Februari 06, 2013

Merenungi Makna Ziarah Hidup

Dimuat di Majalah Nuntius edisi Januari 2013
 
1360207350690455573

Judul: Di Simpang Peristiwa, Mencatat Peristiwa Menuai Hikmah
Penulis: Friedz Meko, SVD
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1/ Juli 2012
Tebal:  xxxiii + 249 halaman
ISBN: 978-979-22-8590-1
Harga: Rp63.000

Siang itu matahari bersinar terik di atas Stasiun Gubeng kota Pahlawan. Penulis hendak menjemput seorang kolega. Syahdan, datanglah anak lelaki usia delapan tahunan menghampiri. Ia mengulurkan tangan memohon sedekah. Sebelum memberi uang, Pastor Freids Meko, SVD bertanya siapa nama anak itu dan apakah orang tuanya masih ada (halaman 21).

Anak tersebut bernama Kholis. Ayahnya sudah meninggal dunia karena tenggelam dalam kecelakaan kapal tatkala berlayar ke Makassar. Sekarang, si anak berhenti sekolah dan musti  membantu ibu menafkahi keluarga. Karena kedua adiknya masih kecil-kecil. Tak jauh dari situ hanya berjarak sekitar 50 meter tampak seorang ibu menjajakan koran. Walau mengidap sakit paru-paru, ibunda tercinta terpaksa bekerja demi sesuap nasi.

Penulis buku ini alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Ledalero Maumere, Flores. Ia merasa terharu sekali mendengar penuturan si anak tadi.  Gaya bicara anak itu seperti layaknya orang dewasa. Kholis menjadi lebih cepat matang kepribadiannya. Situasi  memang serba sulit. Pun kegetiran menempa pikirannya cerdas menyikapi realitas.

Secara lebih mendalam, Vikaris Episcopalis Religius (Vikep Religius) Surabaya tersebut merefleksikan perjumpaannya dengan Kholis. Bagi si anak, ibu merupakan sandaran satu-satunya. Senada dengan petuah para bijak, “Ibu ialah sebuah kata yang selalu menggetakan jiwa.” Beliau sosok yang pernah menjerit kesakitan sekaligus meneteskan air mata bahagia tatkala menyaksikan tubuh mungil kita berlumuran darah keluar dari rahimnya (halaman 22).

Dalam konteks ini, pria kelahiran Manamas, Timor, 21 Juni 1963 tersebut melihat peran suci dan martabat mulia ibunda diwariskan langsung oleh Sang Pencipta. Dalam diri para ibu tersemai “bulir” kehidupan selama 9 bulan 10 hari. Alhasil, lahirlah generasi baru di muka bumi. Sosok ibu juga identik dengan kelembutan, atensi, kerelaan berkorban, dan cinta kasih.

Buku “Di Simpang Peristiwa, Mencatat Peristiwa Menuai Hikmah” ini menyajikan kejadian sehari-hari. Tapi penulis menyelaminya dari perspektif religius. Dr. Paul Budi Kleden, SVD memberi apresiasi di dalam kata pengantar, “Saat berada di simpang peristiwa,  Freids Meko, SVD tidak hanyut di dalamnya ataupun terseret oleh arus. Ia sanggup mengambil jarak imaginer, memandang dari tempat tertentu, dan piawai memberi penilaian yang mendalam” (halaman xxxiii).

Sistematika buku ini terdiri atas 4 bab. Antara lain, “Memaknai Realitas Sekitar,” “Memahami Raut Negeriku Merah Darahku,” dan “Membaca Pesan dari Langit Suci.” Sebagian besar artikel pernah dimuat di Majalah Bentara, Majalah Kana, Majalah Hidup, Majalah Cermien, dan Dian Ende. Rentang waktu penulisannya relatif lama, yakni  dari tahun 1993-2011.

Paderi dari Serikat Sabda Allah (SVD) ini juga berbagi pengalaman selama berada di Irlandia. Saat itu sedang bulan suci Ramadhan. Karena terbiasa merasakan suasana puasa saudara-saudari Muslim di tanah air, ia ingin segera pulang, “Alunan adzan subuh dan adzan magrib yang mengingatkan manusia akan pentingnya berpaling kepada Allah swt, dan realitas berbuka bersama keluarga yang merupakan ungkapan rasa solidaritas, tidak saya alami di negaranya kelompok band rock legendaries U2 tersebut.” (halaman 200).

Kemudian terkait aspek kepemimpinan, Ketua Komisi Komunikasi SVD Jawa ini bersepakat dengan pendapat HB. Mantiri, seorang Pangdam Udayana di Pulau Dewata. Ketika dipercaya memangku amanah rakyat, Mantiri melakoni prinsip SUCCESS. Kepanjangannya Spiritual, Unselfish (tidak egois), Cooperative (bekerjasama dengan orang lain), Courage (berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan), Establish (mapan dan mantap), Sacrifice (siap berkorban waktu, tenaga, dan bahkan nyawa), Soul Winner (identik dengan captatio benevolentiae, bisa memenangkan jiwa alias menarik simpati orang lain).

Penulis memerincinya lewat istilah Catur Muka. Seorang pemimpin jempolan berperan sebagai komandan, bapak/ibu, guru, dan sahabat. Mereka pun harus berjalan dengan dada sekaligus kepala. Artinya, senantiasa menjaga keseimbangan antara daya nalar dan kekuatan batin. Semua itu tercermin dari keluasan wawasan dan keputusan yang tepat.

Buku setebal 249 halaman ini ibarat tebu. Butuh kesabaran ekstra untuk memamah dan menyesap saripati pesannya. Sebuah referensi apik untuk sejenak merenungi ziarah hidup ini. Manusia memang hanya mekar sebentar tapi eksistensinya sungguh menyiratkan berjuta makna. Sepakat dengan pendapat Romo Friedz Meko, SVD, “Bila seseorang berhasil memberi makna bagi hidupnya, maka niscaya ia tetap dikenang oleh generasi mendatang.” Selamat membaca! (T. Nugroho Angkasa S.Pd, Guru bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) http://www.angon.org/, Ekskul English Club di SMP Kanisius Sleman, TK Mata Air Yogyakarta).

Tidak ada komentar: