Juli 31, 2013

Mengoptimalisasi Potensi Diri lewat Edukasi

Dimuat di Okezone.com, Rabu/31 Juli 2013

Judul: Tuhan Tidak Menciptakan Sampah, Pola Baru Pendidikan Anak
Penulis: Paulus Subiyanto
Penerbit: Fidei Press
Cetakan: 1/November 2012
Tebal: 133 halaman
ISBN: 978-602-8670-68-5

Aktivitas pembelajaran cenderung membidik target pencapaian angka (grade) saja. Terlebih dengan pemberlakuan sistem UN (Ujian Nasional) dari Sabang sampai Merauke. Tatkala siswa duduk di bangku “panas” kelas 6, 9, dan 12, mereka terpaksa berkutat dengan ritual drilling latihan soal. Kliping UN tahun-tahun terdahulu pun laris-manis seperti kacang goreng.

Imbasnya, nilai-nilai humaniora dan budi pekerti terabaikan. Padahal adagium Latin sejak dini mewanti-wanti bahwa non scholae sed vitae discimus. Manusia belajar bukan demi sekolah, tapi untuk hidup, Artinya, raison d’etre pendidikan bukan melulu agar terampil mengisi kolom pilihan ganda, tapi sebagai proses pembelajaran sepanjang hayat (long life learning). Bukankah setiap insan telah dikarunai – meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara - cipta, rasa, dan karsa oleh Sang Khalik?

Oleh sebab itu, buku “Tuhan Tidak Menciptakan Sampah, Pola Baru Pendidikan Anak” ini menekankan pentingnya anak didik hidup dalam konteks kesekarangan. Menurut penulis, masa depan merupakan proyeksi kaum dewasa, sedangkan siswa sedang berkembang dengan kebutuhan konkret kini dan di sini (now here). Alam pikir mereka tak terbelenggu masa silam (past) dan belum menjangkau lembaran hari-hari esok (future).

Paulus Subiyanto, pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 22 Juli 1961 yang kini berdomisili di Pulau Dewata. Lewat buku ini, ia menawarkan konsep pendidikan dengan hati. Artinya, dinamika pembelajaran wajib memerhatikan kebutuhan-kebutuhan emosional anak. Tentu sesuai dengan tahapan perkembangan psikologis masing-masing individu.

Tesis utama buku ini menandaskan bahwa pendidikan satu arah relatif sarat beban stres. Meminjam istilah Romo Mangun, alih-alih memekarkan jiwa justru menumpuk emosi negatif. Padahal individu yang tak bisa menikmati keceriaan masa kanak-kanak niscaya mengalami trauma psikis. Mereka kelak menjadi orang dewasa yang tidak bahagia, suka mengeluh, dan uring-uringan. Bukan suatu kebetulan jika kini banyak oknum pejabat publik yang justru menghamba pada gengsi, harta, dan kursi.

Sistematika buku ini terdiri atas 6 pokok bahasan. Antara lain bertajuk, “Potret Buram Pendidikan Anak,” “Memandang Cakrawala Baru,” “Menumbuhkan Potensi Anak,” dan “Anak-anak yang Bahagia.” Fenomena sederhana kaya makna bertebaran dalam setiap lembarnya.

Alkisah, lantai beton merekah dan retak karena tertembus tunas tanaman lamtoro. Saat proses pembangunan rumah beberapa waktu lalu, biji mungil lamtoro itu jatuh tercampur dalam adonan semen. Lantas, biji tersebut tumbuh dan berhasil menerobos beton keras. Ternyata biji lunak menyimpan daya pertumbuhan dahsyat.

Manusia takzim meyakini fenomena itu sebagai tanda kemahakuasaan Tuhan. Sedangkan, para ilmuwan menyebutnya sebagai cetak biru (blue print) dalam uliran DNA gen lamtoro. Tapi yang jelas ada kekuatan adikodrati yang melingkupi sekaligus telah built up (terinstal) dalam biji tersebut.

Dalam konteks ini, ada dua kemungkinan, lamtoro itu berpotensi tumbuh besar menjadi pohon raksasa yang memberi keteduhan atau segera layu sebelum berkembang. Semua tergantung pada lingkungan dan perlakuan orang di sekitarnya. Pada penghujung analogi flora tersebut, penulis  melontarkan pertanyaan reflektif, “Kalau sebutir lamtoro saja memiliki daya yang luar biasa, apalagi anak manusia?” (halaman 13)

Aktivitas sehari-hari penulis sebagai guru TK Multi-Q di Badung, Bali menjadi sumber inspirasi utama. Referensinya pun relatif beragam, menyiratkan kalau ia gemar membaca. Antara lain karya Daniel Goleman teori Emotional Intelligence-nya, Howard Gardner dengan Multiple Intelligence-nya, Thomas Armstrong, Richards Carlson, Anand Krishna Ph.D, dan Prof. Dr. Conny Semiawan.

Penulis juga meredefinisi kata “talenta”. Selama ini acap dipahami sebagai “bakat khusus di bidang tertentu” seperti menyanyi, melukis, bermain musik, olahraga, dll. Padahal menurut Pengasuh rubrik Konsultasi Keluarga di koran lokal ini, secara epistemilogis, kata “talenta” berasal dari budaya di Timur Tengah sana.

Satu talenta setara dengan tiga ribu dinar. Sedangkan, satu dinar merupakan upah satu hari kerja. Kalau dipadankan dengan konteks Indonesia, rata-rata upah kerja bangunan sehari Rp100.000, maka nilai 1 talenta setara dengan 3.000 x Rp100.000 = Rp300.000.000. Bagi kalangan buruh lepas di tanah air, jumlah tersebut terbilang fantastis.

Tiada mawar tanpa duri, begitu pula buku bersampul hijau ini. Pada bagian penutup perlu disediakan daftar pustaka yang mencantumkan sumber referensi tulisan. Sehingga pembaca yang berminat memelajari dari sumber asli bisa mudah mendapatkan informasi.

Terlepas dari kelemahan di atas, buku setebal 133 halaman ini layak dijadikan rujukan para orang tua, guru, mahasiswa, akademisi, serta pejabat pengampu kebijakan publik di ranah pencerdasan bangsa. Proses edukasi tak cukup dengan perubahan kurikulum setiap ganti menteri, tapi perlu dilambari konsep yang jelas. Sebab, menyitir pendapat John Dewey (1859-1952), “Pendidikan bukan persiapan untuk hidup melainkan kehidupan itu sendiri.”

13753337331870436556

Tidak ada komentar: