Juli 05, 2013

Rumah untuk Si katak Hijau

Dimuat di Majalah Utusan edisi Juli 2013

“Hus hus hus,” terdengar Mbok Inah berteriak sembari mengayun-ayunkan gagang sapu ijuk. Ternyata ia hendak mengusir seekor katak hijau yang menyusup ke kamar mandi. Katak itu meloncat kesana-kemari menghindari sergapan Mbok Inah.

Aku mendekati Mbok Inah dan bertanya, “Apa apa Mbok kok teriak-teriak begitu?”
“Itu lho Mas Anton, ada katak hijau mau masuk ke kamar mandi. Ia harus diusir. Karena bisa membuat kotor dan membawa penyakit,” jawab Mbok Inah. Matanya terus mengawasi gerak-gerik si katak.

“Jangan Mbok jangan… biar aku bawa saja katak itu. Kasihan kalau dipukul dengan gagang sapu,“ kataku sambil langsung menangkap katak tersebut dengan cekatan.

Aku memang sudah pernah memegang katak sebelumnya. Yakni, ketika mengikuti perkemahan satu minggu (Persami) Pramuka siaga tingkat Kecamatan Sonolegi. Kebetulan aku mewakili sekolahku bersama 7 siswa lain dari kelas 5 SD Budi Luhur. Salah satu lomba yang digelar menangkap katak hijau di kolam berlumpur. Regu yang mendapat katak paling banyak jadi pemenangnya. Kelompokku mendapat juara I saat itu.

Mbok Inah hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan aksiku tersebut. Barangkali baginya memegang katak sangatlah menjijikkan. Sebelumnya, aku sudah memersiapkan diri. Aku memakai sarung tangan khusus yang terbuat dari karet tipis. Sehingga tanganku tetap higinis bersih dari kuman.

“Mbok Inah, aku pamit keluar dulu ya… Nanti kalau ibu pulang, tolong sampaikan kalau aku ada urusan yang penting sekali,” ujarku sembari berlari kecil menuju pintu depan.

Di ujung kompleks perumahan Sari Asri, aku berbelok ke arah timur. Di sana ada sebuah restoran swike. Kalau saat jam makan siang atau makan malam, banyak sekali pengunjungnya. Kemudian aku masuk ke restoran tersebut. Karena masih sore, tak begitu ramai.

Seorang pramusaji menyapaku dengan ramah. “Selamat datang Dik, mau pesan swike juga? Dimakan di sini atau dibungkus dibawa pulang?” tanyanya.
“Tidak Kak, maaf saya ke sini hanya mau bertanya apakah ada tempat penampungan katak hijau di restoran ini?” aku balik bertanya.

Sejak dari masuk ke restoran sampai bertemu Mbak pramusaji, posisi kedua tanganku selalu berada di belakang. Seperti orang yang beristirahat di tempat dalam latihan baris-berbaris. Kenapa? Karena aku hendak menyembunyikan si katak yang ada di genggaman tanganku.
Oh ada dong Dik, di sana di dapur ada tempat penampungan katak. Kalau mau lihat, ayo saya antarkan,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu dapur restoran.

Aku mengikuti dari belakang sambil terus waspada jangan sampai pengunjung restoran lain mengetahui kalau aku sedang membawa seekor katak hijau. Setibanya di dapur aku terperangah kaget. Di pojok ruang ada tong plastik besar.  Puluhan katak hijau berbunyi teot tebung teot tebung berada di dalamnya. Itulah tempat penantian mereka, sebelum akhirnya dimasak menjadi hidangan swike.
Oh oh terima kasih Kak, saya pamit dulu, nanti saya dicari ibu,” kataku sembari bergegas menuju pintu keluar.

Posisi badanku tetap menghadap ke Mbak pramusaji itu. Aku hampir menabrak salah seorang pengunjung yang hendak masuk ke restoran. Setibanya di luar, aku berlari menuju ke taman di halaman sekolah. Semula aku hendak menitipkan katak hijau di restoran. Tapi karena mereka hendak menjadikannya swike aku batalkan niatku. Aku kasihan dan tak tega hati menyaksikannya jadi menu makan siang atau makan malam.

Di dekat taman sekolah ada rumah Pak Albert. Beliau petugas penjaga kebersihan di sana. Sore itu Pak Albert sedang merapikan tanaman dengan gunting khusus.

“Selamat sore Pak. Saya mau bertanya, di mana rumah katak hijau?”
“Oh…mereka memang sering datang ke taman sekolah, suaranya nyaring teot tebung teot tebung sehingga saya terganggu sekali. Sampai tak bisa tidur kalau malam. Kemudian mereka saya tangkapi dan saya jual ke restoran swike. Sebelum berada di taman mereka dulu tinggal di tepi sungai itu,” ujar Pak Albert sembari menunjuk ke arah tenggara.

Di sana memang ada sungai kecil. Dulu airnya jernih sekali, sepulang sekolah - kalau tak ada PR - aku sering mampir dan bermain air di sana bersama teman-teman.
“Baiklah Pak, terima kasih banyak, “ ujarku sambil terus menyembunyikan katak hijau di balik punggung.

Segera aku bergegas menuju ke  sungai. Aku hendak melepaskan katak hijau tersebut di sana. Tapi setibanya di tepi sungai, aku tak tega melakukannya. Kenapa? Karena kini sungai tersebut berair keruh kehitaman. Tampak sampah-sampah plastik dan dedaunan busuk mengambang di atas permukaannya.

Ternyata katak-katak hijau itu mengungsi ke kebun sekolah karena habitatnya di sungai telah rusak. Akibat dicemari sampah yang dibuang sembarangan oleh manusia. Ironisnya, setiba di kebun sekolah pun mereka justru ditangkapi oleh Pak Albert. Kemudian dijual ke restoran swike. Mungkin katak hijau yang kini berada di tanganku ini, salah satu katak yang berhasil meloloskan diri.

Aku akhirnya memutuskan untuk membawa si katak hijau tersebut kembali ke rumah. Aku akan memelihara dan merawatnya di kolam di pekarangan. Dan ketika libur sekolah tiba, kelak katak tersebut akan aku bawa ke rumah nenek di desa. Di sana, masih banyak sungai berair jernih tempat hidup yang nyaman bagi para katak hijau teot tebung teot tebung.

13730772542103807898
Sumber Foto: http://www.nutrisijiwa.com/penemuan-katak-dengan-lompatan-sejauh-90-km/

Tidak ada komentar: