April 16, 2008

MERAYAKAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL

Dewasa ini kaum muda (termasuk mahasiswa/mahasiswi) cenderung menelan budaya asing secara mentah-mentah. Generasi penerus bangsa enggan menggali khasanah budaya leluhur yang begitu kaya dan mulia. Sedikit sharing, saat penulis nekat mengenakan batik pada jam kuliah, banyak civitas akademika mencibir seraya berkata, "Ini kampus Bung bukan tempat njagong manten (resepsi pernikahan)".

Padahal dahulu kakek-nenek moyang kitapun mengenakan batik tatkala menjalankan aktivitas keseharian. Karena selain nyaman dipakai, ternyata coraknya menyiratkan makna filosofis tertentu. Misal motif 'Parang Rusak' merupakan simbol kebangsawanan (Jiwa Ksatria) yang siap sedia berkorban tanpa pamrih. Ironisnya, "Kita lupa itu Bung!"

Krisis yang mendera Indonesia sejak 1997 silam bukan melulu soal politis dan ekonomis, melainkan krisis budaya. Politisi yang berbudaya tidak akan melik nggendong lali alias mengkorup uang rakyat karena melihat jabatan sebagai amanah-Nya untuk melayani segenap putra-putri Ibu Pertiwi tanpa terkecuali.

Caranya dengan dengan menafikan kepentingan egoistik kelompok/partai. Lebih lanjut, pelaku bisnis yang beradab tak akan serampangan merusak dan menggadaikan alam titipan anak cucu demi kepingan fulus. Prinsip lawas "Tuna Sathak Bathi Sanak" yang mengedepankan nilai kebersamaan ketimbang laba niscaya masih relevan diterapkan dalam konteks zaman Neoliberal ini.

"Hidup yang tak pernah ditinjau tak layak dijalani." Begitulah petuah para bijak. Jelang perayaan seabad Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008 ialah saat yang tepat untuk melakukan permenungan sejarah. Melihat kembali apa-apa saja yang telah kita sumbangkan bagi bangsa ini. Sekaligus terus bersuara, bekerja dan bergotong-royong mengobarkan Api Kebangkitan Nasional "jilid 2" di abad 21 ini.

Dalam buku "Revolusi Belum Selesai" Bung Karno mengatakan, "Tatkala saya masih muda, saya telah gambarkan negara yang akan datang dan tanah air yang akan datang, tanah air yang kita pijak buminya itu, saya gambarkan sebagai Ibu, Ibu Pertiwi. Kita Berkewajiban jikalau benar-benar mencintai Ibu. Kita harus menyumbang pada Ibu kita. Di dalam ucapan-ucapan saya tatkala saya masih muda, saya berkata, kita semuanya berkewajiban menyumbangkan bunga-bunga untuk mempercantik konde, sanggulnya Ibu kita. Harus, semuanya harus menyumbangkan bunga kepada sanggul kita punya Ibu. Engkau bisa menyumbangkan apa? Engkau bisa menyumbangkan melati? Berilah melati. Bisa menyumbangkan mawar, berilah mawar. Bisa menyumbangkan kenanga? Berilah kenanga..."

Revolusi memang belum usai Sobat, saat ini pun Ibu Pertiwi memanggil, beliau membutuhkan lebih banyak Ksatria (orang muda dan yang berjiwa muda) yang sudi berkarya tanpa pamrih untuk kebangkitan dan kejayaan Indonesia. Mengutip jargon iklan: "Mau?"

Tidak ada komentar: