ada karena kami tidak makan nasi,” begitu komentar Alban, turis asal Prancis tatkala menyaksikan atraksi Gejog Lesung. Kesenian tersebut menjadi salah satu persembahan budaya nan unik dalam Pesta Rakyat Dhaup Agung Pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro pada Selasa, 22 Oktober 2013 di Yogyakarta.

Salah satu pengisi acara ialah Gejog Lesung Niti Budoyo dari Dusun Niti Prayan, Bantul. Personilnya terdiri atas 6 pemain lesung, 2 sinden yang menyanyikan tembang-tembang Jawa, 5 pemain angklung, 2 penabuh kendang dan 1 penari bertopeng.

Uniknya, mereka memiliki seorang pemain Gejog Lesung cadangan. Karena mayoritas sudah berusia lanjut. Jadi saat jeda antar lagu ada pergantian pemain seperti dalam sepak bola.

Di ujung pertunjukan, sang sinden berpromosi di hadapan ribuan hadirin yang memadati pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Intinya, kalau ada yang ngunduh manten (acara pernikahan), supitan (khitanan), atau pun perayaan lain monggo silakan menghubungi mereka di nomor telpon 0274-371-438.

Gejog Lesung Niti Budoyo memang sering berkeliling “ngamen” dari satu hajatan ke hajatan lainnya. Selain untuk mencari tambahan nafkah juga untuk Nguri-uri Kabudayan Jawi (melestarikan kebudayaan Jawa).

Dulu ketika mesin penggilingan padi belum ditemukan, para petani desa masih mengandalkan cara manual. Caranya dengan menumbuki padi memakai alu dan lesung sampai menjadi gabah dan beras. Kini lapak penggilingan  bertebaran di mana-mana, bahkan ada mobil pick up berkeliling menawarkan jasa penggilingan padi.  Alhasil, Gejog Lesung sekadar diletakkan di pawon (dapur).

Dari situlah timbul inisiatif menjadikannya sebagai alat musik khas masyarakat agraris. Agar lebih semarak, kelompok kesenian Gejog Lesung kini berkolaborasi juga dengan sinden, penari, pemain angklung, dan penabuh kendang. Mereka pun mempersiapkan kostum secara khusus. Biasanya yang perempuan bersanggul, mengenakan jarik dan kebaya, sedangkan yang laki-laki menggunakan ikat/blangkon, celana tomprang hitam dan surjan/beskap.

Dalam teori sosial, Giddens berpendapat bahwa ada 3 matra penting peradaban umat manusia. Yakni negara (state), swasta (private) dan masyarakat madani (civil society) (The Third Way: The Renewal of Social Democracy, 1998). Kelompok Gejog Lesung Niti Budoyo merupakan salah satu elemen masyarakat madani. Secara khusus mereka berkarya lewat jalur budaya.

Kendati demikian, agar gaungnya lebih santer, negara dan swasta perlu mendukung pelestarian tradisi Gejog Lesung.

Belajar dari Jepang

Penulis pernah menyaksikan lawatan mahasiswa-mahasiswi calon guru dari Chiba University Jepang di SMAN 3 Yogyakarta. Pemerintah Dai Nippon begitu total dalam mempersiapkan calon pendidik. Total 15 calon guru yang datang ke sini. Kedatangan mereka difasilitasi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu, 25 September 2013.

Menurut Riasasi, salah satu panitia, sebelumnya mereka telah praktik mengajar di SMAN 6 Yogyakarta. Apa materi yang disajikan?  Ternyata mata pelajaran sains dan seni budaya.  Khusus untuk kelas seni budaya, 110 siswa-siswi SMAN 3 Yogyakarta dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing diampu oleh 5 pengajar Jepang. Walau Jepang notabene tergolong negara maju, tapi budaya yang mereka ajarkan ialah Spochan (Sport Chanbara), Kendama dan Satoyama.

Hebatnya, itu semua merupakan seni bela diri khas Jepang, permainan tradisional Jepang (semacam dolanan anak) dan arsitektur rumah Jepang yang berwawasan ekologis. Tampak sekali mereka bangga dengan kearifan lokalnya (local wisdom). Bahkan calon guru muda yang perempuan sampai mengenakan Kimono, pakaian tradisional Jepang tatkala mengajar para murid di kelas.

Indonesia perlu belajar dari Jepang terkait apresiasi dan pelestarian budaya. Senada dengan pendapat Gus Mus, pada era Orde Lama Indonesia telah menjadikan politik sebagai panglima.

Lalu, pada era Orde Baru Indonesia pernah menjadikan ekonomi sebagai panglima. Pasca era reformasi, Indonesia kembali menjadikan politik dan ekonomi sebagai panglima. Kapan kebudayaan dijadikan sebagai panglima untuk memajukan bangsa?

Dalam konteks ini, Gejog Lesung merupakan simbol kearifan lokal budaya Nusantara. Pada hemat penulis, regenerasi lewat institusi pendidikan menjadi kebutuhan urgen. Kenapa? Karena sebagian besar seniman/seniwati Gejog Lesung sudah berusia lanjut. Sehingga perlu ada transfer ilmu, skill (ketrampilan) dan edukasi nilai filosofis terkait budaya warisan leluhur tersebut. Yakni sebagai seni yang merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Sri atas melimpahnya hasil panenan padi.

Di sekolah formal misalnya, selama ini sudah ada ekstrakurikuler Karawitan dan Gamelan. Alangkah lebih baik jika tidak ditambah dengan ekskul Gejog Lesung. Sehingga 10-20 tahun mendatang tradisi ini bisa tetap eksis. Selain itu, sosialisasi lewat media massa juga penting.

Media sebagai pilar keempat demokrasi dapat menyebarluaskan keunikan tradisi Gejog Lesung sebagai kebanggaan nasional (national pride) di dalam maupun luar negeri.

Secara lebih programatis, pemerintah dan swasta juga perlu mengupayakan Gejog Lesung menjadikan intangible cultural heritage seperti halnya Batik, Wayang Kulit, Keris, Angklung, Tari Saman dan Noken (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/UNESCO_Intangible_Cultural_Heritage_Lists). Jangan sampai seni budaya adiluhung kita diklaim oleh negara tetangga.

Akhir kata ibarat tanaman, hanya yang akarnya menancap dalam ke tanah yang bisa bertumbuh, berkembang dan berbuah. Gejog Lesung merupakan  akar budaya bangsa yang perlu terus dipupuk, disirami dan dilestarikan. Sebab jika bukan kita, lantas siapa? Kalau bukan sekarang, lantas kapan? Salam budaya! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru Privat Bahasa Inggris, Editor dan Penerjemah Lepas)

13847680841973263135
Dok. Pri

Tidak ada komentar: