Mei 21, 2013

UN Berbasis Teori Multi Inteligensia

Dimuat di Majalah Pendidikan Online Indonesia, Rabu/22 Mei 2013

Saat pengumuman UN (Ujian Nasional) telah menjadi hari penghakiman (judgement day).  Betapa tidak, saat itulah “nilai” diri seorang siswa diverifikasi oleh otoritas bernama negara. Anehnya proses evaluasi bukan dilakukan oleh para guru tapi oleh Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Bukankah yang mengajar para pendidik di kelas, tapi kenapa yang menguji seluruh siswa dari Sabang sampai Merauke justru kaum birokrat di pusat sana?

Jika untuk tingkat SMP dan SMA mungkin (walau dengan berat hati) masih bisa ditolerir. Sebab para siswa sudah menginjak usia remaja bahkan mulai beranjak dewasa. Sehingga mereka relatif dapat mengolah beban stres dan belajar menentukan pilihan yang tepat bagi masa depannya. Tapi kalau untuk anak-anak setingkat SD (Sekolah Dasar)/MI (Madrasah Ibtidaiyah), menurut penulis UN sama sekali belum perlu. Sebab mereka masih asyik menikmati indahnya masa kanak-kanak untuk belajar sambil bermain. Mata pelajaran yang diujikan dalam UN seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) perlu disampaikan lewat cara-cara yang menyenangkan, bukan lewat drilling latihan pilihan ganda.

Lewat opini ini, penulis sekadar melontarkan sederet pertanyaan reflektif. Logikanya sederhana, jawaban normatif merupakan hasil dari pertanyaan normatif. Ibarat puncak gunung es, itu hanya 12 persen yang tampak di permukaan lautan. Padahal jauh di bawah laut masih tersembunyi 88 persen gugusan badan dan kaki gunung es tersebut. Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan reflektif menemukan relevansinya, yakni untuk “mengguncang” sistem keyakinan (belief system) Mendikbud, M. Nuh yang berasumsi bahwa UN 2013 baik-baik saja. Jadi keberlangsungan UN harus tetap dilestarikan. Kalau toh ada sedikit kendala di tingkat SMA itu hanya soal teknis di percetakan.

Apakah sungguh demikian? Menurut petuah bijak, sebelum seseorang berbicara - terlebih bagi seorang pejabat publik - seyogianya THINK. Apakah itu Truth (benar), Helpful (menolong), Inspiring (menginspirasi), Necessary (bermanfaat), dan Kind (baik). Uniknya, kalau sesuatu itu benar otomatis menolong, menginspirasi, bermanfaat (migunani), dan baik/indah. Faktanya kenapa UN justru begitu merepotkan? TNI (Tentara Nasional Indonesia) sampai harus turun tangan mendistribusikan soal dan LJUN (Lembar Jawaban Ujian Nasional).

Pertanyaan selanjutnya, apakah tepat membuat soal beserta lembar jawab UN (LJUN) dengan begitu banyak variasi? Kalau tujuannya sekadar mengantisipasi kebocoran dan praktik contek-menyontek,  betapa mahal ongkos produksi yang harus dibayar. Dalam pepatah Jawa memang ada peribahasa “jer basuki mawa bea”, tapi alangkah lebih baik jika pendidikan karakter dan budi pekerti lebih diutamakan. Dalam konteks ini, Kemendikbud dan segenap jajarannya - harus menyitir petuah Ki Hadjar Dewantara - “Ing Ngarso Sung Tulodho” di depan memberi contoh untuk mengutamakan kejujuran, menyatukan kata dan tindakan.

Bagi kalangan yang pesimis barangkali langsung menyanggah, apakah itu mungkin di tengah mentalitas koruptif dewasa ini? Jawabannya mungkin sekali. Arita Gloria Zulkifli  (Arita Kiefl) layak disebut sebagai pelopor transformasi dunia pendidikan di republik tercinta. Ia siswi kelas XII SMA Charitas Jakarta yang berani berbicara blak-blakan ihwal karut-marut pelaksanaan UN tingkat SMA. Wawancara eksklusif dengan pemudi yang masih berusia 16 tahun ini ditayangkan live oleh MetroTV pada Jumat malam (19/4). Rekamannya pun kini beredar luas di Youtube.

Semula Arita menulis di sebuah portal jurnalisme warga pada Senin siang (15/4). Ia baru pulang merampungkan UN hari pertama dan langsung menumpahkan isi hati di http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/15/keluhan-ljun-curahan-hati-seorang-pelajar-551326.html. Ihwal nilai kejujuran ia menulis begini, “Tak bisa dipungkiri kecurangan UN memang ada dimana-mana, bahkan aku ditawari bocoran secara cuma-cuma, dan bukan munafik teman tercinta pun banyak yang mengandalkannya. Syukur, teman-teman yang aku maksud bukan teman sekolah, kami semua bersih. Sampai mati aku gak bakal pakai ‘contekan’, aku bukan pecundang. Lebih baik aku gagal karena prinsip, keteguhan hati, nurani dan akhlak, daripada berhasil karena curang. Bukan idealis, hanya realistis.”

Tapi kalau seumpama pemerintah hendak meneruskan model soal dan LJUN beragam tersebut. Ada baiknya riset intensif Prof. Howard Gardner dari Harvard University dijadikan referensi. Prof. Gardner ialah penemu 8 jenis kecerdasan anak. Tipe musikal lebih suka belajar sambil mendengarkan musik. Tipe visual-spasial lebih suka memperhatikan media gambar warna-warni. Tipe logis-matematis lebih suka bergelut dengan angka. Tipe linguistik kaya perbendaharaan kata dan bahasa. Tipe kinestetik lebih suka belajar menggunakan gerakan. Tipe intrapersonal rajin mencatat di buku harian. Tipe interpersonal menikmati proses belajar bersama teman-teman. Tipe naturalis biasanya suka belajar di bawah langit di tengah alam terbuka.

Artinya, orang tua dan para guru perlu memperhatikan anak secara cermat. Sehingga dapat mengenali kecenderungan gaya belajar mereka. Alhasil, proses pembelajaran menjadi aktivitas yang mudah, lancar, dan menyenangkan. Prinsipnya sederhana tapi universal. Tidak ada anak bodoh di dunia ini. Mereka hanya perlu diberi kesempatan untuk mengeluarkan potensi diri secara optimal. Nah dalam konteks ini teori Multiple Intelligent sungguh menemukan relevansinya. Jika tahun depan UN 2014 masih akan tetap diadakan, Kemendikbud perlu membuat UN seturut teori multi inteligensia di atas. Salam pendidikan!
1369196245779655354
Source: http://classroomchoreography.wordpress.com/2010/05/10/dance-and-multiple-intelligences/

Tidak ada komentar: