Mei 09, 2013

Mengatasi Konsep Mustahil dengan Kegigihan


Tatkala hendak berkomitmen untuk menikah, Charles Darrow menyatakan mimpinya kepada sang kekasih, “Saya mau menjadi seorang jutawan!” Saat itu, sang kekasih tentu mendukungnya dengan sepenuh hati. Tapi tak lama setelah mereka melangsungkan prosesi pernikahan, krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Tak pelak pasangan tersebut pun turut merasakan imbasnya.

Peristiwa naas itu membuat Charles Darrow berputus asa. Ia tak lagi berniat menjadi seorang jutawan. Bahkan keluarga muda itu pun harus kehilangan pekerjaan, mobil, dan rumah. Namun sang istri tak serta-merta menyerahkan mimpi yang telah mereka rajut bersama. Sang istri tetap memberi semangat kepada suaminya untuk terus memupuk mimpi mereka.

Waktu terus bergulir, tiada kegagalan yang abadi, hingga suatu hari Charles Darrow mendapat sebuah ide cemerlang. Ia hendak menciptakan permainan “uang”. Lewat game tersebut, orang bisa bermain cukup dengan menggunakan papan kecil dan menjadi kaya. Caranya dengan membeli rumah-rumah dan hotel-hotel di atas papan permainan tersebut.

Walau krisis ekonomi masih terus berlangsung, permainan ini justru kian populer. Karena orang dapat belajar ihwal perputaran uang yang sehat dan tentunya menjadi kaya-raya. Lantas, pada tahun 1930, Charles Darrow menjual hak paten permainan tersebut kepada Parker Brothers. Sejak saat itulah, permainan “monopoli” meledak  di pasaran. Hal ini membuat Charles Darrow sungguh menjadi jutawan berkat royalti yang diterima (halaman 52).

Lewat kisah nyata tersebut, penulis menandaskan bahwa setiap orang niscaya memiliki mimpi untuk dapat hidup lebih baik. Tapi berapa banyak dari mereka yang dapat meraih mimpi-mimpinya? Kenapa mereka gagal meraih apa yang telah dicita-citakan sejak kecil? Pun seolah mimpi tersebut menguap begitu saja saat tutup usia.

Ternyata akar masalahnya terletak pada konsep “sulit”, “mustahil”, “tak mampu” dan sejenisnya. Padahal ketika lahir dan begitu anak mulai belajar berjalan, ia sama sekali tak kenal dengan sederet konsepsi tersebut. Walau terjatuh berkali-kali, anak toh tidak pernah merasa putus asa. Ia segera berdiri dan melangkah hingga akhirnya sungguh bisa tegak berjalan.

Ironisnya, seiring anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, ia mulai mengenal konsep “sulit”, “tak mampu”, “mustahil”, dll. Alhasil, ketika menghadapi kesulitan - sementara ia belum mengerahkan seluruh kemampuannya - ia buru-buru menerapkan konsep “tak mampu” dan  menyerah kalah.

Itulah kenapa mimpi-mimpi kita sejak kecil hanya menjadi angan-angan belaka. Dalam konteks ini, kita harus membuang konsep lama tentang “sulit”, “tak mampu”, “mustahil” dan menggantinya dengan konsep baru  ihwal “mudah”, “bisa”, “niscaya”. Senada dengan tesis Chaile Hedges, “Impian bukanlah sesuatu darimana Anda terbangun, tetapi sesuatu yang membangunkan Anda!”.

Ibarat sebuah lagu, karya ini dinyanyikan secara duet. Penulisnya pasangan suami-istri, yakni Yotam Sugihyono dan dr. Alvita Dewi. Saat ini, Sugihyono sedang melanjutkan studi S2 Teologi. Sedangkan, dr. Alvita sedang mengambil Program Pendidikan Dokter Spesialis Bagian Ilmu Kedokteran Nuklir di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Sebelumnya, mereka telah menulis buku “Menggapai Bintang-bintang Harapan” dan “Warrior of Life”.

Buku ini juga memuat kisah tentang kegigihan (persistence). Dalam sebuah acara pasar malam (mirip Sekaten di Alun-alun Utara Yogyakarta), ada seorang lelaki berotot kekar. Ia memamerkan kekuatannya dengan membengkokkan besi-besi baja. Ia juga menantang panco para penonton yang hadir di sana. Setiap kali usai beraksi, pria berotot itu selalu memeras jeruk dengan tangan kanannya dan berteriak, “Sampai tetesan terakhir!”

Tak satu pun orang bisa mengalahkan panco-nya. Lantas, pria berotot itu kembali berteriak, “Saya akan berikan hadiah uang yang cukup besar jika ada di antara kalian yang dapat memeras jeruk ini hanya satu tetes saja!” Sontak para penonton antri untuk memeras jeruk tersebut.  Tapi dari sekian banyak orang yang mencoba, tak satu pun yang berhasil memeras jeruk itu walau hanya setetes saja.

“Aku berikan kesempatan terakhir!” seru pria berotot tersebut. Lantas, seorang wanita tua yang kurus kering mengangkat tangannya hendak mencoba menjawab tantangan tersebut. Tentu saja seluruh penonton di atraksi pasar malam tersebut mengejek dan menertawainya. Tapi perempuan tersebut tetap tenangdan fokus pada jeruk yang ia pegang. Ia mulai memeras jeruk dari kulit di pinggiran hingga ke ampas di tengah. Ia ulangi lagi berkali-kali hingga akhirnya terdengar suara, “Ting!” Setetes air jeruk jatuh pada gelas kosong (halaman 83).

Lewat cerita di atas, penulis mengingatkan bahwa dalam hidup kadang ada saat-saat sulit. Semua jalan tampak buntu, semua pintu seolah tertutup. Namun setelah kita dekati ternyata kita cukup berbelok dan mengetuk pintu tersebut. Dalam konteks ini, tesis David Herbert Lawrence menjadi relevan, “Kegigihan adalah kekuatan yang tidak kelihatan yang bisa menyingkirkan rintangan-rintangan besar.”

Buku setebal 133 halaman ini berukuran mini(mal) tapi bermanfaat maksi(mal). Total 30 kisah nyata di dalamnya dapat menjadi referensi guna meningkatkan kualitas hidup. Sebab menyitir pendapat Parlindungan Marpaung, seorang Inspiring Trainer dan Leadership Specialist, “School of Life merupakan “pemantik” untuk menarik hikmah dari setiap pengalaman hidup dan kemudian dikristalisasi menjadi langkah-langkah praktis.” Selamat membaca!
______________________________

Judul:  School of Life, 30 Pelajaran Kehidupan Inspiratif dari Tokoh dan Kisah Mendunia
Penulis: Yotam Sugihyono dan dr. Alvita Dewi
Penerbit: Visi Press
Cetakan: 1/2012
Tebal: 133 halaman
ISBN: 978-602-8073-68-4

13681650001238542175

Tidak ada komentar: