Juli 29, 2013

Membaca Cara Ampuh Melatih Otak

Dimuat di Surat Pembaca, Suara Merdeka, Selasa/30 Juli 2013

Kebiasaan membaca berpengaruh positif bagi setiap anak manusia, sehingga otak bisa bekerja secara optimal sampai usia tua. Hal ini senada dengan tesis Dr Robert S Wilson PhD, seorang peneliti dari Rush University Medical Centre di Chicago, Amerika Serikat. Menurut dia membaca merupakan cara ampuh untuk melatih otak. Bila sejak kecil anak-anak suka membaca, kesehatan otak niscaya terjaga hingga lanjut usia.

Penelitian Dr Robert melibatkan 294 orang di atas usia 55 tahun. Mereka harus menjalani serangkaian tes kognitif setiap 6 tahun sekali sampai akhirnya mereka meninggal dunia di usia rata-rata 89 tahun. Selain itu, mereka juga diminta menjawab pertanyaan kuisoner tentang apakah mereka membaca, menulis, dan terlibat dalam kegiatan literer lain sejak kanak-kanak, remaja, usia pertengahan hingga usia mereka saat itu?

Lantas setelah meninggal dunia, otak mereka dibedah dan diteliti secara intensif di laboratorium. Ternyata orang yang sering merangsang otak dengan membaca dan menulis lebih lambat penurunan tingkat memorinya ketimbang yang tidak melakukan baca-tulis sepanjang hayatnya.

Dari temuan tersebut, penulis terinspirasi untuk memperkenalkan budaya membaca kepada para siswa di SMP Kanisius Sleman, Yogyakarta. Dalam kelas ekskul bahasa Inggris, para siswa tampak asyik membaca Kumpulan Dongeng Motivasi (Stories of Great Virtue). Buku karangan Arleen Amidjaja dkk dengan ilustrator Sherly Gunawan dkk tersebut ditulis dengan dua bahasa (bilingual). Jadi seperti kata pepatah, sekali mendayung dua pulau terlampaui, dengan membacanya para siswa dapat belajar nilai-nilai budi pekerti sekaligus mengasah kemampuan linguistik.

Misalnya kisah romantik antara putri duyung bernama Sisi dan Pangeran tampan dari Kerajaan Laut. Daya tarik Sisi tidak semata secara fisik, tapi lebih pada inner beauty (kecantikan batin). Sisi menjahit sendiri gaun malam untuk pesta dansa. Sisi memahat sendiri kerajinan ukiran kerang yang hendak dijadikan hadiah untuk Sang Pangeran. Sedangkan putri-putri duyung lain cenderung malas dan mencari jalan pintas. Mereka cukup membelinya di butik dan toko souvenir kerajinan tangan.

Selain itu, tatkala putri-putri duyung lain beramai-ramai mengecat kuku mereka, Sisi justru asyik duduk diam membaca sendirian. Ia mencari buku-buku di perpustakaan, terutama yang terkait dengan sejarah kerajaan mereka, sehingga ketika berjumpa dengan Sang Pangeran, ia relatif memiliki cukup banyak materi pembicaraan. Alhasil, Sang Pangeran jatuh hati dan melamarnya menjadi permaisuri.

Akhir kata, lewat aktivitas sederhana itu, para siswa diperkenalkan kembali dengan budaya membaca buku dongeng dan cerita anak. Sebab selama ini remaja lebih akrab dengan gadget dan media sosial di internet. Dalam konteks ini, pendapat Esther Meynell, penulis biografi The Little Chronicle of Anna Magdalena Bach sungguh relevan, ’’Buku, bagi seorang anak yang membaca lebih dari sekadar buku. Bagi mereka, buku merupakan impian masa depan sekaligus pengetahuan masa silam.’’ Salam cinta buku!

13751444871517409012
Source of the picture: Source: http://bubbleblue.blogdetik.com/2013/06/18/baca-buku-bisa-cegah-pikun/

Tidak ada komentar: