Tampilkan postingan dengan label gotong-royong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gotong-royong. Tampilkan semua postingan

Desember 23, 2007

Mars Kebangkitan Yogya!

Dimuat di Rubrik Masalah Kita SKH Kedaulatan Rakyat 20 Juli 2007.

Menurut Anand Krishna, seorang tokoh humanis lintas agama Nusantara, stres dan trauma bukanlah suatu yang harus dilawan atau dimusuhi. Stres atau rasa tegang dan trauma tau luka batin merupakan pertanda kehidupan. Dengan memahami sifat stres dan trauma tersebut kita bisa segera bangkit dan mewarnai kehidupan dengan warna-warni yang lebih cerah!

Paska bencana gempa bumi yang mengguncang Jateng-DIY (27/5/2006) selain menderita secara fisik, banyak pula warga yang merasa stres dan trauma. Namun pertanyaan reflektif untuk kita semua,"Apakah kita mau seumur hidup menangis dan menyesali tragedi yang menimpa itu?" Tentu jawabnya,"Tidak!" Sebab Allah yang Maha Rahman dan Rahim telah menganugerahi kita tangan, kaki, otak dan kesadaran diri untuk menghadapi tantangan kehidupan, termasuk bencana yang datang tanpa dinyana-nyana.

Mari segera bangkit sekarang juga! Yakni dengan saling bahu-membahu dan bergotong-royong. Singsingkan lengan baju dan usah ragu untuk membanting tulang, bersimbah peluh membangun kembali puing-puing Yogyakarta tercinta secara kreatif dan inovatif.

Misalnya dengan mencipta lagu, semoga Mars Kebangkitan Yogya ini mampu menyulut kobaran api semangat cinta dna bhakti bagi Yogya kita, "Bangkitlah bangkit Yogya tercinta/ bencana tak akan patahkan semangat/ walaupun berbeda kita bersaudara/ bergotong-royong kita bangkit bersama!"

Desember 14, 2007

TUNA SATHAK BATHI SANAK

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia 12 November 2007.

Apa sih kebutuhan mendesak manusia Indonesia saat ini? Secara gamblang ialah pemenuhan sembilan kebutuhan pokok bagi puluhan juta rumah tangga miskin (RTM) dari Sabang sampai Merauke!Ironisnya, menjelang hari besar keagamaan, seperti Dipavali, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru harga sembako di pasaran justru melonjak. Kelapa untuk membuat santan gudeg semuala Rp 1.000 sebutir, sekarang mencapai Rp 3.500!

Senada dengan tembang Bung Iwan Fals, "Maafkan kedua orang tuamu bila tak bisa beli susu, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi." Kenapa? karena pemerintah terlalu bergantung pada mekanisme pasar.Tatkala permintaan tinggi dan persediaan terbatas, otomatis terjadi inflasi. Celah ini dimanfaatkan para cukong untuk menimbun barang dan baru melepasnya ketika harga merambat naik sehingga konsumen (miskin) yang menjadi korban.

Solusinya ialah dengan menggalakkan operasi pasar murah, terutama dipasar-pasar tradisional. Lebih lanjut, sistem ekonomi nasional juga mesti direvisi agar inflasi tidak menjadi tradisi. Secara historis, pemerintah mulai memberlakukan liberalisasi pasar sejak awal 1980-an. Pola pembangunan Indonesia mengadopsi sistem ekonomi terbuka sehingga intervensi pihak asing kian menggurita.

Celakanya, yang menikmati "kue" tersebut hanya segelintir elite yang dekat dengan kekuasaan. Di pihak lain, mayaoritas rakyat masih berkubang dalam lumpur kemiskianan. Saat ini, tak kurang dari 15 juta balita menderita malnutrition. Kelak, generasi masa depan bangsa ini tak bisa bekerja secara optimal karena perkembangan struktur otaknya terganggu.

Situasi miris ini secara tepat dilukiskan oleh Anthony Giddens. "Karena tunduk pada panglima modal, manusiamenghadapi gejala aneh. Di satu sisi, manusia bisahidup makin nyaman, bepergian dengan cepat, berkomunikasi secara lancar, dan makan lebih lezat. Disisi lain, kemerosotan di banyak sektor kehidupan terjadi, angka kemiskinan dan pengangguran membumbung tinggi, krisis ekonomi berkepanjangan, ketidakadilan sosial merajarela. Pemerintah sudah berganti, kabinet terus berubah, dan anggaran belanja negara telah disesuaikan, tapi tetap saja korban-mereka yang menderita kemiskinan secara material-terus bertambah dari hari ke hari. Situasi ini acapkali ditengarai sebagai jaman yang 'berlari tunggang-langgang" (Runaway World, Polity Press, 1996).

Padahal bila kita sudi belajar (dari) sejarah, para founding fathers kita telah memiliki jawaban ataspersoalan sosial-kemasyarakat an dewasa ini. Sepertiyang termaktub dalam butir kelima Pancasila, KeadilanSosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ibarat kekuatan mata rantai yang terletak pada matarantai terlemah, peningkatan kualitas hidup sebagian manusia di Republik Indonesia tercinta ini secara alamiah akan menaikkan mutu hidup seluruh anak negri. Karena itu, pemerintah seyogianya lebih berpihak pada rakyat miskin atau dengan kata lain, lebih prorakyat!

Bung Hatta telah mewariskan konsepsi koperasi padakita. Sebuah sistem ekonomi yang berwatak sosial danberasaskan kekeluargaan. Tinggal bagaimana visi tersebut dibadankan (dipraksiskan) dalam keseharian. Langkah sederhana seperti yang digagas Anand Krishna. Aktivis spiritual ini memprakarsai pembentukan Koperasi Global Anand Krishna di Bali (12 Juli 2007), Joglosemar (27 Juli 2007), dan Jakarta (1 September2007). Koperasi spiritual pertama di Indonesia inimenyediakan anaka barang produksi dalam negeri bagiseluruh anggota dan masyarakat sekitar.Termasuk menerbitkan buku berkualitas (Voice of Indonesia, 2007) untuk memupuk kesadaran sipil (civil awareness).

Saat ini, ada lebih dari 3,8 juta usaha kecil menengah(UKM) di seantero Nusantara. Seiring dengan pesatnyaperkembangan teknologi informasi, sinergi (gotong-royong) antara pihak swarta, pemerintah, dan kopreasi di akar rumput semakin mudah dijalin dandikembangkan. Karena itu, ke depan, niscaya bangsa ini dapatmewujudkan tata ekonomi yang lebih adil dan manusiawi- atau dalam peribahasa Jawanya - yang Tuna Sathak Bathi Sanak.

DARI TOLERANSI MENUJU APRESIASI

Dimuat di Rubrik Surat Anda, Media Indonesia 1 Oktober 2007.

Terharu hati ini tatkala menyaksikan budaya masyarakat Gamelan Kampoeng of Tolerance. Kenapa? karena walau para warga Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut memeluk agama yang berbeda tapi semangat guyub-rukun masih lestari.

Semboyan luhur Bhinneka Tunggal Ika - Tan Hana Dharma Mangrwa menemukan relevansinya kembali ketika warga nonmuslim menjaga keamanan kampung sehingga tetangganya bisa menunaikan salat Id dengan khusyuk. Bahkan, paskasalat mereka bermaaf-maafan dan mengadakan jamuan makan sederhana yang disediakan secara swadaya.

Menurut Benedict Anderson, ungkapan "toleransi" sebagai sifat asasi wong Jawa mulai populer sejak api nasionalisme berkobar di bumi pertiwi seabad silam.Sebelumnya, para ahli menyebut sikap kelapangan hatitersebut dengan istilah "sinkretisme Jawa".

Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,' toleransi' berarti sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian, kebiasaan, kelakuan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya sendiri. Misalnya soal agama, ideologi, suku, ras, golongan, dll.

Dengan demikian, sikap main hakim sendiri yang kerap dilakukan ormas yang mengatas namakan agama tertentutapi dalam praktiknya menggunakan cara-cara kekerasan jelas mengkhinati ajaran universal setiap agama yangmengutamakan kasih, perdamaian, dan harmoni (love, peace, and harmony).

Ironisnya, aparat keamanan terkesan membiarkan tingkah-pongah tersebut. Bukankah sudah menjadi tugas orang tua untuk menegur anak-anaknya yang mbalelo dan membahayakan orang lain.Yogyakarta sebagai kota budaya, potensial sekali menjadi model komunitas multikultur. Ambil contoh didunia kampus, mahasiswa-mahasiswi dari pelbagai wilayah di nusantara berkumpul di Bumi Mataram guna menuntut ilmu.

Sedikit sharing, di dekat kos penulisada asrama mahasiwa Fak-fak, Papua. Saat Lebaran lalu, mereka tidak mudik. Padahal banyak warung makanan yang tutup. Uniknya, secara sukarela paratetangga yang notabene warga setempat (DusunSoropadan) sudi berbagi hidangan ala kadarnya untuk mereka. Memang sih ibarat kata pepatah, kita menuai apa yang kita tanam. Para perantau tersebut juga sudi beradaptasi dan bergaul dengan warga setempat.

Lebih lanjut, 'toleransi' pun musti dimuaikan menjadi"apresiasi". Istilah itu mulai dipopulerkan oleh Anand Krishna. Tokoh humanis lintas agama nusantara tersebut mengajak kita menghargai (to appreciate), mengerti (to undersatand) , dan mengenal (to know) diri sendiri, orang lain, bahkan alam semesta.

Sebab, perbedaan merupakan modal dasar untuk bisa maju bersama. Kongkretnya seperti apa yang telah dirintis warga Gamelan Lor dan Kidul, yakni dengan bergotong-royong mewujudkan (kampung) Indonesia yang bersih, sejahtera, dan damai bagi segenap putra-putriIbu Pertiwi dari Sabang sampai Merauke.