Tampilkan postingan dengan label Media Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Indonesia. Tampilkan semua postingan

Desember 23, 2007

Otak Pemimpin Kita

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia 9 Desember 2007.

"Brain is the home of your mind, your memory, your personality. The Brain is where you feel hunger and thrist, exhaustion and excitement, fear and joy. It's what makes you: You! (Your Amazing Brain, New York University and Brooklyn College, Daria Luisi Phd MPH and Dr Tony Smith, 1995)

Krisis multifaset yang melanda bangsa ini dapat ditelisik akarnya dari struktur otak manusia. Selain otak kiri yang rasional dan otak kanan yang intuitif, ada satu bagian otak yang kerap terlupakan, yakni lymbic section. Bila pusat insting hewani yang mengkoordinasi kedua batang otak tadi jarang dibersihkan, keliaran dalam diri kita ini tetap eksis. Turunannya, banyak pemimpin yang kendati terkesan santun di hadapan publik, namun di belakang meja masih rakus memakan uang rakyat, bahkan mejanyapun dimakan.

Dokter Bambang Setiawan, seorang ahli bedah syaraf melihat carut-marutnya kondisi negeri ini karena mayoritas pemimpin melulu mengejar kenyamanan diri dan mengutamakan kepentingan kelompok/partainya.Karena itu, mereka kurang peka terhadap amanah penderitaan rakyat (Otak para Pemimpin Kita, PT One Earth Media Jakarta, Anand Krishna, Didik Nini Thowok, dan dr Bambang Setiawan, 2005)

Lebih lanjut, sistem pendidikan kita pun cuma mengurusi otak kiri. Hasilnya, banyak orang pinter minteri alias memakai ilmunya untuk mengeksploitasi orang lain dan alam sekitar secara membabi buta. Ironisnya, saat kecenderungan egoistik tadi berkolaborasi dengan otak kanan, egosentrisme tersebut dibungkus dengan kata-kata manis sehingga terkesan suci-sumuci.

Bukankah pola semacam ini acapkali dilakukan para politisi kita? Mereka mengumbar janji saat kampanye pemilu, tapi setelah berkuasa dan duduk di kursi empuk, justru melik nggendong lali alias lupa pada amanah menyuarakan aspirasi rakyat dan konstituennya. Secara lebih mendalam, mari kita berefleksi dan bertanya pada diri sendiri. Bukankah kita yang memilih atau bagi yang golput - memilih untuk tidak memilih - para pemimpin bangsa ini? Konsekuensinya, kita pun bertanggungjawab dan musti bergotong-royong membongkar kebobrokan mental tersebut.

Solusi praktis ialah dengan t'laten alias rajin membersihkan lymbic section dari sampah pikiran, karat emosi, trauma masa lalu, dan nafsu menguasai yang terpendam dalam subconcious mind alias gudang bawah sadar kita. Tujuannya, agar kita bisa menjadi tuan atas diri sendiri. Artinya, mampu mengenali kecenderungan hewaniah tersebut dan mentransformasikannya menjadi lebih manusiawi. Sehingga keberadaan kita bisa menjadi berkah bagi sesama dan lingkungan sekitar.

Adakah public figure yang, meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, yang piawai menyinergikan otak kiri-kanan serta mengendalikan lymbic section-nya? Berikut ini beberapa alternatif nama.

Pertama, Didi Nini Thowok, seorang penari dan aktivis budaya. Beliau menciptakan aneka genre tarian kontemporer yang dikawinkan dengan tradisi masyarakat lokal. Hebatnya, walau diimingi bayaran selangit, seniman kelahiran Temanggung itu secara tegas menolak tawaran mengajar di universitas terkemuka di luar negeri. Kenapa? karena putra Ibu Pertiwi itu lebih suka membuka sanggar tari di pelosok Yogyakarta, visinya sederhana, yakni mengajak anak-anak setempat mengenal, mengapresiasi, dan mencintai budaya luhur Nusantara.

Kedua, Anand Krishna, seorang penulis produktif yang dalam satu dasawarsa terakhir telah menulis 100 buku lebih. Selain itu, pria keturunan India kelahiran Surakarta itu senantiasa menyuarakan semangat persatuan dan tekad Bende Mataram (Sembah Bhakti bagi Ibu Pertiwi). Yakni lewat simposium kebangsaan, pesta rakyat, kuliah umum, penulisan artikel di pelbagai mdedia dan last but not least, program mengajar tanpa dihajar stress (MTDS) bagi para guru dan dosen.

Ketiga, Minto, seorang guru SD di Prambon, Madiun. Beliau mengembangkan teknologi alternatif ramah lingkungan, yakni rumah surya. Mapit seluruh perabot rumahnya, dari kompor sampai televisi, menggunakan energi listrik tenaga surya alias cahaya matahari.

Akhirulkalam, menyitir kata-kata almarhum Romo Mangunwijaya, "Semakin kita memberi, semakin kita kaya. Bila kita memberikan hati, pengorbanan, dan segala yang indah pada orang lain, terutama kepada yang lemah-miskin-tertindas, kita tidak akan kekurangan, tetapi sebaliknya kita akan senantiasa kaya!" Adakah mentalitas berkelimpahan macam ini sempat melintas dalam benak pemimpin kita tercinta? Only God knows!

Tolak Renovasi Rumah DPR!

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia 19 Desember 2007.

Rencana anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) merenovasi rumah dinas di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan sungguh kerterlaluan. Betapa tidak, sembari menunggu perbaikan selesai para "wakil" Rakyat tersebut akan menerima tunjangan Rp 13 juta perbulan. Padahal seorang Guru SMP di pelosok Magelang sana musti nyambi menjadi bakul kupat tahu dan numpang di bekas ruang kelas untuk sekedar berteduh dari hujan dan sengatan terik mentari.

Di manakah sensitifitas anggota dewan kita? Bukankah lebih baik total dana 107 Milyar tersebut dipakai untuk membenahi struktur sosial-kemasyarakatan yang porak-poranda dihantam badai inflasi sembako, kenaikan harga minyak dunia dan pelbagai ekses negatif pemanasan bumi? Tingkah-pongah mereka kian mencuatkan image DPR sebagai lembaga – meminjam istilah Bung Ariel Heryanto – 3 D: Duduk, Dengar, Duit! Padahal menurut Undang-Undang No 22/2003, tugas utama DPR ialah untuk menyerap, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi konstituennya. Sumpah jabatan tersebut diikrarkan di hadirat Tuhan Yang Maha Esa serta 220 juta Rakyat Indonesia!

Ternyata ide renovasi tersebut berasal dari Ketua DPR-RI sendiri, Agung Laksono. Beliau menyatakn bahwa setiap bulan anggaran dana perawatan rumah kian membengkak. Dengan mempertimbangkan kondisi kompleks bangunan yang dibangun awal 1980-an itu, beliau merekomendasikan agar rumah dinas tersebut direnovasi.

Interupsi Pak Ketua! Apakah untuk mengatasi masalah sepele, misalnya menambal atap yang bocor atau membetulkan saluran pembuangan air yang mampat, anggota dewan musti 'mengemis' uang Rakyat? Bukankah sudah semestinya kalian merogoh kocek sendiri dari gaji bulanan guna memperbaiki rumah dinas yang ditempati? Lebih lanjut, berapa persen sih dari total 550 anggota DPR yang sudi tinggal di sana? Bukankah beliau-beliau lebih suka menyewa apartemen dan membangun vila-vila pribadi nan mewah di Puncak dan Pulau Dewata?

Dalam kitab kearifan China "I Ching" ada petuah "Shih" alias Kepemimpinan. "Seorang pemimpin yang bijak akan turun ke lapangan. Ia tidak hanya memerintah, ia juga akan ikut berkarya." (baca: I Ching - Bagi Orang Modern, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002). Seyogianya selama 5 tahun masa jabatan, anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD musti relatif dekat dengan para konstituen, ia harus berani blusukan berada di tengah-tengah massa rakyat alias nyawiji dalam bahasa Jawanya.

Seorang pemimpin perlu memahami dan merasakan betul apa yang menjadi aspirasi rakyat di akar rumput? Kalau memang masih enggan berpihak pada rakyat (prorakyat) sebaiknya jangan menjadi pejabat publik dulu. Lebih baik kita dipimpin oleh seorang yang bijak daripada menjadi pemimpin yang kurang bijak. Senada dengan tembang "Bung Hatta"-nya Iwan Fals, "... terbayang bhaktimu, terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu.... bernisan bangga, berkafan doa, dari kami yang merindukan orang sepertimu..."

Bukan harta, wanita, ataupun takhta yang Proklamator RI tercinta itu warihkan pada putra-putri Ibu Pertiwi dari Sabang sampai Merauke, melainkan bhakti, pengorbanan, dan kesederhanaan jiwa! Semoga uswatun hasanah alias suri tauladan para founding fathers tersebut dilihat dan dipraktikkan oleh para pelayan publik abad -21 ini. Konkretnya, mulai dengan mengatakan tidak untuk renovasi rumah dinas DPR!

Pesan Maria Magdalena

Dimuat di Rubrik Pustaka, Media Indonesia 22 Desember 2007.

Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena
Penulis: Anand Krishna
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: I, 2007
Tebal: v + 196 halaman

Buku berjudul Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena ini memuat paparan Anand Krishna seputar percakapan Yesus dan Maria Magdalena.Tatkala manusia menyadari jati dirinya, ia serasa berada dalam pelukan Bunda Alam Semesta. Saat itu, ada tiga kemungkinan.

Pertama, ibarat bunga yang baru mekar, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata banyak kembang lain yang mekar bersamaan. Kedua, bunga tadi melihat kembang yang pernah mekar dan kini layu. Senada dengan ucapan Shri Krishna kepada Arjuna di padang Kurusetra 5.000 tahun silam. Ketiga, bunga tadi tidak menoleh ke mana-mana, ia sibuk memperhatikan dirinya,"Akulah Kebnaran Hakiki, tiada kebenaran di luarku!" (hlm 80).

Pengalaman Sang Mawar Mistik unik. Miriam dari Magadhi membuat terobosan barus. Sebab, ketika mekar, ia sontak bersimpuh di hadapan Sang Master,"Rabi, aku tak tahu apa yang terjadi, tapi sesuatu tengah terjadi," ungkapnya dengan penuh kerendahan hati. Sehingga Uskup Agung Genoa, Jacobus de Voragine, menyebut Maria Magdalena sebagai Illuminata sekaligus Illuminatrix - ia yang cerah dan mencerahkan (Golden Legend, 1250).

Injil Maria Magdalena ini dicatat para pengikut setia Isa Sang Masiha, tapi lantas hilang selama berabad-abad. Baru ditemukan kembali pada 1896 di Mesir. Selama 2.000 tahun ini, hanya beberapa orang yang melihat kesucian dalam diri Maria Magdalena. Bahkan, hierarki Gereja sendiri menganggapnya sebagai waniat biasa yang lahir dan melacurkan diri. Konon setelah Yesus "pergi" para murid merasa ragu. Buku ini juga memuat pesan Maria Magdalena kepada mereka.

Desember 14, 2007

MEMBUMIKAN REGULASI PROMONOGAMI

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia 19 November 2007.

Isu poligami kembali mencuat setelah keretakan rumah tangga Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Pihak perempuan merasa frustasi karena penerapan regulasi promonogami menemui jalan buntu. Padahal UU Perkawinan Nasional jelas mengatur 'satu suami-satu istri', namun realitasnya berbanding terbalik, mereka terpaksa -ibarat judul film 'berbagi suami'.

Meutia Hatta Swasono, selaku Menteri PemberdayaanPerempuan mengatakan banyak istri PNS engganmelaporkan kasus poligami karena takut suaminya dipecat sehingga tidak bisa lagi menafkahi keluarga.Informasi tersebut dihimpun dari Kotak Pos (PO Box)10.000.

Menurut hemat penulis, poligami memang cenderung berpotensi konflik (inconflict) . Kenapa? karena walau para istri nampak nrimo, tapi sejatinya merana karena dimadu. Penderitaan psikis tersebut bisa menularkepada sang buah hati yang kelak menggangu perkembangan mental si anak.

Memang sih sudah ada payung hukum berupa Peraturan Pemerintah (PP) No 45/1990 untuk melindungi para ibu dan anak yang dirugikan dalam perkawinan. Namun, prakteknya masih jauh panggang daripada api. Mengapa? sebab secara kultural posisi tawar perempuan masih lemah. Eksistensi mereka melulu di dapur, sumur, dan kasur. Utamanya di desa-desa terpencil.

Bahkan data terakhir menyebutkan bahwa partisipasi Srikandi bangsa dalam percaturan politik sangatrendah. Tercatat hanya 11,3 persen perempuan yangduduk di parlemen. Padahal kuota idealnya 30 persen. Lebih lanjut, secara genetik perempuan sejatinya lebih unggul ketimbang kaum Adam. Kenapa? kerena kromosomnya lengkap 23 XX. Sehingga, 'barangkali' budaya patriarkal memang merupakan strategi untuk melanggengkan penindasan struktural terhadap kaum Hawa.

Kini menjadi PR kita bersama untuk mengawinkan logika otak dengan rasa hati. Sehingga terlahir sintesa holistis berupa tatanan kemanusiaan yang adil dan beradab. Sesuai amanah Sila ke-2 Pancasila. Para leluhur kita telah memberi suri tauladan. Bagimereka tidak masalah seorang perempuan memegang tampuk kepemimpinan. Kriterianya bukan jenis kelamin melainkan kompetensi. Sebut saja, Ratu Sima, beliau terkenal amat adil. Bahkan tatkala anak kandungnya sendiri melanggar hukum, sang ratu tetap menjatuhkan sanksi tegas.

Anand Krishna melihat perempuan sebagai Shakti. Yakni sumber energi feminin yang inklusif yang merangkul segenap putra-putri Ibu Pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Istilah 'perempuan' berasal dari kata 'empu'yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Konsekuensinya, aktivis spiritual ini berpendapat jabatan-jabatan publik lebih baik diamanahkan pada perempuan saja. Kenapa? karena mereka relatif lebih intuitif dan fair dalam mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jarang kita menjumpai Polwan yang bisa disuap.

"Perempuan yang rela dipoligami tidak mewakili perempuan Indonesia seluruhnya,' begitulah pernyataan sikap Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kini tiba saatnya perempuan bersuara dan berkata tidak untuk poligami. Bukan karena sikap membangkang melainkan atas kesadaran bahwasanya monogami memang lebih bisa memfasilitasi terciptanya keluarga sakinah, mawadah, warahmah di Bumi Nusantara tercinta ini.

TUNA SATHAK BATHI SANAK

Dimuat di Rubrik Opini Pembaca, Media Indonesia 12 November 2007.

Apa sih kebutuhan mendesak manusia Indonesia saat ini? Secara gamblang ialah pemenuhan sembilan kebutuhan pokok bagi puluhan juta rumah tangga miskin (RTM) dari Sabang sampai Merauke!Ironisnya, menjelang hari besar keagamaan, seperti Dipavali, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru harga sembako di pasaran justru melonjak. Kelapa untuk membuat santan gudeg semuala Rp 1.000 sebutir, sekarang mencapai Rp 3.500!

Senada dengan tembang Bung Iwan Fals, "Maafkan kedua orang tuamu bila tak bisa beli susu, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi." Kenapa? karena pemerintah terlalu bergantung pada mekanisme pasar.Tatkala permintaan tinggi dan persediaan terbatas, otomatis terjadi inflasi. Celah ini dimanfaatkan para cukong untuk menimbun barang dan baru melepasnya ketika harga merambat naik sehingga konsumen (miskin) yang menjadi korban.

Solusinya ialah dengan menggalakkan operasi pasar murah, terutama dipasar-pasar tradisional. Lebih lanjut, sistem ekonomi nasional juga mesti direvisi agar inflasi tidak menjadi tradisi. Secara historis, pemerintah mulai memberlakukan liberalisasi pasar sejak awal 1980-an. Pola pembangunan Indonesia mengadopsi sistem ekonomi terbuka sehingga intervensi pihak asing kian menggurita.

Celakanya, yang menikmati "kue" tersebut hanya segelintir elite yang dekat dengan kekuasaan. Di pihak lain, mayaoritas rakyat masih berkubang dalam lumpur kemiskianan. Saat ini, tak kurang dari 15 juta balita menderita malnutrition. Kelak, generasi masa depan bangsa ini tak bisa bekerja secara optimal karena perkembangan struktur otaknya terganggu.

Situasi miris ini secara tepat dilukiskan oleh Anthony Giddens. "Karena tunduk pada panglima modal, manusiamenghadapi gejala aneh. Di satu sisi, manusia bisahidup makin nyaman, bepergian dengan cepat, berkomunikasi secara lancar, dan makan lebih lezat. Disisi lain, kemerosotan di banyak sektor kehidupan terjadi, angka kemiskinan dan pengangguran membumbung tinggi, krisis ekonomi berkepanjangan, ketidakadilan sosial merajarela. Pemerintah sudah berganti, kabinet terus berubah, dan anggaran belanja negara telah disesuaikan, tapi tetap saja korban-mereka yang menderita kemiskinan secara material-terus bertambah dari hari ke hari. Situasi ini acapkali ditengarai sebagai jaman yang 'berlari tunggang-langgang" (Runaway World, Polity Press, 1996).

Padahal bila kita sudi belajar (dari) sejarah, para founding fathers kita telah memiliki jawaban ataspersoalan sosial-kemasyarakat an dewasa ini. Sepertiyang termaktub dalam butir kelima Pancasila, KeadilanSosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ibarat kekuatan mata rantai yang terletak pada matarantai terlemah, peningkatan kualitas hidup sebagian manusia di Republik Indonesia tercinta ini secara alamiah akan menaikkan mutu hidup seluruh anak negri. Karena itu, pemerintah seyogianya lebih berpihak pada rakyat miskin atau dengan kata lain, lebih prorakyat!

Bung Hatta telah mewariskan konsepsi koperasi padakita. Sebuah sistem ekonomi yang berwatak sosial danberasaskan kekeluargaan. Tinggal bagaimana visi tersebut dibadankan (dipraksiskan) dalam keseharian. Langkah sederhana seperti yang digagas Anand Krishna. Aktivis spiritual ini memprakarsai pembentukan Koperasi Global Anand Krishna di Bali (12 Juli 2007), Joglosemar (27 Juli 2007), dan Jakarta (1 September2007). Koperasi spiritual pertama di Indonesia inimenyediakan anaka barang produksi dalam negeri bagiseluruh anggota dan masyarakat sekitar.Termasuk menerbitkan buku berkualitas (Voice of Indonesia, 2007) untuk memupuk kesadaran sipil (civil awareness).

Saat ini, ada lebih dari 3,8 juta usaha kecil menengah(UKM) di seantero Nusantara. Seiring dengan pesatnyaperkembangan teknologi informasi, sinergi (gotong-royong) antara pihak swarta, pemerintah, dan kopreasi di akar rumput semakin mudah dijalin dandikembangkan. Karena itu, ke depan, niscaya bangsa ini dapatmewujudkan tata ekonomi yang lebih adil dan manusiawi- atau dalam peribahasa Jawanya - yang Tuna Sathak Bathi Sanak.

DARI TOLERANSI MENUJU APRESIASI

Dimuat di Rubrik Surat Anda, Media Indonesia 1 Oktober 2007.

Terharu hati ini tatkala menyaksikan budaya masyarakat Gamelan Kampoeng of Tolerance. Kenapa? karena walau para warga Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut memeluk agama yang berbeda tapi semangat guyub-rukun masih lestari.

Semboyan luhur Bhinneka Tunggal Ika - Tan Hana Dharma Mangrwa menemukan relevansinya kembali ketika warga nonmuslim menjaga keamanan kampung sehingga tetangganya bisa menunaikan salat Id dengan khusyuk. Bahkan, paskasalat mereka bermaaf-maafan dan mengadakan jamuan makan sederhana yang disediakan secara swadaya.

Menurut Benedict Anderson, ungkapan "toleransi" sebagai sifat asasi wong Jawa mulai populer sejak api nasionalisme berkobar di bumi pertiwi seabad silam.Sebelumnya, para ahli menyebut sikap kelapangan hatitersebut dengan istilah "sinkretisme Jawa".

Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia,' toleransi' berarti sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian, kebiasaan, kelakuan yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya sendiri. Misalnya soal agama, ideologi, suku, ras, golongan, dll.

Dengan demikian, sikap main hakim sendiri yang kerap dilakukan ormas yang mengatas namakan agama tertentutapi dalam praktiknya menggunakan cara-cara kekerasan jelas mengkhinati ajaran universal setiap agama yangmengutamakan kasih, perdamaian, dan harmoni (love, peace, and harmony).

Ironisnya, aparat keamanan terkesan membiarkan tingkah-pongah tersebut. Bukankah sudah menjadi tugas orang tua untuk menegur anak-anaknya yang mbalelo dan membahayakan orang lain.Yogyakarta sebagai kota budaya, potensial sekali menjadi model komunitas multikultur. Ambil contoh didunia kampus, mahasiswa-mahasiswi dari pelbagai wilayah di nusantara berkumpul di Bumi Mataram guna menuntut ilmu.

Sedikit sharing, di dekat kos penulisada asrama mahasiwa Fak-fak, Papua. Saat Lebaran lalu, mereka tidak mudik. Padahal banyak warung makanan yang tutup. Uniknya, secara sukarela paratetangga yang notabene warga setempat (DusunSoropadan) sudi berbagi hidangan ala kadarnya untuk mereka. Memang sih ibarat kata pepatah, kita menuai apa yang kita tanam. Para perantau tersebut juga sudi beradaptasi dan bergaul dengan warga setempat.

Lebih lanjut, 'toleransi' pun musti dimuaikan menjadi"apresiasi". Istilah itu mulai dipopulerkan oleh Anand Krishna. Tokoh humanis lintas agama nusantara tersebut mengajak kita menghargai (to appreciate), mengerti (to undersatand) , dan mengenal (to know) diri sendiri, orang lain, bahkan alam semesta.

Sebab, perbedaan merupakan modal dasar untuk bisa maju bersama. Kongkretnya seperti apa yang telah dirintis warga Gamelan Lor dan Kidul, yakni dengan bergotong-royong mewujudkan (kampung) Indonesia yang bersih, sejahtera, dan damai bagi segenap putra-putriIbu Pertiwi dari Sabang sampai Merauke.