Juni 30, 2012

Tentang Mereka yang Legawa terhadap Hidupnya

Dimuat di Jawapos, Minggu/1 Juli 2012

Berikut ini versi awal sebelum diedit Yth. Redaktur.

Judul: Berjalan Menembus Batas
Penulis: A. Fuadi, dkk
Penyunting: M. Iqbal Dawami dan Ikhdah Henny
Penerbit: Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan: II/Maret 2012
Tebal: xvi +172 halaman
Harga: Rp39.000
ISBN: 978-602-8811-62-0

Batasan hanya ada dalam pikiran yang sempit. Manusia sendirilah yang menciptakan limit (garis pembatas) tersebut dalam benaknya. Tak heran dalam bahasa Inggris ada istilah, “Sky is the limit."  Lewat buku ini A. Fuadi dkk membongkar mitos tersebut. Batasnya bukan lagi langit, tapi  berbanding lurus dengan spirit untuk terus berjuang.

“Berjalan Menembus Batas” berisi 13 kisah nyata. Semula naskah yang masuk ke meja redaksi mencapai 80 artikel. Sebuah angka yang fantastis. Kenapa? karena rencana penerbitannya kurang dari sebulan. Buku ini terbagi atas 3 bab: Melawan Keterbatasan Hidup, Menahan Rasa Sakit, dan Menembus Batas Usaha. Lakon-nya bukan politisi atau selebritis yang jadi sorotan media karena ketahuan korupsi dan kawin-cerai, tapi rakyat jelata kebanyakan. Wong cilik yang legowo hidup apa-adanya.

Salah satunya bernama Rina Shu. Wanita ini terlahir dengan penyakit muscular dystrophy. Sepasang kakinya lumpuh. Akibat kelainan genetik yang menyerang fungsi otot. Ketika balita lain mulai merangkak, Rina tak pernah mengalami langkah kaki pertama di tanah. Untungnya, kedua orang tua Rina bersikap nrimo saja. Mereka tetap mengupayakan si kecil merasakan hidup senormal-normalnya. Bapak dan ibu tak pernah malu dengan keberadaannya. Bahkan Rina acapkali diajak ke kantor. Mereka membanggakannya di depan para rekan kerja. Hal ini membuat Rina tumbuh menjadi remaja yang penuh percaya diri.

Kendati demikian, saat duduk di bangku SMA, tubuh ringkihnya tak kuasa menahan himpitan beban fisik dan mental. Akibat tanggungjawab besar sebagai seorang pelajar. Penyakit asmanya pun sering kambuh. Alhasil, ia menjadi langganan rumah sakit. Setiap bulan Rina keluar-masuk untuk berobat. Bahkan bukan hanya dia yang sakit-sakitan, ibunya juga terserang stroke. Sehingga terpaksa beraktivitas di atas kursi roda.

Di negeri ini tak ada makan siang gratis. Biaya rumah sakit pun begitu mahal. Kondisi keuangan keluarga kian terpuruk. Uang pensiunan sekadar untuk menyambung hidup. Tabungan sudah ludes. Karena harus membayar ongkos operasi kanker usus ayah. Dengan berat hati, Rina memilih berhenti sekolah. Terbayang cita-citanya mau jadi ahli bahasa dan psikolog. Saat itu, gambarannya kian memudar. Namun, itulah keputusan yang terbaik.

Teman-teman datang menjenguk ke rumah. Mereka mengucapkan kata perpisahan sembari melinangkan air mata. Para guru menggenggam jemari tangan Rina. Mereka memberi dukungan bahwa hidup tetap bisa maju walau tanpa ijasah. 

Menulis

Hari-hari permulaan di rumah sungguh membosankan. Rina tak mau hidupnya berakhir seperti ini. Alpa memberi makna pada dunia. Betapa nista hidup ini, ibarat seonggok daging yang tercampak di atas bumi, lalu hilang ditelan waktu. Ia bertekad untuk berbuat sesuatu (halaman 105).

Kemudian Rina teringat kegemaran lamanya, yakni menulis. Ia mulai berpikir untuk memberi arti pada eksistensi. Caranya lewat merangkai kata di atas selembar kertas. Rina berinisiatif menulis cerpen dan mengirimnya ke majalah remaja. Namun berkali-kali ia menelan kekecewaan. Karena naskahnya dikembalikan bersama surat penolakan. Rina sempat ngambek dan mogok menulis. Ia merasa terlalu memaksakan diri dan berharap banyak dari dunia jurnalistik. 

Akibatnya, ia kian terbenam dalam lembah keputusasaan, “Barangkali aku memang diciptakan untuk jadi manusia yang sekadar bernapas. Tanpa perlu memberi sumbangsih bagi dunia yang sudah mengijinkan aku tinggal di dalamnya (halaman 106).” Singkat cerita, tiada yang abadi, pun termasuk kemalangan hidup. Rina kembali bangkit. Kecintaannya pada aksara - ditambah kondisi keluarga yang kian terpuruk - memaksanya untuk kembali bertekun dalam jagat kata.

Ternyata, ia menemukan ketenangan dan rasa aman saat menulis. Pena dan kertas menjadi sahabat terbaik. Rina bisa mencurahkan segala duka, suka, dan kecewa pada mereka.Tapi sekarang ada sedikit perubahan, ia tak lagi menulis cerpen. Rina memberanikan diri menulis novel. Setiap hari ia menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat di atas lembaran kertas folio bergaris. Saat itu, ia tak memiliki komputer. Alhasil, prosesnya relatif lebih  lama.

Namum Rina percaya pada pepatah lama. Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada komputer pena pun oke. Alasannya masuk akal, kalau meununggu sampai ada komputer, waktunya akan terbuang sia-sia. Ada satu kisah menggetarkan. Sang ayah merasa bersalah karena tak bisa membelikan laptop. Di tengah penderitaan merasakan nyeri akibat kanker paru-paru, ayahnya menghampiri Rina di kamar. Beliau meminta maaf.

Hal itu kian memacu semangat Rina untuk menyelesaikan novelnya. Sehingga bisa membahagiakan keluarga dan mendapat penghasilan tambahan untuk mereka. Ironisnya, sang ayah terlebih dahulu dipanggil Tuhan. Sebelum novel itu terbit. Untuk mengenang kasih beliau, Rina menambahkan nama “Shu” di sampul buku. “Shu” merupakan modifikasi dari kata “Soerachmad”, nama belakang ayahnya (halaman 108).

Pada Januari 2011 Rina Shu menerbitkan novel pertama Kimi Shinjeteru secara independen (indie). Banyak komentar positif dari sidang pembaca. Ia berharap karyanya tak hanya memberi hiburan, tapi juga menyuntikkan inspirasi.

Hebatnya, pasca menjadi penulis terkenal, Rina Shu tetap rendah hati. Ia justru teringat pada teman-teman difabel lainnya. Menurut analisis dan pengalaman pribadinya, kaum difabel sungguh sulit meraih kesejahteraan hidup. Namun sejatinya kendala itu bukan terletak pada keterbatasan fisik, melainkan pada kekurangseriusan pemerintah dalam menjamin apa yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara. Dalam hati, Rina Shu berjanji untuk mengangkat harkat hidup para difabel. Ia hendak membuktikan pada dunia bahwa mereka dapat memberi arti besar dalam hidup ini.

“Kaki ini boleh lumpuh, dan tak bisa membawaku ke tempat-tempat yang kuinginkan. Namun untuk melangkah sesungguhnya tidak memerlukan kaki. Yang diperlukan untuk melangkah adalah semangat yang besar…” (halaman 111).

Ugahari

Buku ini juga memuat petuah Kyai Imam Zarkasyi. Beliaulah pendiri Pondok Pesantren Gontor di Jawa Timur. Pak Kyai pernah menampilkan simulasi unik untuk para santrinya. Dengan menggunakan alat peraga berupa 2 bilah golok. Yang satu tajam berkilau karena baru saja diasah.

Sedangkan yang satu tumpul dan sudah berkarat. Sembari mengobrol santai di depan kelas, Pak Kyai menggenggam golok yang tajam di tangan kanan. Lantas menebaskannya tepat ke sepotong kayu. Tapi, seinchi sebelum menyentuh kayu, syahdan ayunan golok terhenti. Alhasil, kayu tersebut tetap utuh dan tidak terpotong sama sekali.

Lantas, beliau beralih menghunus golok tumpul yang sudah karatan. Kali ini, ekspresi wajahnya sangat  serius. Dengan sekuat tenaga, beliau mengayunkan ke arah balok kayu itu. Duk! Golok menghajar balok. Tapi tak terjadi apa pun. Pak Kiai mengulangi berkali-kali sampai akhirnya Plar! Balok kayu terbelah menjadi 2 dihantam golok karatan dan tumpul (halaman xiv).

Lewat kisah tersebut, A. Fuadi hendak mengenang petuah Pak Kyai. Orang pintar bagai sebilah golok tajam. Tapi kalau tidak serius dan malas-malasan, belum tentu bisa menebas kayu. Kepintaran sia-sia tanpa dibarengi tindakan nyata. Sementara itu, orang yang biasa-biasa saja ibarat sebuah golok tumpul dan karatan. Walau otak tak begitu cemerlang, kalau terus bekerja keras dan tak pernah menyerah asa lambat laun pasti berhasil.

Bayangkan kalau golok karatan terus diasah dengan rajin. Ibarat keahlian yang terus dilatih. Abraham Lincoln pun mengatakan, “Kalau saya punya 8 jam untuk menebang pohon, saya akan gunakan 6 jam pertama untuk mengasah kapak.” Dalam konteks ini, persiapan merupakan setengah perjalanan menuju keberhasilan.

Ada satu kesaksian unik lainnya. J. Sumardianta menuliskan kisah dalam Blind Spot (halaman 65). Ia guru sosiologi di SMA swasta khusus laki-laki di Yogyakarta, yang memperbolehkan para murid berambut gondrong (panjang). Selain itu, Sumardianta juga menekuni profesi sebagai penulis lepas. Esai, opini dan resensi pria berusia 45 tahun tersebut acapkali menghiasi lembaran koran lokal dan nasional.

Ironisnya, sejak Oktober 2006 silam, ayah 3 putri ini tak kuat lagi berlama-lama di depan layar komputer. Pun kalau dipaksakan, huruf-huruf di monitor seperti bisa melonjak dan menari-nari. Pasca berkonsultasi dengan dokter, semuanya menjadi gamblang. Ternyata ia mengidap penyakit hipertensi mata (ocular hypertension). Lazimnya, tekanan bola mata seseorang ada pada kisaran 10-20 mmHg. Pada diri Sumardianta, tekanan bola mata mencapai 21 mmHg.

Alhasil, aliran cairan bola mata (aqueous humar) dari balik mata depan ke lapisan luar mata tersendat. Sebagai solusi, ia menjalani terapi dengan 2 obat mata sekaligus. Satu untuk mengairi mata. Satu lagi untuk mengendurkan tekanan bola mata.

Mata yang bermasalah menyadarkan dirinya untuk memohon rahmat Tuhan (nyuwun pangertosan menggah winatesing diri). Secara jujur, ia mengakui, “Dulu saya sempat menolak dan menyangkal memiliki mata yang bermasalah. Kini, saya merasakan bahwa kebahagiaan itu justru ditemukan dalam kenyataan hidup yang memprihatinkan dan serba kekurangan (halaman 70).

Hebatnya, kendala fisik tersebut tak membuat Sumardianta menyerah pada nasib. Ia malah semakin rajin membaca buku. Sebab dengan mengirim resensi ke redaksi surat kabar tertentu pada tanggal muda, biasanya akan dimuat pada tanggal tua. Inilah resep cespleng (mujarab) untuk memelihara profesionalisme di tengah fakta cekaknya penghargaan finansial bagi para pendidik. Menurutnya, honor sebuah resensi dari media cetak nasional ditambah insentif dari penerbit (tak jarang) lebih besar ketimbang gaji yang ia bawa pulang setiap bulan (halaman 72).

Lantas, guna mensiasati kinerja bola matanya yang terus menurun, Sumardianta menggunakan teknik membaca cepat (speed reading) dan melompat-lompat (skimming). Kelelahan mata tatkala menulis di depan layar laptop diakali dengan istirahat rutin setiap 10-15 menit. Baginya, menulis harus ugahari alias tidak terburu nafsu. Senada dengan pepatah Kejawen, “Alon-alon waton kelakon.”

Tak ada gading yang tak retak. Kelemahan buku ini hanya membatasi diri pada masalah finansial, kesehatan, dan ketiadaan pekerjaan. Padahal masih banyak aspek lain yang bisa dieksplorasi. Sebagai rekomendasi, ke depannya, bisa dilengkapi dengan pengalaman bagaimana mengatasi keterbatasan relasi. Misalnya kisah mantan tapol yang dikucilkan oleh masyarakat. Sehingga ia bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar dst.    

Terlepas dari kelemahan tersebut, kisah-kisah dalam buku setebal 172 halaman ini sungguh membuktikan keampuhan mantra, “Siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil (man jadda wajada)." Sepakat dengan pendapat A. Fuadi, Sesungguhnya, setelah kesulitan itu selalu ada kemudahan. Setelah kita jatuh, ruangan yang kosong hanya ke atas. Yakni untuk menjadi lebih baik dan lebih kuat.” Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Jogjakarta) 


Tidak ada komentar: