Desember 26, 2013

Untung Ganda Meresensi Buku

Dimuat di Surat Pembaca, Suara Merdeka, Senin/23 Desember 2013

Banyak orang beranggapan kalau aktivitas membaca dan meresensi buku sebagai kegiatan yang menjemukan. Awalnya saya juga berpendapat demikian, tapi perlahan saya mulai memiliki cara pandang yang berbeda. Sejak masih kuliah, saya sudah rutin membaca dan mengirim resensi buku ke media massa, karena ternyata bisa dapat pemasukan lumayan dan kiriman buku-buku gratis dari penerbit di seluruh Indonesia. Tatkala resensi saya dimuat di media cetak, memang ada beberapa penerbit yang memberi fee. Jika tembus di koran lokal rata-rata mendapat Rp 100.000, sedangkan kalau tayang di koran nasional bisa mendapat Rp 150.000 lebih.

Selain itu, saya selalu mendapat kiriman buku gratis dari penerbit untuk diresensi lagi. Dari media cetaknya sendiri saya tentu mendapat honorarium juga. Bahkan saat masih kuliah saya selalu memberikan bukti cetak (berupa fotokopian) dimuatnya resensi saya di koran kepada pihak kampus. Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta relatif mengapresiasi mahasiswa yang mau menulis di media massa. 

Jadi setidaknya sudah ada 3 sumber pemasukan hasil meresensi buku. Yakni dari penerbit, koran yang bersangkutan, dan perguruan tinggi. Tapi sebelum mulai membaca buku, saya harus selektif. Pilih buku terbitan baru untuk diresensi di media massa. Misalnya sekarang tahun 2013, maka kita harus memilih buku-buku terbitan tahun 2013 juga. Kalau buku terbitan lama akan sulit dimuat di koran. Lalu bacalah buku yang telah dipilih tersebut sampai selesai. Jika ada poin-poin menarik tulis di secarik kertas beserta nomor halamannya. Itu akan menjadi salah satu paragraf dalam resensi yang hendak ditulis.

Catat juga kesalahan ketik, kekurangan tanda baca, sistematika yang tak runut, dan lainnya. Sebab meresensi bukan sekedar meringkas isi, tapi juga memberi rekomendasi pembenahan atas buku yang dibaca. Selesai membaca buku, segeralah untuk menulis tinjauannya agar tidak kehilangan ”emosi” membaca. Menurut Pepih Nugraha, itu ibarat ruh dalam resensi. Selain itu, sayang kalau kedahuluan penulis resensi lain. Bisa jadi mereka juga menulis resensi buku yang sama. Terakhir tapi penting, edit secara cermat resensi tersebut. Lalu, segera kirim resensi tersebut ke media cetak via e-mail. Selamat mencoba.

Sumber: http://studentbranding.com/wp-content/uploads/2010/02/books.jpg

Tidak ada komentar: