Januari 19, 2013

Menjadi Pemimpin Andal

Dimuat di Seputar Indonesia, Minggu/20 Januari 2013
http://www.seputar-indonesia.com/news/menjadi-pemimpin-andal


Judul: Leadership in Action
Penulis: Nick McCormick
Alih Bahasa: Sheilla Mahersta
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: 1/2012
Tebal: x + 101 halaman
ISBN: 979-074-991-0

“Jika seseorang menertawakan apa yang sedang Anda lakukan, kemungkinan besar Anda sudah melakukan hal yang benar.” (Halaman 37)

Begitulah pengamatan jeli Nick McCormick dalam Leadership in Actions. Menurut Sarjana Keuangan lulusan Georgetown University ini, seorang pemimpin tak perlu (terlalu) memedulikan apa yang dipikirkan dan dikatakan orang lain. Lakukan apa yang sudah jadi tanggungjawab. Toh semua yang dipelajari akan sia-sia jika tidak dipraktikkan.

Misalnya tatkala membaca buku berisi sejumlah saran bermanfaat, terapkan segera petuah bijak tersebut dalam memimpin kerja tim dan kehidupan sehari-hari. Sebab semakin banyak keahlian (skill) yang dimiliki seorang pemimpin, niscaya semakin tenang perasaannya. Alhasil, keputusan yang diambil pun lebih tepat sasaran.

Ayah 3 putra yang bermukim di Philadelphia ini juga mendeteksi kecenderungan dasar manusia modern. Orang enggan mengerjakan apa yang tidak ia sukai. Bahkan, para pegawai acapkali mengarang sederet alasan agar terhindar dari tugas yang membuatnya merasa tak nyaman. Tapi berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun menjabat sebagai manager perusahaan jasa teknologi informasi komunikasi (TIK), orang yang tidak melakukan pekerjaan di luar zona nyaman (comfort zone) tidak akan pernah berkembang secara optimal (halaman 48).

Lalu, pakar bisnis dan kepemimpinan ini menandaskan bahwa tidak ada jalan pintas keluar dari zona aman. Sehingga, seorang pemimpin yang baik senantiasa mengapresiasi setiap tetes keringat pegawainya yang berhasil merampungkan tugas. Uniknya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam terbang, ternyata kerja keras menuju keberhasilan terasa kian mudah. Oleh sebab itu, “Selesaikan tugas yang selalu dihindari selama ini. Jika sudah, rayakan dengan makan siang yang lezat. Dan, ulangi lagi!” (Halaman 50).

Sistematika buku ini terdiri atas 15 bab. Isinya memuat strategi taktis (stratak) menjadi pemimpin andal. Antara lain dengan “Tetapkan Tujuan, Rencana, dan Laksanakan,” “Berbagi Informasi,” “Lakukan Hal yang Benar,” dan “Berikan Umpan Balik yang Jujur dan Tepat pada Waktunya.” Pada setiap bab ada 4 pokok bahasan, yakni “Uraian,” “Apa yang Harus Dilakukan,” “Apa yang Jangan Dilakukan,” dan “Tindakan Konkrit.” Referensinya beraneka ragam, menyiratkan kalau penulis hobi membaca. Antara lain One Minute Manager karya Kenneth Blancjard, Ph.D, The 7 Habbits of Highly Effective People karya mendiang Stephen R. Covey, dll.

Buku ini juga memberi tips untuk atasi penolakan. Alih-alih memboroskan energi dengan menyalahkan pihak lain, lebih baik terus giat bekerja dan perbaiki cara presentasi. Jika satu ide ditolak, jangan pernah menyerah! Temukan cara lain agar gagasan tersebut gol. Sikap positif (positive attitude) dan kreatifitas menjadi rekan terbaik menuju sukses.

Selain itu, menurut penulis perencanaan ialah separuh jalan (menuju) keberhasilan. Ironisnya, banyak orang berdalih tidak punya waktu untuk melakukan persiapan. Pada bab 7, Nick McCormick membuka kartu rahasianya, “Saya pun tak suka merencanakan dan mengikuti proses tersebut, tapi akhirnya saya memahami kebutuhan untuk melakukannya. Inilah jalan untuk meningkatkan efektifitas. Saya juga menyadari bahwa jika saya mengharapkan tim untuk melakukan tersebut, saya musti melakukan hal serupa terlebih dahulu.” (halaman 34).

Contoh konkretnya, ia pernah menghadiri 6 sampai delapan rapat dalam sehari. Jadwalnya pun berurutan, sehingga kalau ada 1 rapat yang molor otomatis rapat selanjutnya pun tertunda. Menurut analisis Nick, salah satu alasan rapat tidak produktif karena peserta yang datang tak memersiapkan diri. Alhasil, mereka sekadar menyampaikan hal-hal klise di permukaan. Pun, tidak menindaklanjuti hasil keputusan rapat lewat aksi. Alasannya klasik, tidak ada waktu.

Pada titik ekstrim lain, ada orang yang ingin jadi pahlawan kesiangan. Ia memamerkan berapa banyak pekerjaan yang dihadapi, betapa seringnya dinas keluar kota, begitu banyak rapat yang harus dihadiri, dst. Prilaku “heroisme” tersebut justru kontraproduktif. Barangkali niat membantunya baik, tapi fakta membuktikan hasil pekerjaan ganda mayoritas buruk. Muaranya tentu tim, organisasi, perusahaan, dan diri sendiri yang menjadi korban.

Buku setebal 101 halaman ini mengingatkan pada dongeng Angsa Emas karya Aesop. Tatkala kemampuan produksi dan target perusahaan tidak berimbang niscaya hasilnya nihil. Peran pemimpin/manager ialah mengatur kinerja para pegawai dan memberi teladan nyata. Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris PKBM Angon (Sekolah Alam) http://www.angon.org/ , Ekskul Bahasa Inggris di SMP Kanisius Sleman, TK Mata Air, dan TK Pangudi Luhur, Yogyakarta)

 

Tidak ada komentar: