Januari 11, 2013

Mendidik Generasi Gadget


Dimuat di Bisik, Minggu Pagi, Minggu II Januari 2013

J. Sumardianta, Guru Sosiologi di SMA Kolese de Britto, Yogyakarta berseloroh, "Ketika baru lahir pun anak zaman sekarang sudah berkalung HP." Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi berpengaruh pada mentalitas anak didik.

Analoginya ibarat speed boat, cepat meluncur di permukaan air. Padahal untuk mencecap kedalaman makna perlu menggunakan kapal selam. Sehingga, kecenderungan serba cepat, mau instan perlu diimbangi dengan filosofi alon-alon waton kelakon (pelan-pelan tapi pasti).

Tesis ini selaras dengan hasil pengamatan Prof. Paul Suparno SJ. Menurut pakar pendidikan Universitas Sanata Dharma (USD) tersebut, kita para guru harus menyediakan alternatif pola pembelajaran. Alhasil, siswa memiliki kebebasan memilih metode yang mereka sukai.

Mengacu pada teori Howard Gardner ihwal Multiple Intelligence misalnya, anak tipe visual suka dengan aneka warna dan gambar. Sehingga presentasi menggunakan power point lebih menarik dan tepat kena. Sedangkan anak dengan tipe auditory lebih nyaman belajar sembari mendengarkan musik instrumental. Seperti alunan simfoni Mozart, Beethoven, dll. Metode ini terinspirasi pula dari penelitian dr. Masaru Emoto. Bila anak mendengarkan musik yang ketukannya 50-60 kali permenit, 70% molekul air (H2O) dalam tubuh akan merespons secara positif.

Selanjutnya, anak-anak generasi gadget juga perlu diajak bersosialisasi, melakukan eksperimen bersama dan berefleksi. Dalam arti, berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan prinsipil.  Romo Magnis Suseno membagi klasifikasi tanya-jawab seturut cakupan waktu. Pertanyaan mengacu ke masa depan. Sedangkan jawaban menilik ke masa silam (Pendidikan Nasional Arah Ke Mana?, 2012).

Terakhir tapi penting, kemampuan wiweka anak pun perlu dilatih. Kenapa? Karena saat ini akses informasi begitu mudah diperoleh. Sehingga yang terjadi bukan kurang materi tapi justru kebanjiran topik bahasan. Sikap kritis ibarat sebuah saringan tepung. Tak semua informasi penting dan benar. Semua perlu ditelaah dengan bijak. Nah…peran guru lebih sebagai teman diskusi, tempat sharing untuk temukan solusi terbaik. (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) http://www.angon.org/ Yogyakarta)

Tidak ada komentar: